(Fanfiction) #3 Bittersweet

bittersweet

Title     : #3 Bittersweet

Author : d’Roseed(@elizeminrin)

Cast     : Kim Ryeowook, Shin Minrin, Lee Hyukjae

Genre  : Romance, Brothership, AU, Sad

Rating  : 15+

Lenght  : Chapter (7755 words)

Disclaimer : Kim Ryeowook and Lee Hyukjae milik Tuhan, orang tua mereka, Super Junior and ELF. I just have the plot and artwork.

Warning : Perhatikan tahunnya !!

 

Incheon, 2002

Cuaca malam itu masih sama seperti malam sebelumnya. Mendung tanpa satu pun bintang dan sedikit berangin. Musim gugur memang hampir berakhir dan tinggal menunggu waktu kapan salju akan turun di permulaan musim dingin tahun ini. Minrin menghela nafasnya berat. Sekali lagi ia mendongakkan kepalanya ke atas, menatap ke arah langit hitam yang terbentang luas. Tujuannya hanya satu, yaitu menahan air matanya yang terus saja mendesak ke luar. Menyebalkan. Sudah berapa kali ia menangis hari ini?

Semua gara-gara ayahnya.

Ya.. karena ayahnya itulah ia selalu memilih kabur dan menangis di taman ini. Seperti biasanya, sepulang sekolah tadi ia harus kembali melihat pertengkaran ayah dan ibunya. Pertengkaran yang sama seperti biasanya. Mungkin kali ini lebih parah, karena laki-laki yang seharusnya menjadi ayah itu justru memukuli ibu dan juga dirinya. Memangnya berhutang pada rentainer dan membuat keluarganya dalam belitan hutang tidak cukup apa? Kenapa dia harus terus menerus pulang dalam kondisi mabuk?

“Apa itu yang dinamakan seorang ayah?” gerutunya.

Pukulan malam ini memang bukan pertama kalinya untuk Minrin. Ia sudah sering mendapatkannya dari sang ayah. Kadang bibirnya akan bengkak dan mengeluarkan darah karena tamparan keras, atau punggungnya yang terus menerus memar karena menerima pukulan. Menyedihkan memang, tapi entah kenapa lama-lama semua itu sudah menjadi suatu hal yang biasa untuk Minrin.

Untuk kesekian kalinya, ia menghela nafasnya. Dirasakan perih yang menjalar di sudut bibirnya. Bahkan sampai sekarang pun pipinya masih mati rasa karena tamparan ayahnya.

“Menangis lagi?”

Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi. Minrin menolehkan kepalanya ke arah sumber suara itu dan seketika matanya menyipit. Seorang namja berseragam sekolah berdiri dengan tangan tersembunyi di balik saku celananya. Topi dan juga headset melekat sempurna di kepala dan telinganya. Minrin mengamati namja itu sesaat. Seakan mencoba mencari tahu mengenai sosoknya. Tiba-tiba saja Minrin teringat akan sesuatu. Seiring dengan daya ingatnya yang semakin kuat, mata gadis itu berubah tajam.

Neo~~!!” serunya. Tidak percaya dengan penglihatannya sendiri. Bagaimana mungkin Namja ini bisa muncul di sini lagi?

“Kita bertemu lagi..” ucap namja itu dengan senyum tipisnya. Dia berjalan  mendekat dan ikut duduk di ayunan kosong di sebelah Minrin.

Minrin meliriknya. Tajam.

Tidak ada satu pun kalimat yang diucapkan Minrin. Ia lebih suka memperhatikan gerak-gerik namja itu dari pada memulai pembicaraan dengannya. Apalagi percakapan diantara mereka sebelumnya tidak berjalan baik. Minrin ingat bagaimana namja itu mengusiknya beberapa hari yang lalu.

Tidak berselang lama, sebelum namja itu ikut memperhatikan Minrin. Mata mereka bertemu, tapi terkesan dingin.

“Sepertinya Kau senang sekali menyendiri di sini, ya?” namja itu mengubah arah pandangnya ke depan dan tersenyum. Entah apa maksud senyum itu. Hanya sebuah bentuk keramahtamahan ataukah sebuah ejekan.

“Kau juga sering sekali datang kemari.” Minrin mencibirnya pelan. Tidak butuh lama untuk Minrin kembali mengalihkan pandangannya dari namja itu.

Bagaimana mungkin Minrin harus bertemu lagi dengannya? Namja itu adalah namja yang sama yang mempergoki Minrin menangis tempo hari di tempat ini. Dan dengan seenaknya namja yang tidak dikenal Minrin itu menceramahinya, menyuruhnya pulang dan bahkan menakutinya dengan cerita hantu yang konyol.

“Aku biasa lewat jalan itu sepulang sekolah. Karena itu aku sering melihatmu duduk di ayunan ini.” ujar namja itu.

Minrin tidak merespon dan juga tidak mempedulikannya. Namun ucapan itu memberikan jawaban yang masuk akal untuknya, kenapa namja itu ada di sini, dan kenapa dia bisa tahu Minrin sering datang ke tempat ini. Jelas sekali namja itu pernah melihatnya duduk di ayunan ini. Dan yang jelas tidak hanya satu kali. Mungkin setelah pertemuan tempo hari, atau bahkan sebelumnya.

“Kenapa?”

“Mwo?” Minrin menolehkan kepalanya lagi.

“Kenapa Kau sering sekali datang ke tempat ini dan menangis?” ulang namja itu.

Sejenak Minrin hanya tersenyum tipis. Tapi kemudian ia diam, terlihat berpikir sebelum akhirnya ia pun menjawab. “Setidaknya di tempat ini dia tidak akan memarahiku karena menangis.” Ujarnya.

Diam kemudian. Hanya terdengar suara desisan angin yang bertiup, serta suara gemercik rantai dari ayunan kosong di kanan Minrin. Ia menundukkan kepalanya sedikit, merutuki kebodohannya yang begitu saja mengucapkan sesuatu yang mungkin saja akan membuka aib keluarganya pada orang asing, yang bahkan baru sekali ditemuinya.

“Kau benar-benar tidak takut berada sendirian di tempat ini?” tanya namja itu lagi yang jujur saja membuat Minrin mengernyitkan dahinya. Ia perlahan mengangkat kepalanya dan memperhatikan namja itu. Raut wajahnya mendadak berubah.

Wae? Kau ingin mengusirku dengan cerita hantumu yang konyol itu?”

“Tidak. Aku serius. Kau tidak mendengar sesuatu?”

Minrin diam. Suara? dan yah.. akibat ucapan itu, dengan bodohnya Minrin memasang telinganya baik-baik, mencari tahu apa maksud ucapan namja itu tentang suara sesuatu. Minrin menyipitkan matanya dan refleks menolehkan kepalanya ke belakang, ke arah semak-semak.

“Menurutmu suara apa itu?”

Namja itu benar. Ada sesuatu, dan sesuatu bersuara itu berasal dari semak-semak di belakang mereka. Minrin memasang wajah waspada. dan..

Meow..

Seekor kucing berwarna putih bercampur hitam terlihat keluar dari semak-semak itu.

“Kau tidak lihat itu kucing.” ujar Minrin menghela nafasnya lega, berusaha menyembunyikan rasa takut yang sempat hadir.

Kucing itu kemudian berlari menjauh karena merasa diganggu. Dan sekarang Minrin menolehkan kepalanya ke arah namja itu, menatapnya dengan menahan tawa. Wajah namja itu mendadak menjadi pemandangan lucu untuk Minrin. Bagaimana mungkin seorang namja sepertinya bisa takut karena suara kucing? Oh well, bukannya Minrin tidak takut. Ia juga takut mendengar suara aneh tadi, tapi setidaknya rasa takut itu masih bias dikontrolnya. Tidak seperti namja itu yang wajahnya saja sudah berubah pucat sekarang.

“Kau ini penakut ya? Itu hanya suara kucing yang terjebak di semak.”  Ujar Minrin menahan tawa.

“Aku tidak takut, hanya kaget.. “

“Sama saja. Ha ha ha..”

Tawa itu rasanya tidak mampu ditahannya. Baginya melihat ekspresi namja  itu yang berubah pucat adalah hiburan. Untuk pertama kalinya, Ia bisa tertawa setelah penderitaan yang dialamainya.

“Kau tidak seburuk yang kupikirkan.” ujar namja itu. Seketika itu juga Minrin menghentikan tawanya.

Ia kembali melirik namja yang duduk di ayunan sampingnya itu. Dia tersenyum pada Minrin dan dibalas Minrin dengan senyum simpul. Namja ini juga tidak buruk. Dia juga terlihat tampan. Oh..otaknya pasti sedang tidak waras sekarang. Tapi dia memang tidak terlalu buruk seperti dugaannya.

Angin berhembus lumayan keras dan tiba-tiba saja titik-titik air mulai berjatuhan. Semakin besar dan jatuh dengan cepat. Sepertinya mendung yang sudah terjadi sejak tadi sore tidak lagi mampu menampung air. Minrin menengadahkan telapak tangannya dan semakin lama merasakan hujan yang semakin deras. Ia baru saja ingin berlari sampai akhirnya sebuah tangan sudah menggenggam tangannya dengan erat dan menariknya. Ya.. sekarang ia memang berlari, tapi bersama namja tadi dengan tangan yang saling terpaut. Sekilas Minrin melihat wajah namja itu yang sekarang sudah basah karena air hujan, begitu juga dengan rambut, kemeja dan jas sekolahnya.

