(Fanfiction) Let’s Meet Again Someday : Starting

let's meet again someday 2

Title       : Let’s Meet Again Someday : Starting

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

Cast       : Cho Kyu Hyun, Shin Ran Ran

Genre    : AU, Romance, A little bit Angst

Rating   : 15+

Lenght  : Chapter

Disclaimer: Cho Kyuhyun milik Tuhan, orang tuanya, Super Junior dan ELF, saya Cuma pinjam namanya saja. Cerita dan poster milik saya.

Cerita ini hanya fanfic, jika mungkin ada kesamaan dengan cerita lain, berarti itu hanya kebetulan. Karena ini murni karya saya.

If we were not in the same fate

Then, Let’s meet again Someday

The Fate is exist and I believe it

-Shin Ran Ran-

Jika aku bertemu denganmu lebih dari dua kali tanpa sengaja

Maka, saat itu aku akan mengatakan kita ditakdirkan untuk bertemu

-Cho Kyu Hyun-

Seoul, South Korea

April, 2007

Nafas itu terdengar teratur, begitu juga dengan suara alat di sampingnya yang terus saja berbunyi dengan teratur. Keadaannya stabil. Itu melegakkan untuk Ran Ran. Sejak semalam, Ran Ran terjaga di ruangan ini, menunggui laki-laki yang kini tengah terbaring lemah di kamar rumah sakit ini. Meskipun keadaan laki-laki itu sudah sedikit membaik, namun tetap saja kesadarannya belum pulih. Hari ini adalah hari keempat laki-laki itu dalam kondisi koma, berjuang antara hidup dan mati. Beruntung, Dia sudah melewati masa-masa kritisnya.

Ran Ran kembali mengamati wajahnya dengan lekat. Tampan. Bahkan di saat kondisinya tidak berdaya seperti itu, Dia tetap tampan. Dia memang selalu tampan. Cho Kyu Hyun memang tampan. Ran Ran menggumamkan kalimat itu berulang kali. Dan betapa beruntungnya Ia karena mendapatkannya. Bisa dibilang Ran Ran adalah gadis paling beruntung di sekolahnya. Di saat semua gadis menginginkan Kyu Hyun menjadi miliknya, laki-laki itu justru memilih Ran Ran. Menjadikan Ran Ran kekasihnya. Gadis biasa yang sama sekali tidak cantik jika dibandingkan yang lain. Tapi, Kyu Hyun bilang Ia adalah gadis paling menarik. Periang, banyak tertawa, tidak pernah terlihat sedih, dan itulah alasan kenapa Kyu Hyun bisa menyukainya.

Sebenarnya, tidak ada keinginan untuk bersama Kyu Hyun dalam diri Ran Ran. Sama Sekali tidak ada. Hubungan itu, semata-mata hanya sebuah paksaan. Kyu Hyun memutuskan secara sepihak tanpa Ran Ran bisa mengatakan ‘tidak’. Sikapnya yang dingin, cuek, dan kadang menyebalkan entah kenapa justru semakin menarik Ran Ran semakin dalam. Tidak ada dalam kamus hidupnya bahwa ia menyukai Kyu Hyun, tapi tidak tahu kenapa pesona laki-laki itu seakan tidak bisa diabaikan. Bagaimana Kyu Hyun tersenyum ketika mengampirinya. Bagaimana Kyu Hyun memeluknya dengan paksa. Semua itu sangat melekat dan sulit dihilangkan.

Tidak menyukai bukan berarti tidak membutuhkan. Karena entah sejak kapan kehadiran laki-laki itu dihidupnya seperti sebuah kebutuhan yang tidak bisa ditinggalkan.

Ingatan itu mendadak muncul dan perlahan membentuk senyum di bibir gadis bernama Shin Ran Ran itu. Sedangkan matanya perlahan mengabur karena air mata. Entah untuk keberapa kalinya ia menangis. “Bangunlah. Kau tidak bosan tidur terus?” tanyanya parau. Ia menggigit bibir bawahnya dan masih terus manahan diri agar tidak lagi menangis. Tapi gagal. ia tetap menangis, hatinya begitu perih.

Gadis itu mungkin akan semakin terisak, jika saja pintu dibelakanganya tidak mengeluarkan suara decitan. Terdengar derap langkah sepatu yang semakin mendekat ke arahnya. Ran Ran tidak menoleh, dan memilih diam tanpa repot-repot menyapa tamu yang baru saja datang.

“Kau masih di sini?” tanya seorang wanita yang kini sudah berdiri di dekat meja. Tangannya dengan cekatan mengganti bunga yang sudah layu dengan bunga yang dibawanya.

Kali ini Ran Ran menoleh dan mengangguk. Tidak ada ekspresi keterkejutan ketika melihat Cho Ah Ra berdiri di sampingnya dan menepuk pundakknya ringan. “Pulanglah, biar aku yang menjaganya.” Ujarnya.

“Aku masih ingin di sini.”

Ran Ran menghela nafasnya. Ia menatap kakak perempuan Kyu Hyun itu dengan memohon “Ijinkan aku tetap di sini untuk hari ini.” Ucapnya lagi.

Ah Ra terlihat berpikir sejenak, namun tidak ada keraguan ketika gadis yang sudah dianggap kakak oleh Ran Ran itu mengangguk dan tersenyum. “Baiklah, lagipula setelah ini aku yakin akan sulit untuk kalian bertemu.” Lagi-lagi Ah Ra menepuk pundak Ran Ran.

Yah..itulah masalahnya. Ayah dan Ibunya akan membawa Ran Ran pergi ke London dan menetap di sana. Sebuah rencana yang sejujurnya membuat Ran Ran ingin berteriak menolak. Tapi tidak ada yang bisa dilakukannya. Semua benar-benar di luar rencana Ran Ran. Siapa yang menyangka orang tuanya akan mengajakkanya pindah disaat keadaan Kyu Hyun seperti ini?.

Lagi, entah untuk yang keberapa kalinya Ran Ran kembali menghela nafasnya. Sesak. Paru-parunya seakan menyempit, meski sebanyak apapun udara yang Ia pompa. “Eonni-ya, apa menurutmu Kyu Hyun akan baik-baik saja?” sekarang hatinya tiba-tiba menjadi khawatir. Dan untuk pertama kalinya, ia sangat merasa takut kehilangan.

Bagaiman jika Kyu Hyun tidak bangun?. Bagaimana jika setelah ini Ran Ran tidak bisa lagi bertemu dengannya?

Ketakutan itu terus saja mencekiknya setiap hari. Dilihatnya Cho Ah Ra tersenyum tipis dan mengangguk. “Dia akan baik-baik saja. Adikku bukan orang yang lemah, Ran-ya..”

