(Fanfiction) The Choosen Princess : The Feelings and The Signs

poster 4 2

Title     : The Choosen Princess Part 2: The Feelings and The Signs

Author : Han Yerin

Genre  : fantasy, family, friendship, romance, action(?)

Length : chaptered

Rated  : 15+

Cast     : find it ~:)

Disclaimer :Semua cast yang hadir milik Tuhan, tak terkecuali baik BB / GB / maupun OC yang bakalan muncul^^

Annyeong yeorobun. Author bawa part 2 The Choosen Princess nih. Mian lama baru update karena author sibuk fangirling BB yang pada comeback…hihihi 😀

Well, part ini semua sudut pandang by author point of view… author lagi ga kepikiran buat sudut pandang dari tiap-tiap cast.hehehe 😀

Dan satu lagi, part ini sedikit lebih panjang dari part sebelumnya^^

Selamat membaca dan menikmati ff abal-abal author^^

Don’t forget to RCL J

 NO PLAGIAT, DON’T BE PLAGIATOR OR DON’T BASH IT IF DON’T LIKE IT ^^

~Story Begin~ 

Tanpa disadari oleh para manusia, dunia yang mereka ketahui selalu diselimuti cahaya di pagi hari dan disinari cahaya rembulan di malam hari ternyata mempunyai sisi gelap tersendiri. Jauh di masa lalu, sejarah kelam pernah terjadi, dimana manusia juga tidak menyadarinya. Dunia yang mereka tempati sejak dulu terbagi dua….

Dunia atas………

dan

……Dunia kegelapan

 

***

Incheon, International Airport, Seoul, South Korea

Tampak dua orang namja berdiri di depan pintu kedatangan international Incheon Airport. Keduanya menarik perhatian para yeoja yang berada di sekitar pintu kedatangan karena paras tampan mereka. Dua sosok namja berkebangsaan China itu merasa gerah hanya karena tatapan penuh minat dari para yeoja itu.

“Henry-a,” namja yang memiliki postur tubuh lebih tinggi dari yang satunya tiba-tiba saja bersuara memanggil namja satunya.

“Shì, gē. Shénme?” balas namja yang dipanggil Henry itu dengan menggunakan bahasa mandarin.

“Aish, sudah ku bilang berapa kali sejak di Hongkong, kita harus berbicara dalam bahasa korea. Gunakan hangeul-mu. Aku tahu kau fasih berbicara dalam hangeul.” gerutu namja sebelumnya.

“Duìbùqǐ gē, wǒ…”

“Ya! Bicara dengan hangeul, Henry-a,” kini namja itu terlihat frustasi karena sudah berulang kali ia memperingatkan Henry untuk berbicara dalam hangeul.

“Hahaha…mianhae Zhoumi hyung. Aku hanya bercanda, hahahaha…” suara tawa penuh geli itu keluar dari seorang Henry. Ia terlihat sangat puas membuat kesal sepupunya itu.

‘Aigoo. Apa karena sering bermain dengan Henry sewaktu kecil, Sungrin jadi seperti itu?’ batin Zhoumi dalam hati. Tiba-tiba Zhoumi merasa berat jika harus mempertemukan Henry dengan Sungrin, yang notabene juga sepupunya.

‘Bisa gila aku jika kedua orang ini akan bertemu. Akan sekacau apa hariku nanti?’ lagi. Zhoumi tiba-tiba bergidik ngeri saat membayangkan bagaimana jadinya jika Sungrin dan Henry dipertemukan.

Henry tiba-tiba menghentikan tawanya yang masih berderai tadi ketika melihat sepupunya yang tiba-tiba terlihat lemas.

“Hyung, gwaenchana? Kenapa kau lemas sekali. Bukankah sejak di Hongkong tadi kau begitu bersemangat karena akan bertemu Sungrin hari ini. Aigoo, aku juga sudah tidak sabar bertemu dengannya,” cerocos Henry tanpa henti. Bahkan senyuman bahagia tak pernah lepas dari wajah tampannya.

Mendengar perkataan terakhir Henry, Zhoumi menatap Henry dengan rupa memelas. Ia lebih memilih melemparkan dirinya ke laut daripada harus mempertemukan duo rusuh itu.

“Eyyhh…kau kenapa hyung? Mengerikan,” cibir Henry ketika melihat tampang memelas dari seorang Zhoumi.