Minrin tersenyum kecil. Bukan hanya otaknya yang sedang bekerja salah, sepertinya hatinya juga demikian. Bagaimana bisa detak jantungnya bisa secepat ini hanya karena seorang namja menggenggam tangannya dan berlari di tengah guyuran hujan?

Tapi Minrin tidak memperdulikan getaran hati itu terlalu lama karena hujan turun semakin deras, seperti air yang dijatuhkan dalam jumlah besar. Tidak jauh dari taman itu ada sebuah rumah yang sudah lama tidak ditinggali. Tampak dari luar rumah itu sangat kotor, bisa dibilang sudah seperti gudang yang terbengkalai. Langkah kaki mereka semakin lebar dan cepat, berkejar dengan hujan yang semakin membasahi tubuh mereka. Dan Minrin tidak bisa menolak saat namja itu mengajaknya untuk berteduh di pinggir rumah itu.

“Kurasa tidak ada pilihan selain berteduh.” Namja itu berujar. Tidak ada tanggapan dari Minrin. Gadis itu terlalu sibuk memperhatikan hal lain. Tangan kirinya yang masih digenggam erat oleh namja itu. Entah perasaan apa yang menyelimutinya. Hanya saja, ini pertama kalinya seseorang menggenggam erat tangannya, seolah-olah ingin melindungi. Bahkan ayahnya sendiri tidak pernah melakukan hal ini padanya. Untuk pertama kalinya, ia merasa dilindungi.

“Lebih baik di sini dulu daripada membuat tubuh kita sakit karena kehujanan. Tidak apa-apa kan?” namja itu menoleh dan sejenak memperhatikan Minrin yang masih saja terpaku pada tangan mereka. “Ah..Mian..” Seakan tahu Minrin tidak nyaman dengan posisi itu, Dia pun melepaskan genggaman tangannya.

Gwaenchana..” Sedetik kemudian Minrin sudah mengalihkan perhatiannya pada hujan di depan.

Hujan adalah hal yang sangat disukainya. Lebih dari salju, ataupun bunga yang berguguran, Minrin menyukai hujan. Hujan akan menghapus setiap jejak di tanah, dan seolah-olah hujan juga akan menghapus semua rasa pedih dan sakit hati yang dirasakan Minrin selama ini. Karena itulahiIa sangat menyukai saat hujan turun lebat seperti ini. Sekali lagi matanya menerawang ke arah titik-titik air yang jatuh tak tertahankan.

“Ah.. kenapa hujannya turun deras sekali? Menyebalkan..” gerutu namja itu. Dia melirik kea rah Minrin dan memperhatikannya. “Kenapa Kau diam saja? Kau kedinginan?” tanyanya dan hanya direspon Minrin dengan gelengan kepala ringan.

Aniyo. Aku sedang menikmati hujan..” ujar Minrin.

“Kau suka dengan hujan?”

Minrin menoleh lagi dan mengangguk kecil. “Hmm.. Joha. “

“Wae?.” tanya namja itu. Dia menengadahkan tangannya dan tetes-tetes air hujan itupun  jatuh berakhir di telapak tangannya.

“Karena air hujan akan menghapus jejak. Tanah, rumput, bahkan jalanan…semua jejak di tempat-tempat itu akan dihapus oleh hujan.” Minrin ikut menengadahkan tangannya dan dirasakannya dingin air hujan yang menusuk-nusuk telapak tangannya dengan keras.

“Nado joha..” komentar namja itu kemudian yang diikuti senyum lebar di bibirnya.

Minirn mengernyit heran. “Kau tadi bilang menyebalkan. Kenapa sekarang Kau mengatakan menyukai hujan? Dasar ”

“Wae? Aku tidak boleh menyukai hujan?”

“Aniya…”

“Kau tahu, gara-gara terjebak hujan denganmu, aku mulai menyukai hujan.” Ujarnya. “Siapa yang tahu kita akan terjebak lama di tempat ini, hm?”

Minrin memutar kepalanya dan meliriknya sebentar. Seulas senyum kecil muncul di bibirnya begitu saja.

                       

 

Seoul,

August, 2012

Pasta Café, 12.30 PM

Ryeowook menghentikan mobilnya di depan salah satu café di kawasan Apugjeong. Sesuai permintaan Ibunya untuk makan siang bersama, maka di sinilah Ryeowook sekarang. Entah alasan apa yang membawa ibunya untuk merencakan makan siang ini, bahkan ayahnya yang Ryeowook tahu sangat sibuk mau meluangkan waktunya. Sebenarnya hanya makan siang keluarga, tapi terasa berbeda karena sudah sangat lama Ryeowook tidak melakukannya dengan orang tuanya.

Sejak memutuskan tinggal di apartemenya, Ryeowook memang sangat jarang menemui orang tuanya, kecuali ada sesuatu yang memang harus membuatnya untuk bertemu. Misalnya saja seperti masalah perjodohan yang terus saja dilakukan ibunya atau masalah bisnis C.E Group yang menuntutnya berdiskusi lama dengan ayahnya. Selain itu, bisa dikatakan sangat jarang mereka berkumpul untuk sekedar makan siang bersama.

Tapi makan siang kali ini mau tidak mau membuat Ryeowook mencurigai ibunya. Sudah bisa dipastikan ibunya itu merencanakan sesuatu. Mungkin saja makan siang ini hanya triknya untuk mempertemukan Ryeowook dengan gadis lain. Karena sudah pasti Ryeowook akan menolak dengan keras jika ibunya menyuruhnya untuk bertemu dengan seorang gadis.

Ia melangkahkan kakinya memasuki tempat yang ternyata sudah dipesan ibunya sebelumnya. Di tempat itu hanya ada ibunya yang tengah duduk dengan segelas air putih di depannya. Ryeowook menghampiri wanita yang sangat dihormatinya itu.

“Eomma..”

“Oh, Kau sudah datang?” Ibunya terlihat memperhatikan sekitar dengan raut wajah mencari seseorang. Dan tingkah itu justru membuat Ryeowook memandang ibunya curiga. Sedetik kemudian dia beralih pada Ryeowook. “Kau tidak mengajak Sena?” tanyanya.

“Sena?” Ryeowook mengulai ucapan ibunya itu.

Satu hal terlintas di pikirannya. Ini bukan tentang menjodohkannya dengan gadis lain. Tapi kenapa dengan Sena? Tapi apapun itu, jelas ibunya ada di balik rencana makan siang ini.

“Kuere, Han Sena. Aku berharap Kau mengajaknya, karena kita akan membicarakan  masa depan kalian.” Ibunya tersenyum. .

“Maksud Eomma?”

“Tentu saja Pernikahan kalian.”

Mwo?”

Oh Ya Tuhan.. seharusnya Ryeowook tahu hal ini akan terjadi. Tapi tunggu dulu, bukankah Ryeowook tidak pernah mengatakan menerima Sena dan menikah dengannya?

Eomma, jangan bercanda. Aku bahkan hanya sekali bertemu dengannya.”

Ibunya itu lagi-lagi hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya tanda bahwa ibunya sedang tidak ingin diprotes. Oh.. sungguh menyebalkan. Satu-satunya sifat ibunya yang kadang membuatnya kesal adalah sifat keras kepalanya muncul seperti ini.

Ryeowook hampir menyahuti sikap ibunya dengan penolakan. Tapi diurungkannya ketika melihat ayahnya tiba dan bergabung dengan mereka. Dan hal itu semakin membuatnya khawatir. Mengadakan makan siang bersama dan bahkan dengan ayahnya, sudah dipastikan ibunya tidak bercanda kali ini.

Yeobo, Kau sudah datang?”

Annyeonghaseo, Aboji~!” Ryeowook berdiri sebentar memberi hormat pada ayahnya itu.

“Di mana Sena? Kau bilang dia akan datang. Aku sengaja meluangkan waktuku untuk bertemu calon menantuku itu.” Ayahnya berujar ringan.

Mwo? Calon menantu?

“Seharusnya aku tahu uri Ryeowook tidak akan mengajaknya begitu saja, jadi aku memintanya untuk datang sendiri. Chakkaman..” Setelah itu Ibunya itu sibuk dengan ponsel di telinganya. Wajahnya terlihat gusar dan tidak sabaran. Sepertinya panggilannya berakhir di kotak pesan.

Dan Ryeowook hanya bisa diam. Ia juga tidak berusaha mengobrol dengan ayahnya seperti biasa. Otaknya mendadak blank dan satu-satunya yang dipikirkan adalah bagaimana dia bisa lolos dari rencana gila ibunya. Jadi semua ini tidak bercanda? Ayahnya bahkan juga tahu. Tiba-tiba saja ia merasa sangat kesal dengan ini semua. Kenapa orang tuanya merencakan hal seperti ini tanpa membicarakan dulu padanya?

