(Fanfiction) #2 Bittersweet

ryeo-hyuk-min 3

Title     :#2 Bittersweet

Author :  d’Roseed (@elizeminrin)

Cast     :     Shin Minrin

Kim Ryeowook

Lee Hyukjae

Genre  : Friendship, Romance, Bothership, AU, sad

Rating : 15+

Lenght : 5940 words (Chapter)

Disclaimer :

Kim Ryeowook and Lee Hyukjae milik Tuhan, orang tua mereka, Super Junior dan ELF. Plot and Art is mine.

Warning : Perhatikan tahunnya

Incheon, 2002

Suara musik yang mengalun di telinganya terdengar lebih keras sekarang, mungkin karena ditempat ini tidak ada siapapun. Sejenak Ryeowook melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dan satu hembusan nafas pasrah keluar begitu Ia menyadari apa yang akan dihadapi begitu sampai di rumah. Ia pun mempercepat langkah kakinya dengan tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya Benar-benar melelahkan, pikirnya. Tapi alih-alih memikirkan rasa lelahnya, Ia lebih memikirkan kemarahan Ibunya ketika sampai di rumah nanti.

“Kim Ryeowook bersiap-siap saja menerima amukan nyonya Kim itu.” Ucapnya pelan. Kakinya kembali menandang kerikil kecil yang sejak tadi menemani hingga akhirnya Ia pun sampai di sebuah taman bermain.. Rumahnya di ujung sana, hanya tinggal beberapa blok dari taman ini. Tapi langkahnya terhenti.

Ia mengamati Taman itu sejenak. Taman bermain yang dulu menjadi tempat untuk menghabiskan masa kecilnya, bersama Lee Hyukjae tentu saja. Kadang kakak perempuan Hyukjae, Lee Sora juga ikut bermain. Ya.. mereka bertiga sering bermain ditempat ini.  Dilihatnya sebuah ayunan yang bergerak-gerak karena angin malam yang berhembus. Ryeowook tersenyum. Ia hendak melanjutkan langkahnya lagi, namun lagi-lagi Ia menghentikannya. Tiba-tiba seseorang dari arah berlawanan berjalan dengan cepat. Seorang gadis yang terus menundukkan kepalanya sampai akhirnya dia berdiri di depan ayunan tadi dan menaikinya. Rambut panjang gadis itu terlihat berkibar ketika tubuhnya bergerak mengikuti ayunan yang digerakkannya.

“Apa yang dilakukannya di sana?” Ryeowook menyipitkan matanya dan menggeleng pelan. Kemudian Ia pun kembali memandangi gadis itu. Dan gadis itu ternyata masih di sana. Tentu saja dia bukan hantu, Ryeowook meyakinkan dirinya sendiri. Tapi kenapa bermain di sana malam-malam begini?

Perlahan Ryeowook justru menghampiri gadis itu. Gadis itu masih menundukkan kepalanya. Ryeowook memutuskan menghentikan kakinya kembali ketika samar-sama didengarnya gadis itu terisak. Akhirnya setelah cukup lama bergulat dengan pikirannya sendiri, Ryeowook pun memilih tetap berdiri di sana, agak jauh dari gadis itu sembari terus memperhatikannya.

Eottoke?” lirih gadis itu. Samar-samar Ryeowook mendengarnya masih menangis. Semua itu mau tidak mau justru membuat Ryeowook terus terdiam.

Ia terus mengawasi gadis itu dari jarak jauh. Mungkin saja dia sedang ada masalah dan kabur dari rumah. Ryeowook melihat gadis itu kini beranjak dari ayunan dan berdiri dengan kepala menengadah ke atas. Terlihat sekali dia beberapa kali menghela nafasnya dengan keras, namun air matanya justru semakin deras keluar. Gadis itu masih menangis. Tiba-tiba saja Ryeowook merasa kasihan. Dorongan dalam dirinya untuk menghampiri gadis itu terlalu kuat. Dan di sinilah Ia sekarang, berdiri ragu di samping gadis itu

“Hei..” sapanya.

Gadis itu menoleh cepat. Ekspresinya jelas tidak suka ketika melihat Ryeowook berada di sana. “Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya ketus. Jujur saja Ryeowook agak kaget menerima nada tidak suka yang dilayangkan gadis yang sekarang hanya berjarak lima langkah darinya.

“Aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu..”

“Menangis? Kau kasihan padaku? Maaf, tapi aku tidak membutuhkan belas kasihan dari orang asing sepertimu.” Gadis itu memotong dengan cepat ucapan Ryeowook yang menggantung.

Mwo?

Hampir saja Ryeowook berteriak tidak terima. Gadis ini benar-benar tidak punya sopan santun.

“Apa Kau bersikap seperti itu pada setiap orang asing yang kau temui?”

Gadis itu kini berjalan pelan dan kembali duduk di atas ayunan. “itu bukan urusanmu.” Katanya, sama ketusnya seperti tadi.

Astaga. Lagi-lagi Ryeowook dibuat diam dengan ucapan itu. Apa salahnya hingga gadis ini begitu ketus padanya? Tapi bukannya menjauh Ryeowook justru berjalan lebih dekat lagi pada gadis itu. “Aku hanya heran kenapa seorang gadis sepertimu berada di tempat ini padahal sekarang sudah larut malam.” Ucapnya. Ia melirik ke arah gadis berambut panjang itu dan dilihatnya Dia menoleh kembali dengan ekspresi tidak suka yang terlihat jelas di wajahnya.

“Apa itu masalah untukmu? Ini tempat umum, siapapun boleh datang kemari.”

Oh.. astaga. Ryeowook hanya mencoba bertanya kenapa sikap gadis ini begitu menyebalkan. Ryeowook mendengus, hampir saja Ia terpancing emosi, jika saja Ia tidak segera sadar sudah membuang waktunya di tempat ini.

“Aku tahu. Hanya saja, ini terlalu larut untuk seorang gadis berkeliaran di tempat sepi. Kau tidak takut seseorang akan bertindak jahat padamu?” Ryeowook mengangkat bahunya dan tersenyum pada gadis itu. Namun, lagi-lagi ekspresi  ketidak sukaan yang ada di wajah gadis itu.

“Tapi sepertinya kau tidak takut ya..~ Baiklah aku pergi. Maaf sudah mengganggu waktu sendirimu.” Ryeowook melanjutkan. Ia pun berjalan beberapa langkah di depan gadis itu. “Lebih baik kau berhati-hati dengan hantu penghuni tempat ini. Beberapa orang sering mendengar tangisan anak kecil di tempat ini.” Setelah mengatakan itu, Ryeowook pun dengan cepat membalikkan badannya dan pergi meninggalkannya.

