(Fanfiction) The Choosen Princess Part 1 : The Beginning

poster 3 2

Title : The Choosen Princess (The Beginning)

Author : Han Yerin

Genre : fantasy, family, friendship, romance, action(?)

Length : chaptered

Rated : 15+

Cast : read the intro or find it^^

Disclaimer :

Semua cast yang hadir milik Tuhan, tak terkecuali baik BB / GB / maupun OC yang bakalan muncul^^

NO PLAGIAT, DON’T BE PLAGIATOR OR DON’T BASH IT IF DON’T LIKE IT ^^

***

Tanpa disadari oleh para manusia, dunia yang mereka ketahui selalu diselimuti cahaya di pagi hari dan disinari cahaya rembulan di malam hari ternyata mempunyai sisi gelap tersendiri. Jauh di masa lalu, sejarah kelam pernah terjadi, dimana manusia juga tidak menyadarinya. Dunia yang mereka tempati sejak dulu terbagi dua….

Dunia atas………

dan

……Dunia kegelapan

***

 

~suatu tempat~

Dua orang namja tampak saling berhadapan, seperti  sedang mendiskusikan sesuatu. Namja itu – yang tampak lebih tinggi dengan warna kulit kecoklatan – menunjukkan kekesalannya yang sepertinya diakibatkan dari perbincangan mereka berdua.

“Shireo! Kenapa tidak yang lain saja, eoh? Ah, kenapa tidak luhan hyung sekalian saja yang mencarinya?” elak namja itu dengan kesal. Ia tampak keberatan dengan perintah yang diberikan untuknya.

“Jongin-ah, Luhan hyung baru saja melakukan pencarian dengan kekuatannya, sekarang dia tengah beristirahat. Kita sudah melakukan pencarian ini selama lima belas tahun untuk mencari dia yang tiba-tiba menghilang. Kekuatanmu jauh lebih menguntungkan untuk kesana.” Namja yang memiliki tubuh lebih kecil dari Jongin berusaha mengahadapi kekesalan Jongin dengan sabar. Ia tahu betul cara menghadapi seorang Jongin yaitu dengan kesabaran. Walau bagaimanapun juga, pencarian mereka harus terus dilanjutkan.

“Suho hyung, tak bisakah yang lain saja eoh? Kris hyung mungkin?” tawar Jongin, lagi. Ia tampak enggan melaksanakan perintah hyung nya itu, terlebih Suho adalah salah satu pemimpin mereka.

‘Kriett’

Terdengar suara pintu terbuka menampakkan sesosok namja yang tingginya nyaris sama dengan Jongin.

“Sehun-ah, kau sudah datang? Masuklah,” ujar Suho lembut. Namja yang dipanggil Sehun itu pun melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.

“Ada apa hyung memanggilku? Eoh, ada kkamjong rupanya,” ucap Sehun begitu menyadari ada sosok lain dalam ruangan tersebut selain dirinya dan hyungnya.

“Ya, hyung! Kenapa kau memanggil Sehun pula? Apa ini berarti aku dibebaskan dari tugas tadi?” tanggap Jongin *atau Kai* berbinar. Ia sungguh berharap jika Sehun lah yang akan menggantikannya melakukan pencarian .

“Anni. Aku malah akan mengirim kalian berdua untuk kesana,” ucap Suho kalem.

“Chakkaman. Apa maksudnya ini hyung? Aku tidak mau jika harus pergi dengan Kai,” tolak Sehun dengan keras.

“Ya! Siapa juga yang mau pergi denganmu cadel!” balas Jongin atau Kai sengit.

“Mwo?! Ya! Dasar hitam!”

“Ya! Cadel!”

“Kalian berdua, geumanhae! Tidak bisakah kalian akur, eoh?! Aku…anni, kami semua lelah harus mendengar perdebatan kecil kalian setiap saat. Tidak bisakah kalian akur demi misi ini?” Suho yang sedari tadi tenang kini mulai menampakkan sedikit emosinya karena kelakuan duo magnae di hadapannya.

Kai dan Sehun. Mereka berdua anggota termuda dalam kelompok mereka. Masih ada satu lagi anggota termuda, namun kelakuannya tak seperti Kai dan Sehun. Tao, nama anggota tersebut. Dia orang yang paling irit bicara dibandingkan Kai dan Sehun jika dibandingkan dua anggota termuda lainnya. Kai dan Sehun bagaikan kucing dan anjing, tak pernah akur jika bersama, selalu memperdebatkan masalah sekecil apapun, namun sangat kompak jika berbuat onar bersama Tao. Kembali ke tiga namja tadi.

“Hyung, tak bisakah kau mengirimku dengan yang lain saja, eoh? Jebal, jangan dengan Sehun. Aku mau melakukan tugas ini tapi tidak jika bersama Sehun,” mohon Kai pada Suho. Suho masih tetap diam tidak menanggapi keinginan Kai.

“Cih, dasar hitam,” desis Sehun lirih. Kai yang mendengarnya melemparkan death-glare miliknya pada Sehun.

