(Fanfiction) AND or END -Sequel of Break Up-

ryeomin 21

Title : AND or END

Cast : Ryeowook Super Junior, Minrin dBrinds

Genre : Romance, life,

Length : 5314 words (sequel of Break Up)

Rating : 15+

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

Disclaimer : The cast is belong to their self. I just have the plot and poster.

Will you stay here~?

 

April, 17 2013

Seoul, South Korea

00.05 KST

 

“Saengil Chukkaa …Hamnida. Saengil Chukkaa.. hamnida.. Saranghaneun uri Minrin, Saengil Chukkaa.. hamnida..”

Shin Minrin yang baru saja terlelap kurang dari dua jam terpaksa harus kembali membuka matanya ketika suara nyanyian itu menggema di ruangannya, memasuki sistem syarafnya dan mengganggu waktu tidurnya. Dia menyipitkan matanya dan melihat ketujuh member dBrinds sudah memenuhi kamarnya. Ranran berdiri paling depan dengan kue tart di tangannya. sedangkan member lainnya mengelilingi tempat tidurnya.

“Saengil Chukka hamnida eonnie..!! huwa.. akhirnya kau menyusul tetua kita.” Chany berteriak girang yang langsung diikuti suara tepuk tangan.

Minrin bangkit dari tempat tidurnya ketika Nimi menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya. “Bangunlah, Minrin-ya.”

“Kenapa kalian menggangguku tengah malam begini? Kan bisa besok merayakannya..” Ia mengucek matanya beberapa kali. Dia bukannya tidak suka semuanya memberi kejutan seperti ini, tapi masalahnya adalah Ia terlalu capek seharian ini.

“Setidaknya make a wish dan tiup lilinya.” Yeonie berkomentar.

“Aigoo.. baiklah arraso. Mana kuenya!!” ucapnya tidak sabar.

“Ya, bersikap lah baik Minrin-ya. Usiamu sudah 23 tahun.” Nimi menimpali.

“Iya, eonnie aku tahu.” jawab Minrin asal.

Dia memperhatikan tulisan namanya di atas kue berbalut cream putih itu, kemudian tanpa diperintah matanya memejam dan menggumamkan sesuatu dalam hatinya. Sebuah keinginan yang sedikit di luar jangkauan sebenarnya. Tapi kenginan adalah keinginan. Tidak peduli seberapa jauh, seberapa sulit, jika itu hanya sebuah keinginan, kau boleh mengharapkannya bukan?

Minrin tersenyum.

“Hana ..dul.. set..”

                       

 

April 18 2013

09.00 KST

“Jadi, eonnie apa Ryeowook oppa memberimu selamat ulang tahun?”

“Uhuk..”

Pertanyaan Hyehyo secara tiba-tiba itu menjadi serangan di pagi hari untuk Minrin. Untung saja air minum di mulutnya tidak muncrat kemana-mana.

Bukan apa-apa sih, tapi Minrin hanya tidak siap saja mendapat pertanyaan seperti itu, di pagi hari yang cerah seperti ini, apalagi mereka sedang menikmati sarapan pagi bersama-sama.

“Waeyo? Kenapa kau bertanya begitu?”

“Aniyo.. aku hanya penasaran saja. Bukankah kalian sudah baikan ya?”

“Eh?”

Minrin berpura-pura tidak peduli dan dia cukup beruntung karena rongga mulutnya sedang tidak terisi, atau seluruh isinya akan dia semprotkan keluar karena pertanyaan itu.

“Eiyy.. jangan bohong! Ryeowook oppa yang menjaga eonnie waktu sakit kan? lalu.. semenjak hari itu kalian juga tidak terlihat sedang ada masalah.”

Glek.

Minrin mengangkat wajahnya, dan setetas saliva dia tegak membasahi tenggorokannya.

“Apa maksudmu? Kami memang tidak ada masalah selama ini.” ucap Minrin mengelak.

Sama sekali tidak ada masalah diantara mereka. itu benar sekali. Satu-satunya yang mempunyai masalah di sini hanyalah Minrin. Yah hanya dia. bukan dia dan Ryeowook. Tapi hanya dia seorang.

“Aigoo eonnie. Ryeowook memutuskanmu dan kau masih bilang tidak ada masalah diantara kalian?” Hyehyo menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya.

“Memangnya kalau hubungan kita sudah berakhir pasti ada masalah ya? kami memang sudah tidak ada hubungan apapun. Tapi bukan berarti aku harus bermusuhan dengannya kan?”

“Aku tidak bilang kalian bermusuhan. Aku hanya bilang hubungan kalian sekarang ini lebih terlihat baik ketimbang dulu saat awal-awal kalian putus. Jadi, aku hanya penasaran saja, kalian mungkin sudah berbaikan lagi sekarang.” Ungkap Hyehyo cepat.

Hyehyo sangat mengenal eonnienya. Karena itu Minrin salah jika mengira Hyehyo tidak tahu apa-apa tentang semua yang terjadi beberapa hari ini. Dan sejauh ini tidak ada yang salah dengan dugaannya. Dulu, Minrin dan Ryeowook memang terlihat canggung setelah hubungan mereka resmi berakhir. Bahkan keduanya tidak bertegur sapa setelah itu. Tapi tiba-tiba saja angin segar datang ketika Minrin sakit. Dan seperti jam yang diputar, semuanya seperti kembali ke titik semula. Mereka berdua kembali harmonis. Tidak ada suasana canggung lagi, dan mereka justru menemukan kembali moment kebersamaan seperti dulu. Apalagi waktu konser Super Junior kemarin, dua hari berturut-turut Minrin datang secara pribadi memberi dukungan. Mereka bahkan mengambil foto bersama-sama di backstage. Lalu setelah semua itu, haruskah Hyehyo beranggapan bahwa tidak ada yang aneh dengan pasangan ini?

“Aku hanya mencoba bersikap seperti biasa. Tapi bukan berarti kebersamaan kami akhir-akhir ini menjadi titik awal hubungan yang sempat putus.” Minrin membalas ucapan Hyehyo dengan gumaman kecil.

Sejujurnya tidak ada dalam benak Minrin agar hubungannya dengan Ryeowook kembali seperti dulu. Sama sekali tidak ada pemikiran seperti itu. Yah.. dia akui hubungannya dengan Ryeowook saat ini memang terlihat lebih baik dari pada satu setengah bulan yang lalu. Tapi bukan berarti semua bisa kembali seperti dulu.