Ryeowook yakin gadis itu akan segera pulang. Sebenarnya dia hanya menakuti saja. Tidak ada hantu di tempat ini. Ia hanya membuat gadis itu takut dan setelah itu gadis itu akan pergi. Bukankah tidak baik seorang gadis sepertinya berkeliaran malam-malam seperti ini? Orang tuanya pasti sedang mengkhawatirkannya. Ya.. meski Ryeowook tidak tahu dan juga tidak terlalu peduli masalah gadis yang ditemuinya tadi, hingga membuatnya kabur, tapi tetap saja dia tidak suka melihat seorang gadis sendirian di tempat sepi seperti itu.

“Yak, tunggu..!!” Ryeowook menghentikan langkahnya dan tersenyum, merasa di atas angin. Benar, kan? Gadis itu pasti sedang ketakutan sekarang.

Mwo?” Ryeowook menyahut sembari membalikkan badannya.

“Kau menjatuhkan ini.” Gadis itu memperlihatkan benda kotak berwarna hitam. Mp3nya. Ryeowook baru sadar benda yang tadi menemani perjalanan pulangnya ternyata tidak lagi di kantong celananya “Ini punyamu, kan?” Dia berjalan cepat ke arah Ryeowook dan melemparkan benda itu padanya.

“Sekarang pergilah atau hantu anak kecil di sini akan mengusirmu.” Ucapnya lagi, yang langsung membuat Ryeowook tercengang.

“Tsk, dasar gadis aneh..~!”

                       

 

Seoul,

August 2012

Kim’s family house, 07.30 KST

Eomma, berhentilah melakukan ini..” Ryeowook menghampiri Ibunya. “Aku bisa mencari sendiri gadis yang akan aku nikahi.” Lanjutnya sudah seperti anak kecil yang merengek pada ibunya. Yah ini memalukan, memangnya Ryeowook tidak laku apa, sampai-sampai ibunya ini terus saja mengatur pertemuan dengan gadis-gadis pilihannya.

“Siapa? Kau bahkan tidak pernah berpacaran sejak umurmu 15 tahun. Sudah jangan memprotes. Pokoknya sore ini, kau bertemu dengannya. Dan jangan sampai kau melakukan hal itu lagi, menolaknya secara terus terang. Setidaknya berkencan lah dua atau tiga kali. Arra..?”

Demi Tuhan dan demi seluruh harta di rumah ini, kenapa Ibunya begitu menyebalkan seperti ini eh? Ini sudah kesembilan kalinya. Dua hari yang lalu Lee Yoora, dan sekarang Ibunya sudah menemukan gadis lain untuk dijodohkan. Sebenarnya berapa banyak gadis yang Ibunya tahu selama ini? Astaga..

Ryeowook bukannya tidak bisa mencari, dan alasannya kenapa tidak pernah berpacaran selama ini juga bukan karena dia tidak mau. Masalahnya gadis yang diinginkannya menghilang begitu saja sebelum Ryeowook berhasil memintanya jadi pacar. Ah.. tidak, menanyakan namanya saja belum sempat.

“Aku banyak pekerjaan hari ini. Tidak bisakah lain kali saja?”

“Terakhir kali kau bilang seperti itu, Kau pergi ke Jepang bersama Eunhyuk selama hampir dua minggu. Tidak untuk hari ini. Kau akan tetap menemuinya.” Tukas ibunya tajam.

“Tapi saat itu aku tidak kabur, kami hanya berlibur. Aku juga sudah memberi tahu eomma saat itu.”

“Iya, memberitahuku dua hari setelah kau sampai di sana.”

Ryeowook langsung diam. Tidak ada gunanya mendebat ibunya. Sebenarnya waktu itu bukan keinginanya untuk kabur, semua karena hyungnya itu yang memintanya ke Jepang. Dan ya.. dari pada bertemu gadis yang dijodohkan untuknya lebih baik menuruti Eunhyuk ke Jepang.

 “Ah.. Ryeowook-ah, jangan lupa nama gadis itu Han Sena.” Ibunya berteriak dari ruang sebelah, dan Ryeowook hanya bisa menghela nafasnya pasrah.

Eomma, kalau aku berhasil memperkenalkan seorang yeoja padamu, apa Kau akan berhenti melakukan ini?” balas Ryeowook ikut berteriak.

“Coba saja kau lakukan..~!!” teriak ibunya lagi.

Dan Ryeowook hanya bisa kembali menghela nafasnya. Baiklah, sepertinya Ia harus segera mencari gadis itu dan membawanya ke hadapan eomma, kalau perlu menikahinya saat itu juga. Ryeowook mendengus jengkel, Ia pun berjalan menghampiri meja dan menyambar kunci mobilnya. Setelah itu ia pun sudah menghilang di balik pintu keluar. Ah.. semoga saja Ia tidak lupa namanya. Han Sena, benar itu kan yang tadi ibunya katakan?

Sejujurnya Ryeowook sendiri tidak mengerti, kenapa ibunya itu sangat ingin melihatnya menikah. Usianya baru 25 tahun, dan ia sedang bahagia menjalani kehidupan singlenya. Lagipula satu-satunya gadis yang sangat diinginkannya adalah ‘Dia’. Meskipun jika dipikir-pikir ini semua terlalu rumit, terlalu tidak masuk akal. Bagaimana bisa Ryeowook jatuh cinta pada seorang gadis yang baru tiga kali ditemui, bahkan namanya pun tidak tahu. Dan bodohnya Ryeowook menyukai gadis itu selama sepuluh tahun. Benar-benar gila.

Mobil yang  dikendarainya kini memasuki kawasan Gangnam. Berjalan pelan dan akhirnya berhenti di depan sebuah cafe. Ibunya bilang ditempat ini dia akan bertemu Han Sena. Memasuki cafe itu hanya terlihat beberapa orang, termasuk seorang yeoja dengan rambut panjang yang duduk membelakangi. Tanpa menunggu lama, Ryeowook pun menghampiri gadis itu.

“Han Sena-ssi?” sapanya ramah. Gadis itu menoleh dan tersenyum.

Cantik. Ryeowook akui dia cantik, mungkin lebih cantik dari Yoora. Senyumnya juga indah. Tapi tentu saja semua itu tidak serta merta langsung membuat Ryeowook tertarik padanya.

“Apa kau sudah menunggu lama?” Ryeowook mengambil tempat duduk di depannya. Tersenyum ramah pada gadis itu. “Maaf aku terlambat, masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan tadi.”

“Apa aku mengganggu pekerjaanmu?” tanya gadis itu cepat.