“Keputusan sudah ditetapkan, kalian tidak bisa menolak. Kalian berdua tetap akan pergi kesana dan melakukan pencarian. Keputusanku ini bukan sepihak, melainkan perintah dari ketua,” ujar Suho dengan tenang. Kai dan Sehun hanya saling memandang, namun sesaat kemudian mereka langsung memalingkan wajah mereka. Jika ini perintah dari ketua mereka, mereka tak dapat membantahnya lagi.

“Baiklah hyung, kami menerimanya,” putus mereka berdua dengan tidak rela.

“Baguslah. Lebih cepat lebih baik. Jangan menunda kepergian kalian. Terutama kau Sehun. Jika kita tidak segera menemukan-nya, keadaan Luhan hyung akan semakin lemah. Tentu kau tak ingin terjadi sesuatu kan pada hyung kesayanganmu itu kan?” pancing Suho pada Sehun. Sehun hanya bisa mengangguk pasrah. Suho pun menunduk sebentar kemudian meninggalkan ruangan itu.

“Hhhhh…ini benar-benar bencana,” ujar mereka berdua berbarengan. Sesaat kemudian Kai meraih tangan Sehun dan menghilang bersama Sehun dari ruangan tersebut.

***

Seoul, South Korea

Sebuah mobil sport berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalanan kota Seoul menuju Kyunghee University. Di dalamnya tampak seorang namja danyeoja di sebelahnya. Sang namja terlihat fokus pada jalanan karena ia sedang menyetir, sedangkan yeoja di sebelahnya terlihat sibuk berkutat dengan ipad dan headset yang dipakainya.

“Sungrin-ah, kau benar-benar tidak ada kuliah sampai harus mengikutiku ke kampus, eoh?” ujar namja itu dengan kesal. Kesal pada yeoja di sebelahnya yang notabene adalah dongsaengnya. Ia tahu betul dongsaengnya amat membenci tempat yang luas dan sepi serta juga membenci kesendirian. Entah kenapa setiap ia berada di tempat yang luas dan sepi seorang diri, ia pasti merasakan ketakutan yang luar biasa menyerangnya. Seolah merasa terancam bahaya yang sewaktu-waktu bisa menyerangnya.

“Sungrin-ah?” ulang namja itu memanggil dongsaengnya sesaat karena tidak mendapatkan respon dari dongsaengnya. Sontak ia menoleh ke samping melihat apa yang sedang dilakukan dongsaengnya tersebut hingga mengabaikan panggilannya.

“Ya! Kim Sungrin! Aish!” gusar namja itu begitu melihat suatu benda menyumbat telinga dongsaengnya. Cepat-cepat ia lepaskan benda tersebut dari telinga dongsaengnya untuk mengalihkan perhatian dongsaengnya agar fokus pada dirinya. Ia tidak suka jika dongsaengnya itu mengabaikannya begitu saja.

“Ya! Oppa! Apa yang kau lakukan?” sungut yeoja itu begitu headsetnya terlepas begitu saja karena ulah oppa-nya.

“Salahmu sendiri kenapa tidak mendengarkan panggilan oppa. Kau pasti tidak dengar kan oppa membicarakan apa tadi?” kesal namja itu dengan tatapan fokus pada jalanan.

“Eh, kau tadi memanggilku oppa? Mianhae, hehehe,” kekeh gadis. Ia mengusap tengkuk lehernya pertanda ia salah tingkah.

“Dasar kau ini. Ah, kau benar-benar tidak ada kuliah sampai harus mengikuti oppa ke kampus, eoh?” namja itu kembali mengulangi pertanyaannya.

“Anni. Untuk tiga hari kedepan aku libur oppa. Makanya aku ikut oppa ke kampus. Oppa tau sendiri kan di rumah sangat sepi dan oppa tau betul aku sangat membenci tempat yang luas dan sepi. Kalau di kampus kan pasti banyak orang,” lontaran argumen itu mengalir  dengan lancar tanpa ada kebohongan. Yeoja bernama Sungrin itu tampak tenang begitu menyampaikan alasan kenapa dia harus ikut oppa-nya ke kampus.

“Tapi dengan ikutnya kau ke kampus oppa malah akan membahayakan posisi oppa, kau tahu itu? Jika Zhoumi hyung tau kau keluar di luar kegiatanmu, oppa yang kena  babo,” gerutu namja itu. Sesaat ia tampak bergidik saat membayangkan bagaimana kemarahan hyung-nya itu meledak jika mengetahui perbuatannya hari ini.

“Aish, Kibum oppa! Kau tenang saja, aku pasti menyelamatkanmu dari amukan Zhoumi oppa kok…hehehe..lagipula ini semua salah Zhoumi oppa yang tidak pulang-pulang dari China. Padahal ia sendiri yang bilang jika ia akan berada disana hanya dua minggu, tapi ini sudah sebulan dan dia tidak kembali juga. Bahkan susah untuk dihubungi,” gerutu Sungrin pada oppa di sebelahnya.

“Aish! Terserah kau saja. Ah iya, lebih baik kau menunggu di kantin, hanya tempat itu yang ramai dan tidak terlalu luas. Oppa hanya sebentar menemui dosen pembimbing.”

“Arraseo.”

Tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah memasuki lingkungan Kyunghee University. Sungrin mulai tampak risih dengan tatapan-tatapan penuh minat dari luar  mobil yang ia tangkap saat mobil oppa-nya memasuki lingkungan Kyunghee University, tepatnya di jurusan  Management and Bussiness Kyunghee University.

“Cih, tidak di kampusku, di sini pun kau terkenal oppa,” decak Sungrin kesal. Kibum tampak hanya memutarkan bola matanya mendengar ucapan dongsaengya.

“Apa kau lupa kita dimana?” balasnya dengan alis sebelah yang terangkat.

“Ah iya, aku lupa. Ini kampusmu. Cih, kau benar-benar terkenal di manapun kau berada oppa,” decak Sungrin, lagi.

“Seperti kau tidak saja, Kim Sungrin. Oppa sampai kesal tiap kali ada namja yang menanyakanmu pada oppa. Mereka pikir oppa ini baby-sitter mu  apa?” sungut Kibum kesal. Namun, Sungrin hanya menatapnya dengan malas.

“Sudahlah. Kajja, oppa antar kau ke kantin kampus,” tambah Kibum seraya menarik Sungrin menuju kantin kampusnya. Tak ia perdulikan tatapan penuh minat dan kekaguman yang ditujukan ke mereka berdua, baik dari yeoja maupun namja yang berada disana.

Namun, tanpa Kibum sadari seseorang menatap mereka berdua dengan tajam. Tidak, lebih tepatnya menatap Sungrin yang berada di sebelah Kibum. Tatapan tajam itu perlahan melembut dan menyiratkan akan kerinduan yang begitu dalam. Seulas senyum tipis tercetak di wajah rupawannya.

 

‘Akhirnya aku bisa melihatmu lagi dari dekat.’ batin namja itu seraya meninggalkan tempat itu.

***

Sungrin POV

Aku hanya bisa menurut pasrah mengikuti langkah Kibum oppa ketika ia menyeretku menuju kantin di kampusnya. Tatapan-tatapan penuh kagum dan sebagian tatapan iri, mengarah pada kami berdua dan itu membuatku risih akan tatapan-tatapan itu. Kibum oppa nampak santai dan tidak menghiraukan tatapan penuh minat yang mengarah pada dirinya. Yah, karena itulah sifatnya diluar rumah, dingin. Tak ayal ia menyandang gelar ice prince selama ini.

 

‘Deg’

Lagi-lagi perasaan aneh itu datang. Entah kenapa sejak lima tahun belakangan ini, perasaan itu selalu menghantuiku, seolah-olah ada yang mengawasiku. Awalnya kukira itu hanya perbuatan iseng dari namja-namja di kampusku. Tapi, sejak tiga bulan yang lalu, perasaan itu terus menghantuiku, mengikutiku hingga di rumah. Bahkan tadi pagi pun, sebelum kami berangkat aku merasakannya lagi.

“Waeyo, Rin-ah? Neo gwaenchana?” suara Kibum oppa membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan menampilkan senyum terbaikku di hadapan oppa-ku. Aku tak ingin membuatnya khawatir.

“Anni. Nan gwaenchanayo, oppa.”

Tak terasa kami berdua telah tiba di kantin. Kantin ini bisa dibilang luas, tapi tak seluas kantin yang berada di kampusku. Namun, kantin ini terlihat ramai, padahal belum memasuki jam makan siang. Kibum oppa menarikku ke sudut kantin dan mendudukkanku disana.

“Ingat pesanku. Jangan bermain jauh di lingkungan kampusku dan jangan berbicara dengan sembarangan orang, arraseo?” lagi-lagi Kibum oppa mengingatkanku akan pesannya yang tadi pagi ia sampaikan sebelum berangkat. Aku hanya menatapnya malas.

“Ne, ne. Arraseo. Kha. Pergilah. Jangan sampai oppa nanti menyalahkanku jika oppa kehilangan kesempatan bertemu dosen oppa itu.” Sungutku kesal. Kibum oppa mengeluarkan senyuman menawannya yang terkenal dengan killer smile, dan aku yakin para yeoja yang berada di kantin saat ini tengah melongo karena menyaksikkan hal yang tak pernah mereka lihat sehari-harinya dari oppa-ku ini.

“Baiklah, oppa pergi. Jangan lupa ponselmu, jangan di silent,” tambahnya seraya mengacak rambutku. Aku mengerucutkan bibirku karena rambutku berantakan akibat ulahnya itu.

“Kha, pergilah. Hush…hush…,” usirku layaknya mengusir anak ayam.

 

‘pletak’

“Appo,” ringisku pelan begitu merasakan jitakan dari Kibum oppa. Aku pun menatapnya dengan tajam yang dibalas dengan death-glare nya. Kuteguk pelan salivaku, membasahi kerongkonanku yang mendadak kering begitu melihat tatapan Kibum oppa yang mengerikan.

“Ya! kau pikir oppa mu ini anak ayam apa?” dengan penuh kekesalan, Kibum oppa beranjak meninggalkanku. Aku pun  membalas perkataan oppaku barusan dengan bersikap aegyo. Ia masih tampak sewot ketika aku sudah melancarkan jurus aegyo-ku.