Bukannya pesimis dan tidak peduli. Hanya saja Minrin menyadari satu-satunya masalah yang membuat Ryeowook memilih keputusan itu ada pada Minrin. Masalah hati yang sebenarnya sangat picisan. Sebuah kebingungan sesaat, dan dia sendiri tidak tahu kemana arah yang seharusnya dia tuju. Maka dari itulah, Minrin sama sekali tidak berharap situasi akan kembali seperti dulu.

Hyehyo memperhatikan Minrin melalui ekor matanya. Dia agak menyesal memulai pembicaraan tadi. “Mianhae eonnie..”

 “ Sudahlah, semua akan baik-baik saja..” Minrin tersenyum lebar dan mengangguk, seakan semua obrolan tadi tidak berarti penting untuknya.

“Kuere. Kalau begitu ganti pertanyaan saja. Siapa yang memberi ucapan pertama untukmu?”

“Eh?”

“aigoo apa aku harus mengulanginya juga? Siapa orang pertama yang memberimu ucapan selamat ulang tahun? Apa kami yang pertama?”

Minrin terlihat berpikir sesaat. “ah.. itu… Hyuk oppa memberiku selamat di jam dua belas kurang lima. Dan kalian mengucapkannya di jam dua belas lebih lima. Jadi, kalau begitu apa Hyuk oppa bisa dikatakan yang pertama?”

“Mwoya? Jadi si Anchovy itu lebih dulu dari kami?” seru Hyehyo kemudian. Matanya membulat tidak percaya.

“Kuere. Tapi dia mengucapkannya bahkan sebelum aku berulang tahun. Jadi, kurasa kalian lah yang pertama.” Ucap Minrin cuek. Dia mengambi sepotong terakhir roti di piringnya dan memakannya.

Hyehyo tersenyum kecil “Ah.. itu benar. “ Suaranya melemah. Raut wajahnya juga berubah. Tapi sayangnya Minrin tidak menyadari perubahan itu.

“..”

“Eonnie, apa Hyuk oppa sangat berarti untukmu?” tanya Hyehyo tiba-tiba yang hampir saja membuat Minrin memuntahkan roti di mulutnya.

“Mworago?”

“Apa kau sangat membutuhkannya?” ulang Hyehyo.

Minrin terdiam. Dia melihat perubahan itu. Kesedihan atau justru kekecewaan di sana. Entahlah..

“Waeyo? Kenapa kau bertanya seperti itu eh?” tanya Minrin dengan nada bercanda.

“Tidak apa-apa. Hanya penasaran.”

Diam-diam Minrin kembali membaca raut wajah itu. Tentu saja bukan karena penasaran. Selalu ada makna yang terbalik dari kalimat ‘tidak apa-apa’ itu.

Apa Hyehyo sedang berpikir dirinya dalah gadis perbut kekasih orang?

Tiba-tiba saja Minrin menjadi merasa bersalah. Dia tidak pernah berpikir sejauh itu.

 “Yah. Kau kan juga tahu dia itu sahabat sekaligus kakak untukku. Aku memang membutuhkannya, tapi sebagai seorang sahabat dan kakak. Karena itu, kau jangan berpikir aku akan merebut Hyuk oppa darimu, Hyo..”

“Ya, eonnie-ya~!! Aku tidak berpikir seperti itu.” Sergah Hyehyo cepat. Wajahnya sedikit bersemu merah. Dan itu membuat Minrin justru terkikik.

“Eiyy. Sudah ketahuan masih juga bohong. Terlihat sekali dari matamu, raut wajahmu dan bahkan dari nada suaramu.”

Hyehyo hanya memanyunkan bibirnya kesal, “Tenang saja. Hyukjae always for Hyehyo. Aku senang karena yeoja yang menaklukkan hati Anchovy itu dirimu. Karena kau adikku.” Minrin menambahkan.

Hyehyo diam.

“Mianhae, Hyo-ah. Apa aku terlalu bergantung dengan Hyukjae hingga membuatmu khawatir?”

Tib-tiba saja Minrin ingat kata-kata Ryeowook yang pernah diucapkan padanya. Tentang kenapa Lee Hyukjae dan bukannya yang lain. Bukankah Hyukjae milik Hyehyo. Lalu apa yang Minrin lakukan dengan terus bergantung pada Hyukjae padahal jelas posisi Hyehyo dimana. Apa dia sedang mencoba menciptakan pertangkaran dengan adik satu groupnya?

Tidak.

Sama sekali tidak seperti itu. Minrin tidak pernah mencoba seperti itu. Dia hanya tidak tahu. waktu yang dia habiskan dengan namja itu nyatanya lebih panjang dan lama dibandingkan dengan Ryeowook. Kenyataan bahwa dia sudah mengenalnya bahkan sejak di bangku sekolah dasar, nyatanya memang sedikit atau bahkan lebih membuat Minrin bersender pada Hyukjae dan bukannya Ryeowook atau orang lain.

“Kau pernah mendengar kalimat tidak ada persahabatn antara laki-laki dan perempuan?”

“Eh?”

Minrin terhenyak. Kalimat seperti itu juga yang pernah Ryeowook ucapkan padanya. Sama persis seperti itu.

“Eonnie-ya, itu benar aku sempat merasa khawatir. Bahkan sampai sekarang pun masih seperti itu. Tapi aku akan mencoba tidak mempermasalahkannya. Aku percaya padamu, eonnie.” Hyehyo tersenyum kemudian.

“Ku..kuereyo. Kau bisa mempercayaiku. Tentu saja, Hyo. Tidak ada yang akan berubah.” Minrin tergagap. Dia berusaha menguasai dirinya.

“Kalau begitu, lekaslah berbaikan dengan Ryeowook oppa. Yah.. atau paling tidak cari namja baru. Kalau sampai Eonnie ketahuan merebut Anchovy itu, aku mungkin tidak bisa memaafkanmu.” Hyehyo tersenyum lebar.

Minrin membalas senyum itu dengan kaku. Tentu saja dia akan melakukannya. Bahkan jika diperlukan, dia juga bisa melepaskan Hyukjae sepenuhnya untuk Hyehyo. Dan Andai dia bisa melakukan salah satu dari saran itu.

Entahlah..