Aniya.. hanya pekerjaan kecil”

Dia lebih baik dari gadis-gadis sebelumnya. Satu nilai plus lagi untuk gadis ini. Ryeowook kembali tersenyum. Mungkin Ia akan mengajaknya berkencan dua atau tiga kali seperti yang Ibunya katakan. Setelah itu yang terjadi adalah obrolan diantara keduanya. Ryeowook bahkan tidak mengerti kenapa Ia bisa begitu nyaman berbicara pada gadis ini, Han Sena.

                       

Halte, 09.30 KST

 Cuaca sama panasnya seperti kemarin. Matahari di atas sana bersinar terlalu terik. Musim panas sedang berada dalam masa pertengahannya. Minrin menghela nafasnya dengan keras. Ia membenahi topi yang menutupi kepalanya dan menengok ke kiri, berharap bus yang ditunggunya segera datang. Tapi jalanan itu tidak menunjukkan ada bus yang akan berhenti.

Pasca insiden terjatuh dari tangga dua hari yang lalu, Minrin harus berdiam diri di rumah. Hyehyo melarangnya datang ke kantor, dan Daehyun juga melakukan hal yang sama ketika Minrin berdiri di depan pintu Club dengan kaki pincang. Namja yang seumuran dengannya itu bahkan mengusirnya secara terang-terangan. Anehnya, meskipun Minrin bisa dibilang pegawai baru di sana, tapi Daehyun atau pun Eunhyuk tidak memecatnya karena menumpahkan minuman di baju orang lain. Minrin yakin, namja yang menolongnya waktu itu pasti salah satu pengunjung pengguna VIP room, tapi dia terlalu baik. Biasanya orang kaya seperti mereka akan melaporkan kejadian seperti itu pada atasan dan pada akhirnya si pegawai akan dipecat. Tapi sepertinya semua itu tidak berlaku untuk Minrin.

Minrin ingat betul, namja itu sama sekali tidak marah padanya. Ia bahkan membantu Minrin berdiri dan mengompres kakinya yang bengkak. Orang seperti dia jarang ditemui dikehidupannya. Apalagi selama ini, rata-rata orang berkuasa yang hidup di sekitar Minrin selalu memperlakukannya dengan buruk.

Well, lupakan soal itu. Minrin kembali mengehela nafasnya. Lima belas menit sudah di duduk di halte ini dan belum satu pun bus yang datang, hingga akhirnya suara getar ponsel di sakunya menyadarkannya.

Ddrrtt.. drrtt..

“Ne, Yeobseo..”

Yak, Kau dimana?” Suara Hyehyo terdengar berteriak di telinga Minrin, membuatnya refleks agak menjauhkan ponselnya

“Aku di halte. Tenang saja aku segera ke sana. Usahakan kau mengulur waktunya, mungkin aku agak terlambat”

“Cepat kemari, eh..”

Dan klek. Sambungan terputus begitu Minrin menekan dial stop. Tentu saja ia harus segera ke sana. Ia juga sedang mengusahakan itu jika saja ia bisa ke sana sekarang juga. Tapi masalahnya bus yang ditunggunya belum juga tiba. Ini menyebalkan. Hari ini ia ada pertemuan penting dengan seseorang, menyakut gedung yang menjadi markas Book of Storyline.

Book of Storyline adalah perusahaan penerbit yang didirikan ayahnya. Siapa yang menyangka ayahnya itu punya perusahaan penerbit di kota Seoul ini.  Selama hidupnya di Incheon, Minrin sama sekali tidak tahu sanga ayah diam-diam mendirikan penerbit itu. Ia baru mengetahuinya, ketika lima tahun yang lalu menetap di Seoul. Pria berjas yang selalu mengejarnya memberikan penerbit itu dan menyuruh Minrin untuk mengoperasikannya. Tidak ada yang salah, karena Book of storyline sudah dijadikan jaminan untuk melunasi hutang oleh ayahnya. Minrin beruntung, pria berjas itu justru membiarkan Minrin tetap membuat penerbit itu tetap hidup.

Permasalahannya adalah gedung kecil yang sejak dulu Minrin kira sebagai milik ayahnya ternyata bukan sepenuhnya milik ayahnya. Tempat itu dulunya hanyalah gedung kosong yang ditinggalkan. Dan sekarang perusahaan pemilik tempat itu akan datang dan mengambilnya kembali, kecuali Minrin membelinya secara legal. Beberapa kali Minrin menolak dan bersikukuh itu miliknya sejak 10 tahun yang lalu. Tapi sepertinya ia harus menyerahkan gedung itu cepat atau lambat. Pemberitahuan terakhir, direktur perusahaan itu sendiri yang akan datang. Benar-benar bencana.. Apalagi H.J Company bukanlah perusahaan properti kecil yang bisa diremehkan.

                       

Book Of Storyline, 10.00 KST

Eotte?” Minrin berlari menghampiri Hyehyo yang terlihat mondar-mandir di depan ruangan.

“Kau pasti tidak akan percaya ini.”

Wae..?”

Minrin mengerjapkan matanya. Satu-satunya yang tidak akan dia percayai adalah sang direktur yang akhirnya memberikan gedung ini secara cuma-cuma. Tapi tentu saja itu tidak mungkin.

“Lebih baik kau lihat sendiri. Dan pastikan kau tidak shock di dalam, mengerti?” Dengan sigap Hyehyo menarik lengan Minrin dan mendorong tubuhnya ke dalam ruangan, di mana direktur perusahaan H.J Company sudah menunggu.

“Baiklah..” Minrin menghirup nafasnya dalam, dan dia pun berjalan pelan masuk ke dalam ruangannya.

Ruangan itu tidak luas. Tentu saja. Ini adalah ruangannya di kantor Book of Storyline. Seseorang terlihat duduk di sebuah kursi di depan mejanya. Seorang namja dengan stelan jas berwarna hitam.

“Direktur Lee..”

Laki-laki  itu membalikkan badannya. Dan sekarang Minrin bisa melihat wajahnya. “Maaf membuat Anda menunggu..” Minrin membungkukkan badannya.

Laki-laki itu menghela nafasnya dan terlihat tidak terlalu senang. Minrin mengangkat wajahnya dan berusaha tersenyum. Namun senyumnya gagal diperlihatkan begitu melihat siapa yang sekarang duduk di kursi tamunya. Dia..

Mendadak Ia ingat perkataan Hyehyo tadi. Ah.. jadi ini maksud anak itu?

Daebag. Bagaimana bisa seperti ini? Laki-laki berjas hitam yang merupakan Direktur di Perusahaan Lee Corporation adalah bosnya sendiri di Bar tempatnya bekerja. Eunhyuk. Benar itu namanya.

“Hei, nona Kau pikir aku datang kemari hanya untuk menunggumu?” Ucap Eunhyuk sinis yang sukses membuyarkan pikiran yang berkecamuk dalam diri Minrin.

Jeongsohamnida” Minrin kembali membungkukkan badannya.