Aboji..” Ryeowook pun angkat bicara. Ini jelas tidak bisa diteruskan. “Aku dan Sena…Kami tidak berencana untuk menikah.” Ujarnya.

Semoga saja ayah dan ibunya akan mengerti. Tapi Ryeowook benar-benar tidak berencana untuk itu. Saat bertemu dengan Sena, memang benar Ryeowook berencana mengenalnya dan tidak langsung memutuskan pejodohan itu. Tapi semua berubah saat Ryeowook mengetahui siapa gadis yang ditunggunya selama ini. Seorang gadis yang 10 tahun lalu ditemuinya. Shin Minrin.

“Tapi Kau bilang akan mencoba berkencan dengannya? Bukankah itu berarti Kau akan menerimanya?” Tanya ibunya tidak mengerti.

“Aku hanya bilang mencoba berkencan dengannya, Eomma. Aku tidak bilang akan menikah dengannya.”

“Tapi Sena bilang…”

“Apa dia mengatakan sesuatu pada Eomma?

“Cukup.! Kalian berdua berhentilah.” Ucap ayahnya yang langsung membuatnya dan juga ibunya diam. “Jadi, sebenarnya Kau akan menikah dengan Sena atau tidak?” Kali ini ayahnya bertanya pada Ryeowook.

Animida, Aboji..” jawab Ryeowook yakin.

“Kau memiliki pilihanmu sendiri?” tanyanya lagi.

 “Yeobo-ya..”

“Aku tanya, apa kau sudah memiliki pilihan gadis untuk kau nikahi?” ulang ayahnya lagi, kali ini dengan nada yang sedikit tinggi dan menuntut untuk dijawab. Sama persis seperti setiap kali ayahnya memarahi Ryeowook karena kesalahan yang dibuatnya.

Ryeowook diam sebentar dan sedetik kemudian mengiyakan pertanyaan itu. “Ne,Aku sudah memilih gadis lain untuk aku nikahi.” Ujarnya pelan.

“Kalau begitu, bawa dia bertemu denganku.”

Nde?”

Matanya membelalak tidak percaya mendengar ucapan ayahnya. Sungguh ini bahkan diluar rencananya. Ryeowook memang menginginkan gadis itu, Shin Minrin jadi istrinya tapi bukan berarti gadis itu juga menginginkan hal yang serupa. Bagaimana ia bisa membawa Minrin bertemu ayahnya? Menyeretnya dengan paksa, begitu? Oh.. Ya Tuhan memikirkan reaksi gadis itu saja membuat Ryeowook tidak yakin. Bagaimanapun juga mereka hanya bertemu dua kali sejak 10 tahun yang lalu.

 “Yeobo-ya.. Apa yang kau lakukan? Uri Sena, eottokeyo?”

Ryeowook menoleh singkat ke arah ibunya. “Jika aku berhasil membawanya bertemu kalian, apa aku tidak harus menikah dengan Sena?” tanyanya.

“Kalau kau dan gadis itu saling mencintai, bagaiman mungkin aku memaksamu menikah dengan gadis lain?”

Dan sedetika kemudian Ryeowook hanya tersenyum dan mengangguk. “Aku mengerti. Aku akan mengajaknya datang ke rumah dan bertemu kalian. Gamsahamnida, Aboji.” Ia berdiri dan member hormat pada ayahnya itu.

Siapa yang menyangka ayahnya bisa berpikir seperti itu. Sejak dulu, baru kali ini mereka mengabulkan permintaan Ryeowook dengan mudah. Ayahnya memang berbeda dengan ibunya yang terlalu memperhatikan Ryeowook. Bukan berarti ayahnya itu tidak perhatian. Tapi laki-laki yang sangat dihormatinya itu mempunyai caranya sendiri untuk memberi perhatian pada anaknya. Meskipun ayahnya tidak selalu memberi sikap ramah dan menyenangkan, tapi Ryeowook menyukai cara ayahnya membesarkannya selama ini. Beliau berbeda dengan ibunya yang kadang kelewat perhatian. Bicara soal ibunya, apa dia sedang marah sekarang? Ryeowook mengalihkan perhatiannya pada ibunya yang terlihat tidak baik setelah rencanya digagalkan oleh suaminya sendiri.

Eomma, neo gwaenchana?”

Angwaenchana.” Sergahnya dengan cepat . “Apa yang harus aku katakan pada Sena? Oh.. dia pasti akan sangat kecewa.”

“Berhentilah mencampuri urusan percintaan orang lain. Kau tinggal bilang pada Sena bahwa Ryeowook menolak perjodohan ini, beres kan?” ucap ayahnya yang terdengar sangat mudah dan diluar dugaan Ryeowook. Tapi untuk kali ini ia setuju dengan ucapan itu.

“Issh mudah bagimu bicara. Kau tidak memikirkan bagaimana reaksi keluarga Han? Yeobo-ya, Kau lupa perusahaan keluarga Han bisa saja membatalkan kontrak dengan C.E jika tahu anak kita menolak puteri mereka. ” Seru ibunya tidak sabaran dan terkesan agak emosi.

Tapi siapa yang menyangka ayahnya kali ini tidak terlalu mengkhawatirkan masalah yang satu itu. Dan justru kalau boleh jujur Ryeowook lan yang menjadi khawatir sekarang. Ibunya benar. Kerja sama antara C.E Group dan perusahaan milik keluarga Han bisa hancur hanya karena masalah perjodohan ini.

“Masih ada perusahaan yang lebih baik yang akan bekerja sama dengan kita selain mereka.” tutur ayahnya tenang. “Uri Ryeowook akan melakukannya dengan baik. Perusahaan dari China itu, jangan sampai kau kehilangan kontrak dnegan mereka.” ayahnya menatap Ryeowook memohon, atau lebih tepatnya menuntut. Dan hanya diikuti anggukan kepala oleh Ryeowook.

Baiklah, sepertinya setelah ini hidupnya akan sedikit lebih sulit.

                       

 

Book of Storyline

03.00 PM

Shin Minrin memperhatikan sejenak gedung tua di depannya. Gedung yang dari luar tampak sangat tua dan rapuh. Cat dindingnya sudah mengelupas di sana sini, beberapa jendela bahkan tidak bisa dikatakan dalam kondisi baik. Ya.. Minrin sendiri heran kenapa selama lima tahun terakhir ini ia masih bertahan di tempat ini. Berusaha sekuat tenaga agar tempat itu tetap beroperasi padahal kenyataannya seperti yang Direktur Lee itu bilang, tempat ini bahkan tidak terlihat masih hidup.

Helaan nafas terdengar jelas keluar dari mulutnya. Ia masih memandang gedung itu dengan tatapan lemah. Dan pada akhirnya waktu untuk menutup tempat ini pun tiba. Minrin jelas tidak butuh menunggu waktu satu bulan, toh pada kenyataannya ia juga tidak akan mampu membeli tempat ini. Jika pun bisa, ia juga pasti akan kesulitan mempertahankan eksistensi Book of Storyline. Dan lagi-lagi ia membenarkan ucapan direktur Lee, bahwa tidak banyak buku yang berhasil diterbitkan Book of Storyline. Jadi, sepertinya tidak ada alasan untuk Minrin tetap mempertahankannya.

“Kau yakin dengan keputusanmu?”

Minrin menoleh ke samping, dan dilihatnya Hyehyo sudah berdiri di sana, ikut memperhatikan gedung tua itu dari luar.

“Eoh..” gumamnya pelan. Ia memutar kepalanya lagi dan kembali memperhatikan gedung tua yang baginya penuh kenangan itu.

“Sepertinya kau harus menemukan pekerjaan baru, Nona. Aku yakin menjadi pelayan di club malam bukanlah pekerjaan yang kau inginkan, benarkan?”

Mendadak Minrin tertawa kecil mendengar ucapan Hyehyo yang sebenarnya tidak terdengar lucu. Namun ia pun mengangguk. Pekerjaan itu hanya sampingan, dan Hyehyo benar, ia harus menemukan pekerjaan baru. Ada atau tidaknya Book of Storyline nyatanya memang tidak terlalu membantunya untuk melunasi hutang ayahnya.

“Bagaimana denganmu?”

Diliriknya Hyehyo hanya mengedikkan bahunya pelan dan menggelengkan kepalanya. “Molla.. Sepertinya aku harus mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Kau sendiri?”

Minrin kembali memperhatikan gedung itu sejenak. “Kuere.. aku juga harus bekerja, kan? Eungi terus saja merengek minta laptop baru.” Ucapnya sambil tertawa sakartis.

Oh.. sungguh Minrin benci pada ayahnya. Teganya orang itu membuat mereka miskin dan terlilit hutang. Meninggalkan penerbit yang bahkan kesulitan beroperasi, membuatnya terus dikejar-kejar rentainer, dan ayahnya pasti tidak tahu sudah hampir membuat puterinya jadi wanita murahan karena hutang-hutangnya.

“Yaa, bagaimana dengan hutang ayahmu? Bukankah waktumu tinggal satu bulan?” Hyehyo menyenggol bahu Minrin dan hanya ditanggapi helaan nafas pelan darinya.