Benar. Itu benar. Kyu Hyun tidak lemah. Dia pasti akan segera sadar. Dan Dia juga akan baik-baik saja. Ran Ran juga ikut tersenyum tipis “Kau memang harus baik-baik saja, Kyu Hyun-ah. Dan setelah kau bangun, kita harus bertemu. ”

————————————-

Desember, 2012

In the Afternoon 03.30 PM

London, England

Musim dingin bulan Desember di London tidak ada bedanya dengan negara lain. Salju turun sedikit lebat semalam. Beberapa jalanan kota London bahkan tertutup salju. Jika saja petugas kebersihan tidak segera bertindak, jalanan itu tidak akan bisa dilewati. Di sebuah cafe yang terletak di jantung kota London itu, terlihat seorang gadis berambut panjang tengah menikmati secangkir kopi di tangannya. Wajah gadis itu cantik dengan bola mata yang terlihat indah. Kulit putihnya berbeda dengan kebanyakan orang eropa. Semua yang ada pada dirinya mencerminkan sekali orang Asia. Shin Ran Ran, nama gadis itu.

Kebiasaannya disetiap sore, maka Ia akan menyempatkan diri mampir di cafe ini. Sebuah kebiasaan orang Inggris yang lama-lama juga menular padanya sejak lima tahun terakhir. Tidak jarang suasana sore seperti ini akan menjadi waktu yang tepat untuk mereka yang akan mengadakan meeting di luar. Tapi bagi Ran Ran, suasana sore adalah waktu yang tepat untuknya melepas penat dari pekerjaannya sebagai designer di salah satu perusahaan fashion.

“Ran Ran-ssi..”

Ranran mengernyitkan dahinya heran ketika seseorang memanggil namanya secara korea namun dengan aksen khas orang barat. Hanya satu orang yang selalu bersusah payah memanggilnya seperti itu, padahal jelas-jelas kebanyakan teman-temannya memanggil Olivia, nama barat yang ia pakai sejak tiba di sini. Dan kalau Ran Ran tidak salah orang itu adalah Alice. Satu-satunya orang Inggris yang mau bersahabat dengannya. Bukan berarti Ia tidak punya teman, hanya saja Alice adalah orang pertama yang mengulurkan tangan persahabatan padanya. Tidak peduli jika dirinya adalah orang asing di negara ini.

“What are you doing here?” Gadis bernama Alice itu sudah memposisikan duduk di depan Ranran. Rambut pirangnya berkibar terkena angin, dan Ran Ran pun bisa mencium wangi parfum yang digunakan sahabatnya itu. Selalu parfum yang sama yang terkadang membuatnya mual.

“Enjoying my day. And you..? I don’t think I asked you to come before.”

Setahunya tidak ada janji untuk bertemu dengan Alice di sini. Jadi ini adalah sebuah kebetulan yang tidak biasa. Sejak kapan Alice suka datang ditempat ini kecuali Ran Ran yang meminta? Setahunya sangat jarang. Gadis itu lebih senang menghabiskan waktunya di mall atau butik-butik kesayangannya, dan menambah koleksi sepatu atau bajunya. Ran Ran memperhatikan sahabatnya itu dan mulai memandangnya dengan curiga.

“I came with my boyfriend.” Alice mengarahkan pandangannya pada seorang laki-laki tinggi dan juga putih yang baru saja keluar dari toilet dan berjalan ke arah mereka berdua.

Alasan kedua kenapa Alice bisa berada di sini adalah karena dia sedang berkencan dengan seseorang. Dan sepertinya alasan itulah yang dipakainya sekarang. Ran Ran mengenali laki-laki yang berjalan ke arahnya sebagai kekasih Alice sejak beberapa bulan yang lalu. Laki-laki berkebangsaan Kanada pemilik sebuah restaurant berbintang di London. Seingatnya laki-laki itu juga lebih tua dari mereka berdua. Umurnya mungkin dua tahun di atas Ran Ran.

“She is Ran Ran, I told you about her before. And.. Ran Ran, He’s Andy.” Fleur memperkenalkan laki-laki itu secara langsung. Ini pertama kalinya Ranran bertemu dengannya. Laki-laki tinggi khas orang barat, rambut berwarna coklat dan wajah yang lumayan. Tidak terlalu buruk, pikir Ranran.

“Nice to see you..” Ran Ran mengulurkan tangannya dan disambut oleh Andy dengan antusias.

“Me too..”

Perkenalan singkat itu berujung pada obrolan ringan diantara mereka bertiga. Dan Ran Ran baru menyadari kenapa Alice sangat serius dengan hubungannya kali ini. Sebelumnya, Alice tidak pernah bertahan berpacaran dengan seseorang lebih dari 6 bulan. Awalnya Ran Ran pikir hal serupa juga akan terjadi pada Andy. Tapi ternyata salah. Mereka berdua ternyata sedang mempersiapkan sebuah pernikahan.

“Married?” Seru Ran Ran tidak percaya, saat Alice menceritakan rencananya untuk menikah dengan Andy bulan depan.

“Yes, I know it’s too sudden, but Andy will move to Canada soon. So, I think it would be better if we marry since he’s still here.”

Ran Ran memperhatikan Andy dan beralih pada Alice. Entah apa yang ada dipikiran dua orang ini. Yah, meskipun tidak ada yang berhak melarang dua orang untuk hidup bersama dan bahagia. “And you’ll move to Canada too?”

“Yes..” Alice mengangguk. “I can’t wait for my future husband anymore, dear. He is here now, and i don’t want to let him go” Alice tersenyum diikuti Andy yang entah sejak kapan sudah menggenggam tangan Alice.

Oke. Jadi intinya, sahabatnya itu ingin segera menikah karena lelah terus menerus berkelana mencari cinta yang akan diikatnya seumur hidup. Siapa yang mengira Alice orang yang seperti itu?

“Wow.. daebag.” Ran Ran berkomentar. “Congratulation..”

“You have to come to my wedding, arachi?”

Ran Ran mengangguk. “I’ll make sure I will come.”

“And I will so happy if you introduce me with your boy.”

Ran Ran mengernyitkan dahinya. Hampir saja ia tersedak air ludahnya sendiri “What.?”

“Your boyfriend. That Korean guy..” Alice tersenyum penuh arti.

Ran Ran tidak bodoh saat Alice menyebut laki-laki Korea yang dimaksud. Hanya satu orang dan selalu orang yang sama. Orang yang bahkan tidak bisa dipastikan sebagai kekasih, tapi juga tidak bisa dikatakan sebagai orang yang biasa.

Alice masih tersenyum, menggoda Ranran namun hanya ditanggapi santai oleh gadis itu. Lebih tepatnya Ran Ran tidak ingin membicarakan apapun mengenai That Korean Guy. Alice tidak tahu apa-apa tentang orang itu. Ia hanya dari selembar foto yang selalu terselip di antara buku-buku favourit Ranran. Tidak pernah sekalipun Alice bertemu dengan laki-laki yang menurut pendapatnya telah membuat sahabatnya jatuh cinta setengah mati. Tapi Alice tahu sahabatnya itu dan juga laki-laki yang selalu dipanggil Korean Guy itu mempunyai hubungan yang spesial.

