(Fanfiction) #1 Bittersweet

ryeo-hyuk-min 3

Title     : #1 Bittersweet

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

Cast     :Shin Minrin

     Kim Ryeowook

     Lee Hyukjae

Genre  : Friendship, Romance, Bothership, AU, sad

Rating : 15+

Lenght : 3538 words (Chapter)

Disclaimer :

Kim Ryeowook and Lee Hyukjae milik Tuhan, orang tua mereka, Super Junior dan ELF. Plot and Art is mine.

Seoul

August 2012

“Yak, Shin Minrin..~~!!!” Laki-laki berjas yang terdiri dari tiga orang itu kembali mengejar yeoja yang berlari di depan mereka. Nafasnya memburu dan semakin cepat mengejar yeoja bernama Shin Minrin itu. Satu orang berjas berbelok ke arah kanan, bermaksud menghadang Minrin di sana, karena yakin yeoja itu pasti melewati gang ini. Sementara dua orang yang lainnya tetap berlari di belakang Minrin yang sekarang sudah berbelok, tepat ke arah gang di mana seorang berjas lainnya sudah menunggu.

“Sial…” Minrin menghentikan lajunya seketika, ketika seorang laki-laki berjas yang sudah sangat sering dilihatnya itu berdiri menghadang gang sempit ini. Ia bermaksud berbalik, dan berlari menghindar, tapi gagal dilakukan karena dua orang lainnya sudah berdiri di  ujung satunya. Minrin kembali mengumpat. Sesering apapun dia bertemu dengan ketiga orang ini, tapi jujur saja bertatap muka dengan mereka adalah hal yang paling dibencinya

“Sudahlah, berhenti berlari..” salah seorang laki-laki yang bertubuh agak besar berucap. Keringat terlihat mengalir di pelipisnya dan nafasnya terengah, menandakan laki-laki itu bekerja keras mengejar Minrin sampai di sini. “Kita sudah sepakat, Minrin-ya. Hari ini hari terakhir pembayarannya.” Laki-laki itu masih berusaha mengatur nafasnya.

“Tidak bisakah diundur? Satu hari lagi, setelah itu aku akan melunasinya.”

“Kau ingin bos menyeretmu seperti waktu itu? Ayolah, kami sudah berbaik hati padamu selama ini.” Minrin menciut. Benar sih. Mereka sudah berbaik hati memberi waktu dua hari untuk Minrin mengumpulkan uang, dan hari ini adalah batasnya. Dan tentu saja Minrin tidak ingin acara penyeretannya waktu itu terjadi lagi.

“Kuere..” Minrin melepaskan tas punggungnya, dan itu membuat ketiga orang tadi tersenyum dan menegakkan tubuhnya. Cepat atau lambat gadis itu pasti akan memberikan uang pelunasannya.

Tapi bukan Minrin namanya jika menyerah. Tepat saat itu Ia melihat gang kecil di depannya dan langsung berlari menuju ke sana. Gang itu lebih kecil dan semula tertutup beberapa tong. Lagi-lagi ketiga orang itu kembali kecolongan. Salah satu dari mereka terdengar mengumpat karena harus kembali mengejar gadis lincah seperti Minrin. Sementara yang lainnya mengikuti dengan agak pelan. Hanya si tubuh agak besar yang bersemangat, karena jika mereka gagal lagi, maka mereka harus siap menghadapi amukan bos mereka.

 “Aissh…” untuk sekian kalinya Minrin mengumpat. Gadis itu berhenti di depan sebuah rumah bergaya tempo dulu, namun sangat besar. Nafasnya memburu terengah-engah. Sekali lagi dia menoleh ke belakang memastikan ia sudah terlepas dari ketiga orang tadi.

“Sepertinya mereka sudah pergi. Baguslah..!!” Minrin menghela nafasnya lantas merapikan rambutnya yang sedikit acak-acakan.

Ddrrt..ddrrrtt..

Hyehyo calling

“Wae?” Minrin menjawab panggilan di ponselnya itu dengan agak ketus.

Yak, Shin Minrin cepatlah kemari

“Ada apa? Apa ada masalah?”