“Aishh…kau cerewet sekali Mochi. Kajja, lebih baik kita pulang kerumah. Ini sudah sore,” dengan santainya Zhoumi mulai menarik kopernya meninggalkan Henry.

“Ya! Hyung! Tunggu aku! Dan satu lagi, jangan panggil aku ‘Mochi’,” gerutu Henry. Ia bergegas mengekori Zhoumi untuk pulang ke rumah mereka yang berada di tengah pusat kota.

***

Kibum masih kekeuh dengan aksi diamnya. Lebih tepatnya mendiamkan Sungrin. Ia masih kesal dengan apa yang ia lihat sewaktu menjemput Sungrin di taman belakang kampusnya. Kesal atau marah?

 

Flashback

“OMO!” pekik Sungrin saat dia merasakan menabrak sesuatu di belakangnya. Dan ia lebih terkejut lagi saat melihat siapa yang ia tabrak, yang tak lain adalah sunbae-nya di Department of Arts Kyunghee University.

 “S..S..Sun..Sunbaenim, mi..mi..mianhae. aku tidak melihatmu tadi,” ujar Sungrin dengan terbata. Rasa takut dan gelisah itu masih menghantuinya walaupun sebenarnya ia sudah tidak perlu untuk merasakan itu. Wajahnya kelihatan pucat pasi karena penyakit phobianya yang tiba-tiba menyerangnya.

‘Grepp’

Jongwoon bukannya membalas perkataan Sungrin, tapi ia malah menarik Sungrin ke dalam pelukannya. Perlahan, ia mengelus punggung gadis itu seakan memberikan ketenangan dan entah bagaimana Sungrin merasa nyaman dalam pelukan Jongwoon dan merasa terbiasa dengan hal itu.

“Gwaenchana? Kau terlihat pucat sekali, Rin-ah,” suara lembut itu mengalun indah di telinga Sungrin. Entah kenapa ia tiba-tiba saja merasa tenang setelah mendengar suara Jongwoon. Seakan itu adalah suara yang sudah tak asing lagi baginya.

“Gwaen…”

“Ya! Kim Sungrin! Apa yang kau lakukan disini, huh?!” sebuah suara yang sarat penuh emosi menggelegar menyusup ke pendengaran Sungrin. Sungrin tau betul pemilik suara.

“Oppa…,”

‘Grepp’

Dengan penuh amarah, Kibum melangkah mendekati dua sosok yang tengah berpelukan itu dan dengan cepat ia menarik Sungrin agar berdiri tepat di sisinya. Bukan. Dia bukan marah pada Sungrin, tapi ia muak melihat aura hitam pekat yang mengelilingi Jongwoon. ‘Aku membencinya…dia berbahaya…’ batin Kibum. 

Jongwoon sendiri hanya menatap Kibum dengan malas. 

“Tak bisakah kau bersikap lebih lembut pada dongsaengmu ini Kibum-ssi? Walau bagaimanapun juga ia seorang yeoja,”ujar Jongwoon dengan tenang. Sesaat setelah melihat Sungrin ditarik dengan paksa dari pelukannya, terlihat kilatan amarah di mata Jongwoon.

“Bukan urusanmu Lee Jongwoon-ssi. Kajja, kita pulang sekarang Sungrin,” dengan emosi yang masih membeludak(?), Kibum segera menarik Sungrin meninggalkan Jongwoon di taman itu. Tanpa memperhatikan ringisan kesakitan yang keluar dari bibir Sungrin. 

“Sssshhhh…Oppa, pelan-pelan. Ini sakit,” ujar Sungrin sembari merintih pelan. Ia berharap oppa-nya melepaskan pergelangan tangannya yang dicekal keras oleh oppa-nya.

“Masuk!” dengan sedikit emosi, Kibum mendorong masuk Sungrin ke dalam mobil. Setelahnya tidak terjadi pembicaraan apapun yang biasanya mereka lakukan jika sedang di perjalanan.

End flashback

Sungrin melirik Kibum yang berada di sebelahnya, tampak fokus menyetir. Ia tau jika oppa-nya masih marah atas kejadian yang terjadi di kampusnya tadi.

“Oppa…,”

“…………”

“Kau masih marah padaku, oppa?”