Eoh.. “ ia menarik nafasnya dalam dan menghembuskan dengan pelan, sekedar mengatur emosi yang sempat membuatnya ingin memaki ayahnya dengan kalimat sarapah. “Kurasa masih ada beberapa ratus ribu di rekeningku.”

Ini benar-benar memalukan dan menyedihkan karena harus terus terang masalah keuangan pada Hyehyo. Tapi toh, Hyehyo memang satu-satunya orang yang mengerti tentang masalah hutang yang sedang dihadapi Minrin. Sudahlah, semua sudah diketahui gadis itu jadi tidak masalah mengelupas kulitnya sekali lagi.

Minrin memutar kepalanya dan membuatnya beratatapan dengan Hyehyo. Dan jujur saja Minrin benci melihat tatapan belas kasihan dari sahabatnya itu. Meskipun berkali-kali sahabatnya itu ingin memberikan uang tabungannya, katanya lebih baik berhutang pada sahabat dari pada berhutang pada rentainer. Dan tentu saja Minrin tidak meragukan ketulusan Hyehyo membantunya, tapi lebih baik menanggung dulu beban ini sendiri dari pada membuat orang lain terseret-seret.

“Jika kau ingin memberikan uangmu lagi, maaf tapi aku menolaknya Park Hyehyo-ssi.” Ujar Minrin seakan mampu membaca jalan pikiran Hyehyo yang dilihatnya sekarang ingin melontarkan kalimat penolakan.

“Lebih baik kau membantuku mencari pekerjaan saja dari pada membantuku dengan uang yang susah payah kau kumpulkan.” Potong Minrin cepat.

Hyehyo terlihat tidak setuju tapi ia memilih mengalah. Ia tahu sahabatnya ini, Shin Minrin adalah orang yang keras kepala jadi tidak ada gunanya mengajaknya berdebat.

“Baiklah. Pekerjaan apa yang kau inginkan? Aku akan membantumu mencarinya.” Ucap Hyehyo dengan bersemangat.

“Apa saja selain bekerja sebagai wanita murahan. Jadi pelayan di restoran, penjaga gerbang tol, atau di pom bensin, tidak masalah bagiku, selama aku bisa bekerja.”

Minrin tersenyum dan dibalas anggukan kepala oleh Hyehyo. “Kuere.. “

Tidak masalah jika harus bekerja di banyak tempat yang berbeda, asalkan Minrin bisa mendapatkan uang untuk melunasi hutang ayahnya. Tidak masalah jika itu akan membuatnya kelelahan asalkan pekerjaan itu bukan pekerjaan yang akan menjatuhkan harga dirinya sebagai wanita.

Tidak akan pernah.

                       

Halte Bus

05.00 PM

Ryeowook memelankan laju mobilnya ketika tidak sengaja matanya menangkap sosok Minrin yang sedang duduk di bangku halte. Bukankah ini sebuah kebetulan ia bertemu Minrin di sini setelah permintaan ayahnya tadi siang. Ryeowook mengamati gadis itu. Posisinya diam tidak bergeming seperti patung, bahkan tetap diam saat sebuah bus berhenti di depannya. Tidak berubah. dia tetap duduk ketika akhirnya bus itu pun melaju pergi.

“Apa yang dilakukannya?” gumam Ryeowook.

Ryeowook menghentikan mobilnya. Entah pikiran apa yang merasuki otaknya, tapi Ryeowook menduga gadis itu sedang tidak baik-baik saja. Ryeowook masih mengamatinya. Dua tiga menit, bahkan mungkin sudah 10 menit berlalu tapi dia tetap saja diam. .

Semakin merasa aneh dan membuatnya penasaran, Ryeowook pun memilih keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri gadis itu. Menyapanya dengan biasa namun diluar dugaan membuatnya berjengat kaget. Matanya membulat tidak percaya menatap Ryeowook dan menggumamkan kalimat keterkejutan yang menurut Ryeowook agak berlebihan.

“Ryeowook-ssi..? apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya lagi.

Ryeowook menghela nafasnya dan bergerak duduk di samping Minrin, tidak terlalu memperdulikan kalimat lanjutan yang diucapkannya. Memangnya ada yang aneh dengan Ryeowook yang tiba-tiba ada di halte bus? Tempat ini tempat umum, semua orang bisa berada di sini.

“Apa yang kau lakukan di sini?” pertanyaan itu balik dilontarkan Ryeowook. Dilihatnya tautan alis tidak mengerti dari Minrin. “Bus nya sudah lewat dari tadi. Jadi jangan menjawab kau sedang menunggu bus.” Ujarnya lagi menyela jawaban yang sudah diduga Ryeowook akan dilontarkan Minrin.

Minrin tersenyum kecil dan setengah tertawa menyadari bagaimana Ryeowook menebak isi kepalanya dengan sangat baik. “Memangnya apa yang aku lakukan di halte selain menunggu bus?” elaknya.

“Yang kau lakukan tadi melamun, Agashi.” Sahut Ryeowook dan lagi-lagi disambut tawa kecil dari gadis itu. “Sedang memikirkan sesuatu?” tanya Ryeowook lagi dan kali ini langsung membuat Minrin menghentikan tawa kecilnya.

Minrin diam dengan sesekali tersenyum. Lagi-lagi mengagumi seorang Kim Ryeowook yang begitu mudah menebak apa yang tengah terjadi pada Minrin. Ya.. itu benar. Dia sedang melamun tadi. Lebih tepatnya sedang berpikir apa yang akan dilakukannya sekarang setelah Book of Storyline ditutup dan diserahkan pada perusahaan pemilik sah tempat itu.

“Hmm.. beberapa hal yang sedang mengganggu.” Jawab Minrin.

Mwotte?”

Giliran Minrin yang melirik Ryeowook. “Kau tidak sedang mencoba menjadi wartawan yang mewawancaraiku kan?“ sahutnya lagi-lagi dengan suara tawa yang terdengar dipaksakan.

“Eiyy aku hanya mencoba menjadi teman yang baik.”

Minrin menoleh dan tersenyum. “Gomawo kalau begitu.” Ujarnya

Sama sekali tidak seperti yang Ryeowook harapkan. Paling tidak, bisakah gadis ini mengganggap Ryeowook teman yang bisa dijadikan tempat untuk bercerita? Meskipun jujur saja pertemuan mereka memang bisa dihitung dengan jari, itu pun hanya di Heaven Club milik Eunhyuk.

Sejenak Ryeowook memperhatikan Minrin, mengagumi setiap inchi wajahnya. Ia baru menyadarinya sekarang, kalau ternyata gadis ini memiliki mata yang indah. Teduh dan menenangkan, benar-benar kesukaan Ryeowook.

“Minrin-ssi..” panggil Ryeowook kemudian.

Wae?”

“Bagaimana kalau aku mulai menyukaimu?” ujar Ryeowook yang seketika itu membuat senyum Minrin terhenti berganti dengan ekspresi datar.

Tidak ada jawaban dari Minrin. Gadis itu hanya menatap Ryeowook dalam diam. Dan yang di tatap pun akhirnya sadar sudah membuat suasana menjadi canggung. Buru-buru Ryeowook pun menambahkan “Dwesso. Tidak seharusnya aku mengatakan itu.” Lanjutnya dengan sedikit membuang muka.

Selebihnya Ryeowook hanya merutuki mulutnya yang baru saja mengutarakan kalimat yang seharusnya tidak dikatakannya sekarang. Pertemuan dengan orang tuanya tadi benar-benar membuatnya hampir kelepasan. Untung saja ia tidak langsung meminta Minrin menikah dengannya.

“Lucu sekali.” Komentar Minrin setelah sekian detik berada dalam situasi canggung.

“Apanya?” Ryeowook balas bertanya dengan kening berkerut.

Neo. Tidak tahukah kau sangat lucu saat mengatakannya?”

Apanya yang lucu? Satu-satunya yang lucu bagi Ryeowook adalah membawa gadis di depannya ini secaara paksa menghadap orang tuaya.

“Kau sedang berlatih mengutarakan perasaanmu pada yeoja yang kau sukai? Meskipun terlihat lucu, tapi aku tahu gadis itu akan sependapat denganku, kalau kau benar-benar melakukannya dengan sangat baik.”

Ryeowook termangu. “Aku tidak sedang berlatih. Jika aku berlatih, sudah pasti aku tidak berlatih denganmu. Nan jeongmalyo, Minrin-ssi.. “

Sekarang giliran Minrin yang diam termangu. Apalagi dengan Ryeowook yang kembali menatapnya dalam dan lekat.

“Beberapa jam yang lalu, Ibu ku hampir merencanakan sebuah pernikahan untukku tanpa aku ketahui. Dengan seorang gadis yang tidak aku kenal baik. Ayahku bahkan sangat senang mendengar hal itu. Tapi aku mengatakan pada mereka kalau aku tidak ingin melakukannya. Aku menyukai orang lain dan hanya ingin menikah dengannya. Lalu mereka bilang ingin bertemu dengan gadis yang sudah mengambil hati puteranya. Dan aku bilang aku akan membawanya ke rumah dan bertemu mereka.”

Ryeowook menarik lengan Minrin dan semakin menghujamkan tatapan padanya. “Bisakah Kau ikut denganku bertemu dengan mereka?” tanyanya.