Dan setiap kali isi pembicaraan adalah tentang laki-laki itu, Ran Ran hanya bisa tersenyum simpul. Ia menggeleng “He’s not here, Alice.”

Dia memang tidak di sini. Tidak pernah di sini.

“Yeah, I know.. but you have to introduce him to me oneday, okay?

Satu-satunya hal yang membuat Ranran tercekat dan selalu kehilangan arah untuk berpikir, bahwa kecil kemungkinannya untuk bertemu kembali dengan ‘That Korean Guy’ . Lalu bagaimana mungkin ia akan memperkenalkannya pada Alice? Mungkin tidak akan bisa, kecuali takdir berkata lain.

————————————-

Seoul, South Korea

04.45 PM

Seorang gadis berambut panjang terlihat duduk dengan tangan menyangga dagu. Senyum menawannya tak henti-hentinya menghiasi bibir tipisnya meskipun udara dingin sangat menusuk sore ini. Matanya masih saja berbinar-binar menatap obyek di depannya. Seorang laki-laki yang sangat rupawan, yang jika disandingkan dengan gadis itu akan membuat semua orang iri. Bagaimana tidak, dua orang manusia dengan wajah tampan dan cantik yang sempurna terlihat bersama-sama. Tidak akan ada yang meragukan keserasian mereka.

Sayangnya laki-laki itu terlihat sangat sibuk dengan Ipadnya, hingga mungkin tidak terlalu peduli dengan keberadaan gadis itu yang sudah menunggu di sana sejak tadi. Tapi sepertinya gadis bernama Lee Sei Ra itu tidak peduli jika tidak diperhatikan. Dia sudah biasa dengan kebiasaan laki-laki di depannya itu. Itulah mengapa dia memilih diam dan menikmati minumannya atau sesekali menatap laki-laki itu, tanpa sedikitpun mengganggu. Bersamanya selama tiga tahun memang sudah membuat Seira mengerti betul kebiasaan orang ini.

Tidak peduli jika laki-laki itu agak mengabaikannya, yang terpenting adalah dia masih ada untuknya. Selalu seperti itu.

“Aku tidak bisa mengantarmu hari ini, tidak apa-apa kan?” sayangnya kalimat pertama yang diucapkan laki-laki itu tidak membuat Sei Ra senang.

“Huh?” Sei Ra mengangkat wajahnya, memperhatikannya yang tetap sibuk dengan Ipad. “Waeyo? Kau sangat sibuk hari ini?”

“Hmm..”

“Apa sangat sibuk?” Seira mengulangi pertanyaannya. Tidak terlalu percaya dengan jawaban santai yang baru saja didengarnya.

Hari ini sesuai rencananya sejak semalam, Sei Ra akan bersama kekasihnya itu. Aniya. Yang benar adalah dia harus menemani Sei Ra hari ini kemanapun Sei Ra ingin pergi. Dan Sei Ra tidak akan membiarkan kekasihnya itu merusak rencana yang sudah tersusun rapi.

“Sangat sibuk, Nona Lee. Kau tidak melihatnya?” Seira hanya bisa mengerucutkan bibirnya sebal ketika disodori ipad yang memperlihatkan tabel-tabel penuh angka penjualan dan juga produksi.

Dasar!. kekasihnya itu tidak peka atau bagaimana? !

Sei Ra kembali menggerutu kesal. “Arraso. Naega moenjo galke.” Ucapnya dengan nada kesal yang sangat ketara. Ia meraih tasnya dan berdiri “Selesaikan pekerjaanmu, dan telepon aku, arraso~?”

Laki-laki itu diam, seakan tidak peduli dengan ucapan Sei Ra barusan dan bahkan kembali sibuk dengan ipadnya

“Cho Kyu Hyun~!!” Seru Sei Ra akhirnya.

Kali ini laki-laki benama Kyu Hyun itu mendongakkan kepalanya menatap gadisnya yang sedang menggurutu dengan pipi menggembung. “Kau mendengarku, kan?” gerutu Sei Ra.

Kyu Hyun meletakkan ipadnya dan beralih menaruh perhatian penuh pada Seira. “Aku tahu kenapa kau mengikutiku sejak tadi, mengajakku keluar untuk makan siang bersama. Padahal pekerjaanmu sendiri belum selesai.”

Sei Ra menautkan kedua alisnya. “Huh?”

“Hari ini ulang tahunmu. Karena itu kau bersikap seperti itu. Karena kau berpikir aku melupakan ulang tahunmu. Benar kan?”

Sei Ra tidak bergeming. Mulutnya terkunci, tidak sanggup menanggapi ucapan Kyu Hyun barusan. Tapi diam-diam sebuah senyum mengembang di bibir Sei Ra. Ya itu benar. Alasannya memaksa Kyu Hyun makan siang bersama, bahkan memaksakan diri menemani Kyu Hyun yang justru sibuk dengan pekerjaannya adalah karena hari ini ulang tahunnya. Kalau bukan semua itu, sudah sejak tadi Sei Ra lebih memilih pulang ke apartementnya.

“Aku benar kan?” ulang Kyu Hyun. Dia mengangkat dagu Sei Ra yang sejak tadi ditekuk

“Ne, Itu benar. Tapi sepertinya usahaku sia-sia. Kau bahkan tidak peduli.” Ia menyingkirkan tangan Kyu Hyun dan kembali duduk di kursinya. Kedua tangannya menyilang di dada. Dia menunggu pembelaan kekasihnya itu yang sama sekali tidak peduli dengan ulang tahunnya.

“Aku tidak bilang aku tidak peduli dengan ulang tahunmu.” Ungkap Kyu Hyun jujur. Di saat seperti itu, Kyu Hyun tetap saja menjaga image nya, bersikap dingin meskipun yang dihadapinya adalah kekasihnya sendiri. Dan itu semakin membuat Sei Ra kesal.

“Kalau kau peduli, kenapa mengabaikanku, huh?”

“Malam ini jam 8 aku tunggu di tempat biasa.” ucap Kyu Hyun kemudian yang langsung saja membuat Seira melongo.

“Eh~?”

Sei Ra membulatkan matanya penuh. Apa yang baru saja didengarnya? Ahh.. kenapa otaknya begitu lambat merespon?

“Don’t you want to date with me?”

Date?

Tidak butuh waktu lama sebelum senyum sumringah menghiasi bibir gadis itu begitu sadar apa maksud ucapan Kyu Hyun itu. Baiklah, Setidaknya namja ini masih ingat posisinya sebagai kekasih Lee Sei Ra “Kuere..Jam 8.”

————————————-

At Cho Family’s House

07.30 PM

Kyu Hyun mengambil jasnya dan mengenakkannya. Ia melihat tampilannya di depan cermin dan mengamatinya dengan seksama. Bukan mengejar kesempurnaan seperti yang biasa dilakukannya, Ia hanya tidak ingin terlihat berpenampilan buruk di depan banyak orang. Apalagi statusnya sebagai Direktur di Cho Corporation, calon penerus perusahaan itu.