‘Ckiiitt’

Mobil yang dikendarai Kibum dan Sungrin tiba-tiba saja menepi. Kibum tampak memejamkan matanya dan mencengkeram erat kemudi mobil, seakan menekan emosinya yang belum reda  ke titik paling rendah. Ia hanya berusaha agar tak menyakiti dongsaeng kesayangannya itu, walaupun hanya sebatas kata-kata.

Perlahan, mata yang terpejam itu mulai terbuka. Sungrin masih menatap Kibum dengan pandangan takut. Ketakutannya semakin menjadi saat mata yang terpejam itu menatap balik ke arahnya.

Tapi Sungrin salah. Itu bukanlah tatapan yang sarat emosi seperti beberapa saat yang lalu. Itu  adalah tatapan sendu milik seorang Kibum, yang menatapnya balik. Sungrin hanya tertegun mendapati tatapan sendu itu.

 ‘Grepp’

Tanpa disangka Sungrin, Kibum justru menarik tubuhnya ke dalam pelukan hangat Kibum. Pelukan itu terasa begitu erat, seakan menyiratkan ketakutan akan kehilangan sesuatu, lebih tepatnya ketakutan Kibum akan kehilangan Sungrin.

“Op…Oppa…sesak,” cicit Sungrin pelan. Ia merasa sesak akan pelukan erat Kibum. Memang ini bukan kali pertamanya terjadi, tapi tetap saja siapapun yang dipeluk seerat itu pasti akan merasa sesak karena kehilangan pasokan oksigen.

“Tak bisakah kau tak membuatku khawatir akan dirimu, Rin-ah?” lirih Kibum dibalik tubuh Sungrin.

“Oppa…,”

“Kau satu-satunya keluargaku yang tersisa Rin-ah, kau dongsaengku satu-satunya yang kumiliki. Jika kau pergi, siapa yang akan menemaniku? Kau sangat berharga bagiku.” Sungrin terhenyak mendengar perkataan Kibum. Terlebih saat merasakan bahu Kibum yang bergetar. Selama ini ia tak tahu begitu takutnya oppa-nya akan kehilangan dirinya.

“Oppa, aku tak akan kemanapun,tenanglah. Mianhae kalau selama ini aku membuatmu khawatir,” balas Sungrin sembari mengelus punggung Kibum. Perlahan tubuh Kibum yang tadinya tegang meluruh rileks saat mendapatkan perlakuan sedemikian rupa dari Sungrin.

“Berjanjilah kau akan selalu disampingku Rin-ah,” ujar Kibum pelan, sembari menatap Sungrin tepat di kedua matanya.

“Ne, aku berjanji oppa,” seulas senyum tercetak di wajah cantik itu. Kibum  membalas senyuman itu dengan senyuman serupa di wajahnya. Ia merasa begitu senang saat mendengar ucapan janji Sungrin padanya.

“Wajahmu pucat chagi, kau sakit, hum?” dengan hati-hati, Kibum mengelus wajah Sungrin yang tampak pucat, seakan wajah itu adalah porselen yang rapuh, yang bisa  pecah sewaktu-waktu.

“Aniya oppa, nan gwaenchana.”

“Kau yakin?”

“Ne, oppa.”

“Baiklah, bagaimana jika kita makan siang diluar saja? Ditempat biasa, eotte? Setelah itu kita perlu membeli kebutuhan dapur,” Kibum kini mulai tampak seperti tak terjadi apapun. Bahkan seulas senyuman tak pernah menghilang dari wajahnya.

“Terserah kau saja oppa.”

Mendengar jawaban Sungrin yang sepertinya setuju dengannya, Kibum mulai melajukan mobilnya di jalurnya lagi menuju tempat yang biasa ia datangi bersama Sungrin.

***

Tampak sebuah mobil sport berwarna putih berhenti di depan Amour Cafe. Dari pintu penumpang bagian depan keluarlah seorang yeoja yang terlihat begitu rupawan. Ia bergerak menuju pintu kemudi. Jendela pintu kemudi itu terbuka dan tampak seorang yeoja yang tak kalah rupawan darinya.

“Eonni, sampaikan salamku untuk yang lain, eoh?” yeoja di balik kemudi itu menatap sosok yeoja yang berada disamping pintu kemudi itu dengan penuh harap.

“Aishh, ne. Akan kusampaikan nanti. Sampaikan juga salamku untuk Wookie oppa dan Sunggyu oppa.” Balas yeoja itu.

“Tentu saja. Kalau begitu aku duluan Ranran eonni. Annyeong.”