Selanjutnya yang terjadi adalah penjelasan Hyehyo, rekan kerjanya di sebuah penerbit tentang kedatangan segerombolan laki-laki berjas bak mafia yang mencari keberadaan Minrin. “Lebih baik kau cepat kemari, arra?”

Setelah itu sambungan pun terputus. “Sial, kenapa mereka bisa sampai di sana..?”

                       

“Di mana gadis itu?” tanya laki-laki berjas dan bertubuh besar itu dengan nada tinggi. Hyehyo yang beberapa kali melihat laki-laki di depannya ini, tidak terlalu heran mendapati mereka berada di tempatnya bekerja. Semua menyangkut satu nama, yaitu Shin Minrin. Dan sayangnya gadis itu belum juga muncul sampai sekarang.

“Aku sudah meneleponnya, dan kurasa dia sedang menuju kemari.”

Tepat setelah Hyehyo menyelesaikan kalimatnya, Minrin pun muncul. “Ahh.. itu dia. Minrin-ya..~!”

Minrin berjalan mendekat. Tiga orang laki-laki yang tadi mengejarnya sudah berada di antara gerombolan itu. Sayangnya kali ini Minrin tidak bisa melarikan diri, karena Bos mereka yang juga orang yang selama ini membuat hidupnya sengsara berada di sana.

“Shin Minrin, akhirnya kau datang juga. Senang bertemu denganmu..” seseorang yang Minrin tahu sebagai bos mendekat ke arahnya. Bau alkohol bercampur rokok menyengat hidungnya ketika jarak laki-laki itu semakin dekat.

“Aku akan melunasinya, tapi tidak hari ini. Beri aku waktu satu bulan lagi.” Ujar Minrin membuka suara.

“Aku sudah memberimu waktu dua hari dari kesepakatan awal, mana bisa aku memberimu kelonggaran waktu lagi eo?”

“Aku janji. Kalau aku tidak bisa melunasinya, Aku akan menerima tawaranmu waktu itu.”

“Yak, Shin Minrin..” Hyehyo yang tahu mengenai tawaran yang dimaksud pun memberontak. Sahabatnya itu pasti tidak waras.

Laki-laki tadi terlihat berpikir, menimang-nimang kesungguhan Minrin atas ucapannya barusan. “Kuere.. aku beri waktu satu bulan. Jika masih belum bisa melunasi, aku akan menyeretmu seperti waktu itu atau kau bisa datang sendiri ke tempatku.”

“Aku pastikan aku akan membayarnya. Kau tidak perlu repot-repot menyeretku.” Ucap Minrin dengan mata berkilat.

“Kuere. Kau tau apa yang akan aku lakukan jika kau melawan, mengerti?” Ancam laki-laki itu dengan nada menekan. Anak buahnya yang lain berbalik pergi mengikuti bos mereka.

Minrin menghela nafasnya dengan sangat keras. Dua kali dia bisa mengelabuhi orang-orang itu untuk mengundur waktu pembayaran. Sekarang permasalahannya adalah bagaimana dia bisa medapatkan uang pelunasan dalam waktu satu bulan?

“Yak, Kau tidak serius dengan ucapanmu tadi kan?” Hyehyo menarik lengan Minrin dengan keras. Demi Tuhan Shin Minrin pasti sudah gila. Bagaimana mungkin kesepakatan itu keluar dari bibirnya, ha? Hyehyo menggelengkan kepalanya tidak percaya.

“Tenang saja, aku akan melunasinya.” ucap Minrin santai. Dia berjalan menuju kursi dan melempar tasnya di kursi satunya.

“Yak, Kau gila? Terakhir kali kau mengucapkan itu, Kau berakhir di tempat menjijikan itu.”

“Aku tahu, Hyo. Berhentilah menceramahiku, dan bantu aku mencari pekerjaan lain.” Sergah Minrin cepat.

Hyehyo menatap Minrin heran. “Aissh… baiklah..”

Minrin tersenyum. Ia tahu sahabatnya ini tidak akan membiarkan dirinya terjebak di tempat yang dimaksud menjijikan tadi. “Gomawo..” hampir saja Minrin memeluk Hyehyo jika saja gadis itu tidak menghindar dengan cepat.

“Eiiiyyy.. Dasar..”