Dan sekarang disinilah aku, di kantin, sendirian. Tapi masih jauh lebih baik daripada di rumah yang tidak ada orang lain. Beda halnya dengan di kantin. Suasana ramai lah yang justru membuatku tenang.

Sungrin POV End

***

 

Author POV

Sudah 30 menit Sungrin menunggu Kibum di kantin, namun Kibum belum juga menampakkan tanda-tanda bahwa dia akan datang menjemputnya. Sungrin mulai tampak gelisah menunggu kedatangan Kibum, padahal ini baru 30 menit dia menunggu, tapi entah kenapa dia merasa sedang diawasi, dan itu benar-benar mengganggunya. Rasanya bahaya akan mengancamnya.

‘Aish, oppa lama sekali. Perasaanku tiba-tiba tak enak,’ batin Sungrin. Tiba-tiba semilir angin membelai lembut wajahnya. Sesaat kemudian matanya sudah terlihat tak fokus, kosong. Binar-binar kehidupan tampak redup di matanya.

 

‘Nona Sungrin’

Sayup-sayup terdengar suara lembut bagaikan dentingan piano memanggilnya. Merasa terpanggil, Sungrin meresponnya, mengikuti arah suara tersebut datang.

Orang-orang yang berada di kantin menatapnya heran. Pasalnya ia berjalan dengan tatapan kosong. Bahkan sepertinya mereka tak mendengar seruan lembut yang ditujukan untuk Sungrin.

 

‘Nona Sungrin’

Lagi. Suara lembut itu mengalun bersama angin menghampiri Sungrin. Bahkan suara itu sekarang terdengar begitu jelas setelah ia meninggalkan keramaian di belakangnya. Bahkan ia sekarang menuju ke suatu tempat yang terlihat mulai sepi.

Kini di hadapan Sungrin terpampang taman yang indah dan danau buatan yang tampak berkilauan memantulkan sinar matahari di atasnya. Namun tempat itu begitu sepi, hanya terlihat seorang namja yang tengah berdiri di pinggir danau buatan itu.

Entah bagaimana, namja itu langsung membalikkan badannya begitu Sungrin tiba di taman itu, seakan ia mengetahui jika seseorang telah hadir di tempat itu. Dari jauh, namja itu terlihat kecil, namun sesungguhnya namja itu mempunyai postur tubuh yang tinggi, sekitar 180-an cm. Dengan rambut yang dicat warna abu-abu, semakin menambah ketampanan namja itu. Senyum simpul menghiasi wajahnya yang rupawan, menambah ketampanan dirinya.

 

‘Nona Sungrin’

Lagi. Suara itu terdengar semakin jelas, bahkan namja itu tampak mengulurkan tangannya kepada Sungrin, menunggu sambutan tangan Sungrin. Namja itu bahkan tampak menggumakan sesuatu.

 

‘Nona Sungrin’

Namja itulah pemilik suara lembut itu. Sungrin melangkah semakin mendekati namja itu. Tanpa mereka berdua sadari, seseorang mengikuti Sungrin dari belakang. Seorang namja dengan mata elangnya terus mengamati pergerakan Sungrin. Ia yakin ada yang tidak beres pada yeoja itu, terlebih begitu ia melihat sesosok namja berdiri di tepi danau seperti menunggu Sungrin datang padanya. Ia menggeram pelan begitu menyadari sosok namja yang berada di tepi danau itu.

Tinggal beberapa langkah lagi, Sungrin tiba di hadapan namja berambut warna abu-abu itu, namun tiba-tiba sebuah lengan menahan tubuh Sungrin agar tidak bergerak lebih jauh, terutama mendekati namja berambut biru itu.

“Cih, ternyata ketua Klan Lee sang pureblood melindungi yeoja manusia ini,” cibir namja berambut abu-abu itu. Matanya tiba-tiba berubah menjadi warna merah pekat seperti darah. Tatapannya begitu kelam dan tajam. Tak jauh beda, namja yang menahan pergerakan Sungrin juga menatapnya dengan tajam dan kelam, hanya saja warna matanya bukanlah merah darah seperti milik namja berambut abu-abu itu, melainkan biru sapphire menyala yang merupakan ciri khas para purebloods. Namun, tak semua purebloods memiliki warna mata seperti itu, ada perbedaan warna antara purebloods yang satu dengan yang lainnya, yang jelas bukan berwarna merah pekat seperti darah.

“Apa tujuanmu, Zelo-ssi? Untuk apa kau mengusik yeoja ini?” ujar namja bermata sapphire blue itu. “Hanya penasaran saja, ada hubungan apa yeoja ini dengan salah satu Klan pureblood hingga ia begitu diperhatikan oleh Klan ini, bahkan sang ketua Klan seperti anda Tuan Jongwoon sampai harus repot-repot turut tangan melindungi yeoja ini,” dengan lancang namja yang dipanggil Zelo itu mencemooh seorang pureblood.