“Ne, annyeong. Hati-hati di jalan Minrin-ah,”

“Arraseo.”

Dengan perlahan, Minrin mengemudikan mobilnya melaju pelan meninggalkan kawasan cafe itu. Sedangkan Ranran sendiri melangkah masuk ke dalam cafe menemui teman-temannya.

***

“Eonni! Kau datang? Mana Minrin eonni? Ia tak ikut eon?” seorang yeoja yang memiliki rambut sepunggung berwarna coklat kemerahan menyapa Ranran begitu Ranran memasuki Amour Cafe.

“Aaaaa…Yeonie-ya. Bogoshippeoyo,” Ranran yang semula tampak kusut kini berubah ceria, atau lebih tepatnya histeris begitu bertemu dengan Yeonie, atau Park Sungyeon, yang notabene sahabatnya.

“Aish eonni, kau mengerikan,” cibir seseorang di belakang Yeonie. Park Chan Chan, eonni kedua dari Park Sungyeon. Ranran tampak mengerucutkan bibirnya pertanda ia kesal setelah mendengar ucapan Chany.

“Ya! Aku tidak mengerikan Chany-ya,” balas Ranran kesal.

“Bisakah kalian tenang? Ini tempat umum, girls,” sesosok yeoja yang terlihat memiliki pembawaan yang tenang dan terlihat dewasa dari mereka bertiga tampak melangkah anggun menuju mereka bertiga.

“Nimi-ya! Mana yang lain? Kenapa cuma ada kalian bertiga saja?” tanya Ranran dengan bingung. Seharusnya masih ada tiga orang lagi yang harus bergabung dengan mereka jika minus Shin Minrin, yeodongsaeng Ranran.

“Jika yang kau tanyakan itu Youngie, Ahra, dan juga Hyehyo, mereka sudah ada di dalam sedari tadi. Kenapa kau baru datang, huh? Dan mana Minrin?” kini Han Nimi lah yang balik bertanya pada Ranran.

Tiga yeoja yang disebutkan Nimi tadi tampak berada di belakang Nimi. Youngie dan Ahra adalah yeodongsaeng Nimi, Han Sungyoung dan juga Han Ahra. Sedangkan Hyehyo adalah eonni dari Chany dan juga Yeonie, Park Hyehyo.

“Nggg..Minrin menitipkan salam untuk kalian semua. Ia tak bisa ikut kumpul karena ada acara dengan Wookie oppa.” Ucap Ranran begitu ia teringat akan dongsaengnya.

“Aigoo, pasangan dingin itu ada acara apa eonni?” tanya Chany.

“Kim Sunggyu, namdongsaeng Wookie oppa baru saja pulang dari Jepang. Jadi Minrin dan Wookie oppa akan menyambutnya di rumah.” Jawab Ranran. 

‘Kling’

Suara pintu cafe terbuka menandakan jika ada pelanggan yang baru saja datang. Mereka bertujuh secara spontan melirik ke arah pintu masuk. Disana tampak sepasang namja dan yeoja yang tampak bercengkerama dengan bahagia walaupun si yeoja tampak pucat.

“Bukankah mereka….,”

“Lebih baik kita masuk dan kembali duduk ke tempat kita,” suara Nimi menginterupsi perkataan Chany. Tanpa protes, mereka bertujuh kembali ke tempat semula dimana mereka memesan tempat di dalam cafe.

***

“Hihihi, oppa kau tadi lucu sekali, hihihi,” Sungrin masih terkikik geli karena kejadian yang baru saja menimpa Kibum. Wajah Kibum semakin memerah karena menahan rasa malu akibat kejadian yang baru saja menimpanya dan mendengar kikikan geli dari dongsaengnya sendiri.

“Ya! Diamlah Kim Sungrin.”

“Bwahahaha.”

Bukannya diam, Sungrin yang tadinya hanya terkikik geli sekarang menjadi tawa yang terdengar menggelikan. Melihat wajah Kibum yang kian memerah semakin membuat Sungrin geli.

Tadi, sesaat sebelum memasuki pintu Amour Cafe, Kibum jatuh terjerembab karena tali sepatu kets-nya yang tidak terikat rapi. Alhasil Kibum jatuh dengan memalukan di depan pintu cafe. Untungnya yang melihat kejadian itu hanya Sungrin seorang. Ia tak bisa membayangkan jika orang lain ada yang melihatnya juga. Betapa malunya dirinya jika itu terjadi.