 “Ck.. Tidak bisa dipercaya Direktur sepertiku dibuat menunggu oleh gadis sepertimu. Kau ini tipe orang yang tidak bisa menghargai waktu. Ah.. pantas saja tempat ini tidak pernah berkembang.” Eunhyuk berdiri dan berjalan mendekat ke arah Minrin.

Mwo~?” hampir saja Minrin berteriak di depan wajah namja itu, jika saja Ia tidak ingat siapa Eunhyuk yang berdiri di depannya itu.

“Seharusnya sudah sejak dulu aku mengusirmu dari sini.” Ucap Eunhyuk lagi. Ia memperhatikan ruangan itu. Ruangan sempit, dan mungkin juga sedikit pengap. Jendela yang agak rusak. Meja yang sedikit berkarat, ditambah lagi kertas-kertas yang bertumpuk dimana-mana.

“Jadi, bagaimana kalian bekerja? Menerbitkan buku ditempat seperti ini?” tanya Eunhyuk, sekarang Ia kembali mengalihkan perhatian pada Minrin. “Aku tidak percaya ada penerbit di tempat seperti ini.”

Minrin hampir saja kembali berteriak, tapi Ia memilih mengirup nafasnya dan mengontrol emosinya. “Kami mempunyai mesin percetakan, Tuan. Sudah tua memang, tapi masih cukup baik untuk digunakan.” Ujar Minrin berusaha tenang.

“Benarkah? Kudengar tidak banyak buku yang diterbitkan. Lalu kenapa masih beroperasi?” tanya Eunhyuk lagi.

“Maaf, tapi bukankah kita akan membicarakan soal tempat ini, dan bukannya bagaimana kami bekerja?”

Dilihatnya Eunhyuk tersenyum menyerangi. Dan senyuman itu menyebalkan untuk Minrin. Gadis itu mendengus dan sekali lagi menarik nafasnya.

Kuere..” Eunhyuk pun berjalan kembali ke tempat duduknya tadi, begitu juga dengan Minrin yang sekarang duduk di depannya.

@@@

Pembicaraan itu selesai dengan kesepakatan kalau Minrin hanya bisa bertahan di gedung ini selama satu bulan, setelahnya Minrin harus segera pindah. Kalau saja Minrin tidak sedikit berkeras kepala, hasilnya pasti berbeda. Apalagi sejak awal Direktur Lee itu begitu menyebalkan dan bahkan sudah memutuskan untuk mengusir Minrin lusa. Untungnya perdebatan sengit tadi berhasil dimenangkan Minrin

Ia menghembuskan nafasnya dengan sangat keras begitu Eunhyuk keluar dan pergi dari tempat ini. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Bagaimana bisa Direktur H.J Company adalah bosnya? Satu-satunya hal yang masih belum diterima Minrin sampai detik ini. Jika saja mereka orang yang berbeda, sudah dipastikan Minrin masih akan mengibarkan bendera perang pada Direktur itu. Tapi mengingat dia juga bosnya, tentu saja Minrin harus berpikir ulang soal itu. Ditambah lagi sikapnya yang benar-benar menyebalkan. Cukup membuat Minrin mundur.

“Yak, bagaimana hasilnya?” dilihatnya Hyehyo sudah duduk di depannya dengan raut wajah penasaran.

“Kenapa kau tidak bilang dia Eunhyuk-ssi?” cecar Minrin dengan pertanyaan yang jauh dari topik. Lagi-lagi Minrin menghela nafasnya. “Tidak bisa dipercaya aku berperang dengan bosku sendiri.” Ungkapnya

“Aku sudah mengatakan padamu tadi.”

“Tapi Kau tidak langsung bilang kalau itu Eunhyuk.”

Hyehyo nyengir dan mengangkat bahunya pelan. “Mian.. jadi bagaimana? Apa kita harus segera pergi dari sini?”

“Satu bulan. Itu waktu yang diberikannya. Arrgh.. Eottoke~~?” Minrin mengacak rambutnya frustasi. Apa yang harus dilakuukannya sekarang? Mengumpulkan uang untuk membeli tempat ini? Atau mengumpulkan uang untuk melunasi hutangnya? Atau dia tutup saja tempat ini?

Yak, lalu apa yang harus kita lakukan?”

Molla.. mungkin aku akan menutup tempat ini.” Ujar Minrin pelan. Kepalanya tertunduk dan Ia menggerakkan kakinya kesal.

Andweyo.. “

Wae?” tanya Minrin terkejut dengan respon Hyehyo yang terdengar keberatan. “Tidak ada yang bisa aku lakukan. Tempat ini juga hampir bangkrut sekarang. Jadi lebih baik ditutup.” Ujar Minrin melanjutkan.

“Lalu bagaimana denganmu?”

“Aku akan mencari pekerjaan lain.” Jawab Minrin enteng.

Entahlah. Sejujurnya ia terlalu percaya diri mengatakan itu. Memangnya mudah mencari pekerjaan? Dasar Minrin pabo..

“Ah.. molla..molla..”

                       

H.J Company’s Building, 11.00 KST

Eunhyuk melangkahkan kakinya dengan ringan melewati beberapa karyawan di lobi perusahaannya. Harinya sedikit melelahkan hari ini. Apalagi seorang Direktur sepertinya harus dibuat menunggu seperti tadi.

Sepulangnya dari gedung yang direncanakan untuk pembangunan hotel, Ia seharusnya bertemu ayahnya. Tapi sepertinya masih terlalu dini untuknya datang sejak pertengkaran hebatnya minggu lalu. Yah.. sekali lagi Ayahnya itu memarahinya seperti anak kecil yang berbuat nakal hanya karena Eunhyuk sudah beberap hari tidak masuk ke kantor. Bukannya tidak mau bertemu, tapi Eunhyuk yakin Ayahnya itu masih akan melemparkan barang-barang padanya begitu Eunhyuk menginjakkan kakinya di rumah.

Biasanya jika seperti ini, aa memilih berdiam diri di Clubnya, mengajak Ryeowook minum atau kalau adiknya itu sibuk, ia akan mengajak Daehyun untuk menemaninya. Tapi sepertinya aa sedang tidak berminat ke sana.

Namun tiba-tiba ingatannya kembali pada pertemuan dengan gadis tadi. “Ah.. Cham..” Ia menghentikan langkahnya begitu juga sekretaris pribadinya yang tadi berjalan di belakangnya. “Kau tadi bilang tempat yang kudatangi adalah sebuah penerbit buku, benarkan?”

“Benar, Sajangnim.”

“Apa namanya?” tanya Eunhyuk lagi. Kalau tidak salah Ia tadi mendengar nama yang familiar.