Dia seperti orang yang sangat egois. Dia egois karena menginginkan Hyukjae hanya memperhatikannya, menjadi oppa untuknya, menjadi sahabat yang bisa diandalkannya kapanpun. Di lain sisi, dia sebenarnya tidak bisa berpisah dari Ryeowook.

                       

Jika aku bisa membuatmu kembali

Atau jika saja aku bisa melupakanmu

Tapi keduanya pun tidak bisa aku lakukan

Nan eottoke~?

                       

“Ryeowook-ah, apa yang sedang kau lakukan? Ayo pergi, yang lain sudah menunggu~!”

Donghae mendekati Ryeowook dan menepuk pundaknya, menyuruh namja itu untuk segera keluar mengikutinya. Ryeowook menoleh singkat dan dia pun mengangguk sembari memasukkan ponsel yang sejak tadi menjadi satu-satunya focus matanya.

Hari ini adalah latihan terakhir sebelum mereka berangkat ke Amerika selatan untuk konser Super show 5. Member lainnya sudah menunggu di lantai bawah, dan hanya tinggal Donghae serta Ryeowook yang belum hadir.

Ketika mereka berdua di lift, Ryeowook kembali mengeluarkan ponselnya. Sesekali dia mengecek pesan dan panggilan, tapi tidak da yang dia lakukan setelah itu. Donghae yang berdiri di sampingnya menjadi agak gusar dengan kelakuan dongsaengnya itu.

“Yak, Kau ini kenapa eoh? Menunggu telepon dari seseorang?” tanyanya.

Ryeowook menggeleng dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. “Aniya, Aku hanya ragu harus bagaimana.” Ungkapnya dengan jujur.

“Waeyo?”

“Dia berulang tahun hari ini.” Jawabnya santai.

“Shin Minrin?”

“Eoh..” Ryeowook mengangguk. “Bagaimana menurutmu hyung? Haruskah aku menemuinya?”

“Kenapa kau bertanya? Memangnya kau tidak mau menemuinya?” Donghae berbalik bertanya. Sama sekali tidak membantu. Tentu saja, seharusnya Ryeowook tahu Hyungnya ini tidak akan bisa membantu banyak.

“Sudahlah~! Lupakan saja.”

Tepat saat itu lift berhenti dan pintu terbuka, menandakan mereka sudah sampai. Ryeowook keluar lebih dulu. Sedangkan Donghae berjalan di belakangnya.

“Dasar bodoh..” Gumam Donghae pelan. Dia memperhatikan Ryeowook dari belakang.

Bukannya Donghae tidak mau membantu. Tapi menurutnya Ryeowook itu sebenarnya sudah tahu apa yang harus dilakukan, hanya saja terhalang oleh sesuatu atau seseorang. Menurut pendapatnya seperti ada sesuatu yang disembunyikannya Ryeowook. Sesuatu yang menjadi alasan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Minrin. Sayangnya dia tidak pernah cerita pada siapapun di dorm kecuali Leeteuk dan Yesung. Tapi berhubung kedua tetua Super Junior itu sudah wamil dan akan wamil, makanya Ryeowook jadi seperti itu.

Donghae menggelengkan kepalanya pelan. “Yak, Ryeowook~ah!” dia menjejeri langkah Ryeowook dan merangkul pundaknya.

“Pesawat berangkat besok pagi, jadi kurasa waktumu untuk bertemu dengannya hanya hari ini.” Katanya.

“Aniya, hyung. Aku tidak berencana menemuinya.” Ryeowook melepaskan rangkulan tangan Donghae dan berjalan menuju dorm kedua Super Junior.

“Eh..? waeyo~?” Donghae berjalan cepat mengejar Ryeowook.

                       

I want to meet you..

I really want to meet you..

But what can I do?

                       

Dorm Super Junior di lantai bawah terlihat lebih hidup dan ramai dari biasanya, apalagi ketika semua member berkumpul termasuk Henry dan Zhoumi. Satu-satunya yang tidak terlihat hanyalah Yesung. Namja itu memilih menghabiskan waktunya bersama keluarganya sebelum menjalani wajib militernya. Sedangkan sisanya, seperti yang terlihat sedang mempersiapkan diri menjelang keberangkatan ke Amerika Selatan.

“Hyung, dimana PSP ku?” teriak Kyuhyun dari arah kamar. Tidak lama kemudian dia terlihat keluar dan langsung menghampiri Sungmin yang tengah duduk santai di sofa.

“Waeyo? Kenapa kau menatapku seperti itu?” Sungmin yang tidak tahu apa-apa tidak terima dengan tatapan menusuk yang diarahkan Kyuhyun padanya.

“Kembalikan PSP ku~! Kau yang mengambilnya kan?” tuduh Kyuhyun. Dia yakin Sungmin lah satu-satunya yang bisa melakukan itu, karena dia lah yang terakhir kali keluar dari kamarnya.

“Jangan sembarangan menuduh. Mana aku tahu tentang benda itu.”ucap Sungmin dengan nada tinggi. Emosinya mendadak terpancing karena ulang Kyuhyun.

“Kalau bukan kau lalu siapa lagi? sudah jelas-jelas tadi masuk ke kamarku.”

“Eunhyuk tadi juga masuk kesana. Kenapa tidak tanya padanya?” Sungmin tidak mau kalah.

“Karena cuma Hyung yang selalu complain dengan PSP ku. Jadi untuk apa Eunhyuk hyung mengambilnya.” Sergah Kyuhyun.

“Salah siapa kau bermain dengan benda itu sampai jam tiga pagi. Kau bahkan jadi telat bangun gara-gara benda itu.”  Sungmin mengabaikan Kyuhyun yang berdiri di sampingnya dan justru focus pada acara di TV.

“Jadi benar kan hyung yang mengambilnya? Kembalikan padaku?” Kyuhyun bersikeras.

“Aish, bukan aku yang mengambilnya. Aku akan berterima kasih pada orang yang mengambil PSP mu itu.”

“Yak, Hyung~!”

“Yak, Cho Kyuhyun diamlah~!!” sebuah bantal sofa sukses dilempar Eunhyuk dan tepat mengenai muka Kyuhyun.

“Hyung, Kau jangan ikut campur.” Seru Kyuhyun tidak terima pada Eunhyuk dan melempar balik bantal sofa itu.

“PSP mu dibawa Minrin kemarin.” Ucap Eunhyuk cepat.

Ryeowook yang semula tidak peduli dengan tingkah uring-uringan Kyuhyun mendadak memberikan fokusnya.  Dia memperhatikan Eunhyuk sejenak.