Minrin semakin diam dan lidahnya terasa kelu bahkan untuk menanggapi pertanyaan itu. Seakan tersadar pada ketidakmungkinan, Minrin berusaha meredam suara detak jantungnya dan tersenyum. Ia melepaskan tangan Ryeowook yang melingkar di lengannya.

“Kau tidak mengenalku Kim Ryeowook-ssi. Kita hanya bertemu beberapa kali, bagaimana mungkin kau mengatakan itu pada orang yang baru kau temui beberapa kali?”

“Aku baru saja mengatakannya. Jadi tidak ada yang tidak mungkin.” sahut Ryeowook bangga tapi juga terdengar memaksa.

Minrin kehilangan kata-katanya. Kata-kata untuk menyanggah argument itu dan juga kata-kata untuk segera melepaskan diri dari situasi ini. Tidak adakah sesuatu yang bisa menyelamatkannya dari situasi ini?

Beruntung ponselnya berdering di saat yang tepat. Buru-buru ia mengambil benda datar berwarna putih dari tasnya dan mengangkat panggilan yang masuk, tidak peduli jika panggilan itu justru akan membawanya ke dalam situasi yang lebih tidak diinginkannya dari pada ini.

Setelah cukup berbicara atau lebih tepatnya mengiyakan permintaan orang di seberang sana, Minrin pun menghentikan percakapan di telepon itu dan beralih pada Ryeowook. “Saat ini aku harus pergi. Maafkan aku.” Ia pun berdiri dan tersenyum sebentar pada Ryeowook.

“Aku akan ke China lusa. Jadi bisakah Kau memberiku jawaban sebelum itu?” Ryeowook ikut berdiri dan berhadapan dengan Minrin, menatapnya dengan agak memohon. Tepat saat itu sebuah bus berhenti di depan mereka.

“Aku akan menghubungimu. Sampai jumpa..” Minrin sedikit membungkukkan badannya dan ia pun berlalu naik ke dalam bus.

Selebihnya Ryeowook hanya memperhatikan gadis itu yang tengah berjalan menuju bangku paling belakang, lalu bus itu pun melaju pelan.

Dasar bodoh. Ryeowook bergumam pelan. Bagaimana dia akan menghubunginya? Selama ini mereka tidak pernah saling bertukar nomor.

                                   

Early September 2012

At Heaven’s Club

09.00 PM

Ryeowook memandang ke sekeliling ruangan, ke arah meja minum dengan Daehyun yang sedang memberi pertunjukan kecil membuat minuman. Lalu matanya beralih ke lantai dua dimana ia dan teman-temannya sering berkumpul bersama menikmati beberap gelas wine dan berdiskusi. Sudah beberapa minggu ini ia tidak datang kemari. Ya.. ucapannya pada Eunhyuk tentang tidak akan sering-sering datang memang serius. Pekerjaannya benar-benar menguras tenaga, pikiran dan tentu saja waktunya. Jadi, tidak heran kalau sudah hampir tiga minggu ini ia sama sekali tidak menginjakkan kaki di tempat ini.

Tiga minggu ini ia sibuk menjalin kerjasama dengan perusahaan asal  China dan otomatis ia harus bolak-balik China-Korea hanya demi bisnis itu. Bahkan karena kesibukan itu, ia hampir lupa dengan kesepakatan yang dibuatnya dengan sang ayah untuk membawa gadis pilihannya ke hadapan orang tuanya. Dan otomatis ia juga hampir lupa tentang jawaban yang belum diberikan gadis itu padanya.

Bukan lupa, melainkan ia tidak tahu bagaimana menemukan gadis itu dan meminta jawabannya.

Matanya beralih pada anak tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai dua Club ini. Dan sejenak Ryeowook menyadari tujuan awalnya datang ke tempat ini. Ya benar, gadis itu. Sejak pertemuan mereka di halte itu, Ryeowook tidak pernah tahu di mana gadis itu. Ia juga tidak berusaha mencari tahu. Itulah kesalahannya. Ketika sudah di depan mata, Ryeowook justru tanpa sengaja kembali membuatnya menghilang dari jarak pandangnya. Dan sekarang ia sendiri bingung harus mencarinya di mana.

Eunhyuk pernah bilang tentang Book of Storyline, tapi Ryeowook sendiri tidak tahu di mana alamatnya. Disaat ia mencoba bertanya pada Eunhyuk, sahabatnya itu justru sedang ke Jepang. Satu-satunya yang Ryeowook tahu, gadis itu bekerja di Club ini. Ryeowook memang pernah sekali mengantar gadis itu pulang, tapi saat itu dia memilih turun di salah satu halte bus. Jadi di sinilah Ryeowook sekarang berada, mencari gadis bernama Shin Minrin.

“Daehyun-ah..” Ryeowook menghampiri meja minum dan menyapa Daehyun.

Hyung, waesso? Aku jarang melihatmu beberapa hari ini. Ku dengar Kau sedang sibuk di China.” Sahut Daehyun yang terlihat sangat sibuk dengan racikan minuman di tangannya.

“Bisa kau buatkan aku satu?” minta Ryeowook dan mulai mendudukan diri di kursi tinggi di depan meja.

“Tentu saja, Hyung..”

Selebihnya Ryeowook hanya memperhatikan betapa cekatannya Daehyun membuat minuman yang di pesannya. Tidak butuh waktu lama untuk segelas minuman rendah alcohol yang biasa di pesan Ryeowook di sodorkan Daehyun padanya.

Gomawo..” Ryeowook menarik gelas berukuran pendek itu dan mulai meminum isinya.

Ia mungkin akan terlalu menikmati minumannya jika saja tidak teringat kembali dengan tujuan awalnya datang kemari. “Ngomong-ngomong, gadis yang waktu itu, apa dia tidak masuk kerja?” tanyanya. Daehyun menghentikan kegiatannya dan beralih memperhatikan Ryeowook dengan kening berkerut, terlihat sekali dia tidak mengerti dengan ucapan Ryeowook.

“Shin Minrin, kalau tidak salah itu namanya. Gadis yang pernah menumpahkan minuman di kemejaku. Apa dia tidak datang?” ulang Ryeowook lagi berpura-pura mengingat nama gadis itu. Baru setelah itu Daehyun paham dan terlihat mengangguk-anggukan kepalanya mengerti.

“Hari ini bukan jadwalnya. Akhir-akhir ini dia jarang sekali datang. Kudengar dia sedang terlilit hutang, karena itulah dia harus bekerja di banyak tempat.”

“Hutang?” Ryeowook mengulangi ucapan Daehyun yang tiba-tiba sangat mengganggunya, dan tentu saja membuatnya penasaran.

“Eo..temannya bilang, ayahnya pergi dan meninggalkan banyak hutang. Karena itulah dia bekerja di berbagai tempat, termasuk di sini.”

Ryeowook mengangguk mengerti. Padahal sejujurnya rasa penasarannya tidak berhenti di situ. Gadis itu, jelas sudah menjadi gadis yang berbeda dari 10 tahun yang lalu. Hidupnya berbeda dari yang dulu. Oh.. siapa Ryeowook yang mengaku-aku mengetahui kehidupan gadis itu dulu. Dasar bodoh. Sejak dulu sampai sekarang tidak ada yang Ryeowook ketahui tentang gadis itu.

“Kau tahu di mana rumahnya?” tanya Ryeowook tiba-tiba, yang sukses menghentikan gerakan tangan Daehyun untuk kedua kalinya yang hendak mengambil gelas lain.

Dia memutar bola matanya dan lagi-lagi mengarahkan tatapan tidak mengerti. “Wae? Jangan katakan Hyung tertarik padanya?”

Terlihat Ryeowook sedikit gugup menjawabnya. Ia hanya berdehem pelan, tapi jelas senyumnya yang berusaha disembunyikan saat mendengar kalimat itu tidak bisa disembunyikan dari Daehyun. Karena entah kenapa Daehyun merasa dugaannya yang tidak masuk akal itu memang benar.

“Aku benar kan? Wah.. Daebag~! Dan bagaimana Hyung bisa menyukainya?” lanjut Daehyun, saat yakin aksi diam Ryeowook mengindikasikan jawaban ‘Ya’.

Ryeowook hanya tersenyum dan mengedikkan bahunya pelan. “Love first sight.” gumamnya pelan.

Jinjjayo?”

“10 tahun yang lalu aku pertama kali bertemu dengannya. Satu-satunya gadis yang sanggup membuatku menolak perjodohan yang disodorkan ibuku.” Lagi-lagi Ryeowook tersenyum, mengingat betapa gilanya ia hanya gara-gara gadis bernama Shin Minrin itu.

Oh.. katakan ia sudah mabuk, padahal minumannya saja hanya berkadar alcohol rendah. Tapi kenapa tiba-tiba ia sangat ingin bertemu dengan gadis itu? Tiga minggu berkutat dengan pekerjaan, ternyata tidak mampu membuat bayangan Shin Minrin menghilang dari otaknya.

“Aku tidak tahu tempat tinggalnya. Beberapa kali aku hanya mengantarnya pulang sampai di halte bus.” Ucap Daehyun menjawab pertanyaan pertama Ryeowook tadi.