                       

 

“Jadi Oppa, apa yang di katakan Bibi itu benar? Dia bilang Oppa belum pernah berpacaran sebelumnya. Apa itu benar?”

Ryeowook memandang sekilas ke arah gadis di depannya itu tanpa minat. “Eo..” jawabnya singkat. Demi Tuhan Ia ingin segera mengakhiri pertemuan konyol yang direncanakan Ibunya ini.

“Jadi, apa itu berati aku orang pertama yang berkencan denganmu?”

Ryeowook mengernyit. Bodohnya gadis itu. Andai saja gadis ini tahu, dia orang yang ke 8 yang dikenalkan Ibunya untuk Ryeowook. Dan itu berarti gadis ini juga orang ke 8 yang cepat atau lambat akan ditolak Ryeowook. “Sebenarnya..Kau orang yang ke 8”

“Mwo?” Wajah gadis itu yang semula penuh senyum mendadak berubah seratus delapan puluh derajat, matanya terbelalak tidak percaya apalagi ketika Ryeowook menjelaskan bahwa pertemuannya kali ini membuang waktunya.

“Jangan menginginkan lebih dari ini, Yoora-ssi. Sangat menyenangkan bisa bertemu denganmu.  Tapi kurasa pertemuan kita hanya sampai di sini.” Ryeowook tersenyum ramah. Setelah mengatakan itu Ryeowook pun melangkah pergi, meninggalkan Yoora yang masih terhenyak di tempatnya.

Well, sebenarnya ini bukan kebiasaan Ryeowook yang langsung menolak gadis yang dijodohkan ibunya hanya dalam satu kali pertemuan. Biasanya mereka akan pergi berkencan setelah pertemuan pertama, setidaknya dua atau tiga kali, baru setelah itu Ryeowook meninggalkannya. Tapi sepertinya perkecualian untuk yang satu ini. Lee Hyukjae bilang, tindakan Ryeowook yang terlalu baik dengan yeoja-yeoja yang dikenalkan Ibunya justru membuat Ibunya itu semakin gencar mencari gadis lain untuk dijadikan menantu.

Ya.. namja itu mengajarkan Ryeowook untuk sedikit bersikap lebih jahat.

Terlepas dari gadis bernama Yoora tadi, Ryeowook pun memutuskan menemui Eunhyuk. Seperti biasanya, Eunhyuk akan menghabiskan waktunya di Club miliknya. Namja itu masih belum jera rupanya. Ryeowook ingat bagaimana Lee Ahjussi hampir mengusir Eunhyuk dan menarik semua fasilitas miliknya, ketika Eunhyuk lebih banyak menghabiskan waktunya di Club ini ketimbang menyelesaikan kuliahnya. Jadi, jangan heran kalau butuh waktu lima tahun untuknya lulus dari Universitas. Tapi, toh waktu lulus yang lama juga tidak akan mengubah masa depan namja yang sudah Ryeowook anggap kakaknya sendiri. Garis kehidupan Eunhyuk sudah jelas, yaitu menjadi penerus perusahan keluarga miliknya H.J Company, persis seperti yang Ryeowook jalani sekarang ini.

Hari sudah malam ketika Ryeowook mencapai tempat ini. Seperti dugaannya, Ryeowook menemukan Eunhyuk tengah duduk dengan santai dengan segelas Wine di depannya. Satu-satunya yang mengherankan bagi Ryeowook adalah, Eunhyuk itu bukan peminum yang handal seperti dirinya tapi justru mendirikan Club seperti ini.

“Hyung..”

“Oh..Ryeowook-ah..” Namja itu tersenyum lebar begitu melihat Ryeowook. Dia pun menyuruh Ryeowook mendekat dan duduk bersamanya. “Bagaimana kencanmu?”

Ryeowook menghempaskan tubuhnya begitu saja dan menyenderkan punggunya. “Dia lebih menyebalkan dibandingkan yang sebelumnya.”

“Benarkah? Apa dia cantik?”

Ryeowook sangat yakin Eunhyuk akan menanyakan hal itu. Sebagai seorang yang berkencan dengan banyak yeoja, Eunhyuk pasti memiliki selera tersendiri mengenai kecantikan. “Ya.. dia cantik, anggun, ramah, dan senyumnya juga indah.”

“Lalu? Kau menolaknya?”