“Mworago?” seru Kyuhyun.

“Kau tidak ingat? Kau sendiri kan yang mengijikannya?”

“Naega?” tanya Kyuhyun tidak percaya. Lebih tepatnya tidak percaya pada dirinya sendiri yang begitu saja meminjamkan PSP kesayangannya pada orang lain.

“Hyung, kenapa kau tidak membawanya pulang waktu mengantarnya kemarin?” seru Kyuhyun lagi.

“Kau tidak menyuruhku melakukannya.” Elak Eunhyuk.

“Aissh..” Setelah itu Kyuhyun hanya mengacak rambutnya frustasi. Dalam pikirannya, berada di Amerika Selatan tanpa PSP kesayangannya adalah hal yang tidak bisa dibayangkan.

Sementara itu diam-diam Ryeowook masih memperhatikan Eunhyuk yang sekarang sibuk dengan ponselnya. Sesekali dia tersenyum yang semakin membuat Ryeowook penasaran.

“Henry-ya, apa kemarin Minrin datang?” tanyanya pelan pada Henry yang duduk di sampingnya.

“Dia datang untuk bertemu dengan Eunhyuk hyung. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.” Jawab Henry sama sekali tidak tertarik.

“Apa mereka pergi bersama setelah itu?” tanya Ryeowook lagi.

Kali ini Henry menolehkan kepalanya. “Hyung, kenapa kau bertanya itu padaku? Kau bisa bertanya pada Eunhyuk hyung langsung.”

Ryeowook diam kemudian dan memilih tidak bertanya lagi. Henry sama saja seperti Donghae, tidak bisa membantu banyak. ayolah, dia hanya ingin tahu apa yang dilakukan Minrin di dorm ini kemarin.

Entah kenapa Ryeowook menjadi seperti ini. Dia hanya tidak suka melihat Eunhyuk terlalu dekat dengan Minrin. Meskipun dia tahu mereka berdua sudah seperti adik kakak yang tidak terpisahkan. Tapi tetap saja, itu semua mengganggunya.

Tidak bisakah Minrin berhenti bergantung pada Lee Hyukjae. Berhenti terus menerus mencari orang itu dan mencoba mencari orang lain selain Hyukjae. Ryeowook menghela nafasnya dengan berat. Dia menyenderkan punggungnya dan menerawang ke langit-langit.

Sial. Kenapa dengan dirinya? Seakan semuanya menjadi sangat menyebalkan untuknya.

“Cho Kyuhyun, Kau beruntung, Minrin akan datang hari ini.” Seru Eunhyuk ke arah kamar Kyuhyun.

“Katakan padanya untuk membawa PSP ku.” Balas Kyuhyun.

Ryeowook kembali mengangkat kepalanya. Ia menoleh ke arah Eunhyuk yang sedang mengetikkan sesuatu di ponselnya.

Haruskah dia bertemu gadis itu di tempat ini? Di ruangan yang sama dengan Hyukjae?

                       

 

“Dasar Cho Kyuhyun…” umpat Minrin kesal setelah menerima pesan singkat dari Kyuhyun.

Tapi kemudian dia tersenyum sendiri. Sangat menyenangkan bisa menjahili orang itu. Tangannya kemudian mengubah perseneling dan mulai menjalankan mobilnya di jalanan kota seoul yang mulai ramai. Tujuannya hari ini adalah dorm Super Junior. Selain harus mengembalikan PSP, dia juga harus bertemu dengan Lee Hyukjae. Ada sesuatu yang harus dibicarakan dengan orang itu.

Mulai hari ini Ia sudah bertekad akan meluruskan masalah yang berbelit ini. Ia tidak mau terus menerus salah paham pada Hyehyo. Saat ini lebih baik mundur atau sama sekali tidak melangkah, jika satu langkahnya ke depan justru membuat Hyehyo tidak percaya padanya.

Ddrt..

Ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Ryeowook. Minrin mengernyitkan dahinya heran ketika melihat nama Ryeowook tertera di ponselnya. Sudah beberapa hari ini dia tidak mendapat pesan dari namja itu. Kalaupun ada pesan, pasti karena ada sesuatu yang penting.

 

Sender : Ryeowook Oppa

Ayo kita bicara.

Minrin dengan cepat menepikan mobilnya. Entah kenapa otaknya menjadi tidak fokus. Apa yang ingin Ryeowook bicarakan padanya?

Sesaat dia hanya diam tanpa melakukan apapun. Tangannya ragu menekan tombol reply. Sementara otaknya bekerja keras. Bagaimana dia harus membalas pesan ini?

                       

 

Sender : Minrin

Kita bertemu di dorm.

Ryeowook menghela nafasnya begitu membaca pesan balasan dari Minrin. Matanya memejam. Dia harus melakukannya.

Sekarang atau tidak sama sekali. Menahannya atau melepaskannya. Itulah pilihannya. Jika gadis itu memilih untuk menyarah, maka Ryeowook akan melepasakannya. Dia akan melepaskan gadis itu sepenuhnya. Tapi jika gadis itu masih ingin berdiri di tempatnya dulu, demi apapun Ryeowook tidak akan pernah melepaskannya.

Tidak berapa lama kemudian, terdengar seseorang datang. Ryeowook tahu siapa dia. Apalagi dengan mendengar teriakan Kyuhyun yang menggema di ruangan ini.

“Minrin-ya, kau membawa PSP ku?”

Ryeowook membuka matanya dan menoleh ke arah sumber suara. Ia bisa melihat gadis itu berdiri di samping Hyukjae, tersenyum lebar ke arah Kyuhyun.

“Sebenarnya aku berencana tidak mengembalikannya. Tapi aku kasihan padamu. Kau pasti akan seperti zombie di Amerika tanpa benda ini.” Minrin tertawa.

“Yak..”

Gadis itu masih tertawa.

Kapan terakhir kali Ryeowook melihatnya tertawa seperti itu? Rasanya menyenangkan bisa melihatnya tertawa seperti itu. Dia pasti banyak tertawa dan tersenyum hari ini.

Setelah sekian detik Ryeowook masih duduk di sofa itu, akhirnya dia memilih beranjak dan berjalan pelan. Tujuannya bukanlah menghampiri gadis itu melainkan menuju balkon. Bukan maksudnya untuk menghindar. Tapi bukan di sini dia mengajak gadis itu bicara. Terlalu banyak orang, terlebih lagi Hyukjae juga di sini.