“Kau, berani-beraninya… Kau hanya seorang bangsawan, berani-beraninya bersikap lancang di hadapan seorang pureblood. Cepat katakan, apa yang diperintahkan oleh orang itu?” sinis Jongwoon pada Zelo. Zelo tampak mendelik ngeri begitu mendengar ucapan terakhir namja di depannya saat ini. Benar-benar tak menghormati tuannya namja di depannya itu.

“K…K…Kau…beraninya kau menyebutnya tanpa..,” “Tanpa embel-embel yang membuktikan ia berada di atas semua golongan kita? Apa kau lupa Zelo-ssi, kekuasaan itu seharusnya menjadi milik siapa?” sela Jongwoon memotong perkataan Zelo. Bahkan ia tersenyum miring saat melihat tubuh namja di hadapannya itu tegang kembali setelah mendengar kalimat terakhirnya.

“Lebih baik kau tinggalkan tempat ini sebelum aku memusnahkanmu menjadi butiran debu Zelo-ssi?” seringai mengerikan tampak menghiasi wajah Jongwoon. Ia begitu menikmati kegiatan barunya menyudutkan musuhnya saat ini.

“Kau! Lihat saja, pihak senat dan kerajaan tak akan tinggal diam jika mereka mengetahui hal ini!” desis Zelo lirih. Ia menatap tajam penuh amarah pada Jongwoon.

“Benarkah? Kutunggu saat itu tiba, Zelo-ssi. Tapi, sebelum kau tiba disana dan memberitahu mereka akan hal ini, aku lah yang akan bertindak lebih dulu,” ujar Jongwoon dengan senyuman miringnya. Zelo tampak waspada begitu merasakan aura kekuatan yang memancar dari tubuh Jongwoon.

Tapi naas bagi Zelo, tatapan matanya seolah terkunci dan hanya bisa balas menatap Jongwoon. Jongwoon tampak sedang merapalkan mantera yang bisa menghapus ingatan namja di depannya saat ini dan menggantinya dengan memori lain.

Dengan langkah gontai dan tatapan mata kosong, Zelo mulai meninggalkan tempat itu. Jongwoon tampak puas karena ia telah mengusir Zelo jauh untuk tak datang mendekati dunia manusia di sekitarnya, terlebih pada yeoja yang berada dalam dekapannya.

 

‘Tahun ini semuanya akan berakhir…akhir musim gugur tahun ini…’ batin Jongwoon sembari menatap punggung Sungrin yang berada di depannya.

Perlahan tapi pasti, tatapan mata Sungrin yang tadinya kosng sekarang tampak mulai fokus. Kesadarannya sedikit demi sedikit kembali padanya. Ia tampak mengernyit bingung begitu menyadari dia tidak sedang berada di kantin, melainkan di sebuah tempat luas dan sepi.

Perlahan, bahu Sungrin bergetar hebat seperti orang menggigil. Rasa takut dan gelisah menghinggapi dirinya. Ia melangkah mundur tanpa menyadari adanya sosok lain di belakangnya. Ia terus melangkah mundur, dan…

 

‘Bruuukk’

Sungrin menabrak seseorang yang berada persis di belakangnya.

“OMO!” pekik Sungrin begitu sadar siapa yang berdiri di depannya saat ini.

***

 

Kibum POV

Tidak kusangka menemui park seonsaengnim benar-benar menyita waktu yang lama. Ah, Sungrin pasti kesal sekali karena aku meninggalkannya terlalu lama di kantin. Lebih baik sekarang aku bergegas menuju ke kantin.

Sepanjang jalan menuju ke kantin, entah kenapa perasaanku tidak enak. Dan lagi, aku  merasakan aura gelap di sekitar kampusku. Aneh memang, jika seorang manusia sepertiku bisa merasakan aura yang kasat mata, tapi aku sudah terbiasa merasakannya. Hanya zhoumi hyung yang tahu mengenai kemampuanku ini.

Setibanya di kantin, aku bergegas ke salah satu sudut kantin dimana terakhir kali aku meninggalkan Sungrin, namun nihil. Sungrin sudah tidak berada disana. Rasa panik dan khawatir menghantuiku. Aku tahu betul Sungrin memiliki semacam phobia, takut tempat yang luas dan sepi. Dan lagi disini bukanlah tempat yang ia kenali.

Tanpa buang banyak waktu, aku bergegas mencari Sungrin di sekitar kampusku. Aku yakin Sungrin masih berada di sekitar kampusku.

“Kibum-ssi?” suara ragu seorang namja menyeruak masuk memenuhi pendengaranku. Aku menoleh ke asal suara tersebut dan mendapati seorang namja yang kukenal bernama Yang Seungho tepat berdiri disampingku.

“Ne? Ada yang perlu kau bicarakan denganku, Seungho-ssi?”

“Apakah kau sedang mencari dongsaengmu?”

“Ne, aku sedang mencarinya. Apa kau melihatnya?” entah kenapa aku merasakan bahwa aku akan segera mengetahui ke mana Sungrin pergi. Seungho tampak ragu menjawab pertanyaanku, tapi aku yakin dia sepertinya tahu kemana Sungrin pergi.

“Entahlah, aku kurang begitu yakin kalau itu adikmu atau bukan. Aku hanya melihatnya dari jauh. Dia tampak berjalan seorang diri menuju taman belakang yang selalu sepi itu.”