“Hmm..” Ryeowook mengangguk. “Dia terlalu cerewet.”

Tawa meledak begitu saja dari Eunhyuk. “Yak, Kau sendiri juga cerewet. Ku pikir kalian akan menjadi pasangan yang serasi.”

“Jangan bercanda, Hyung..”

“Kuere..” Eunhyuk pun menghentikan tawanya dan beralih mengambil gelas berisi wine di depannya dan meminum isinya. “Ngomong-ngomong siapa nama gadis itu?”

“Yoora. Lee Yoora.. Ibuku bilang dia seorang artis. Entahlah aku tidak pernah melihatnya di televisi.”

“Yoora?” Eunhyuk membulatkan matanya tidak percaya. “Yak, kau bercanda kan? Lee Yoora adalah seorang artis berbakat. Kau saja yang tidak mengenalnya. Kau benar-benar menyia-nyiakan kesempatan mendapatkan gadis itu, Ryeowook-ah.”

Ryeowook menoleh singkat. Apa urusannya Yoora itu artis atau bukan? Toh, Ryeowook juga tidak peduli. “Hyung, Kau kan tahu selama aku belum bisa menemukan gadis itu, sampai kapanpun aku tidak bisa berkencan dengan gadis lain.”

Kali ini Eunhyuk yang menoleh. “Apa yang kau maksud gadis yang kau temui 10 tahun yang lalu? Yang menangis tengah malam di taman bermain? Yak, Kau yakin dia bukan hantu?”

“Mwo~?” seru Ryeowook tidak terima. Mana mungkin hantu. Jelas-jelas Ryeowook berbicara dengannya. Mana ada hantu bicara pada manusia? “Dia nyata, Hyung. Dan aku harus menemukannya.”

“Aigoo.. Berapa kali Kau bertemu dengannya?”

“Entahlah..hanya beberapa kali. Tiga  kali kurasa..”

“Tiga kali?” Eunhyuk mengulangi ucapan Ryeowook barusan “lalu menurutmu bagaimana kau bisa menemukan gadis yang baru tiga kali kau temui ha? Aku yakin Kau juga tidak tahu namanya. Kau benar-benar membuang waktumu, Wook.”

Benar. Itu benar. Apa yang Eunhyuk katakan itu benar. Dia hanya bertemu dua kali dengannya, dan Ryeowook juga sama sekali tidak tahu tentang gaids itu. Siapa namanya, di mana dia tinggal, Ryeowook sama sekali tidak tahu. Sayangnya Ryeowook masih bersikukuh untuk menemukan gadis itu, bagaimana pun caranya. Karena entah kenapa, dia seperti terikat dengan gadis itu. Keinginannya sangat kuat untuk melindungi gadis itu. Meskipun Ryeowook sendiri tidak tahu kenapa dia harus melakukan itu.

                       

 

“Apa Kau yakin?” Minrin kembali bertanya pada Hyehyo.

“Tentu saja. Ayo masuk~!!” Minrin dengan ragu mengikuti Hyehyo. Saat ini mereka sedang berada di depan sebauh Bar, club malam.. entahlah bagaimana tempat ini disebut. Ya.. memang sih, tempat ini tidak pasaran seperti tempat orang-orang berjas itu. Tempat ini lebih bersih, lebih luas, dan lebih berkelas. Mungkin hanya orang-orang kaya yang mau minum di tempat seperti ini.

Alasan kenapa Minrin bisa terdampar di tempat ini adalah, karena Hyehyo baru saja menawarkan pekerjaan part time di sini, sebagai seorang pelayan. Seseorang yang mengantarkan minum dan bukannya melayani si pemesan minum seperti yang dilakukan gadis-gadis di Bar murahan. Ya.. meskipun Minrin tidak bisa menjamin penuh pekerjaannya ini tidak beresiko.

“Pemilik tempat ini adalah pengusaha muda. Meskipun dia terlihat seperti playboy, tapi dia menerapkan peraturan dengan keras bahwa setiap pelanggannya di larang menyentuh sehelai pun rambut pegawainya, terutama pegawai wanita. Ini tidak seperti tempat murahan itu, Minrin-ya.” Hyehyo kembali meyakinkah Minrin yang sejak tadi wajahnya sudah berubah khawatir.