“Diam atau aku tak jadi mentrarktir dirimu dengan segelas penuh es krim kesukaanmu, Kim Sungrin,” Kibum berbalik mengancam Sungrin karena Sungrin tak juga menghentikan tawanya.

Mendengar kata ‘traktir’ dan juga ‘es krim’, Sungrin langsung menghentikan tawanya. Ia langsung mendelik sebal kepada Kibum. Kibum tampak menampilkan smirk andalannya begitu menyadari jika ancamannya berhasil.

“Ya! Mana bisa begitu oppa?! Kau kan sudah janji tadi,” rengek Sungrin pada Kibum.

“Tentu saja aku bisa mencabut janjiku tadi,” balas Kibum dengan senyuman penuh kemenangan. Rasanya Sungrin ingin sekali menendang oppa-nya itu  ke ujung dunia.

“Sudahlah. Jangan merengek lagi. Lagipula oppa tetap mentraktirmu kok.”

Mendengar jika es krim kesukaannya tidak jadi dicabut, Sungrin langsung tersenyum lebar.

“Huwaa oppa, kau memang oppa terbaik,” gombal Sungrin pada Kibum. Kibum tampak terperangah mendengar ucapan Sungrin.

“Cih, kau mengerikan,” cibir Kibum.

“Mehrong.”

***

“Bukankah tadi itu Kim Kibum dan Kim Sungrin kan eon?” ujar Chany penuh tanya. Ia menatap keenam orang yang berada di sekitarnya.

“Yup. Itu tadi Kim bersaudara,” jawab Nimi seadanya.

“Mereka lebih terlihat seperti sepasang kekasih ketimbang kakak-adik,” celetuk Ahra menimpali ucapan Nimi.

“Sudahlah. Kenapa kita jadi membahas mereka. Tak ada gunanya membicarakan orang lain yang tak mengenal kita ataupun memiliki hubungan dengan kita,” ujar Hyehyo cuek.

“Tapi aku mengenalnya eonni, lebih tepatnya Kim Sungrin. Dia satu kelas denganku,” balas Chany.

“Terserah kau sajalah,” sifat cuek dan tak mau tau dari Hyehyo mulai tampak.

Diantara mereka bertujuh, dimana Ranran, Yeonie dan Chany tampak bercengkerama bersama sedangkan Nimi bersama Ahra dan Hyehyo, Youngie tampak tak bersemangat samasekali. Sebagai yang tertua, Ranran langsung menyadarinya.

“Youngie-ya, neo gwaenchana?” ujar Ranran lembut.

“Gwaenchanayo eonni,” senyuman tipis tercetak di wajah rupawan Youngie.

“Eonniedul, aku pulang duluan ne?” tiba-tiba saja Yeonie bersuara dan meminta ijin pulang. Ia tampak resah.

“Eh? Wae…”

“Chagiyaaaa!” sebuah suara seorang namja yang terkesan imut menyeruak memotong pembicaraan antara Nimi dengan Yeonie.

“Aish, dia datang,” keluh Yeonie pelan.

“Chagi, kau mengatakan sesuatu tadi, hmm?” kini namja pemilik suara imut itu telah berdiri tepat di samping Yeonie.

“Aniya Sungmin oppa. Kenapa oppa bisa berada disini?” senyum hambar tercetak di wajah Yeonie, yang malah membuatnya terlihat aneh.

“Tentu saja karena aku merindukan tunanganku ini,” jawab Sungmin seraya memeluk leher Yeonie dari belakang.

“Oppa, kau kesini dengan siapa?” kini Chany yang ganti bertanya.

“Tentu saja dengan dongsaengku tersayang dan sahabat setiaku,” jawab Sungmin penuh bahagia. Kini ia tengah menciumi rambut milik tunangannya itu, Yeonie.

Mendengar ucapan Sungmin, Chany tampak mendesah malas, sedangkan tanpa yang lain sadari, raut wajah Ranran tampak tegang.

“Merindukanku, eh?” suara lain kini menyeruak di pendengaran mereka. Seorang namja tampak telah berdiri di belakang kursi Chany.

“Cih, siapa yang merindukanmu Lee Donghae?” cibir Chany.

“Begitukah?”

“Tentu saja.”