Sama seperti dirinya kalau begitu, Ryeowook membantin. Tidakkah ada yang tahu di mana gadis itu tinggal?

Dan di sela-sela Ryeowook berpikir keras bagaimana menemui gadis itu, seorang gadis yang pernah dilihat Ryeowook beberapa kali di tempat ini terlihat berjalan ke arah mereka. Ryeowook mengamati gadis itu sejenak yang sekarang sedang berbicara pada Daehyun.

“Daehyun-ssi, bisakah aku minta gajiku bulan ini?” tanya gadis itu.

“Yaa, Park Hyehyo kau bahkan belum bekerja bulan ini, kenapa tiba-tiba munta digaji di muka?” tanya Daehyun tegas.

“Sekali ini saja.” Pinta gadis itu dengan muka memelas.

“Tidak. Kau ingin dipecat?”

Diam-diam Ryeowook mengagumi bagaimana Daehyun bersikap tegas seperti itu. Pantas Eunhyuk begitu mempercayakan urusan kepegawaian di sini padanya.

“Aku tahu kita berteman, tapi aku benar-benar tidak bisa. Kau sendiri tahu kan, bagaimana Eunhyuk hyung kalau dia sampai tahu aku memberi gaji seenaknya pada dua pegawaninya? Bisa-bisa aku yang dipecat.”

Gadis bernama Park Hyehyo itu terlihat hanya memanyunkan bibirnya sembari menggerutu. “Ah.. dan lagi, suruh temanmu itu untuk masuk kerja besok. Bagaimana bisa dia mengambil gajinya lebih awal dan sekarang dia bahkan tidak masuk kerja” Daehyun menggelengkan kepalanya pelan, dan sekali lagi menolak permintaan gadis itu.

“Minrin sedang bermasalah dengan rentainer itu. Asal kau tahu saja, mereka menahannya. Karena itulah aku butuh uang untuk menyelamatkannya.”

Refleks Ryeowook menolehkan kepalanya cepat. Hampir saja ia tersedak minumannya sendiri. Apa yang tadi didengarnya? Minrin ditahan para rentainer?

Jinjjayo?”

“Aissh, mana mungkin aku berbohong. Jadi, kau mau membantuku atau tidak?” decak Hyehyo tidak sabar.

Dilihatnya Daehyun melirik sebentar pada Ryeowook. Namun, Ryeowook memilih diam ketimbang memperlihatkan rasa penasaran dan juga kekhawatiran yang entah kenapa tiba-tiba menyelimutinya.

“Apa karena itu dia tidak masuk kerja?” tanya Daehyun lagi.

“Aissh, Yoon Daehyun, Kau tidak mendengarku tadi? Tolonglah, Jebal..”

Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Diam-diam Ryeowook kembali memperhatikan Daehyun dan gadis bernama Hyehyo tadi.

“Shin Minrin tidak suka berada di tempat itu. Dan sekarang karena hutangnya belum lunas, dia terpaksa masuk ke kandang yang penuh singa kelaparan.” Ujar Hyehyo kemudian. Ia menghela nafasnya. Dan Ryeowook bahkan melihat kekhawatiran di wajahnya itu.

“Ucapanmu terdengar berlebihan, Hyo..”

Benar. Terdengar berlebihan tapi entah kenapa Ryeowook juga akan bersikap berlebihan jika perasaan khawatir yang ditunjukkan Hyehyo itu memang benar mengartikan bahwa Minrin sedang dalam kesulitan.

 “Hyehyo-ssi, apa maksudmu tadi?” tanya Ryeowook tiba-tiba yang langsung membuat Hyehyo maupun Daehyun beralih memperhatikannya.

“Nde?”

                       

 

At a Bar

10.00 PM

Ryeowook melangkahkan kakinya dengan tidak sabar, melewati beberapa wanita yang melayangkan pandangan menggoda padanya, tapi dihiraukan Ryeowook. Sekilas beberapa pria yang duduk di salah satu kursi justru melayangkan pandangan ketertarikan pada wanita tadi. Tapi semua itu tidak penting.  Saat ini fokusnya hanya satu. Shin Minrin.

Demi apapun, Ryeowook harus menemukannya. Ryeowook khawatir. Sangat khawatir. Mendengar cerita Hyehyo saja sudah membuatnya khawatir dan tidak mampu berpikir dengan baik, apalagi melihat langsung Minrin berada di tempat ini dengan berpuluh pasang mata para lelaki yang memperhatikannya.

“Sial.. di mana dia?” tanyanya pada diri sendiri.

Ia menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan yang gelap. Dan sejauh ini matanya hanya menangkap beberapa pasang yang tengah menari bersama. Gadis itu tidak ditemuinya di sana. Lalu matanya beralih pada sebuah tangga yang menghubungkan lantai satu dan lantai atas. Tepat di sana ia melihat seorang gadis menaiki tangga dengan minuman di tangannya.

“Minrin-ssi..?” gumam Ryeowook.

Benar. Itu dia.

Dengan langkah yang semakin dipercepat, Ryeowook pun menghampiri gadis itu. Menarik lengannya dengan pelan dan sedikit memaksanya untuk berhenti. “Apa yang kau lakukan di sini?” sentak Ryeowook.

Minrin menolehkan kepalanya dengan cepat “Ryeowook-ssi..” gumamnya dengan wajah yang sama terkejutnya dengan Ryeowook saat ini.

“Apa kau harus melakukan ini?” tanya Ryeowook lagi. Kali ini nada suaranya terdengar tinggi dan penuh rasa khawatir.  Diperhatikannya penampilan Minrin dari atas sampai bawah. Rok pendek di atas lutut yang mengetat pahanya, serta blus putih berlengan pendek sebagai atasan. Pakaian itu  terlihat sangat minim dan bahkan hampir mengekspos bagian-bagian tubuhnya. Melihatnya saja justru membuat Ryeowook sangat marah. Apalagi saat bayangan laki-laki di tempat ini memandang Minrin dengan tatapan penuh nafsu.

Ya.. hanya dengan mendengar penjelasan Hyehyo, Ryeowook sudah menduga pekerjaan apa yang sedang dilakukan Minrin di tempat ini untuk membayar hutangnya.

Neo, wae yoggiseo?”

“Aku akan membantumu melunasinya, tapi mulai sekarang jangan datang ke tempat seperti ini.” Ujar Ryeowook menghiraukan pertanyaan yang dilontarkan Minrin tadi.

Mwo?”

“Kepada siapa kau berhutang? Aku akan menemuinya dan melunasi semua hutangmu, eotte?”

Minrin semakin mengerutkan dahinya tidak mengerti. Dia sudah tidak mengerti kenapa Ryeowook datang ketempat ini, dan sekarang dia bahkan dibuat tidak mengerti dengan ucapan Ryeowook barusan.

Belum sempat untuk Minrin menjawab beribu pertanyaan yang  dilontarkan Ryeowook padanya, tangannya yang lain sudah ditarik seseorang dengan paksa. Ia menoleh dan dilihatnya orang itu berdiri di depannya, dengan tangan mencengkeram erat lengan Minrin. Laki-laki berjas yang terus saja mengejarnya dan bahkan menyeretnya ke tempat ini dengan paksa.

“Di sini kau rupanya? Sudah kubilang untuk jangan lama mengambil minumannya, kan?”

Bau alcohol menyeruak, terhirup ke hidungnya. Dan saat itu juga Minrin menyadari bahwa ia harus melakukan sesuatu jika tidak ingin berakhir dengan tamparan keras seperti kemarin malam. Baginya menghadapi orang gila itu lebih baik dari pada menghadapai orang mabuk seperti laki-laki ini.

Ia kembali menoleh pada Ryeowook, menatapnya dengan tatapan memohon. Saat ini mungkin kesempatannya untuk bisa pergi dari tempat ini. Seakan mengerti, Ryeowook pun semakin mengeratkan cengkeraman tangannya di tangan Minrin dan menariknya lebih mendekat ke arahnya.

“Yaa, apa yang Kau lakukan?” teriak laki-laki tadi. Matanya menatap kurang focus.

Dasar pemabuk, batin Minrin.

“Aku minta maaf, tapi aku sudah menyewa gadis ini.”  Ujar Ryeowook tenang. Seakan-akan dia sudah sangat pandai bagaimana menghadapi orang gila yang sedang mabuk seperti orang ini.

“Mwo? Yaa, Shin Minrin Kau menerima tamu tanpa seizinku?” dengusnya kesal.

Minrin tersenyum menyeringai. “Kueromyo. Kau yang mengatakan padaku untuk segera melunasi hutangku, kan? Jadi, apa salahnya aku menerima orang ini. Lagi pula orang ini sangat kaya, ” Ujar Minrin mencibir.

Laki-laki itu bukannya melepaskan cengkeraman kuat di tangan Minrin tapi justru menatapnya dengan tajam. Seakan-akan ucapan Minrin barusan tadi tidak masuk akal atau sejujurnya dia memang tidak bisa mengerti dengan jelas mengingat kondisi otaknya yang sudah keracunan alcohol berkadar tinggi.