“Oppa..” Seorang namja yang dipanggil Oppa oleh Hyehyo menoleh. Minrin memperhatikannya dengan seksama. Apa dia yang dimaksud Hyehyo tadi? Seorang pengusaha muda yang sangat menghormati hak wanita? Seorang bos..lalu kenapa dengan pakaian seperti pelayan yang dikenakannya itu?

“Dia Kim Daehyun. Dia salah satu bartender di sini.” Hyehyo memperkenalkan namja itu. Ah.. jadi dia seorang bartender. Tentu saja. Seharusnya Minrin tahu sejak awal dan tidak salah presepsi.

“Annyeonghaeseo. Shin Minrin imnida..” Minrin membungkukkan badannya sedikit.

“Apa Kau temannya Hyehyo itu?”

“Ne, aku temannya. Aku yakin Hyehyo sudah menceritakan maksud kedatanganku, bukan?” Minrin agak melirik Hyehyo.

“Oppa, apa pekerjaan yang kau ceritakan itu masih kosong?” Hyehyo memotong dengan cepat. “Minrin sangat membutuhkan pekerjaan saat ini. Sebagai penulis saja tidak cukup untuk melunasi hutang ayahnya.”

“Yak, Park Hyehyo~!!” Entah bagaimana sahabatnya ini bisa begitu blak-blakan tentang masalahnya.

“Tentu saja. Bos juga tidak keberatan untuk menerimamu.”

“Bos?” Minrin mengulangi. Bagaimana ‘Bos’ yang dimaksud Daehyun ini menerimanya begitu saja, padahal bertemu saja belum. Dan Minrin yakin dia juga tidak memasukkan berkas-berkas lamaran pekerjaan di Bar ini. Oh.. ayolah apa hal itu diperlukan?

“Dia memang belum pernah bertemu denganmu. Semua masalah recruitment pegawai aku yang menangani. Jadi, dia tidak akan keberatan menerimamu, Minrin-ssi.” Ucap Daehyun kemudian, menjawab tanda tanya yang sejak tadi bersarang di atas kepala Minrin.

“Jika Kau ingin bertemu dengannya. Kau harus berhati-hati, dia mungkin akan membuatmu bertekuk lutut.” Hyehyo berbisik di telinga Minrin. “Kau lihat namja yang duduk di sana?” Kali ini Minrin mengikuti arah pandang Hyehyo.

Di salah satu tempat yang terlihat kelas VIP terlihat seorang namja yang tengah duduk dengan santai. Segelas wine ada di tangannya. Rambut pirang coklatnya terlihat mencolok,, terlihat begitu berkarisma dengan jaket hitnmnya. Oke, dia lumayan.

“Eunhyuk-ssi. Dia pemilik tempat ini.” Ucap Hyehyo menyadarkan Minrin dari tatapan penuh ke arah namja bernama Eunhyuk tadi. “Keren bukan?”

“Biasa saja.” Jawab Minrin acuh, yang langsung membuat Hyehyo memasang muka masam.

“Kau benar-benar tidak punya selera yang bagus,”

“Jadi, kapan aku bisa bekerja?” tanya Minrin pada Daehyun, menghiraukan ucapan Hyehyo yang mungkin saja jika ditanggapi akan memulai suatu perdebatan tentang namja yang tampan dan keren.

“Hari ini juga kau bisa mulai bekerja.”

“Benarkah? Gamsahamnida..” Minrin kembali membungkukkan badannya sebagai ucapan terima kasih.

Hari itu juga Minrin mendapatkan pekerjaan sampingan, selain sebagai penulis tetap di sebuah penerbit. Untungnya pekerjaan di Bar ini dia mendapat shift malam, sedangkan pagi dan siang hari dia gunakan di kantor penerbit.

Beberapa hari bekerja di tempat ini, sama sekali tidak ada masalah untuk Minrin. Terakhir kali Minrin bekerja di sebuah Bar milik laki-laki berjas itu, dia hampir saja mengalami hal yang buruk. Beruntungnya dia bisa keluar. Tetapi di tempat ini, hampir tidak ada yang memperlakukan pelayan wanita dengan seenaknya.

“Minrin-ya, bisa kau antarkan ini?” Daehyun menyerahkan dua gelas minuman pada Minrin.