                       

Minrin melongakkan kepalanya ke arah ruang tengah. Matanya menyapu ruangan itu, mencari seseorang. Tapi yang dilihatnya hanya member Super Junior yang tengah duduk-duduk santai.

“Apa semua sedang berkumpul?” tanyanya pada Hyukjae yang berdiri di sampingnya.

“Hmm.. ayo masuk~!” Hyukjae berjalan lebih dulu dan Minrin pun mengekor di belakangnya.

“Ah.. Minrin-ya” sambut Siwon yang langsung berdiri dan berjalan ke arah Minrin. Memberi gadis itu sebuah pelukan singkat yang juga di balas Minrin.

“Lama tidak berjumpa denganmu, oppa.” Minrin tersenyum.

“Yak, sudah cukup pelukannya.” Ucap Hyukjae gusar yang langsung menarik lengan Siwon, menjauh dari Minrin.

“Ada apa denganmu? Kau cemburu?” ujar Siwon yang langsung kembali ke tempat duduknya.

Minrin tersenyum lebar. Benar-benar sebuah keberuntungan dia datang hari ini. Siapa yang menyangka dia akan bertemu semua member di sini. Semua member memang dilihatnya berkeliaran di dorm ini, hanya satu yang tidak dia temui sejak tadi.

Apa dia tidak datang?

Ke mana dia pergi?

Eunhyuk memperhatikan Minrin. Gadis itu terlihat mencari seseorang di ruangan ini. Dia tahu siapa yang sedang dicarinya. “Mencarinya?”

“Uh?” Minrin menoleh singkat. Sebuah senyum kecil menghiasi bibirnya. “Aniya..” dia pun berjalan menuju sofa yang kosong.

Eunhyuk memperhatikan gadis itu lekat. Pembohong. Jelas-jelas sejak tadi ketahuan mencari Ryeowook, masih juga berbohong. Begitukah? Jadi, dia masih mengharapkan Ryeowook kembali padanya?

Ahh.. kenapa ini sedikit mengecewakan untuk Eunhyuk? Kenapa dengan dirinya yang tiba-tiba tidak rela Minrin kembali menjadi milik Ryeowook. Apakah dirinya sebenarnya menyukai Minrin, karena itulah dia merasa tidak rela Minrin menjadi milik orang lain?

Tidak-tidak. Ini tidak benar.

Eunhyuk menggelengkan kepalanya lemah. Pasti otaknya sedang tidak beres saat ini. “Yak, Minrin-ya, Kau bilang ingin bicara sesuatu. Mwotte?” Tanyanya kemudian pada Minrin. Gadis itu bergeming di tempatnya, seperti tengah memikirkan sesuatu.

“Ah.. itu. Aku hampir lupa.” Lagi-lagi gadis itu terdiam.

“Bisakah Kau mengambilkanku segelas air dingin sebelum aku bicara? Aku haus sekali.” Tanyanya kemudian, yang langsung membuat Eunhyuk memasang muka masam.

“Aissh.. ambil saja sendiri. Aku bukan pelayanmu, Minrin-ya” sela Eunhyuk cepat.

“Eiiyy, kau kan tuan rumahnya. Mana ada tamu diperlakukan begitu” Minrin berpura-pura menggerutu,

“Perkecualian untukmu.” Sahut Eunhyuk.

Minrin gantian memasang muka masam. Sahabatnya itu tidak akan mau melakukan keinginanya. Seperti biasa. “Arraso, biar aku ambil sendiri.” Dia pun beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menjauh menuju dapur.

Diam-diam Eunhyuk masih memperhatikan Minrin. Sebenarnya Eunhyuk tidak keberatan mengambilkan minum untuknya. Bahkan jika disuruh untuk menjadi orang yang selalu membantunya pun, Eunhyuk tidak akan menolak. Janjinya dulu untuk menjaga Minrin sampai sekarang masih dia ingat dengan jelas. Tidak peduli jika Minrin sudah mempunyai kekasih atau pun suami sekalipun, tetap saja gadis itu akan selalu menjadi adik kecil Lee Hyukjae yang akan dilindunginya. Wanita lain yang akan dia lindungi selain ibu dan kakak perempuannya. Itulah janjinya.

                       

January 2000

“Oppa..”

“Hmm..” Hyukjae menolehkan kepalanya menghadap gadis kecil yang usianya enam tahun lebih muda darinya itu.

“Jika kau sudah menjadi seorang penyanyi. Apa Kau akan tinggal di Seoul?” tanyanya. Matanya menerawang ke langit biru.

“Hmm.. waeyo?”

Gadis kecil itu bangun dan menghadap kea rah Hyukjae. “Kalau begitu aku akan merindukanmu.” Ungkapnya jujur, yang langsung membuat pipi milik Lee Hyukjae bersemu.

“Yak, Shin Minrin. Ucapanmu seakan-akan aku akan melupakanmu.” Hyukjae menyentil poni Minrin kecil, membuat gadis itu menyipitkan matanya.

“Itu mungkin saja. Menjadi artis terkenal, bertemu banyak orang, yeoja yang cantik-cantik. Tentu saja Kau pasti akan melupakanku.”

Hyukjae diam. Dia memperhatikan Minrin sejenak. Gadis kecil yang tinggal di depan rumahnya, yang sudah dia anggap adik perempuannya sejak dulu.

“Aniya..aku tidak akan melupakanmu. Kau adalah adik yang akan aku lindungi. Aku akan melindungimu, Kau, Sora nunna dan juga eomma. Aku akan melindungi kalian bertiga. Karena itu aku tidak akan pernah melupakanmu, Minrin-ya” ucap Hyukjae penuh keyakinan.

Sebuah senyum mengembang di bibir mungil milik Minrin. “Jinjjayo?”

“Tentu saja. Aku akan melindungimu. Jangan lupakan itu!”

 

                       

I’ll Potect you

In the past, Now, and in the Future

                       

 

Minrin mengambil gelas dan mengisinya dengan air dingin. Hari ini udaranya yang memang sudah menghangat atau dirinya yang kehausan, rasanya tenggorokannya sudah kering sejak tadi. Perasaan lega merasuki, ketika air dingin itu akhirnya berhasil membasahi tenggorokannya yang kering. Selesai dengan urusannya, dia pun bergegas keluar dan kembali menemui Eunhyuk. Hal yang perlu di bicarakan dengan namja itu tidak bisa ditunda lagi.