“Lepaskan tanganmu.!” Minrin menyetakkan cengkeraman kuat di tangannya itu dan balas menatap laki-laki itu dengan tajam.

“Aissh..!!! kuere..kuere… pergilah. Cepat temui aku setelah urusanmu selesai!!” Laki-laki itu pun melepaskan cengkeraman di lengan Minrin dan mengumpat tidak jelas. Ia berbalik dan pergi. Berjalan dengan sempoyongan karena kesadaran yang sudah berada di ambang batas.

Selepas orang itu pergi, Minrin menghela nafasnya panjang. Ia menoleh kea rah Ryeowook. Jika saja Ryeowook tidak datang, entah akan jadi apa diirnya di dalam sana. “Gomawo..” ujarnya.

“Tidak perlu. Aku memang datang untuk membawamu pergi dari sini.” Sahut Ryeowook dan tanpa dikomando dia sudah kembali menarik tangan Minrin dengan agak memaksa agar mengikutinya.

“Yaa.. apa yang kau lakukan?”

“Menyelamatkanmu. Kau pikir apa lagi? Kajja.. “

Minrin diam dan hanya mengikuti. Selebihnya tidak ada penolakan yang keluar dari mulutnya ketika akhirnya mereka sudah berada di luar gedung dan tepat berdiri di samping mobil hitam milik Ryeowook.

Ryeowook melepaskan genggaman tangannya di tangan Minrin. Ia memperhatikan lagi keadaan gadis itu, memastikan tidak ada cacat sedikit pun di tubuhnya. Berpakaian terlalu  sexy di cuaca dingin seperti ini pasti sangat menyiksa. Dan sebenarnya lebih dari kasihan, Ryeowook justru tidak menyukai penampilan gadis di depannya itu. Ia melepaskan mantelnya dan menyerahkannya pada Minrin.

“Kau pasti kedinginan. Pakailah..!! aku tidak bisa melihatmu berpakaian seperti itu.” Ujar Ryeowook, membuyarkan keterkejutan di wajah Minrin. Diam.

Anehnya tidak ada penolakan dari Minrin saat Ryeowook memakaikan mantel itu di tubuhnya. Ia bahkan menurut saja saat Ryeowook menyuruhnya masuk ke dalam mobil. Sejujurnya ia sudah sangat tidak nyaman dengan pakaian yang dikenakannya. Lagi pula udara mala mini memang dingin.

“Aku antar kau pulang. Di mana rumahmu?” tanya Ryeowook yang sudah siap di depan kemudi. Minrin menoleh sebentar tapi ia menggeleng.

“Tidak. Antarkan aku di halte bus seperti biasanya saja.” Ia menghela nafasnya lemah dan hanya bisa menundukkan kepalanya, membayangkan bagaimana reaksi ibunya jika melihat keadaan anaknya seperti ini. Hanya demi melunasi hutang ayahnya yang tidak bertanggung jawab, ia bahkan rela direndahkan harga dirinya sebagai seorang wanita. Membiarkan orang-orang di tempat itu berbuat seenaknya padanya. Tidak.. Tentu saja ia tidak bisa membiarkan ibunya tahu mengenai hal ini.

“Jangan bodoh. Ini sudah terlalu malam, Minrin-ssi.” Elak Ryeowook tidak setuju. Ia melirik Minrin sebentar sebelum mulai menstater mobilnya.

Baik. Jika gadis ini tidak ingin menyebutkan alamat rumahnya, apa boleh buat?

Dan mobil itu pun melaju dengan kecepatan sedang,  menuju kawasan Apgujeong. Arah yang jelas tidak menuju tempat tinggal Minrin. Bahkan mobil itu pun melaju semakin cepat dan tidak ada tanda-tanda akan berhenti di halte bus, tempat biasa Minrin menunggu busway.

Eoddiya?” tanya Minrin saat menyadari, ia semakin menjauh dari daerah tempat tinggalnya. Ia menoleh dan dilihatnya Ryeowook hanya diam. “Yaa~!!” serunya.

“Membawamu ke tempat yang aman.” Sahut Ryeowook menjawab “Besok pagi, aku yakin orang itu akan mendatangi rumahmu dan menyeretmu lagi.” Lanjutnya. Dan mau tidak mau Minrin menyipitkan matanya ketika tiba-tiba dugaan bahwa Ryeowook mengetahui kejadian ia dipaksa oleh orang itu muncul di otaknya.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Seseorang memberitahuku. Tidak perlu tahu siapa. Kau tidak mau memberi tahu dimana rumahmu, maka aku akan membawamu ke rumahku.” Sahut Ryeowook.

Mwo? Yaa, hentikan mobilnya~!!” seru Minrin kemudian sedikit berteriak. Tapi Ryeowook tidak peduli dan tetap melajukan mobilnya di jalanan kota Seoul.

Ryeowook masih tidak peduli jika saja tidak terdengar isak tangis dari gadis yang duduk di sampingnya itu. Ia menoleh dan melihat Minrin menatapnya memohon. “Eomma… Serin .. aku tidak bisa membiarkan mereka menyakiti eomma dan juga Serin.” Isaknya.

Ryeowook memperhatikan gadis itu dan dengan pelan ia pun menepikan mobilnya. Ia beralih menatap Minrin sepenuhnya. Dari sosok gadis dingin, ketus yang berpura-pura ceria akhirnya dia menunjukkan kerapuhannya juga. Hari ini untuk pertama kalinya sejak kejadian di taman 10 tahun yang lali Ryeowook melihat Minrin menangis.

“Katakan di mana mereka? Aku akan menyuruh sekretaris Han menjemput mereka dan membawanya ke tempat yang aman.”

Ddrrt ddrrt..

Ponsel gadis itu bergetar dan dengan tangan gemetaran Minrin mengambil ponsel itu. Sebuah pesak Kaotalk dari adiknya.

Eonnie, eoddiya?

Mereka datang dan mencarimu. Jangan pulang sekarang, lebih baik menginap di rumah Hyehyo eonnie saja. Apa eonnie membuat mereka marah lagi? Aissh.. pokoknya jangan pulang, aku dan eomma sedang dalam perjalanan ke rumah Bibi di Ilsan. Jangan khawatirkan kami, eoh?

Minrin menghela nafasnya begitu membaca pesan yang dikirim adiknya itu. Ada perasaan lega tapi juga takut. Lega karena eomma dan adiknya bisa mengungsi sementara di rumah Bibi nya di Ilsan. Tapi juga takut bagaimana menghadapi orang-orang itu nantinya.

“Minrin-ssi, Neo gwaenchanayo?”

Minrin tersadar ia masih di dalam mobil bersama Ryeowook. Ia menoleh dan sejenak kemudian ia mengangguk. “Tidak perlu menyuruh sekretarismu, eomma dan Serin sudah pergi ke rumah bibi di Ilsan. Kau benar, mereka datang mencariku di rumah.” Gumam Minrin. Ia menghela nafasnya.

“Apa yang akan kau lakukan sekarang?”

“Aku akan ikut denganmu.” Ujar Minrin. Ia melempar pandangannya ke luar sebelum akhirnya mobil yang mereka tumpangi kembali melaju menuju Apugjeong.

                                   

 

Ryeowook’s Apartement

11.15 PM

Minrin termangu memperhatikan setiap inchi ruangan di depannya. Luas dan mewah. Ini adalah kali pertamanya ia menginjakkan kaki di sebuah apartement mewah seperti ini. Tidak salah apartement ini mewah, karena di bangun di kawasan elit seperti Apugjeong. Ia juga tidak heran Ryeowook tinggal di sini, karena dia orang kaya.

Ruangan itu didominasi warna putih. Kesukaan Minrin. Sofa tertata rapi di ruangan yang baru dimasukinya. Sebuah lukisan abstrak terpajang di dinding, sementara sebuah rak berisi buku-buku berdiri di salah satu sisi ruangan. Di ruangan ini Minrin bisa melihat pemandangan kota Seoul dari jendela besar. Indah. Kerlap-kerlip lampu kota Seoul masih terlihat jelas meski hari sudah selarut ini.

Ia mendekati jendela itu dan memandang ke luar. “Yeppoda..” gumamnya.

“Di sini kau rupanya.” Sebuah suara menginterupsi dan memaksa Minrin menoleh. Dilihatnya Ryeowook berdiri di dekat pintu. Dia tidak lagi memakai jasnya tapi sudah berganti dengan Shirt berwarna putih, yang entah kenapa sangat cocok untuknya.

“Maaf, aku berkeliling seenaknya.” Ujar Minrin. Ia melangkah menjauhi jendela itu dan menghampiri Ryeowook.

Gwaenchana. Kau ingin makan sesuatu? Akan ku buatkan untukmu.”

Aniya. Aku ingin istirahat saja. Aku tidak ingin menyusahkanmu” sahut Minrin, ia tersenyum tulus. Sangat tulus hingga membuat Ryeowook terbuai sejenak. “Di mana aku tidur? Aku sangat ingin tidur sekarang”

Ryeowook tersadar dan menarik nafasnya dalam-dalam. Hampir saja otaknya kehilangan kendali hanya karena melihat senyum gadis ini. “Pintu kedua dari sini.” Jawabnya.