“Siapa yang memesannya?” Minrin menoleh ke belakang, mencari-cari siapa pengunjung yang mungkin saja memesan minuman ini.

“Aniya..Itu untuk Eunhyuk hyung. Di ruang VIP.”

Minrin mengangguk mengerti. Dia melirik sekilas ke arah ruang VIP yang terletak di lantai atas. Sejauh ini hanya beberapa kali Minrin ke sana, dan belum pernah dia bertemu dengan Bos nya sendiri, namja bernama Eunhyuk yang kata Hyehyo sangat menarik.

Gadis itu melangkahkan kakinya dengan pelan. Kakinya agak pegal, karena sejak tadi berjalan ke sana kemari, apalagi high heels yang dia kenakan benar-benar menyusahkan langkahnya. Dia benci memakai high heels. Kalau saja Daehyun tidak memaksanya memakai sepatu sialan ini, Minrin lebih memilih sepatu kets nya.

Kakinya menaiki satu anak tanggal pertama, tapi dasarnya Minrin yang tidak bisa menjaga keseimbangan, tiba-tiba saja pijakannya meleset dan akhirnya minuman yang dia bawa tumpah. Sialnya seseorang tengah berada di belakangnya ketika itu terjadi. Minuman berwarna itu tumpah membasahi kemeja seorang namja yang tadi berdiri di belakangnya. Sedangkan Minrin sendiri sudah terjatuh ke lantai. Gadis itu meringis kesakitan, sepertinya kakinya menjadi korban atas kecerobohannya ini.

“Gwaenchanayo..?” Laki-laki tadi membantu Minrin berdiri, dan dengan susah payah Minrin meneggakan tubuhnya. Kakinya pincang. Benar-benar sakit di pergelangan.

“Jeongsohamnida..” Sadar sudah melakukan kesalahan, Minrin pun buru-buru membungkukkan kepalanya, dengan lengan masih dipegangi laki-laki tadi. Dia mengangkat kepalanya dan..

“Tidak apa-apa, hanya tumpahan kecil. Apa kau baik-baik saja?” Laki-laki itu tersenyum, dan sesaat benar-benar membuat sistem kerja otak Minrin menjadi tidak berfungsi.

Sial.

Minrin dengan cepat mundur satu langkah. “Ne, Gwaenchana.” Dia mengambil nampan dan juga pecahan-pecahan gelas yang tadi dijatuhkannya.  Astaga, apa yang baru saja dilihatnya tadi? Minrin menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Kau yakin? Kakimu sepertinya..” laki-laki tadi menghentikan ucapannya ketika Minrin kembali meringis kesakitan sembari memegangi pergelangan kaki kanannya. “..Terkilir.” laki-laki itu melanjutkan.

Minrin menghela nafasnya. Dia mengutuki sepatu high heels setinggi 5 cm itu. High heels 5 cm saja membuatnya jatuh apalagi 10 cm. “Ayo, ku bantu kau duduk di sana.” Tanpa sepengetahuan Minrin, laki-laki tadi sudah menarik lengan Minrin dan setelah itu membantunya berjalan menuju salah satu kursi kosong.

Minrin hanya pasrah dan menurut, apalagi ketika laki-laki itu memeriksa pergelangan kakinya. “Lebih baik dikompres.” Sedetik kemudian laki-laki itu sudah berdiri dan menuju meja bartender. Tidak butuh waktu lama untuknya kembali dengan membawa es yang dibalut kain.

“Aku tidak apa-apa. Terimakasih, tapi aku bisa melakukannya sendiri.” Minrin bermaksud mengambil bungkusan es itu dari tangan laki-laki tadi.

“Oh, Minrin-ya.. Kau kenapa?” Daehyun berjalan mendekat ketika melihat laki-laki tadi berjongkok di depan Minrin dan mengompres pergelengan kaki gadis itu.

“Dia jatuh di tangga waktu mengantarkan minuman. Ku rasa kakinya agak terkilir.” Jawab laki-laki tadi.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Daehyun pada Minrin.

“Hmm.. aku tidak apa-apa. Biar aku saja..” Minrin mengambil bungkusan es itu dari tangan laki-laki yang menolongnya tadi. “terima kasih sudah membantuku.” Ucapnya lagi.