Setelah merasa tidak ada yang salah dengan pakaiannya, ia beralih pada rak yang menyimpan puluhan atau bahkan ratusan jam tangan koleksinya. Dan tentu saja, jam-jam itu adalah jam bermerk yang harganya bisa mencapai jutaan. Jam tangan berwarna hitam dengan warna silver mendominasi permukaan atas menjadi pilihanya. Selesai dengan semua hal itu, Kyu Hyun berjalan keluar dari kamarnya dan turun kebawah, menemui eomma dan juga kakak perempuannya. Tidak lupa sebuah kado berbentuk kotak berukuran kecil dibawanya. Tentu saja hadiah ulang tahun untuk Sei Ra.

Di ruang keluarga yang terlihat sangat luas dan mewah itu, terlihat dua orang perempuan dari keluarga Cho tengah duduk santai. Nyonya muda dan nona muda yang memang senang sekali menghabiskan waktu sore dengan bersantai sembari menikmati secangkir teh. Mereka seperti sedang berdiskusi atau entahlah apa yang sebenarnya dibicarakan. Kyu Hyun sebenarnya tidak terlalu peduli. Ibu dan kakaknya memang sering melakukannya. Berdua mendiskusikan tentang trend terbaru, perusahaan dan bahkan terkadang mendiskusikan dirinya.

“Eoh, Kyu Hyun-ah, Kau mau pergi keluar?” Sebelum Kyu Hyun menyapa mereka, Ah Ra kakak perempuannya sudah menyambutnya lebih dulu. “Kau rapi sekali. Mau berkencan dengan Sei Ra?” tanyanya menggoda.

“Hanya makan malam” sahut Kyu Hyun malas. Lebih baik segera pergi sebelum kakaknya itu bertanya yang macam-macam.

“Eiiyy, itu sama saja. Akhirnya Kau bisa bersikap normal sebagai seorang kekasih.” Ah Ra tertawa dan itu menjengkelkan untuk Kyu Hyun. Kakaknya itu memang senang sekali menggodanya.

Apanya yang bersikap normal? Memangnya selama ini dia bukan orang normal begitu? “Aku selalu bersikap normal, Noona.” Kyu Hyun mendengus kesal.

“Kueromnyo, mana mungkin adikku ini tidak normal, iya kan?” sekali lagi Ah Ra menatap Kyu Hyun jenaka. Menggoda adik laki-lakinya adalah sesuatu yang menyenangkan. “Kau hanya terlihat lebih normal dari biasanya. Terlebih lagi sejak bersama Sei Ra. Aku senang melihatnya, iya kan eomma?”

Wanita paruh baya yang merupakan ibu kandung mereka berdua hanya tersenyum dan mengangguk. Memang dulu ia bukan orang yang seperti ini apa? Kyu Hyun mendadak enggan untuk melangkah dan justru ingin bertanya sesuatu, namun diurungkannya. Tidak sekarang.

“Aku pergi eomma..”

“Hati-hati di jalan, sampaikan salam eomma pada Sei Ra.” Ibunya tersenyum.

Lee Sei Ra. Gadis keturunan China-Korea yang sudah menjadi kekasih Kyuh Hyun tiga tahun terakhir. Dia cantik dan pekerja keras. Selalu mengejar apa yang diinginkannya, termasuk Kyu Hyun. Ia ingat bagaimana gadis itu terus mencoba mendekatinya. Bagaimana Seira mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri. Bagaimana gadis itu dengan polosnya bilang menyukai Kyu Hyun dan ingin menjadi kekasihnya. Benar-benar lucu. Tapi karena kepribadian Sei Ra yang seperti itulah yang akhirnya membuat Kyu Hyun takluk. Gadis periang yang selalu penuh tawa. Sedingin apapun sikap Kyu Hyun padanya, gadis itu akan tetap tersenyum. Itulah yang Kyu Hyun sukai darinya. Seakan bersama Sei Ra, ia akan menemukan sebuah kehangatan cinta yang hilang.

Tidak butuh waktu lama untuk Kyu Hyun sampai di restoran bergaya klasik di kawasan Namsan itu. Restoran mewah dengan pemandangan kota seoul yang memukau. Kyu Hyun mendapati Sei Ra sudah duduk di sana, di salah satu tempat yang sudah di pesan Kyu Hyun sebelumnya. Sebuah gaun selutut berwarna putih terlihat sempurna dipakainya. Gaun itu jelas bukan gaun yang mewah, hanya sederhana tapi terlihat menawan ketika Sei Ra yang memakainya.

Tanpa mengatakan apapun, Kyu Hyun sudah memposisikan diri duduk di depan gadis itu, membuatnya sedikit berjengat karena terkejut “Kau sudah datang?”

“Hmm..”

“Kau lama sekali. Kau tahu berapa lama aku menunggumu?”

Entahlah. Apa itu penting? Kyuh Hyun sudah biasa menjadi orang yang selalu ditunggu di setiap meeting. Jadi sebenarnya ia agak tidak peduli soal itu. “Jangan membiarkan kekasihmu menunggu seperti karyawanmu menunggumu untuk meeting. Tapi sudahlah..” Sei Ra mengalah dan memilih tidak bertanya lagi. Lebih baik mengalah dari pada Cho Kyuh Hyun mengubah moodnya menjadi buruk.

“Jadi, apa yang kau siapkan? Kejutan kembang api? atau sebuah permainan piano klasik?” Sei Ra melirik sebuah grand piano yang terletak di bagian depan ruangan itu. Akan menjadi makan malam yang romantic jika Kyu Hyun mau mengambulkan salah satunya.

Tapi bukannya memikirkan keinginan Sei Ra, pertanyaan itu justru membuat Kyuhyun sakit kepala. Bagaimana mungkin kekasihnya berpikiran seperti itu? “Kau terlalu banyak menonton drama, Ra-ya”

“Itu yang namja Korea lakukan untuk kekasihnya, Kau saja yang tidak tahu. Aah.. betapa menyedihkannya diriku mempunyai kekasih sepertimu.”

“Kau sendiri yang menginginkanku jadi kekasihmu, jadi jangan salahkan aku soal itu.” Kyu Hyun tersenyum tipis.

“Aigoo.. Kau ini~! Kau sendiri juga mau jadi kekasihku. Jadi itu juga bukan salahku. Ini yang dinamakan takdir, Kyu. Aku dan Kau yang mempunyai sifat bertolak belakang bisa saling mencintai. Itu takdir. Dan aku senang karena aku bertemu denganmu.” Sei Ra balas tersenyum.

Takdir.