Begitu mendengar penuturan Seungho, aku bergegas meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan atau mengucapkan terima kasih padanya. Yang aku pedulikan sekarang hanya Sungrin. Dan ini terlalu aneh, seorang Sungrin mau berpergian ke tempat seperti itu? It’s weird.

Kibum POV End

***

Author POV

 

Hongkong, China

Kerlap-kerlip lampu berkilauan menyinari setiap sudut kota Hongkong. Gelapnya langit malam di Hongkong tergantikan oleh kemilau sorot lampu di berbagai sudut kota.

Namun suasana itu berbanding terbalik dengan suasana di dalam sebuah ruangan. Ruangan itu tampak remang karena hanya mendapatkan penerangan dari kerlap-kerlip lampu diluar sana.

“Zhoumi-ah, pulanglah ke Seoul sekarang. Kurasa mereka mulai menyelediki dia. Bahkan para guardians tampaknya sudah mulai bergerak,” suara seorang namja memecah keheningan ruangan remang tersebut.

“Mwo? Bagaimana kau bisa mengetahuinyan gege?” seru suara lain memecah membalas suara sebelumnya.

“Seungho baru saja mengabariku. Sebaiknya kau pulang sekarang. Bawalah Henry bersamamu untuk membantumu. Masalah di sini biar ku urus. Permasalahan di Seoul jauh lebih membutuhkanmu.”

“Baiklah ge, aku akan segera pulang ke Seoul bersama Henry. Masalah disini kuserahkan padamu.”

Namja sebelumnya yang berbicara terlebih dahulu tampak menganggukan kepalanya.

“Akan kukirimkan beberapa anggota lainnya ke Seoul. Aku baru menempatkan Seungho dan Mir di Seoul. Setelah semua masalah di sini selesai aku akan segera menyusul.”

“Baiklah ge, kalau begitu aku pergi.”

Pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan seorang namja yang mempunyai postur tubuh yang tinggi dan tegap keluar dari ruangan tersebut. Namja itu adalah seorang Chou Zhoumi.

~TBC~

Annyeong yeorobun. Mianhae baru bisa update sekarang. Aku harus hiatus kira-kira selama 2 bulan.

Well, sebagai permintaan maaf, di part ini aku panjangin dari rencana semula. Yah, walaupun rencananya aku bakalan ngenalin semua cast di part 1 ini, tapi nyatanya belum bisa terwujud karena ternyata di luar dugaan part ini saja benar-benar udah panjang, jadi cast lainnya bakalan diungkapin di lain part.

Ada yang nyadar ada beberapa hal yang diganti? Yup, untuk rated aku ganti jadi 15+, karena aku pikir mungkin ke depan akan ada adegan yang menjurus ke arah keromatisan yang lebih *author ngomong apaan sih* hehehehe 😀

Dan…..jengjengjeng….aku ngeluarin cast baru di part ini yang belum aku sebutin di prolog XD. Yup, that’s him, Zelo, maknae B.A.P. sebenernya waktu mulai ngerjain nih ff ga ada pikiran buat nambah cast lagi, tapi gegara abis liat MV B.A.P yang One Shot, ga tau kenapa aku jadi suka banget ma ini BB XD. Dan jangan heran jika aku tiba-tiba menghadirkan cast baru 😀

Jangan lupa commentnya yah, aku butuh buat perbaikan ke depan biar lebih bagus. ^^

Title : The Choosen Princess (The Beginning)

Author : Han Yerin

Genre : fantasy, family, friendship, romance, action(?)

Length : chaptered

Rated : 15+

Cast : read the intro or find it^^

Disclaimer :

Semua cast yang hadir milik Tuhan, tak terkecuali baik BB / GB / maupun OC yang bakalan muncul^^

 

NO PLAGIAT, DON’T BE PLAGIATOR OR DON’T BASH IT IF DON’T LIKE IT ^^

***

Tanpa disadari oleh para manusia, dunia yang mereka ketahui selalu diselimuti cahaya di pagi hari dan disinari cahaya rembulan di malam hari ternyata mempunyai sisi gelap tersendiri. Jauh di masa lalu, sejarah kelam pernah terjadi, dimana manusia juga tidak menyadarinya. Dunia yang mereka tempati sejak dulu terbagi dua….

Dunia atas………

dan

……Dunia kegelapan

***

 

~suatu tempat~

 

Dua orang namja tampak saling berhadapan, seperti  sedang mendiskusikan sesuatu. Namja itu – yang tampak lebih tinggi dengan warna kulit kecoklatan – menunjukkan kekesalannya yang sepertinya diakibatkan dari perbincangan mereka berdua.

 

“Shireo! Kenapa tidak yang lain saja, eoh? Ah, kenapa tidak luhan hyung sekalian saja yang mencarinya?” elak namja itu dengan kesal. Ia tampak keberatan dengan perintah yang diberikan untuknya.