“Book of Storyline. Penerbit itu sudah berdiri sejak 15 tahun yang lalu. Meskipun begitu tidak banyak buku yang diterbitkan. Rata-rata bukunya juga bukan buku bestseller. Saya rasa tempat itu hampir bangkrut tapi karena dukungan dari pihat tertentu yang membuatnya tetap bertahan.” Jelas sekretaris Han berapi-rapi.

Eunhyuk menganggukan kepalanya. Book of Storyline. Benar itu namanya? Ah.. siapa yang menyangka semudah ini menemukannya. Ia tersenyum.

“Apa ada masalah, Sajangnim?”

“Aniya. Apa aku ada jadwal kosong satu jam ini?” tanyanya lagi. Dengan gerakan cepat Sekretaris Han segera memeriksa jadwal di Ipadnya. “Anda masih mempunyai waktu dua jam sebelum pertemuan dengan Presdir Seo, Sajangnim.”

“Baguslah kalau begitu. Aku akan pergi sekarang. Dan..aku meminta bantuanmu untuk mencari tahu tentang Book of Storyline. Laporkan padaku secepatnya.”

“Baik, Sajangnim.” Sekretaris itu membungkukkan sedikit badannya begitu Eunhyuk kembali keluar dari lobi itu.

                       

Book of Storyline, 12.30 KST

Eunhyuk kini kembali mendatangi tempat itu, Book Of Storyline. Well, ini memang terdengar aneh. Tapi kalau perkiraannya benar, tempat itu adalah tempat yang sama yang terus menerus dibicarakan Ryeowook. Book of Storyline.

Ia menghentikan mobilnya di depan gedung itu dan mengamatinya sejenak. Tempat itu memang tidak terlihat seperti penerbit. Kantor yang kecil dan dengan karyawan yang bisa dihitung dengan jari. Seingatnya Eunhyuk hanya menemukan tiga orang di sana. Gadis itu, lalu temannya yang kalau tidak salah namanya Hyehyo, dan satu orang laki-laki paruh baya yang duduk dengan setumpuk kertas di depannya.

Kira-kira siapa nama gadis itu? Ah.. seharusnya Eunhyuk menanyakan namanya dan bukannya membuat gadis itu berpikir Eunhyuk menyebalkan seperti tadi. Well, jangan salahkan Eunhyuk. Siapa suruh gadis itu membuatnya menunggu selama itu. Dia pikir pekerjaannya tidak banyak apa? Tskk..

Dalam waktu pengamatannya yang tidak lama itu, tiba-tiba dua orang gadis keluar dari tempat itu. Salah satu diantaranya adalah gadis yang berbicara padanya mengenai kesepakatan tempat ini. Dia berambut panjang yang diikat kebelakang. Penampilannya terlihat casual tapi menarik. Sedangkan yang satu lagi adalah gadis yang Eunhyuk tahu namanya Hyehyo.

Mereka berdua berjalan pelan melewati mobil yang ditumpangi Eunhyuk. Dan Eunhyuk masih mengamatai keduanya. Gadis berambut panjang itu. Siapakah namanya?

                       

Club, 21.30 KST

Wae, Hyung..” Ryeowook menghampiri Eunhyuk yang sudah duduk dengan santai di salah satu sofa. Ia mengambil tempat duduk di depan Eunhyuk dan mulai memperhatikan hyungnya itu. Sebelum Ryeowook datang ke tempat ini, Hyungnya ini mengirimnya pesan yang katanya ada hal yang ingin dibicarakan.

Wae.? Aku sudah bilang tidak akan sering-sering datang ke sini lagi.” Ryeowook mendengus kesal. Bukan maksudnya untuk tidak datang ke tempat ini, tapi akhir-akhir ini pekerjaannya sungguh berat hingga tidak ada waktu untuk pergi keluar seperti ini.

“Aku hanya memberimu kabar baik, Ryeowook-ah.” Ucap Eunhyuk santai. Namun sayangnya senyum lebar yang diperlihatkannya tidak serta merta membuat Ryeowook yakin berita yang akan didengarnya adalah berita yang bagus.

Mwoya?

“Tentang gadis itu..” jawab Eunhyuk pendek yang langsung membuat Ryeowook cukup terkejut mendengarnya. Dilihatnya Eunhyuk kembali tersenyum dan melanjutkan. “Kau masih berniat mencarinya kan? Well, aku mendapatkan informasi tentangnya.”

Hyung, Kau tidak bercanda kan?” tanya Ryeowook yang kini memusatkan perhatiannya pada ucapan Eunhyuk. Beberapa hari ini Ia sudah menyuruh anak buahnya mencari apapun tentang gadis itu tapi sampai sekarang belum ada yang memberi laporan.

Kueromyo. Aku menemukan Book of Storyline. Dan Kau tahu, tempat Book of Storyline tenyata milik perusahaanku. Mereka menggunakannya selama ini tanpa memperdulikan kalau tempat itu bukan miliknya.”

Jinjjayo?”

“Eoh.. dan aku bertemu dengan seorang wanita di sana, kurasa dia bisa dibilang pemimpinnya. Yah, aku tidak bisa mengatakan tempat itu masih bertahan, bahkan ku lihat tempat itu sudah sangat kesulitan beroperasi sejak lama.” Eunhyuk kembali melanjutkan.

“Wanita? Nuguseo? Apa dia gadis itu?”

“Entahlah. Kau baca saja sendiri. Itu informasi yang tadi didapat sekretaris Han,” ucap Eunhyuk sembari menunjuk map coklat di depannya.

Ryeowook menatap Eunhyuk tidak percaya, namun Ia pun segera mengambil map itu dan membacanya. Informasi yang di dapat hyungnya ini benar-benar diluar dugaan. Di sini bahkan dijelaskan secara detail.

“Shin Minrin..” Ryeowook kembali mengulangi satu nama yang berulang-ulang disebut di lembaran kertas yang dipegangnya.

“Eoh.. kurasa itu namanya. Kurasa gadis itu juga yang kutemui siang tadi. Shin Minrin, puteri pertama Shin Taewo, pendiri Book of Storyline. Ayahnya itu berutang banyak pada renteiner, hingga membuat mereka hidup berpindah-pindah. Sebelumnya mereka memang pernah tinggal di Incheon, namun akhirnya pindah sejak Shin Taewoo pergi dan meninggalkan beban hutang pada keluarganya.”

Untuk sesaat Ryeowook masih belum mempercayai ini. Tidak bisa dipercaya. Doanya yang memang dikabulkan atau ini takdir? Baru saja beberapa hari yang lalu, Ia bertekad untuk mencarinya dan sekarang semua informasi itu sudah ada ditangannya.

Yaa..”