Seseorang pernah mengatakan tentang takdir sebelumnya. Entahlah.. Kyu Hyun tidak ingat. Tapi yang jelas ucapan Sei Ra itu seperti membawanya ke masa lalu. Jelas ada yang mengatakan hal seperti itu sebelumnya. Tentang pertemuan dan tentang sebuah takdir. Hanya saja, Kyu Hyun sama sekali tidak ingat soal itu. Sudahlah mungkin ini hanya perasaan dejavu saja.

“Tapi ngomong-ngomong, Kau tidak memberiku hadiah ulang tahun?” Tanya Sei Ra kemudian, menyadarkan Kyuh Hyun akan pikiran yang sangat mengganggunya.

Ah.. benar hadiahnya. Ia pun mengambil kotak kecil di sakunya dan meletakkannya di atas meja. “Hadiahmu..”

Sei Ra mengambil hadiah itu dan matanya seketika berubah berbinar-binar melihatnya. Kyu Hyun tahu, gadis itu suka kejutan “Bolehkah aku membukanya sekarang?”

Dan tanpa menunggu persetujuan Kyu Hyun, Sei Ra sudah membuka kotak itu. Sebuah cincin berwarna putih dengan tiga permata kecil di atasnya. Indah. Sei Ra bahkan tertegun sejenak melihat hadiahnya yang sangat special itu. “Yeppoda. Gomawo, Kyu Hyun-ah..”

Tidak butuh waktu lama untuk cincin itu berpindah di jari manis Sei Ra. Sei Ra memperhatikan cincin itu dan beralih menatap Kyu Hyun. “Kau tidak sedang melamarku kan?” ujarnya kemudian yang tidak disangka. Hampir saja Kyu Hyun tersedak minuman ketika mendengarnya.

“Mwo?”

“ Kau memberiku cincin, bukankah itu berarti Kau sedang melamarku? Aniya?”

Astaga. Sei Ra itu memang polos atau kelewat polos? Kadang Kyu Hyun tidak mengerti jalan pikirannya yang selalu tiba-tiba itu.

“Itu hanya hadiah ulang tahun bukan cincin lamaran.” Ucap Kyu Hyun cepat.

“Ah.. Aku pikir kau sedang melamarku.” Nada kecewa terdengar jelas saat Sei Ra mengatakannya

Kyu Hyun memperhatikan gadis di depannya itu sejenak. Apa itu yang diinginkannya? Sebenarnya ibu dan kakaknya juga menyuruhnya melakukan hal itu, secepatnya. Tapi entahlah, Kyu Hyun sendiri tidak tahu kenapa ia tidak bisa melakukannya. Tidak saat ini.

“Sei Ra-ya, Aku akan melakukan itu, tapi tidak sekarang, tidak dalam waktu dekat. Tapi jelas aku akan melakukannya.”

“Aku tahu. Tentu Kau akan melakukannya.”

————————————-

At Lee Family’s house

09.57 PM

Kyu Hyun menghentikan mobilnya di depan rumah Sei Ra ketika jam ditangannya sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam. Ia melirik Sei Ra yang duduk di sampingnya. Gadis itu tertidur.

“Dasar bodoh..” Kyu Hyun bergerak melepas sabuk pengaman Sei Ra dan berencana membangunkannya. Tapi alih-alih membuat gadis itu bangun, Kyu Hyun justru diam mengamati wajah Sei Ra.

Ia mencintai gadis ini. Yah itu benar. Tapi kenapa sama sekali tidak terpikir untuk mengikat gadis ini, menjadi isterinya dan hidup bersama? Adakah yang salah? Entahlah.. ada sesuatu yang menghilang darinya. Meskipun Kyu Hyun sendiri tidak tahu apa.

Ia masih memperhatikan gadis itu, ketika bola matanya tiba-tiba terbuka dengan pelan dan memperlihatkan binar mata seperti biasanya. Dia menggeliat pelan dan sepertinya tidak sadar jika sedang diperhatikan oleh Kyu Hyun.

“Oh.. sudah sampai? Kenapa Kau tidak membangunkanku?” Seira melempar pandang keluar dan beralih ke arah Kyu Hyun, hanya sepersekian detik setelah Kyu Hyun menghentikan aktivitasnya memperhatikan Sei Ra tadi.

“Masuklah, Kau pasti lelah.”

Sei Ra mengangguk dan mengambil tasnya. Dia membuka pintu mobil dan hendak turun, tapi kemudian dia berhenti sejenak. “Kyu Hyun-ah..”

“Wae?”

Sei Ra membalikkan badannya dan dengan cepat menempelkan bibirnya di pipi kiri Kyuh Hyun. Sangat cepat hingga Kyuh Hyun hampir tidak menyadari dan hanya termangu saat gadis itu keluar dari mobilnya “Gomawo untuk hari ini.” Sei Ra melambaikan tangannya dan tersenyum lebar pada Kyu Hyun

Kyuhyun beralih membuka kaca jendela mobilnya dan mengangguk “Kuere… sampai jumpa besok.”

Sei Ra masih tersenyum lebar dan kembali melambaikan tangannya. Bahkan terus seperti itu hingga mobil yang dikendarai Kyuh Hyun mencapai ujung belokan. Kyu Hyun hanya tersenyum melihat tingkah itu.

Ya.. bagaimana pun juga sikapnya yang seperti itulah yang sangat disukai Kyu Hyun.

————————————-

At Cho Family’s house

10.22 PM

Kyu Hyun memasuki rumahnya dan disambut oleh kedua orang tuanya dan juga kakak perempuannya di ruang tengah. Tidak biasanya orang tuanya menunggunya pulang. Dan ada apa dengan kakaknya yang juga ikut-ikutan duduk di sofa itu?

Suasananya terasa berbeda. Apalagi mengingat bukan kebiasaan ayahnya untuk ikut bersantai seperti itu. Oh.. well, mereka bertiga memang tidak bisa dikatakan sedang bersantai. Tapi tetap saja itu aneh. Biasanya ayahnya masih di kantor dan akan pulang tengah malam.

Dan dari pada hanya memikirkan pertanyaan yang terus saja memenuhi pikirannya tanpa ada jawaban yang mampu diberikan, Kyu Hyun pun memutuskan menghampiri ketiganya dan duduk di salah satu sofa kosong di dekat Ah Ra.

“Waeyo? Kenapa semua berkumpul selarut ini?” Ia menatap orang tuanya dan terakhir mengarahkan pandangan menyelidik pada kakaknya.

“Ada yang harus dibicarakan, Kyu Hyun-ah. Ini sangat penting.” Ibunya memulai pembicaraan, dan tiba-tiba saja Kyu Hyun merasa, ia lah obyek yang akan jadi bahan pembicaraan mereka.

“Ada apa? Apa terjadi sesuatu di perusahaan, Aboeji?” Kyuh Hyun beralih bertanya pada ayahnya.

“Kyu Hyun-ah..”

“Ne..”

“Besok pagi berangkatlah ke Inggris.”