Tetapi baru beberapa langkah dia keluar dari dapur, langkah kakinya mendadak berhenti. Seseorang yang berdiri di balkon itu lah yang mengganggunya. Ternyata dia di sini. Sebuah perasaan mendorong Minrin justru melangkahkan kakinya menemui orang itu.

Tepat sampai di dekat balkon itu, dan hanya tinggal satu dua langkah lagi, Minrin kembali menghentikan langkahnya. Tangannya menyentuh tengkuknya perlahan. Apa yang harus dia lakukan sekarang?

“Oppa..”

Ryeowook menoleh, memperhatikan Minrin. Biasanya dia akan tersenyum hangat, tapi tidak untuk kali ini.

 “Waesso?”

“Hmm..” Minrin berjalan mendekat dan berdiri di samping Ryeowook.

Jantungnya mendadak bekerja lebih cepat. Seakan-akan setiap sel dalam tubuhnya butuh oksigen lebih banyak dari biasanya. Kenapa hal ini selalu terjadi, setiap kali dia berdiri di dekat Ryeowook?

                       

 

“Ke mana dia?”

Hampir lima belas menit lebih Minrin pergi tapi belum juga kembali. Apa mengambil minum butuh waktu selama itu? Ayolah, tidak ada antrian untuk menuju dapurnya, jadi tidak mungkin gadis itu pergi selama ini. Kecuali dia terhenti karena sesuatu.

Sebuah pikiran konyol baru saja terlintas di benak Eunhyuk. Dengan cepat Ia pun bergegas menyusul Minrin ke dapur. Jangan katakan gadis itu pingsan atau semacamnya.

Eunhyuk agak berlari, tapi langsung menghentikan langkahnya ketika tiba di dekat balkon yang tidak jauh dari dapur. Tempat ini sepi, karena jauh dari member lainnya. Matanya menangkap Minrin dan Ryeowook yang tengah bicara serius. Eunhyuk menyingkir, bersender di dinding yang membatasi ruangan bagian dalam dan balkon.

“Mianhae..” Eunhyuk bisa mendengar suara Minrin dari sini. Sebuah nada penyesalan yang diungkapkan gadis itu, tiba-tiba saja membuat Eunhyuk diam tidak bergeming.

“Kau menyukai Eunhyuk hyung?”

Deg~!

Dan lagi..kali ini pertanyaan dari Ryeowook yang membuat Eunhyuk semakin diam terpaku. Hatinya bergetar tidak karuan. Bagaimana Minrin akan menjawab pertanyaan itu? Bagaimana keadaan hatinya setelah mendengar jawaban Minrin nanti?

“Aku tahu Kau tidak bisa menjawabnya.” Ucap Ryeowook kemudian.

Mworago?

Mungkinkah Minrin menyukai Eunhyuk selama ini?

Detak jantung Eunhyuk berdetak lebih cepat sekarang. Dia tersenyum kecil.

Diam kemudan. Tidak ada jawaban dari Minrin maupun kalimat lanjutan dari Ryeowook. Dan sekali lagi, Eunhyuk mengantisipasi ke mana arah pembicaraan mereka berdua.

“Jika aku menyukai Hyuk oppa, bukankah sudah sejak dulu aku mengatakan itu padanya.” Ungkap Minrin kemudian.

Baiklah. Sekarang detak jantung Eunhyuk seperti roller coaster yang melaju kencang, melewati medan yang berbahaya.

“Kau tidak mengatakannya, karena kau baru menyadarinya sekarang.”

Eunhyuk masih diam di tempatnya. Lalu sebenarnya perasaan seperti apa yang dimilki gadis itu untuknya?

Shin Minrin, gadis kecil berponi yang tinggal di depan rumahnya. Eunhyuk mengenalnya lebih dulu. Dia lah yang lebih dulu mengenal Minrin, bukan Ryeowook. Menganggapnya sudah seperti adiknya sendiri, selalu menjadi oppa yang bisa diandalkannya. Semua itu sudah lebih dulu dilakukan Eunhyuk.

“Dwaesso. Aku sudah mempunyai keputusanku sendiri.” Ucap Ryeowook kemudian.

Eunhyuk berjengat mendengar ucapan Ryeowook barusan. Dia menyadari tidak seharusnya dia mendengar pembicaraan mereka berdua. Perlahan dia pun pergi dari tempat itu. Hatinya berteriak tidak karuan.

                       

 

Minrin menundukkan kepalanya. Tidakkah Ryeowook tahu bagaimana hatinya saat ini? Tidaakkah dia mendngarr teriakann hatinya sejak tadi? Bahwa sampai detik ini pun Ryeowook masih menjadi orang pertama yang mengambil hatinya.

“Minrin-ya..”

Minrin mendongakkan kepalanya. “Saranghaeyo…”

Dek~!!

Entah perasaan seperti apa yang menyelimutinya saat ini. Senang? Atau dia justru merasa sedih? Kenapa begitu membingungkan seperti ini? Bukankah ini yang ingin di dengarnya sejak tadi, sejak dulu. Tapi rasanya justru menyakitkan. Karena dia sudah menyakiti Ryeowook. Dia menyakiti namja ini. Semua karena kecerobohannya. Kecerobohannya yang tiba-tiba memiliki perasaan bodoh pada Lee Hyukjae.

“Tidak perlu dijawab. Aku sudah tahu.” Ucap Ryeowook kemudian, yang semakin membuat perasaan Minrin berkecamuk tidak karuan.

Aniya. Ryeowook tidak tahu. Dia tidak tahu apa yang Minrin rasakan saat ini.

“Aniya..” ucap Minrin tepat ketika Ryeowook sudah berjalan menjauh.

Dia menghentikan langkah kakinya. “Wae?” sama sekali tidak berbalik, dan tetap memunggungi Minrin. Tanpa dia ketahui gadis itu sudah meneteskan air matanya.

“Bukan Lee Hyukjae yang aku sukai, tapi dirimu. Bukan dia yang pertama membuatku mencintaimu, tapi Kau lah yang memang sejak awal membuatku seperti itu.” Tanpa keraguan, kalimat itu meluncur bebas dari bibirnya.

                       

Eunhyuk memandang hampa ke arah pposter bergambar dirinya yang terpasang di dinding kamar. Lee Hyukjae tetaplah Lee Hyukjae, dari dulu sampai sekarang tidak ada yang berbeda darinya. Satu-satunya yang berubah adalah, kemungkinan bahwa yedongsaengnya yang dulu selalu menjadi teman bermainnya sudah membuatnya jatuh cinta.