“Baiklah. Selamat malam kalau begitu.” Minrin kembali tersenyum dan melangkah melewati Ryeowook.

Chakaman..”

Minrin menghentikan langkahnya dan berbalik, begitu juga Ryeowook yang sekarang membuat mereka saling berhadapan. “Kau bisa mengganti pakaianmu. Aku sudah mempersiapkannya di kamarmu.” Ujarnya

Demi apapun, Ryeowook tidak akan membiarkan gadis itu berpakaian terlalu seksi seperti itu lagi.

Gomawo. “

“Hmm.. Selamat malam kalau begitu.” Kini Ryeowook yang lebih dulu berlalu. Entah kenapa detak jantungnya mendadak tidak beraturan seperti ini.

Benar-benar tidak bisa dipercaya. Ryeowook tahu ia menyukai gadis itu sejak dulu, dan rasanya jantungnya tidak pernah berdetak sehebat ini sebelumnya. Tapi sekarang, hanya melihatnya tersenyum saja sudah mampu menjungkir balikkan seluruh isi perut dan otaknya.

                       

 

In The Morning

05.00 AM

Minrin menggeliat pelan di atas tempat tidur yang terasa sangat nyaman untuknya itu. Ia menyipitkan matanya dan berusaha memulihkan kesadarannya. Perlahan ia meraih ponsel yang diletakkan di meja samping. Pukul 05.30 pagi. Ia pun memutuskan bangun dan bergegas keluar.

Satu hal terlintas di otaknya pagi ini, yaitu membuatkan orang itu sarapan sebagai ucapan terima kasih karena sudah menyelamatkannya dan juga menampungnya di apartement mewahnya ini. Ia tersenyum ketika keadaan diluar kamarnya masih sepi. Itu berarti Kim Ryeowook belum bangun.

Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju dapur. Tapi betapa terkejutnya ia ketika mendapati Ryeowook sudah berada di sana, duduk di depan meja makan dengan secangkir kopi di depannya. Sepagi ini dia sudah bangun?

Minrin melongo dan dihampirinya orang itu. “Selamat pagi. Kau mau kopi?” tawarnya. Minrin menggeleang dan memilih duduk salah satu kursi yang kosong.

“Aku tidak suka kopi. Apa kau biasa bangun sepagi ini?” tanya Minrin kemudian, masih sulit untuk dipercaya.

Ryeowook mengangguk dan meneguk kopi di cangkirnya. “Untuk hari ini iya.” Jawabnya.

Wae?”

“Karena kau membuatku sulit tidur.” Jawab Ryeowook jujur.

Mendadak Minrin menahan senyumnya. “Benar-benar lelucon pagi yang sangat bagus, Tuan Kim.” Sahut Minrin, menyembunyika rona merah yang mendadak mucul di pipinya.

“Aku tidak sedang membuat lelucon. Apa kau ingat kau berhutang jawaban padaku? Aku nyaris tidak tidur semalam hanya karena memikirkan jawaban itu.”

Minrin tertegun, matanya mengerjap beberapa kali. Bukan tidak sadar, tapi hanya berpura-pura, karena selebihnya Minrin ingat ia memang berhutang sebuah jawaban pada Ryeowook.

“Kau harus menjawabnya sekarang. Harus sekarang, karena aku tidak bisa menunggu.” Desak Ryeowook agak memaksa. Dan hal itu semakin memojokkan Minrin.

Minrin diam sesaat. Bukannya tidak memikirkan jawaban ini, ia sungguh sudah memikirkannya dengan baik-baik semalam. Karena bagaimana pun juga jika ia bertemu dengan Ryeowook, itu berarti ia juga harus memberikan jawaban atas pertanyaan Ryeowook di halte bus beberapa waktu yang lalu.

Ia tersenyum dan sesaat kemudian mengangguk. “Jika aku menerimanya, apa kau akan membantuku?” tanya Minrin kemudian.

“Bantuan apa? Melunasi hutangmu? Apa kau ingin menikah denganku asal aku melunasi hutangmu?” Tebaknya asal.  “Tidak usah kau minta aku sudah menyuruh orang untuk melunasi semua hutangmu pada rentainer itu pagi ini.” Ryeowook melanjutkan.

 “Aku memang berharap kau akan melakukannya, tapi bukankah itu terdengar kejam? Aku menikah denganmu untuk imbalan hutangku akan lunas. Tidak Kim Ryeowook-ssi, aku tidak berharap kau akan melakukannya. Aku meminta padamu untuk membantuku menemukan ayahku, bisakah kau melakukannya? Setelah itu, aku akan menikah denganmu”

                       

At Heaven’s Club

09.00 PM

Ryeowook menghampiri Eunhyuk yang terlihat sudah duduk di tempat biasanya. Beruntung sekali hyungnya itu kembali ke Korea di saat yang sangat tepat. Setelah melakukan sedikit perjanjian yang terdengar tidak masuk akal dengan Minrin tadi pagi, maka orang pertama yang ditemui Ryeowook adalah Eunhyuk. Karena entah bagaimana caranya hyungnya ini selalu berhasil mendapatkan informasi apapun.

Hyung..” panggilnya.

Eunhyuk menoleh dan melambaikan tangannya, tersenyum memamerkan gusi-gusinya. Benar-benar senyum khas milik Eunhyuk.

“Kau merindukanku, dongsaeng-ah?” ujarnya sembari merentangkan tangan dengan gerakan kekanak-kanakan ingin memeluk tapi Ryeowook menghindar.

Hyungnya ini benar-benar kekanak-kanakan dan sama sekali tidak berubah. Kadang Ryeowook ingin Eunhyuk segera punya istri atau paling tidak pacar yang benar-benar dicintainya. Paling tidak dengan begitu sifak kekanak-kanakannya ini akan berkurang.

“Aku membutuhkan bantuanmu, Hyung.”

Tanpa banyak bicara Ryeowook duduk di salah satu kursi dan langsung mengutarakan maksudnya.

Eunhyuk menurunkan tangannya dan bergumam tidak jelas. “Bantuan apa lagi? Bukankah kau sudah berhasil menemukan gadis pujaanmu itu?”

“Bantu aku mencari tahu keberadaan ayahnya.”

“Eh? Shin Taewoo? Kau ingin aku mencari keberadaan orang itu? Wae?”

“Karena dia adalah wali calon isteriku.”

“Apa katamu?” Eunhyuk menoleh cepat. Rasa-rasanya pendengarannya agak kurang beres tadi.

“Jangan terkejut begitu Hyung. Aku sudah pernah bilang padamu kan? Aku ingin menikah dengan gadis yang kusukai, dan itulah yang akan aku lakukan. Tapi sebelumnya, aku harus menemukan di mana Shin Taewoo.”

“Mwo~!! Kau akan menikah dengannya? Secepat itukah hubungan kalian? Kau bahkan baru bertemu lagi dengannya beberapa kali, Wook” teriak Eunhyuk tambah terkejut.

“Dia sendiri yang mengatakan mau menikah denganku. Jadi, tidak ada yang salah, kan?”

Eunhyuk diam. Mendadak ekspresinya berubah tanpa disadari Ryeowook. Dan selanjutnya ia hanya bisa tersenyum simpul dan mengangguk mengerti.

CUT

Huft… akhirnya bisa publish part 3. Agak panjang dari part sebelumnya, mohon dimaafkan *bow* ^^

Sebelumnya, saya mau minta maaf karena jarang sekali update ff. jujur saja waktunya buat update itu ada, tapi mood buat nerusin ff yang kadang sulit dicari. He he he..

Oke, sudahlah terima kasih sudah berkunjung dan membaca. Jangan lupa comment nya ya.. Gamsahamnida ^^ Oh iya hampir lupa, di part ini club malam milik Eunhyuk aku kasih nama Heaven’s Club, di part sebelumnya cuma aku tulis Bar tapi di sini aku ganti soalnya ada setting tempat yang juga di bar tapi bukan di tempatnya Eunhyuk. 

Ps: Next updating is Let’s Meet Again Someday 

Advertisements

9 thoughts on “(Fanfiction) #3 Bittersweet

  1. But…. Why your bias same with me..??? #kyuwook?? Aigoo…. Wookppa banyak sekali selingkuhanmu…. Apalagi minrin…:/ kenapa bukan nae…hoho

  2. Ne chingu…. Sudah berapa bulan ini tak dengar lagu terbaru KRY..rasanya berpulu2 tahuuub #olaak

    Salam kenal juga thor…:)

    sering2 buat ep2 wookppa nee:D

    • iya nunggu yesung balik dari wamil dulu baru bisa denger lagu baru nya KRY. (semoga ada KRY album)

      aduh jangan panggil thor, chingu aja lebih enak di denger ^^
      iya sering2 berkunjung ne 😀 semoga bisa segera publish lagi (:

  3. Amiiin dah….. Ahhh jadi ngebayangin 1 album KRY ada 15 lagu baru huwaaaa….#Plaak daebaaak

    siap thor eh… Chinguuu… Aku selalu berkunjung kalo ada EpEp baru…tp kalo baru ada kyuwook jadi semngat bacanya 😀

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s