Berangkat ke Inggris? Kenapa? apa ada hubungannya dengan kontrak perusahaan dengan d’Art Fashion? Kalau memang itu, tidak masalah untuknya pergi. Jadi kenapa kedua orang tuanya harus mengadakan pertemuan keluarga tengah malam begini? kan bisa dibicarakan besok pagi?

“Aku mengerti. Apa yang harus aku lakukan di sana? Apa kontrak dengan perusahan d’Art Fashion tidak berjalan lancar?”

“Aniya.. bukan itu.”

Mendadak Kyuhyun mengernyitkan dahinya. Bukan itu? Lalu?

“d’Art Fashion sudah beralih menjadi milik kita. Dan Kau yang harus menjalankan perusahaan itu di sana. Menetap di Inggris dan jadikan d’Art Fashion perusahaan fashion terbaik di Eropa.”

Menetap? Rasanya Kyuhyun tidak percaya dengan ucapan ayahnya barusan. Apa itu tidak salah? maksudnya ia harus menetap di Inggris? meninggalkan Korea dan hidup di negara itu?

“Aboeji..”

“Paling lama tiga tahun setelah itu Kau bisa kembali. Lagipula selama tiga tahun itu Kau juga masih bisa mengunjungi Korea, bagimana?” ucap Tuan Cho.

Tiga tahun? Yah…sebenarnya Kyuhyun tidak keberatan dengan hal itu. Lagipula ini demi perusahaan. Jika ia berhasil membawa d’Art Fashion menjadi perusahaan fashion terbaik di Eropa dan menjadi salah satu trend fashion di sana, maka itu adalah hal yang baik untuk Cho Corporation.

Tapi bagaimana dengan pekerjaannya di sini?

“Tapi bagaimana dengan pekerjaanku di sini?”

“Kau masih bisa melakukannya. Bawahanmu yang akan menyelesaikannya, tentu saja dalam pengawasanmu.”

“Baiklah, aku mnegerti.” ucapnya kemudian.

“Kau mau melakukannya? Jinjjayo?” seru Ah Ra tidak percaya.

Kyu Hyun menoleh ke arah kakaknya yang baru saja memberikan respon aneh menurutnya. Apa yang salah? memangnya ini hal yang mungkin ditolaknya hingga membuat kakaknya girang seperti itu? yah meskipun Kyu Hyun agak heran kenapa bukan kakaknya itu yang pergi? lagipula kakaknya itu lebih paham fashion ketimbang dirinya. Jadi, ketika melihat respon itu mau tidak mau Kyu Hyun memandang kakaknya menyelidik. Siapa tahu kakaknya itu sengaja membuat Kyu Hyun harus pergi ke Inggris.

“Noona tidak merencakan ini kan? makudku, di rumah ini yang gila fashion itu dirimu. Jadi kenapa tidak noona saja yang pergi dan menjalankan d’Art Fashion. Bukankah itu hal yang sangat bagus?”

“Shirroyo.. kalau aku pergi bagaimana dengan tugasku di sini? Aku bertanggung jawab penuh dengan brand brand terbaru yang akan di keluarkan Cho Corporation, kau ingat itu kan?”

“Bilang saja kau tidak mau berjauhan dengan Yunho hyung.”

“Aissh.. bocah ini~!!”

“Sudah sudah jangan bertengkar. Lebih baik kita istirahat sekarang. dan kau Kyu Hyun-ah, jangan lupa pesawat berangkat besok pukul 8.” Nyonya Cho yang sudah tidak tahan dengan pertengkaran anak-anaknya pun menengahi.

“Ne, eomma..”

————————————-

London, England

09.00 AM

Ran Ran baru saja menyelesaikan rancangan gaun pengantin untuk Alice ketika mendadak ia teringat harus menghadiri rapat untuk membahas baju musim semi yang akan dikeluarkan tahun depan. Bagaimana ia bisa melupakan rapat itu? si nona galak itu pasti sudah menunggunya.

“Olivia, hurry up..!!” terdengar teriakan dari atasannya yang selalu membuatnya bergidik. Ia pun bergegas memberesi peralatan gambarnya dan menyingkirkannya ke sisi meja kerjanya.

Tidak butuh waktu lama untuknya segera keluar dari ruangan dan mendapati atasannya, Blair sudah berdiri dengan tangan terlipat dan muka masam.

“Sorry..” ucap Ranran.

Wanita berambut sebahu dengan tinggi semampai, kaki jenjang dan tentu saja cantik itu hanya berlalu tanpa sedikitpun mempedulikan Ran Ran. Selalu saja seperti ini. Blair adalah tipe wanita yang sangat disiplin, tidak bisa menolerir keterlambatan yang sayangnya selalu dilakukan Ran Ran. Wanita yang selalu memberikan perlakuan berbeda pada Ran Ran dalam arti negatif. Cara berjalan Blair menurut Ran Ran sangat anggun, derap kakinya kadang mengingatkan Ran Ran bahwa wanita itu mungkin saja seorang model. Semua sempurna dalam diri Blair, karier, pekerjaan, kekayaan, cinta. Dan terkadang itu membuat Ran Ran iri. Sayangnya kesempurnaan memang mutlak milik penguasa langit dan bumi. Bagaimanapun sempurnanya hidup seorang Blair, tetap saja sikap arrogan, kasar dan tidak peduli adalah kekurangan terbesarnya.

Tidak lebih dari lima menit mereka sudah sampai di ruang rapat. Semua orang yang terlibat dalam proyek peluncuran brand terbaru musim semi sudah berkumpul. Dan sepertinya mereka berdua adalah orang terakhir yang datang.

“Everyone here?” seorang wanita yang lebih tua diantara semuanya memulai rapat. Ran Ran mengenalnya sebagai pimpinan di tempat ini. Meskipun kabarnya wanita yang selalu dipanggil Mrs Willson itu bukanlah pemilik d’Art Fashion.

“Yes..”

“Thank you for your coming. I will start this meeting with some announcement. As we know, d’Art Fashion has many production problem. We can’t sell well too last semester. Because of it, our aggrement with Cho Corporation has been canceled.”

“What..~?!”

Beberapa orang terlihat tidak percaya dengan kenyataan itu termasuk Ran Ran. Ia tahu kemana arah pembicaraan wanita yang duduk di depan itu. Jika kesepakatan dengan perusahaan dari Korea dibatalkan, dan d’Art Fashion sendiri tidak mampu bersaing, bukankah itu berarti tinggal menunggu waktu sebelum tempat ini mengalami kebangkrutan? Apalagi Cho Corporation adalah perusahaan besar asing yang diharapkan mampu memperbaiki produksi serta penjualan d’Art Fashion.

Jika tempat ini bangkrut, maka itu berarti cepat atau lambat Ran Ran juga harus berpikir untuk mencari pekerjaan baru.

“I hope you’ll not worry about it, because Cho Corporation has bought d’Art Fashion. Starting from now on d’Art Fashion will be included in Cho Corporation. It will be new departement in the company which taking part in clothing design.”