“Kenapa denganku?” tanyanya pada diri sendiri.

Entah sejak kapan dia menyadari bahwa dalam hatinya, dia menyukai Minrin. Tapi yang jelas perasaan itu salah. Tidak seharusnya seperti ini.

“Hyung..!!”

Tepat saat itu pintu kamarnya yang semula tertutup dibuka dengan sedikit keras. Kyuhyun terlihat berdiri di sana. Menatapnya dengan keheranan. “Apa yang Kau lakukan? Ayo keluar.”

Eunhyuk menoleh sebentar kea rah Kyuhyun “Jangan menggangguku.” Ucapnya datar. Setelah itu dia pun kembali sibuk dengan pikirannya sendiri.

“Kyu, apa Lee Hyukjae di dalam?”

Suara seorang gadis yang memasuki system syarafnya, akhirnya membuat Eunhyuk menyerah. Satu-satunya gadis yang tengah berada di dorm ini hanyalah dia.

“Eoh… dia sedang berpikir kurasa. Jangan ganggu dia, ayo pergi~~!!” Kyuhyun menarik tangan Minrin dan mengajaknya pergi.

Eunhyuk buru-buru bangun. Dia melihat bayangan dua orang yang tadi berdiri di depan kamarnya dan berteriak “Yak, Shin Minrin~! Ayo kita bicara.”

                       

 

“Kenapa harus di sini? Kita bisa bicara di dalam kan?” gerutu Minrin, ketika mengikuti Eunhyuk yang berjalan di depannya. Entah ke mana orang ini akan mengajaknya bicara.

Tunggu dulu, bukankah tadi dia yang ingin mengajak Eunhyuk bicara. Kenapa sekarang justru Eunhyuk yang menyeretnya ke luar seperti ini?

“Yak, Lee Hyukjae~!!”

Eunhyuk mencapai anak tangga darurat terakhir di lantai 10. Nafasnya terengah-engeh. Dia mengehentikan langkahnya dan berbalik kea rah Minrin yang masih berdiri di anak tangga bawah.

“Yak, kenapa menggunakan tangga darurat eh?” Tanya gadis itu dengan menggerutu. Dia menaiki anak tangga satu persatu dengan pelan. Menaiki anak tangga dengan high heels benar-benar menyusahkah. Dan Hyukjae haus bertanggung jawab karena membuat kakinya sakit.

“Sekarang apa?” ucapnya. Dia berdiri satu anak tangga lebih tinggi dari Hyukjae dan bersender di dinding.

“Minrin-ya, noe ..”

“Wae?”

Eunhyuk menarik nafasnya dalam. Dia bersender pada pegangan anak tangga.. dan mulai berbicara. “Mulai sekarang, Kau harus hidup dengan baik.”

“Huh?”

“Mulai sekarang, biarkan orang lain yang menjagamu.” Eunhyuk melanjutkan tanpa peduli pada raut kebingunan di wajah Minrin.

“Jangan mengandalkanku lagi, kau mengerti? Kau bukan gadis kecil berponi yang masih membutuhkan orang lain untuk bersandar. Karena itu, mulai sekarang berhentilah berpikir Kau tidak bisa melakukannya sendiri.”

Perlahan Minrin mengerti dengan maksud ucapan Eunhyuk barusan. Dia diam. Mendengarkan dengan pasti.

“Hyukjae-ya..”

“Lihat, aku sudah seperti oppa yang baik kan? Aku sedang menasihatimu, jadi dengarkan dengan baik~!”

“Maafkan aku..” ucap Minrin cepat

“Untuk apa minta maaf? Bukan salahmu. Ku pikir aku yang salah dalam hal ini. Menahanmu tetap menjadi Shin Minrin yang dulu, menganggapmu hanya sebagai adik kecil Lee Hyukjae. Dan tidak pernah melihatmu sebagai kekasih orang lain.” Eunhyuk menghela nafasnya.

“Aku merusak hubungan kalian, seharusnya aku yang minta maaf” dia melanjutkan.

“Aku juga salah.” Sesal Minrin, dia melirik kea rah Eunhyuk. “Aku membuat Hyehyo hampir tidak mempercayamku lagi.” Lanjutnya

“Wae?” Eunhyuk mengangkat wajahnya dan menatap Minrin. Sebuah kenyataan yang tidak dia sadari sejak dulu, tiba-tiba masuk ke dalam pikirannya.

Park Hyehyo. Gadis itu…

“Dia bilang tidak akan memaafkanku jika aku merebutmu darinya. Konyol sekali bukan?” Minrin tertawa.

“Mwo?”

“Yak, Lee Hyukjae. Kau boleh tidak melindungiku seperti dulu, tapi mulai sekarang Kau juga harus melindungi Hyehyo. Kau mengerti? Jangan pernah menyakitinya, atau Kau juga tidak akan ku maafkan.” Minrin tersenyum lega.

Eunhyuk membalas senyum itu dengan kikuk. Kuere…. sepertinya ada hal lain yang juga harus diselesaikannya hari ini.

Minrin-ya, Kau boleh berhenti bergantung padaku, tapi sampai kapanpun, Kau tetap yedongsaengku.

                       

 

Minrin tersenyum. Dia berjalan dengan perlahan. Sekarang langkah itu tidak lagi berat, tidak membingungkan. Tapi semuanya benar-benar jelas untuk hatinya. Dan ketika Melihatnya diam seperti itu entah kenapa justru membuat Minrin ingin terus tersenyum.

“Kenapa melihatmu seperti itu justru menyenangkan untukku?”

Ryeowook menoleh dan melihat Minrin sudah duduk di sampingnya. Gadis itu tersenyum ke arahnya. Sejak kapan dia mempunyai senyum yang manis seperti itu? Astaaga..

“Apa yang Kau lakukan di sini?”

“Bertemu denganmu. Tidak boleh?”

“Berhenti bersikap manis padaku, Shin Minrin.” Ucap Ryeowook cepat. Benar-benar menggelikan dia merasakan sensasi aneh ketika melihat senyumnya itu.

“eoh.. di mana yang lainnya?” Minrin baru saja menyadari jika dorm itu sekarang sudah sepi. Bukannya tadi sebelum dia pergi, masih penuh dengan para member ya.. tapi sekarang dia baru sadar hanya ada Ryeowook di sana.