Disaat yang lain menatap malas dua pasangan yang sedang memamerkan kemesraan mereka, Ranran semakin tegang setelah matanya menangkap sesosok namja berwajah tak kalah rupawan, dengan kulit putih pucat dan tubuh yang tinggi tegap berjalan mendekati mereka. Tatapan matanya terkesan dingin, namun itu menjadi daya tarik sendiri untuk Ranran.

“Hyung, tak bisakah kalian tak memamerkan kemesraan kalian di depanku?” namja yang menjadi sumber ketegangan bagi Ranran itu menyuarakan suaranya yang terkesan dingin dan ketus. Sekilas, tatapan matanya yang terkesan dingin itu meredup menjadi tatapan sendu saat ia menyuarakan protesnya.

Sungmin yang sadar akan tatapan itu hanya bisa menghela napas pelan. Ia tau betul penyebab tatapan sendu itu.

“Arraseo. Gwaenchana, Kyuhyun-a?” tanya Sungmin.

Kyuhyun tampak mengangguk singkat menandakan ia baik-baik saja. Ia lebih memilih menatap hal lain daripada harus melihat pasangan yang berada di depan matanya.

“Hyo-ya, kau sudah selesai?” suara lain kini terdengar dari belakang Kyuhyun. Tampak seorang namja dengan gummy smile-nya berdiri disana.

“Hmm…aku sudah selesai oppa,” jawab Hyehyo terkesan cuek.

“Eunhyuk-ah, kau datang? Tau begitu tadi kita pergi bersama saja,” sapa Donghae melihat kedatangan Eunhyuk untuk menjemput Hyehyo.

“Mianhae. Aku tadi ada urusan sebentar dengan Yesung hyung dan Siwon.” Jawab Eunhyuk.

“Youngie-ya, kau sudah selesai?” suara namja yang begitu lembut menyapa Youngie membuat Youngie terhenyak karena ia kenal baik pemilik suara itu. Orang yang selama ini ia rindukan.

Suasana yang tadinya tampak hangat kini mendadak suram sesaat setelah kedatangan Yesung, atau Jongwoon, tunangan Youngie ke tempat mereka. Youngie tampak hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan Yesung untuknya. Yesung tampak tersenyum tulus pada Youngie ketika melihat tunangannya itu. Ada sedikit rasa bersalah dalam diri Yesung karena beberapa waktu ini ia mengabaikan tunangannya itu.

“Hyung, aku baru pertama kali ini lihat Yesung hyung tersenyum seperti itu,” bisik Donghae pada Sungmin. Sungmin menganggukkan kepalanya. “Ne, aku juga setuju denganmu Hae-ya.”

“Oppa…oppa, ppalli! Aku ingin segera sampai di rumah dan beristirahat,” seruan seorang yeoja yang berdiri tak jauh dari tempat mereka menarik perhatian mereka semua. Tanpa disadari mereka semua, Yesung dan Sungmin tampak tegang ketika melihat yeoja itu.

“Aish, sabar sebentar Sungrin-ah. Kau ingin melihatku terjatuh lagi, eoh?” seorang namja tampak berjalan menghampiri yeoja itu. Sungrin tampak tersenyum manis sembari menatap Kibum yang berjalan menghampirinya.

Kyuhyun tampak terpaku ketika melihat senyuman Sungrin, seakan mengingatkannya pada seseorang yang berarti untuknya di masa lalu.

 

‘Tidak mungkin! Senyuman itu. Mata itu. Dan aroma ini. Kenapa sama persis dengan Soorin?’ batin Kyuhyun. Ia masih terpaku menatap Sungrin. Ranran, yang sedari tadi mencuri pandang ke arah Kyuhyun mengikuti arah pandangan Kyuhyun yang tampak terpaku akan sesuatu yang malah membuatnya merasa sedih.

 

‘Kau malah terpaku melihat yeoja itu oppa. Kenapa kau tak pernah melihatku yang setara denganmu?’ batin Ranran. Ia hanya bisa tersenyum miris menyadari perasaaannya yang bertepuk sebelah tangan.

Yeonie yang tak sengaja melihat ke arah Ranran hanya bisa menghela napas pelan karena ia tau apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya bisa ikut prihatin melihat keadaan sahabatnya itu.

“Kajja, lebih baik kita pulang semua.” Yesung berusaha mengalihkan perhatian mereka semua dari sosok Kim bersaudara itu. “Baiklah, kita pulang saja. Kyuhyun oppa, bisakah kau antar pulang Ranran? Minrin tak datang hari ini.” pinta Nimi pada Kyuhyun. Kyuhyun membalasnya dengan anggukan.