“So, it’s mean Mrs Miranda is not the owner of d’Art Fashion anymore?”

“Yes. The president of Cho Corporation, Mr Cho said that d’Art Fashion will leaded by his son. I think he will arrive today.”

Ran Ran hanya bisa termangu mengikuti arah pembicaraan di rapat ini. Jadi apa itu artinya, d’Art Fashion sudah menjadi milik perusahaan korea itu?

“How about our spring project?” tanya Ran Ran kemudian. Jika pemilik sekaligus pemimpinnya sudah diganti, bukankah itu berarti akan ada perubahan pada proyek musim semi mendatang?

“He told me to prepare the design. We have a meeting with him to discuss about spring project tomorrow ..and Olivia I can rely on you, right?”

Ran Ran mengangguk. Ia memang orang yang sejak awal ditunjuk untuk merancang design musim semi. “Of course..” sahutnya.

“Good. Just please do your best, I hear he likes everything to be perfect.”

Orang yang sempurna? Semoga saja tidak seperti Blair, atau Ran Ran akan stress menghadapinya.

“I always do my best..”

“I know you can do it. You’re a korean too, so i think it would be easy, right?”

Tentu saja. Ranran tersenyum dan mengangguk sekali lagi.

————————————-

Cho family’s Mansion

The next morning, 08.30 AM

Kyu Hyun bergerak mengambil jas dan memakainya. Sekali lagi ia memperhatikan penampilannya di depan cermin, berharap semoga saja ia tidak terlihat kelelahan. Sejak sampai di negara ini, hampir tidak ada waktu untuknya istirahat. Pertemuan dengan manager d’Art Fashion untuk membicarakan kelanjutan tempat itu, dan juga jamuan makan malam bersama menteri luar negeri Korea, benar-benar membuatnya lelah. Dan hari ini jadwalnya adalah bertemu dengan salah seorang designer d’Art Fashion yang akan menjelaskan tentang proyek musim semi.

Ia berjalan keluar kamar dan mendapati sekretaris pribadinya sudah berdiri di samping meja makan. “Sekretaris Han, jam berapa kita akan bertemu dengannya?” tanyanya. Ia mulai mengaduk makanan di depannya tanpa minat. Sayang sekali sarapan paginya tidak terlalu membuatnya berselera, maka Kyu Hyun hanya meminum kopinya.

“Jam sembilan pagi. Setelah itu, jangan lupa Tuan muda sudah berjanji akan menemui Tuan muda Lee Dong Hae di rumahnya.”

Kyuhyun tersenyum ketika mendengar sekretarisnya itu harus repot-repot mengingatkan janjinya bersama hyung-nya itu. “Apa dia yang menyuruhmu mengatakan itu?”

“Ne, Tuan muda Lee terus menghubungi saya untuk mengingatkan Anda.”

Dasar, Lee Dong Hae.!

Kyuhyun meletakkan cangkir kopinya dan mengambil ponsel di sampingnya. “Arraso..”

Beberapa saat kemudian Kyu Hyun sudah menekan tombol dial pada ponselnya dan mulai berbicara di telepon.

“eo.. Yeobseo Hyung. Aku tahu kau sangat ingin bertemu denganku, tapi berhentilah menyuruh sekretaris Han untuk terus mengingatkan itu padaku.”

“…”

“hmm, Arraso. Aku akan datang, dan saat aku datang kenalkan gadis itu padaku, eoh?”

“…”

“Sei Ra? dia masih di Korea. Aku hanya datang sendiri. Sudah ya hyung, aku harus pergi sekarang. “

Setelah itu klek. Sambungan itu pun terputus. Ia memberi isyarat pada sekretarisnya untuk segera berangkat.

Sepertinya malam ini pun ia harus rela tidak tidur dengan nyenyak lagi. Kalau bukan Lee Dong Hae memaksanya datang ke rumahnya, Kyu Hyun pasti lebih memilih tidur. Lee Dong Hae adalah sahabatnya yang sudah dianggap hyung oleh Kyu Hyun. Setahun yang lalu dia pindah ke Inggris karena urusan pekerjaan dan katanya sekarang sedang mempersiapkan pernikahan dengan kekasihnya.

“Siapa nama designer yang akan bertemu denganku itu?” tanya Kyu Hyun ketika ia sudah mencapai mobil miliknya

“Olivia. Tapi kudengar dia orang Korea.”

“Orang Korea?” Kyu Hyun mengernyitkan dahinya. Sebuah kebetulan yang menguntungkan. Jika ada orang yang sama-sama Korea sepertinya, bukankah itu akan lebih mudah?

“Ne. Dia adalah perancang utama untuk proyek ini. Ini beberapa gambar rancangannya yang kemarin dikirim Mrs Willson.”

Kyu Hyun menerima buku yang diserahkan Sekretaris Han padanya. Ia membuka sampulnya dan tertera dua huruf R di pojok kanan bawah. Lembar demi lembar dibukanya dan memperlihatkan desain baju musim semi dengan berbagai model, mulai dari model untuk wanita, pria dan bahkan anak-anak. Jujur saja Kyu Hyun tidak mengerti dengan selera fashion, jadi baginya tidak ada yang terlihat sangat menarik di desain-desain itu. Kemudan ia mencapai sampul belakang dan menemukan inisial nama lainnya. Kali ini huruf K yang tertera di pojok kanan atas.

Kyuh Hyun sedikit mengernyit namun segera sadar dan segera menutup buku itu. Ia melemparnya di samping tempat duduknya dan beralih pada ponselnya.

————————————-

d’Art Fashion

09.05 AM

d’Art Fashion adalah perusahaan kecil yang didirikan seorang wanita Inggris yang sangat menggilai Fashion. Trend terbaru yang mucul di Inggris kebanyakan berasal dari d’Art Fashion, namun sejak setahun belakangan perusahaan itu mulai kehilangan konsumen. Apalagi persaingan yang ketat dengan merk asal Perancis yang akhirnya membuat d’Art Fashion mengalami penuruan yang besar di semester awal tahun 2012. Sejak saat itu, Cho Corporation yang merupakan perusahaan asing satu-satunya yang bekerja dengan d’Art Fashion memutuskan kerja sama diantara mereka dan sebagai ganti karena tidak bisa memenuhi pasar, d’Art Fashion menjadi milik Cho Corporation seutuhnya.

Sebagai pemilik yang baru atas tempat itu, Cho Corporation tentu tidak ingin menyia-nyiakan d’Ar Fashion begitu saja. Apalagi beberapa tahun terakhir d’Art Fashion pernah menjadi pusat fashion di Inggris. Karena itulah, Pemimpi Cho Corporation yang juga ayahnya Kyu Hyun bermaksud menjadikan d’Art Fashion perusahaan fashion di bawah Cho Corporation yang akan mengambil alih dunia fashion di Inggris dan juga Eropa. Selain itu melalui d’Art Fashion jugalah akan diperkenalkan trend- trend terbaru Korea yang akan dibawa secara mendunia. Jadi itulah mengapa Kyu Hyun harus tinggal di Inggris untuk mewujudkan keinginan ayahnya itu.