“Mereka sudah pergi latihan.”

“Kenapa Kau tidak pergi?” sahut Minrin, dia menoleh kea rah Ryeowook.

“Aku menunggu Eunhyuk hyung…” Ryeowook ikut menoleh

Dan tepat saat itu mata mereka bertemu. Untuk pertama kalinya sejak ..

Entahlah sejak kapan mereka tidak saling bertatapan seperti itu. Rasanya sudah sangat lama. Mereka bahkan menikmati moment beberapa detik itu. Hanya dengan saling menatap, seakan-akan memori buruk beberapa bulan ini hilang. Perasaan rindu yang hadir sejak berminggu-minggu lalu, rasanya tersalurkan hanya dengan melihat mata itu.

Menyenangkan…

“Ehemm..” Ryeowook berdehem pelan, begitu menyadari mereka terlalu lama menikmati suasana yang baru saja terjadi. Meskipun sejujurnya melihat Shin Minrin detik ini tidak lah cukup untuknya menyalurkan perasaan rindu dan cintanya yang terhenti.

“Ku pikir tadi Lee Hyukjae pergi lebih dulu. Sepertinya dia ingin menemui seseorang..” Minrin mengubah arah pandanganya dan meneggakkan tubuhnya menghadap ke depan.

“Benarkah?”

“Hmm..”

“Kenapa tidak bilang dari tadi?” Ryeowook kembali menoleh ke arah Minrin.

“Kau tidak bertanya.” Ujar Minrin.

Diam-diam Ryeowook masih memperhatikan Minrin dari samping. Menatap bagian samping wajah gadis itu dengan lekat. Merasa di perhatikan, Minrin kembali menolehkan wajahnya. Dan sekali lagi mata mereka bertemu.

“Kenapa dari tadi menatapku seperti itu huh? Aku tahu Kau sangat menyukaiku, Kim Ryeowook..” ucap Minrin penuh percaya diri, dia tersenyum miring.

“Hari ini ulang tahunmu. Kau ingin sesuatu?” Tanya Ryeowook mengabaikan gurauan kecil yang diucapkan Minrin barusan.

“Aku pikir kau lupa.”

“Mana mungkin aku lupa. 18 April, 20 April. Semuanya aku ingat dengan baik.” Ryeowook beralih menatap ke depan.

Benar-benar di luar dugaan dia bisa mendapatkan kembali gadis ini, sama persis seperti tiga tahun yang lalu. Dan selama tiga tahun itu, kenapa baru sekarang Ryeowook merasa Eunhyuk mungkin saja akan merebut gadisnya. Dia yang tidak peka, atau memang tidak mau tahu. Terserahlah. Satu-satunya yang terpenting sekarang adalah, gadis ini, Shin Minrin akan tetap di sisinya. Demi apapun, Ryeowook tidak akan melepaskannya lagi.

Tidak akan pernah. Dia terlalu berharga dan salah satu orang yang penting di hidupnya.

“Tiga tahun yang lalu, kau mengutarakan perasaanmu padaku., dua hari setelah ulang tahunku. Tidak di sangka sudah tiga tahun sekarang.”

“Hmm, dan sekarang semuanya terulang kembali. Aku bahkan tidak percaya harus mengatakan hal itu lagi.”

Minrin sekali lagi menolehkan kepalanya, memperhatikan Ryeowook dalam. “Gomawo..”

“Karena menyukaiku..”

Ryeowook ikut menoleh “Bukan menyukaimu, tapi mencintaimu..” dia membenarkan, dan membuat garis senyum di bibir Minrin.

Gadis itu merona. Hal pertama yang membuatnya tersipu sejak incident putus beberapa bulan yang lalu. Menggelikan. Dia merasakan Ryeowook terus menatapnya. Apalagi ketika namja itu menyisakan jarak dekat diantara keduanya, semakin membuat jantung Minrin bekerja di luar control. Semakin tatapan itu dalam, Minrin tahu apa yang akan terjadi. Dilihatnya wajah Ryeowook hanya tersisa beberapa cm dari wajahnya. Dan satu-satunya yang bisa dia lakukan hanyalah memejamkan matanya, ketika sebuah sentuhan lembut terasa di bibirnya.

Sebuah ciuman lembut yang tidak dalam cukup sebagai hadiah ulang tahunnya tahun ini. Ini memang bukan ciuman pertama, tapi rasanya lebih mendebarkan dibandingkan sebelumnya. Cukup membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Jika itu sebuah mobil, tentu kecepatannya sudah melebihi 120 km/jam.

Ryeowook melepaskan ciuman itu dan beralih menatap Minrin. “Chukkahanda, Minrin-ya.. Hadiah ulang tahunmu untukmu dia tersenyum.

“Eh?”

“Kau juga melakukannya saat ulang tahunku. Kau lupa?” Ryeowook menarik diri dan duduk dengan normal, bersandar di punggung sofa. Dia melirik Minrin dan tersenyum kecil.

“Mwo?”

                       

 CUT

N/A     : Annyeong~~!! Lama tak ngepost ff dan sebenarnya besok senin saya ujian, dan entah kenapa saya malah menyelesaikan ff ini dr pd belajar. Lol

Tapi seriusan… Aarrgggr sumpah itu bagian akhir nulisnya agar merinding >< *tarik lengan Ryeowook* Entah dari mana saya bisa punya bayangan scene kayak begitu. Mungkin gara2 habis lihat ‘Itazura na Kiss Love in Tokyo’ kalau g tahu itu playfull kiss nya versi jepang. Cukup butuh konsentrasi tinggi secara saya g pandai nulis yang begituan, bisanya Cuma bayangin doing *ketahuan* -__-

Well, maaf ya kalau ceritanya jadi seperti itu.

ini seharusnya di post tanggal 18 April tepat ulang tahun ku #eh ..maksdunya ulang tahun Minrin yang ke 23 tahun *umur korea*. Tapi karena nggak ada waktu, jadi molor sampai hari ini. Gara2 ini jadi nggak sempet bikin ff special Ryeowook birthday. Tapi sudahlah.. kalau ada waktu di sempilin meski Cuma ficlet atau drabble. ^^

Gamsahamnida buat yang baca. Jangan lupa komentnya ya.. ~~J

Advertisements

One thought on “(Fanfiction) AND or END -Sequel of Break Up-

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s