Tanpa banyak protes, satu persatu dari mereka mulai meninggalkan cafe tersebut.

***

“Oppa, ayo pulang,” rengek Sungrin pada Kibum. Kibum hanya menatapnya datar, tapi dengan cepat ia langsung panik melihat wajah Sungrin yang tambah pucat.

“Kau sakit Rin-ah?” panik Kibum melihat keadaan Sungrin. Sungrin hanya diam merespon pertanyaan Kibum.

“Baiklah, kita pulang setelah membayar semua belanjaan kita.” dengan lembut, Kibum menggamit lengan Sungrin.

Usai membayar semua belanjaan mereka, Kibum dan Sungrin menuju parkiran dan langsung masuk ke mobil mereka. Kibum perlahan mengemudikan mobil mereka meninggalkan area parkiran tersebut. Baru beberapa menit Kibum melajukan mobil mereka, Sungrin tampak tertidur pulas di jok sebelahnya. Kibum tersenyum tipis melihat Sungrin tertidur.

“Kau tampak letih sekali Rin-ah,” monolognya sendiri. Ketika berada di lampu merah Kibum membenarkan posisi tidur Sungrin agar terasa nyaman.

***

Mobil sport hitam milik Kibum tampak berhenti di sebuah rumah minimalis, yang tak lain adalah rumahnya dengan Sungrin.

“Sungrin-ah, irreona. Kita sudah sampai,” Kibum tampak berusaha membangunkan Sungrin yang tertidur di mobil.

Perlahan kelopak mata Sungrin yang terpejam mulai membuka. Sungrin menggeliat kecil, merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku mendadak karena tertidur di mobil. Masih dalam keadaan setengah sadar, Sungrin keluar dari mobil.

“Oppa, itu mobil siapa?” tanya Sungrin begitu ia melihat sebuah mobil sport berwarna silver terparkir rapi di garasi rumah mereka.

“Mana?” tanya Kibum yang sedang berada di bagasi mobil, mengeluarkan semua belanjaan mereka. Ia memang belum melihat keadaan rumahnya setelah keluar dari mobil karena ia langsung membuka bagasi mobil. Kini ia tampak melongokkan badannya untuk melihat ke arah garasi rumah mereka.

“Bukankah itu mobil Zhoumi hyung?” ujar Kibum spontan begitu melihat mobil sport silver itu.

Kibum tampak mengernyitkan dahinya karena ia tak mendengar histeria Sungrin ketika ia menyebutkan nama ‘Zhoumi’. Yang ia lihat malah Sungrin yang berjalan sempoyongan menuju pintu depan rumah mereka. Kelihatannya ia masih dalam keadaan setengah sadar jadi ia tak begitu menyimak perkataan Kibum.

Kini Sungrin tampak berkutat dengan kode password pengaman pintu rumah mereka. setelah berhasil membukanya, Sungrin melangkah masuk tanpa menghiraukan Kibum yang membawa banyak barang.

“Ya! Sungrin-ah, bantu aku membawa ini semua. Ya! Kembali!” Kibum tampak kesal karena dongsaengnya tidak membantunya samasekali.

Di dalam rumah, tampak dua orang namja yang sedang bersantai di ruang bersantai rumah mereka. Masih dengan keadaan setengah sadar, Sungrin melewati kedua namja itu begitu saja tanpa melirik sedikitpun.

Henry yang melihat kedatangan Sungrin seketika melompat berdiri dan berlari menuju Sungrin. Ia tampak senang sekali bertemu dengan Sungrin.

“Sungrin-ah…Bogoshippeoyo,” pekik Henry histeris seraya memeluk tubuh mungil Sungrin.

“Huh? Sepertinya aku mendengar suara Mochi oppa,” gumam Sungrin yang masih diambang setengah kesadarannya.

“Ya! Ini memang aku Sungrin-ah,” pekik Henry penuh semangat.

Mendengar teriakan yang tak asing lagi di telinganya, seketika mata Sungrin yang terlihat masih setengah terpejam membuka lebar, memperlihatkan mata bulatnya yang tampak menggemaskan.

“Hyaaa! Mochi oppa, nado bogoshippeoyo,” pekik Sungrin seraya balas memeluk Henry.