Kyu Hyun memasuki ruangan barunya di tempat ini. Sebuah ruangan yang luas dengan sebuah meja serta kursi tertata rapi di tengahnya. Di meja kerjanya teletak papan nama bertuliskan Mr Cho. Rapi, bersih dan dominasi warna putih. Kyu Hyun menyukai tempat barunya itu. Meskipun bisa dibilang ia tidak akan sering-sering berada di sini. Pekerjaannya tidak hanya mengurusi d’Art Fashion saja tapi juga hal lain di Korea. Jadi, mungkin ia akan sering meninggalkan kantor barunya itu dan terbang ke Korea.

“Sekretaris Han, di mana kita akan bertemu dengan gadis Korea itu?” Kyu Hyun beralih pada sekretarisnya yang berdiri agak jauh darinya.

“Di ruang pertemuan, Tuan. Sebaiknya Anda segera ke sana saja..”

Kyuhyun melihat jam di tangannya yang memang sudah menunjukkan pukul 9 lebih. Benar. Lebih baik ke sana sekarang. Tidak mungkin kan ia memberi kesan buruk karena tidak disiplin sebagai seorang pimpinan baru?

Kyu Hyun mencapai ruang pertemuan dan menyadari bahwa tidak ada satupun orang di sana. Di mana gadis yang akan bertemu dengannya itu? Bukankah seharusnya dia sudah datang?.

“Ah.. Sial. Shin Ran Ran neo jinjja~!!”

Kyu Hyun menolehkan kepalanya ketika mendengar suara seorang gadis yang menggerutu dan mengumpat dalam bahasa Korea di luar ruangan. Jadi diakah orang yang bernama Olivia itu?

Pintu terbuka dan dilihatnya gadis berambut panjang itu langsung membungkukkan badannya. “Jeongsohamnida..”

Sepertinya dia tahu kalau Kyu Hyun juga orang Korea.

Oke, lupakan yang satu itu. Masalahnya sekarang adalah, bagaimana mungkin gadis ini terlambt datang dan justru membuat Kyuhyun harus menunggu.

“Kau tahu jam berapa ini? Bukankah kesepakatannya bertemu jam 9, lalu kenapa kau datang terlambat? Apa di sini tidak diajarkan untuk disiplin?” Seru Kyu Hyun dengan nada tinggi dan dingin yang selalu digunakannya setiap menegur bawahannya yang melanggar peraturan.

“Jeongsohamnida..” lagi-lagi gadis itu hanya meminta maaf tanpa berani mengangkat kepalanya.

“Apa menurutmu minta maaf itu akan menyelesaikan masalah? Lalu menurutmu untuk apa ada hukum jika hanya dengan minta maaf semua masalah selesai. Sepertinya kau harus belajar bagaimana menghargai waktu, nona. Ck.. Kenapa kau terus menunduk? Kau sepertinya juga harus belajar menghargai orang yang sedang berbicara padamu.”

Kyu Hyun menatap tajam gadis itu yang sekarang mengangkat wajahnya. Perlahan tapi pasti Kyu Hyun bisa melihat wajah gadis itu. Seorang gadis dengan wajah khas orang Korea, bedanya bola matanya yang terlihat lebih lebar dari kebanyakan orang Korea. Cantik. Untuk sejenak Kyu Hyun terpaku.

Semua yang ada dalam ruangan itu seakan tersedot dalam lubang aneh termasuk dirinya. Rasanya benar-benar aneh. Menatap gadis itu yang juga tengah menatapnya dengan ekspresi yang sulit dijelaskan membuat Kyu Hyun kehilangan arah. Dalam waktu sepersekian detik, untuk pertama kalinya Kyu Hyun terpaku melihat kecantikan seorang gadis yang bisa dibilang tidak biasa. Tapi wajah gadis itu mengisyaratkan hal lain. Sebuah keterkejutan dan juga sebuah rasa senang yang membuncah secara bersama-sama. Seperti itulah aura yang Kyu Hyun rasakan dari gadis itu.

Dan entah kenapa melihat tatapan gadis itu membuat Kyu Hyun seperti merasa menemukan sesuatu. Apa ia pernah bertemu dengan gadis itu sebelumnya?

“Neo..”

“Nde?”

“Apa Kita pernah bertemu sebelumnya?”

CUT

Annyeong..!! lama tidak jumpa ^^

Akhirnya setelah perjuangan beberapa hari, part 1 Let’s meet again someday bisa dipublish. Ada yang nunggu ff ini nggak? hehe

Oke, sepertinya dari part ini sudah bakal ketebak apa yang terjadi dan bagaimana ceritanya. Selama nulis saya selaku author sering kehilangan mood, makanya nggak kelar-kelar dan lagi banyak yang diedit dr draft semula. Termasuk setting tempat yang awalnya mau pake Korea-Perancis, eh berubah jadi Korea-Inggris. Dan nama d’Art Fashion benar2 muncul begitu saja, mungkin agak aneh dan terdengar alay ya? sudahlah, saya emang nggak pandai bikin nama sesuatu -_-

Buat Ran eonnie terima kasih ya.. sudah membuat saya kembali terinspirasi nulis ini ff lagi. Jujur banget semangat nulis tumbuh waktu eonnie nagih soal ff ini. maaf ya lama..

Mungkin ini terlalu dini, tapi Happy Birthday buat Ran eonnie. FF ini adalah kado ulang tahun eonnie dariku. Semoga suka..

Buat reader terima kasih sudah mau baca, leave your comment ne? Sebenarnya koment itu nggak wajib sih, hanya saja kadang bisa jd penyemangat buat author. ~~^^

sampai jumpa di part selanjutnya.. !!

Advertisements

7 thoughts on “(Fanfiction) Let’s Meet Again Someday : Starting

  1. Andwae!!!! Kyuhyun-ku huwaaaaaa
    Tidak sabar untuk cerita selanjutnya. Amdwae. andwae beb. Ranran tidak mungkin memohon pada Kyuhyun . . .

  2. Ff baru??yeayy…k k k
    cieeee..ranran unnie ma epilkyu lg..k k k
    tp ranran unnie dilupakan gtu??amnesia kah kyuhyun??
    Huwaaa..lama bgt ga buka blogny minrin..bnr2 padet jadwal…
    Tp yg ptg next part dtunggu ya…gyahaha 😀

    1. amnesia? ya.. bisa iya bisa juga nggak.. tapi kayknya dah bisa ditebak ya? -__-
      next ditunggu aj, paling akhir pekan ini, kalau g minggu depan. *lg sibuk ngurus banyk kegiatan*
      terima kasih sudah mampir di sela waktu sibukmu ^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s