 

“Jongin-ah, Luhan hyung baru saja melakukan pencarian dengan kekuatannya, sekarang dia tengah beristirahat. Kita sudah melakukan pencarian ini selama lima belas tahun untuk mencari dia yang tiba-tiba menghilang. Kekuatanmu jauh lebih menguntungkan untuk kesana.” Namja yang memiliki tubuh lebih kecil dari Jongin berusaha mengahadapi kekesalan Jongin dengan sabar. Ia tahu betul cara menghadapi seorang Jongin yaitu dengan kesabaran. Walau bagaimanapun juga, pencarian mereka harus terus dilanjutkan.

 

“Suho hyung, tak bisakah yang lain saja eoh? Kris hyung mungkin?” tawar Jongin, lagi. Ia tampak enggan melaksanakan perintah hyung nya itu, terlebih Suho adalah salah satu pemimpin mereka.

 

‘Kriett’

 

Terdengar suara pintu terbuka menampakkan sesosok namja yang tingginya nyaris sama dengan Jongin.

 

“Sehun-ah, kau sudah datang? Masuklah,” ujar Suho lembut. Namja yang dipanggil Sehun itu pun melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut.

 

“Ada apa hyung memanggilku? Eoh, ada kkamjong rupanya,” ucap Sehun begitu menyadari ada sosok lain dalam ruangan tersebut selain dirinya dan hyungnya.

 

“Ya, hyung! Kenapa kau memanggil Sehun pula? Apa ini berarti aku dibebaskan dari tugas tadi?” tanggap Jongin *atau Kai* berbinar. Ia sungguh berharap jika Sehun lah yang akan menggantikannya melakukan pencarian .

 

“Anni. Aku malah akan mengirim kalian berdua untuk kesana,” ucap Suho kalem.

 

“Chakkaman. Apa maksudnya ini hyung? Aku tidak mau jika harus pergi dengan Kai,” tolak Sehun dengan keras.

 

“Ya! Siapa juga yang mau pergi denganmu cadel!” balas Jongin atau Kai sengit.

 

“Mwo?! Ya! Dasar hitam!”

 

“Ya! Cadel!”

 

“Kalian berdua, geumanhae! Tidak bisakah kalian akur, eoh?! Aku…anni, kami semua lelah harus mendengar perdebatan kecil kalian setiap saat. Tidak bisakah kalian akur demi misi ini?” Suho yang sedari tadi tenang kini mulai menampakkan sedikit emosinya karena kelakuan duo magnae di hadapannya.

 

Kai dan Sehun. Mereka berdua anggota termuda dalam kelompok mereka. Masih ada satu lagi anggota termuda, namun kelakuannya tak seperti Kai dan Sehun. Tao, nama anggota tersebut. Dia orang yang paling irit bicara dibandingkan Kai dan Sehun jika dibandingkan dua anggota termuda lainnya. Kai dan Sehun bagaikan kucing dan anjing, tak pernah akur jika bersama, selalu memperdebatkan masalah sekecil apapun, namun sangat kompak jika berbuat onar bersama Tao. Kembali ke tiga namja tadi.

 

“Hyung, tak bisakah kau mengirimku dengan yang lain saja, eoh? Jebal, jangan dengan Sehun. Aku mau melakukan tugas ini tapi tidak jika bersama Sehun,” mohon Kai pada Suho. Suho masih tetap diam tidak menanggapi keinginan Kai.

 

“Cih, dasar hitam,” desis Sehun lirih. Kai yang mendengarnya melemparkan death-glare miliknya pada Sehun.

 

“Keputusan sudah ditetapkan, kalian tidak bisa menolak. Kalian berdua tetap akan pergi kesana dan melakukan pencarian. Keputusanku ini bukan sepihak, melainkan perintah dari ketua,” ujar Suho dengan tenang. Kai dan Sehun hanya saling memandang, namun sesaat kemudian mereka langsung memalingkan wajah mereka. Jika ini perintah dari ketua mereka, mereka tak dapat membantahnya lagi.

 

“Baiklah hyung, kami menerimanya,” putus mereka berdua dengan tidak rela.

 

“Baguslah. Lebih cepat lebih baik. Jangan menunda kepergian kalian. Terutama kau Sehun. Jika kita tidak segera menemukan-nya, keadaan Luhan hyung akan semakin lemah. Tentu kau tak ingin terjadi sesuatu kan pada hyung kesayanganmu itu kan?” pancing Suho pada Sehun. Sehun hanya bisa mengangguk pasrah. Suho pun menunduk sebentar kemudian meninggalkan ruangan itu.

 

“Hhhhh…ini benar-benar bencana,” ujar mereka berdua berbarengan. Sesaat kemudian Kai meraih tangan Sehun dan menghilang bersama Sehun dari ruangan tersebut.

 

***

 

Sebuah mobil sport berwarna hitam melaju dengan kecepatan sedang melintasi jalanan kota Seoul menuju Kyunghee University. Di dalamnya tampak seorang namja danyeoja di sebelahnya. Sang namja terlihat fokus pada jalanan karena ia sedang menyetir, sedangkan yeoja di sebelahnya terlihat sibuk berkutat dengan ipad dan headset yang dipakainya.