Zhoumi yang berdiri tak jauh dari mereka berdua kini tampak pasrah dan berusaha sekuat mungkin bertahan dari pekikan-pekikan duo rusuh itu – Henry dan Sungrin-.

“Kau tak ingin memelukku juga, Rin?” suara Zhoumi menginterupsi acara lepas rindu Sungrin dengan Henry. Zhoumi tampak merentang tangannya, seakan siap menerima pelukan dari Sungrin.

“Oppa!” kini Sungrin beralih memeluk Zhoumi. Zhoumi juga membalas pelukan itu tak kalah erat dengan Sungrin.

“Dimana Kibum?” tanya Zhoumi bingung, karena sedari tadi ia tak melihat Kibum.

“Omo! Aku meninggalkannya di depan oppa,” jawab Sungrin seakan baru sadar jika ia meninggalkan Kibum di depan.

“Ya! sudah kubilang bantu aku membawa ini semua, Kim Sungrin! Aish!” kini suara Kibum terdengar dari arah pintu depan rumah mereka. Henry yang melihat Kibum tampak kesusahan dengan semua barang yang dibawanya segera mendekati Kibum untuk membantunya.

“Banyak sekali yang kau beli hyung?” ujar Henry.

“Eoh? Kau juga ikut Zhoumi hyung kembali ke Korea?” Kibum nampak kaget melihat sepupunya yang lain juga berada  dirumahnya. Henry tampak menganggukkan kepalanya.

“Darimana saja kau Kibummie?” kini Zhoumi lah bersuara.

“Dari supermarket hyung.”

Zhoumi hanya manggut-manggut saja mendengar jawaban Kibum. Kini ia beralih menatap Sungrin, dan mendapati wajah sepupu kesayangannya itu tampak pucat.

“Kau sakit Rin-ah?” tanya Zhoumi penuh selidik. Kibum tersentak kaget karena hyungnya menyadari Sungrin yang tampak pucat.

“Hmm..aniyo oppa, hanya kelelahan saja. Aku naik ke atas dulu ya oppa,” pamit Sungrin pada ketiga oppa-nya. Ia tampak berusaha menghindari tatapan penuh selidik milik Zhoumi, sedangkan Henry, dia sudah melenggang ke arah dapur.

Tanpa membuang banyak waktu, Sungrin langsung meninggalkan Zhoumi dan Kibum. Ia bergegas naik ke lantai dua dimana kamarnya berada. Setelah berhasil mencapai pintu kamarnya, ia langsung membukanya dan masuk ke kamarnya. Setelah itu ia langsung menutup kembali pintu kamarnya dan langsung menguncinya.

Baru saja Sungrin melangkah meninggalkan pintu kamarnya, tiba-tiba saja rasa sakit tak tertahankan mendera kepalanya. Kilasan-kilasan gambar berputar di otak Sungrin, bagaikan potongan film yang tampak semrawut dalam otaknya. Semakin lama rasa sakit itu semakin tak tertahankan dan membuat tubuh mungil Sungrin meluruh jatuh terduduk lemas tak jauh dari pintu kamar.

Lama-kelamaan pandangan Sungrin tampak memburam.

“Op..oppa..” dengan lirih Sungrin berusaha meminta bantuan. Tak lama setelahnya semuanya tampak gelap dan tubuh Sungrin sepenuhnya  meluruh di lantai kamarnya.

~TBC~

Advertisements

3 thoughts on “(Fanfiction) The Choosen Princess : The Feelings and The Signs

  1. annyeong! kunjungan balik ^^
    wah wah, aku penasaran baca ini, jujur saja. siapa sungrin dan apa hubungannya dengan kyuhyun? kenapa kibum ga suka sama jongwoon? lanjutin ya, author ^^ hwaiting!

    • hehe.. penasaran ya.. tunggu saja kelanjutannya. itu bukan ff ku, tp milik temenku. semoga dia cepet update.
      terima kasih sudah berkunjung balik.. ^^

    • gomawo uda baca ff ku 🙂 padahal aku masih baru di dunia per-ff-an 🙂
      siapa sungrin dan apa hubungannya ma kyuhyun bisa diliat di chapter selanjutnya^^
      kibum ga suka jongwoon???well itu masih akan menjadi rahasia nantinya^^
      sebenarnya uda ada clue nya di part2 sebelumnya^^
      gildarilke^^ akuu usahain secepatnya update chapter 3^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s