Laki-laki tersebut tersenyum dan mengangguk. “Daehyun-ah, lebih baik kau menyuruhnya istirahat, sepertinya dia terlalu lelah berjalan dengan high heels itu.”

“Ne, Hyung..” Daehyun mengangguk mengerti. “Gamsahamnida, sudah menolongnya.” Lagi-lagi dia tersenyum. Minrin bahkan bisa melihat senyumnya dengan jelas sekarang.

Ah,, sial..

Gadis itu mengumpat. Ada apa dengan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak cepat seperti ini. Minrin masih mengamati laki-laki tadi yang sekarang sudah berlalu pergi menuju ruang VIP.

“Siapa dia tadi?” tanya Minrin dengan polosnya.

 “Yak, Minrin-ya kakimu agak bengkak. Lebih baik kau ke dokter.” Ucap Daehyun sedikit berteriak yang langsung saja membuat Minrin tersadar.

“Ah.. sial.” Dia mengumpat lagi ketika melihat warna kemerahan di pergelangan kakinya.

                       

 

Minrin berjalan dengan susah payah, apalagi ketika mencapai tangga yang merupakan jalan satu-satunya menuju rumahnya. Benar-benar sial. Setelah ini bagaimana dia bisa bekerja, berjalan saja harus susah payah.

“Eonnie, ada apa dengan kakimu?” Minrin mengangkat kepalanya dan mendapati Serin, adiknya yang berusia 12 tahun sudah berdiri di sana.

“Eoh..Serin-ah. Hanya sedikit terkilir, tenang saja.” Minrin mencoba terus menaiki anak tangga itu. Tapi tenaga yang dimilikinya sepertinya sudah habis, dia kepayahan berjalan dari halte bus sampai ke mari.

Eungi dengan cepat berlari dan berdiri di samping Minrin, membantu kakaknya itu untuk berjalan. “Sedikit apanya? Kau bahkan tidak bisa berjalan dengan baik.” Serin mengamati kaki kakaknya yang sudah berbalut dengan perban berwarna coklat.

“Eiyy,, sejak kapan kau perhatian padaku, eh?” Bukannya senang, Minrin justru heran dengan kebaikan hati adiknya ini.

“Mereka datang lagi tadi.” Bukanya menjawab, Serin justru mulai berbicara hal lain. “Mereka mengambil barang kita, bahkan laptop ku juga di ambil. Katanya sebagai jaminan.”

“Mwo?”

“Eonnie-ya, kapan Kau akan melunasi sisa hutangnya?” tanya Serin cepat. “Aku benci barang-barang kita selalu diambil paksa. Haruskan kita pindah lagi seperti dulu? Tapi pindah pun percuma, mereka selalu mengikuti kemana pun kita pergi.”

Minrin menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Serin. Beban ini terlalu berat untuk Minrin. Hidup dalam pelarian, dan baru dua tahun terakhir mereka menetap di Seoul. Setiap hari diselimuti ketakutan, laki-laki berjas itu akan datang ke rumah dengan paksa, kadang juga mendobrak pintu, mengambil barang-barang seenaknya sebagai jaminan dan bahkan mereka juga mengancam. Jika saja ayahnya tidak pergi begitu saja, atau jika saja ayahnya itu tidak mempunyai hutang yang banyak pada rentainer, hidupnya dan juga Ibu serta adiknya tidak akan seperti ini.

 “Aku janji akan melunasinya minggu ini. Jangan khwatir, Serin-ah.. setelah ini mereka tidak akan datang lagi ke rumah kita.” Ucap Minrin bertekad.

“Aku pegang janjimu, eonnie.”

Minrin tersenyum kikuk. Yah.. adiknya bisa memegang janjinya. Sedangkan dia sendiri bisa mencari jalan untuk menempati janji itu.

                       

 

“Daehyun-ah, mana minumanku? Kenapa lama sekali?” Eunhyuk menghampiri Daehyun yang tengah meracik minuman di meja betendernya.

Daehyum hanya tersenyum dengan polosnya. Dia hampir saja lupa dengan minuman yang tadi dipesan bosnya ini. Kalau bukan Shin Minrin bertindak ceroboh, ah.. sudahlah.