Hyung, bisa kau membawaku bertemu dengannya?” tanya Ryeowook tanpa sadar. “Gadis itu.. Shin Minrin. Aku harus bertemu dengannya” ucapnya lagi

@@@

“Minrin-ya, Kau bisa mengantar ini? Di ruang VIP. Eunhyuk hyung di sana.” Ucap Daehyun sambil meletakkan dua gelas minuman di meja Bar.

Nuguya?” tanya Minrin. Dia tidak salah dengar kan tadi?

“Eunhyuk.” Ucap Daehyun yang cukup membuat tenggorokan Minrin tercekat. “Palliwa, mereka sudah menunggu.”

Sial. Tidak bisakah ia tidak bertemu dengan orang itu. Dengan gerakan ragu Minrin pun mengambil minuman itu setelah sebelumnya Daehyun menatapnya agar cepat bergerak.

Ne, Arraso..”

Langkah enggan nya pun bergerak pelan menuju ruang VIP dilantai dua. Lantai dua memang khusus VIP, dari atas sini kau bisa melihat suasana dibawah, namun jika kau di bawah, kau tidak akan bisa melihat apa yang terjadi di lantai atas. Ini lah keunikannya. Dan begitu Minrin mencapai lantai atas, dilihatnya hanya ada beberap orang, salah satunya dua orang laki-laki yang duduk di salah satu sofa. Seseorang diantaranya adalah Eunhyuk. Yah, wajahnya semakin familiar bagi Minrin sekarang. Satu orang lagi, tidak bisa Minrin lihat dengan jelas, karena posisinya yang membelakangi.

“Eoh.. Kau..” Belum juga Minrin meletakkan minuman di meja mereka, Eunhyuk sudah menyadari kedatangannya.

“Maaf membuat Anda menunggu.” Minrin berucap sopan dan segera meletakkan minuman itu di meja. Ia berusaha keras mengabaikan tatapan Eunhyuk yang terasa tajam ke arahnya. Kenapa dia menatap seperti itu?

“Kau.. ” Ucap Eunhyuk tertahan.

Oh Tuhan bisa tidak ingatan orang itu tetang pertemuan siang tadi dihapus?

Minrin tersenyum kikuk. “Annyeonghaeseo, Direktur Lee” Sekuat tenaga Minrin memberanikan diri menatap Eunhyuk.

Eunhyuk tersenyum lebar namun pandangannya terkesan menyelidik bagi Minrin. Wae? Adakah yang salah dengan dirinya?

“Kau bekerja di sini juga?” tanyanya. Terdengar sedikit menyindir tapi masih dalam taraf yang normal.

Ne, Sebuah kebetulan yang tidak terduga bukan?” Setelah sekian detik Minrin kehilangan suaranya, akhirnya Ia pun mampu berucap dengan lancar.

Eunhyuk tersenyum menyerangi dan terlihat ingin mengeluarkan kata-kata mengejek. Namun pandangan namja itu beralih pada teman yang duduk di depannya.

“Ryeowook-ah, Kurasa kau bisa bertemu dengannya sekarang.” Ucapnya dengan gummy smile yang terlihat jelas.

“Apa maksudmu, Hyung?”

Apa maksud namja itu? Siapa yang bertemu siapa? Minrin mengernyitkan dahinya dan menoleh ke arah namja yang berada tepat di sampingnya. Namja yang tadi dipanggil Ryeowook itu menoleh ke arah Minrin yang langsung membuat Minrin membulatkan matanya sempurna. Begitu juga namja di depannya ini yang terlihat tidak percaya dengan penglihatannya

Omo..~!!”

Astaga, takdir apa yang sedang dihadapinya sekarang? Baru tadi siang Ia betemu orang menyebalkan yang akan mengambil Book of Storyline dan siapa sangka orang itu adalah bosnya sendiri di tempat ini. Dan sekarang Ia juga dihadapkan oleh namja yang tempo hari menolongnya. Satu hal yang semakin tidak dipercaya adalah orang itu, Ryeowook adalah temannya Eunhyuk.

 “Oh, Agasshi Kau yang terjatuh kemarin? Bagaimana kakimu? Apa baik-baik saja?” Ryeowook sekarang mengamati kaki Minrin yang memang sudah terlihat baik sekarang. Namja itu sama sekali tidak mengabaikan keterkejutan di wajah Minrin bahkan keterkejutan di wajah Eunhyuk juga.

Yak, Kau mengenalnya?”

Nugu?” Ryeowook mengalihkan perhatiannya pada Eunhyuk namun tidak lama, karena Ia langsung kembali memperhatikan Minrin yang masih terbengong. “Ah.. Dia. Kuere, Agasshi ini yang kemarin terjatuh dan membuat kemejaku basah.” Ia tersenyum pada Minrin.

“Jinjjayo?”

“Eoh..”

“Kurasa kalian memang ditakdirkan untuk bertemu.” Ucap Eunhyuk, yang langsung membuat Ryeowook membulatkan matanya tidak percaya. Apa maksud hyungnya itu? Apa mungkin gadis ini adalah gadis yang sedang mereka bicarakan tadi? Kedua namja itu langsung mengarahkan perhatiannya pada Minrin.

Iggeu Mwoya?

Minrin hanya bisa mengerjapkan matanya beberapa kali begitu melihat reaksi keduanya. Ada apa sebenarnya? Kenapa mereka menatapnya dengan cara seperti itu? Terlebih lagi Ryeowook yang sejenak hanya memusatkan perhatian dan pandangannya pada Minrin. Jujur itu membuat Minrin risih. Dan lagi apa maksudnya kita ditakdirkan bersama?

Neo..” Ryeowook menggantungkan kalimatnya.

Wae?”

Hampir saja Ryeowook mengutarakann pertanyaannya, tapi diurungkannya ketika Eunhyuk langsung mengambil alih. Hyungnya itu memberi tatapan aneh pada Ryeowook, yang kalau tidak salah diartikan adalah menyuruh Ryeowook diam.

“Ah cham.. “ seru Eunhyuk kemudian. “Sepertinya kita belum berkenalan siang tadi. Eunhyuk imnida.” Eunhyuk mengulurkan tangannya dan dengan ragu disambut oleh gadis tadi.

“Shin Minrin imnida.” Ucap Minrin.

Minrin mulai merasa tidak enak di tempat ini. Apalagi dengan tatapan kedua orang ini. Eunhyuk dan Ryeowook. Kenapa dua orang ini begitu lekat menatapnya seperti tadi? Seperti ada sesuatu dalam diri Minrin yang membuat mereka memperhatikannya dengan lekat. Apalagi sikap Eunhyuk yang jauh berbeda dari tadi siang. Apa mereka sedang mabuk sekarang? Rasanya tidak, sejak tadi tidak ada minuman di meja mereka sampai Minrin yang mengantarkannya

@@@

Ryeowook masih mengamati gadis yang berdiri di sampingnya itu. Tidak bisa dipercaya. Otaknya memang tidak mempercayai ini, tapi hatinya berteriak gembira sekarang. Dilihatnya lagi gadis itu. Tapi apa benar dia adalah gadis yang ditemuinya 10 tahun yang lalu? Penampilannya benar-benar berbeda. Yang ada dihadapannya sekarang bukanlah gadis berusia 15 tahun yang menangis atau tersenyum dengan terpaksa, tapi seorang gadis dewasa yang berbeda jauh.

Eunhyuk menyadari Ryeowook yang masih saja menatap Minrin, sedangkan gadis itu justru semakin canggung.

“ Kau bisa kembali bekerja. Terima kasih minumannya.” Ucap Eunhyuk kemudian yang secara tidak langsung menghentikan aktivitas Ryeowook. Sedangkan Minrin langsung membungkukkan badannya dan segera pergi dari sana.

Kini Eunhyuk melirik Ryeowook yang masih saja memperhatikan Minrin hingga di ujung belokkan.

Yak..” seru Eunhyuk begitu Minrin sudah menuruni tangga dan tidak lagi terlihat.

“Hyung, Apa itu gadis yang kau maksud?” tanya Ryeowook. Sekarang Ia kembali memperhatikan Minrin yang sudah berada di lantai bawah dan berbincang dengan Daehyun.

Ryeowook terus memperhatikan Minrin, sedangkan Eunhyuk justru memperhatikan dongsaengnya itu. Sebuah senyum yang entah bagaimana dijelaskan begitu saja terukir di bibirnya. Ada sebuah beban tapi sepertinya Eunhyuk memilih melupakan beban itu.

“Eoh..Dia yang aku temui siang tadi, Dia yang bernama Shin Minrin. Dan kalau kita tidak salah, Dia juga gadis yang kau temui 10 tahun yang lalu.”

“Tapi Kurasa dia tidak mengenalmu, maksudku dia tidak ingat siapa kau. Jadi lebih baik kalian tetap dalam keadaan ini. Mungkin mengenalnya dari awal akan jauh lebih baik.” Ucap Eunhyuk kemudian.

Ryeowook mendengarkan ucapan Eunhyuk dan diam-diam membenarkan. Gadis itu mungkin memang tidak ingat pada Ryeowook. Oh.. ayolah, gadis itu bahkan tidak tahu siapa Ryeowook sejak awal. Bukankah mereka hanya bertemu tiga kali, itu pun tanpa tahu nama masing-masing.

“Aku rasa juga begitu.” Ryeowook menghembuskan nafasnya.

                       

 

In front of the Club 23.00 KST

Minrin keluar dari Bar ketika jam ditangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Pekerjaan sudah selesai sejak satu jam lalu, itu pun karena sejak awal Minrin sudah meminta Daehyun untuk tidak memberikan shift sampai tengah malam. Dan yah meskipun kini Ia keluar dari bar ketika sudah jam sebelas malam, itu karena Daehyun yang menyuruhnya. Minrin awalnya menolak, tapi karena Daehyun berjanji akan mengantarnya pulang, maka Minrin pun setuju. Tapi seharusnya Ia tidak mempercayai namja itu. Bukan karena Daehyun orang yang jahat, tapi namja itu dengan entengnya bilang bahwa dia sudah berjanji pada temannya dan melupakan janji itu hingga berani berjanji mengantar Minrin pulang.

“Tsck.. awas kau Kim Dahyun.” Minrin menggerutu setelah mengirim balasan pesan permintaan maaf dari Daehyun.

Eottokaji?”

Hidupnya terasa sial hari ini. Tapi berbicara soal kesialan, Minrin justru teringat dengan pertemuannya dengan Eunhyuk dan juga Ryeowook. Ah.. jadi namja itu namyanya Ryeowook? Orang itu sangat baik, bukan hanya karena Ryeowook yang menolong Minrin dua hari yang lalu, tapi dilihat dari sikapnya memang demikian. Satu hal yang jelas adalah Ryeowook berbeda dengan Eunhyuk.

Pertama kali Minrin bertemu dengan Eunhyuk di kantornya siang tadi benar-benar menguras emosi. Tapi tadi di Club, namja itu mendadak berubah. Well. Meskipun begitu kesan pertama namja itu di depan Minrin sudah buruk. Mengenai Ryeowook..ah entahlah.. tapi namja itu terlihat aneh ketika menatap Minrin tadi. Seperti ada sesuatu yang ingin diucapkannya, namun tidak bisa diutarakan. Apalagi cara Ryeowook menatap Minrin sedikit membuatnya tersudut. Entahlah.. sulit dijelaskan, yang jelas ada keterkejutan dan kegembiraaan di saat yang sama di matanya tadi. Okay, sekarang kenapa Ia justru memikirkan Ryeowook?

Minrin pun memilih berjalan dan berusaha menghilangkan pemikirannya tadi. Sepertinya malam ini, dia harus pulang dengan berjalan kaki kalau sampai tidak ada bus yang tersisa. Namun, baru beberapa langkah Ia berjalan, sebuah mobil Audi berwarna putih tiba-tiba berhenti di sampingnya. Ia pun refleks menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah mobil itu.

“Minrin-ssi..” jendela mobil itu terbuka seiring suara seorang namja yang memanggil namanya. Minrin memincingkan matanya dan melihat namja itu sekarang tersenyum ke arahnya. Ryeowook

“Eoh..” satu-satunya respon yang mampu diberikan Minrin hanyalah itu. Benar-benar bodoh.

“Kau mau pulang?” tanya Ryeowook kemudian.

Dan kali ini respon yang diberikan Minrin hanyalah anggukan kepala.

“Naiklah, aku antar Kau pulang.” Ucapnya lagi.

Kali ini Minrin hanya diam tidak bergeming, Otaknya terlalu blank untuk berpikir harus mengucapkan apapun. Siapa yang tidak bingung, kalau seseorang yang baru dua kali ditemui dan bahkan tidak pernah berbicara sedikitpun, sekarang justru menawarkan diri untuk mengantarmu pulang.

Wae~? Kau tidak mau?” tanya Ryeowook lagi ketika tidak ada kalimat yang diucapkan Minrin.

Seperti tersadar dari sebuah lamuan, Minrin pun hanya tersenyum dan menggeleng. “A..aniya. Aku hanya merasa heran kenapa Kau melakukan ini. Maksudku, Kita tidak saling mengenal.”

Kini Ryeowook yang terlihat bingung. Namun ekspresi itu tidak bertahan lama, karena namja itu langsung tersenyum. “Aku mengenalmu, Shin Minrin. Bukankah kita sudah bertemu dua kali? Aku juga menolongmu waktu kau terjatuh. Jadi bagaimana? Kita berkenalan di perjalanan ke rumahmu, eotte?”