“Jeongsohamnida, Hyung. Tadi terjadi sedikit kecelakaan.” Ucapnya tulus. Dengan cekatan dia pun mempersiapkan minuman yang tadi ditumpahkan Minrin.

“Kecelakaan? Siapa yang kecelakaan?”

“Pelayan baru, dia terjatuh waktu mengantar minuman yang Hyung pesan.” Daehyun menjelaskan dengan tangan sibuk ke sana kemari. Tidak sampai lima menit, minuman serupa yang tadi sempat dijatuhkan Minrin sudah tersaji di atas meja.

“Apa dia baik-baik saja?”

“Hanya terkilir. Tidak ada yang serius.”

Eunhyuk mengangguk-angguk. “Eo.. ada apa dengan kemejamu?” dia beralih pada Ryeowook yang baru saja bergabung dengan mereka dengan kemeja yang sedikit basah.

“Seseorang tidak sengaja menumpahkan minuman ke kemejaku.” Ryeowook pun mengambil tempat duduk di samping Eunhyuk. Sementara namja itu mengamati Ryeowook. “Apa dia pelayan disini yang tidak sengaja terjatuh tadi?” otaknya sepertinya bekerja baik.

“Hmm…Kau seharusnya tidak memaksa pelayan wanita di sini memakai high heels yang tinggi selama bekerja. Kau tahu itu tidak baik, Hyung..” Ryeowook mengoceh dan hanya membuat Eunhyuk melongo.

“yak, aku tidak pernah memaksakan mereka.” Sekarang dia melirik ke arah Daehyun. Satu-satunya pegawai di tempat ini yang Eunhyuk beri kepercayaan untuk mengurus recruitment pegawai. “Apa dia terjauh karena gara-gara kau paksa memakai high heels?” tanyanya

“Euhh.. itu….tidak bisa dibilang begitu juga, sih.” Daehyun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. “Dia hanya tidak terbiasa memakai high heels.” Lanjutnya dengan cengiran lebar.

“Kalau begitu lain kali jangan memaksanya.”

“Hyung, aku sama sekali tidak memaksanya.” Balas Daehyun cepat. “kalau begitu, besok kusuruh dia memakai sepatu ketsnya saja, sekalian dengan topi funkynya.” Lanjutnya dengan bercanda.

“Sudahlah. Tapi ngomong-ngomong, Hyung aku sudah tahu harus bagaimana mencari gadis itu.” Ryeowook memotong pembicaraan itu dan kali ini suasana berubah serius. Eunhyuk mengalihkan perhatiannya dari Daehyun dan beralih pada Ryeowook.

“Satu-satunya informasi tentang dirinya yang pernah dia katakan adalah ayahnya pemilik perusahaan penerbit Book of Storyline. Jadi, aku tinggal mencari tahu tentang perusahaan itu” Ryeowook melanjutkan. Dia tersenyum lebar, bangga dengan idenya yang cemerlang itu.

“Kau yakin?” tanya Eunhyuk memastikan.

“Tentu saja. Aku akan menemukannya. Dan setelah aku menemukannya..”

“Kau akan menikahinya, iya kan?” potong Eunhyuk cepat, benar-benar tepat membaca pikiran Ryeowook. Lihat saja ekspresi senang di wajah Ryeowook setelah Eunhyuk mengatakan hal itu.

“Kuere. Setelah itu Eomma akan berhenti menjodohkanku dengan gadis-gadis itu..”

“Terserah kau sajalah…”

TBC

                                   

 

Akhirnya part 1..~!!

Cerita ini terinsipirasi dari beberapa drama yang pernah saya tonton. Jadi bisa dibilang kombinasi beberapa drama yang dijadikan satu. Terima kasih sudah membaca, jangan lupa komentnya ya.. ^^

Part 2 nya semoga juga bisa segera publish, mengingat sekarang saya juga sudah libur.. hehe.. sampai jumpa di part selanjutnya.. ~~^^

Advertisements

6 thoughts on “(Fanfiction) #1 Bittersweet

  1. ada beberapa kata yg kleru le ngetik eon. . . Betender po bartender? Rentainer po rentenir 😀
    kui le akeh utang koyo when a man loves hohoho

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s