Demi Tuhan apa yang sebenarnya terjadi. Minrin mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya dengan ucapan Ryeowook barusan. Terdengar biasa namun sangat membujuk. Hey, bukan berarti Minrin sangat ingin berkenalan dengannya, Ia hanya merasa aneh. Apa Ryeowook sedang menggodanya sekarang?

Wae..?, kenapa kau melakukan ini?” tanya Minrin terdengar menyelidik. Ia tidak ingin mengambil risiko namja ini akan melakukan hal-hal yang buruk padanya.

Lagi-lagi Ryeowook tersenyum. “Aku hanya membantumu. Ini terlalu malam untuk seorang gadis pulang sendirian.”

Oke, itu masuk akal. Seseorang juga pernah mengatakan itu. Dulu sekali. Entahlah, Minrn tidak telalu ingat, tapi Ia cukup yakin ada orang yang pernah mengatakan hal serupa kecuali Ibunya dan Hyehyo.

Kuere.. “

Tanpa berpikir lagi, Minrin pun langsung berjalan mengitari mobil itu dan mencapai sisi sebelahnya. Kemudian Ia pun langsung masuk ke dalamnya.

                       

 

“Jadi, namamu Kim Ryeowook?” tanya Minrin memastikan. Beberapa saat yang lalu Ryeowook baru saja mengenalkan dirinya secara langsung.

“Eoh, dan kau Shin Minrin.” Ujar Ryeowook.

“Ne..” Minrin mengangguk

Mobil yang mereka tumpangi melaju dengan kecepatan sedang di tengah jalanan kota seoul. Dan sejauh ini tidak banyak obrolan diantara mereka. Selesai memberi tahu nama masing-masing, baik Ryeowook maupun Minrin memilih diam. Ryeowook terlalu fokus dengan jalanan, sementara Minrin terlalu fokus dengan pertanyaan yang mengangguk pikirannya.

“Apa Kau selalu melakukan ini pada semua gadis yang pertama kali kau temui?” tanya Minrin tiba-tiba. Entahlah, pertanyaan itu terus saja berkecamuk dalam otaknya sejak tadi. Diliriknya Ryeowook hanya tersenyum kecil, tanpa sedikitpun mengalihkan fokus pada jalan di depannya.

“Tidak semuanya.” Jawabnya singkat

“Kedengarannya kau seperti seorang ‘player’” Minrin membalas. Seperti dugaannya tadi. Meskipun Ryeowook mempunyai kesan yang baik di mata Minrin, tapi tidak ada yang bisa mengelak hal seperti itu. Apalagi namja ini berteman akrab dengan makhluk menyebalkan seperti Eunhyuk itu.

Well, tanpa Daehyun menceritakan kalau bosnya itu seorang playboy, Minrin cukup mendapatkan pemikiran itu sekali melihat Eunhyuk.

“Jangan berpikir seperti itu. Aku memang sering mengantar mereka pulang. Tapi semua karena eomma.” Tuturnya kemudian.

Minrin menoleh sebentar. Eomma? “Wae?”Astaga seharusnya Minrin bisa mengerem bibirnya agar tidak betanya terlalu jauh. Dasar bodoh.

Eomma sedang mencoba menjodohkanku.”

Minrin cukup terkejut mendengarnya. Ternyata di dunia ini masih ada acara perjodohan seperti di drama. Minrin pikir itu hanya akan dia temui di drama atau novel-novel yang pernah dibacanya.

Eommamu pasti sangat menyayangimu, sampai-sampai harus turun tangan sendiri mengenai jodohmu.” Minrin terkikik, membayangkan betapa lucunya seorang laki-laki dewasa seperti Ryeowook masih dijodohkan oleh Ibunya. Apa namja ini tidak bisa cari pacar sendiri?

Eomma hanya ingin segera melihatku menikah, sementara aku sendiri tidak punya pacar.” Ungkapnya secara terus terang.

Mwo? “Jinjjayo?” seru Minrin tidak percaya. “Kau bercanda? Mana mungkin lak-laki sepertimu tidak punya pacar. Aigoo..Kau bukan penyuka sesama jenis kan?” Minrin membayangkan alasan tidak masuk akal lainnya kenapa Ryeowook harus dijodohkan. Ia memperhatikan Ryeowook dan menatapnya menyelidik.

“Yaa, aku bukan gay.” Seru Ryeowook tidak terima.

“Hahaha.. aku hanya bercanda” ucap Minrin cepat disela-sela tawa kecilnya. “Lagipula kau tadi bilang tidak punya kekasih, jadi wajar saja aku berpikir seperti itu” lanjutnya masih dengan sedikit tertawa.

Ryeowook sedikit mendengus, namun sejenak Ia memperhatikan Minrin “Aku hanya sedang berusaha menemukan gadis yang ingin kujadikan kekasih.”

Kuereyo? Ah..apa dia cinta pertamamu?”

Ryeowook tersenyum diam-diam dan kembali mengalihkan pandangan ke depan. “Aniya, Dia bukan cinta pertama, tapi aku menyukainya sejak pertemuan pertama kami.” Ryeowook melanjutkan.

“Love first sight.” Minrin bergumam menanggapi ucapan Ryeowook.

Tidak ada yang bicara setelahnya. Tawa Minrin sudah berhenti sejak Ryeowook dan yang terjadi sekarang hanya kesunyian, sedangkan Ryeowook  diam-diam memperhatikan gadis di sampingnya itu.

Entah baru sekarang Ryeowook menyadarinya atau memang dia yang tidak terlalu memperhatikan, tapi Minrin terlihat cantik. Meskipun dengan penampilannya yang tidak terlihat feminim, berbeda dengan Sena , Yoora ataupun yeoja lainnya. Lebih dari cantik, tapi Minrin terlihat hmm.. keren. Kaos kasual dan jaket serta topi yang dikenakannya membuat Ryeowook berpikir seperti itu. Pantas saja dia terjatuh gara-gara high heels.

Lagipula gadis ini berbeda dari 10 tahun yang lalu. Tidak ada lagi wajah muram dan sedih, tapi hanya wajah yang ceria meski kadang terlihat cuek. Tidak ada air mata tapi hanya tawa yang sedari tadi Ryeowook dengar. Tawa itu adalah tawa pertama yang Ryeowook dengar darinya sejak 10 tahun yang lalu, jika saja Minrin itu memang benar gadis itu.

TBC

Ini part 2. Semoga nggak mengecewakan. Jangan lupa coment nya ya.. Thanks ~~^^ 

Advertisements

One thought on “(Fanfiction) #2 Bittersweet

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s