 

“Sungrin-ah, kau benar-benar tidak ada kuliah sampai harus mengikutiku ke kampus, eoh?” ujar namja itu dengan kesal. Kesal pada yeoja di sebelahnya yang notabene adalah dongsaengnya. Ia tahu betul dongsaengnya amat membenci tempat yang luas dan sepi serta juga membenci kesendirian. Entah kenapa setiap ia berada di tempat yang luas dan sepi seorang diri, ia pasti merasakan ketakutan yang luar biasa menyerangnya. Seolah merasa terancam bahaya yang sewaktu-waktu bisa menyerangnya.

 

“Sungrin-ah?” ulang namja itu memanggil dongsaengnya sesaat karena tidak mendapatkan respon dari dongsaengnya. Sontak ia menoleh ke samping melihat apa yang sedang dilakukan dongsaengnya tersebut hingga mengabaikan panggilannya.

 

“Ya! Kim Sungrin! Aish!” gusar namja itu begitu melihat suatu benda menyumbat telinga dongsaengnya. Cepat-cepat ia lepaskan benda tersebut dari telinga dongsaengnya untuk mengalihkan perhatian dongsaengnya agar fokus pada dirinya. Ia tidak suka jika dongsaengnya itu mengabaikannya begitu saja.

 

“Ya! Oppa! Apa yang kau lakukan?” sungut yeoja itu begitu headsetnya terlepas begitu saja karena ulah oppa-nya.

 

“Salahmu sendiri kenapa tidak mendengarkan panggilan oppa. Kau pasti tidak dengar kan oppa membicarakan apa tadi?” kesal namja itu dengan tatapan fokus pada jalanan.

 

“Eh, kau tadi memanggilku oppa? Mianhae, hehehe,” kekeh gadis. Ia mengusap tengkuk lehernya pertanda ia salah tingkah.

 

“Dasar kau ini. Ah, kau benar-benar tidak ada kuliah sampai harus mengikuti oppa ke kampus, eoh?” namja itu kembali mengulangi pertanyaannya.

 

“Anni. Untuk tiga hari kedepan aku libur oppa. Makanya aku ikut oppa ke kampus. Oppa tau sendiri kan di rumah sangat sepi dan oppa tau betul aku sangat membenci tempat yang luas dan sepi. Kalau di kampus kan pasti banyak orang,” lontaran argumen itu mengalir  dengan lancar tanpa ada kebohongan. Yeoja bernama Sungrin itu tampak tenang begitu menyampaikan alasan kenapa dia harus ikut oppa-nya ke kampus.

 

“Tapi dengan ikutnya kau ke kampus oppa malah akan membahayakan posisi oppa, kau tahu itu? Jika Zhoumi hyung tau kau keluar di luar kegiatanmu, oppa yang kena  babo,” gerutu namja itu. Sesaat ia tampak bergidik saat membayangkan bagaimana kemarahan hyung-nya itu meledak jika mengetahui perbuatannya hari ini.

 

“Aish, Kibum oppa! Kau tenang saja, aku pasti menyelamatkanmu dari amukan Zhoumi oppa kok…hehehe..lagipula ini semua salah Zhoumi oppa yang tidak pulang-pulang dari China. Padahal ia sendiri yang bilang jika ia akan berada disana hanya dua minggu, tapi ini sudah sebulan dan dia tidak kembali juga. Bahkan susah untuk dihubungi,” gerutu Sungrin pada oppa di sebelahnya.

 

“Aish! Terserah kau saja. Ah iya, lebih baik kau menunggu di kantin, hanya tempat itu yang ramai dan tidak terlalu luas. Oppa hanya sebentar menemui dosen pembimbing.”

 

“Arraseo.”

 

Tak terasa mobil yang mereka tumpangi telah memasuki lingkungan Kyunghee University. Sungrin mulai tampak risih dengan tatapan-tatapan penuh minat dari luar  mobil yang ia tangkap saat mobil oppa-nya memasuki lingkungan Kyunghee University, tepatnya di jurusan  Management and Bussiness Kyunghee University.

 

“Cih, tidak di kampusku, di sini pun kau terkenal oppa,” decak Sungrin kesal. Kibum tampak hanya memutarkan bola matanya mendengar ucapan dongsaengya.

 

“Apa kau lupa kita dimana?” balasnya dengan alis sebelah yang terangkat.

 

“Ah iya, aku lupa. Ini kampusmu. Cih, kau benar-benar terkenal di manapun kau berada oppa,” decak Sungrin, lagi.

 

“Seperti kau tidak saja, Kim Sungrin. Oppa sampai kesal tiap kali ada namja yang menanyakanmu pada oppa. Mereka pikir oppa ini baby-sitter mu  apa?” sungut Kibum kesal. Namun, Sungrin hanya menatapnya dengan malas.

 

“Sudahlah. Kajja, oppa antar kau ke kantin kampus,” tambah Kibum seraya menarik Sungrin menuju kantin kampusnya. Tak ia perdulikan tatapan penuh minat dan kekaguman yang ditujukan ke mereka berdua, baik dari yeoja maupun namja yang berada disana.

 

Namun, tanpa Kibum sadari seseorang menatap mereka berdua dengan tajam. Tidak, lebih tepatnya menatap Sungrin yang berada di sebelah Kibum. Tatapan tajam itu perlahan melembut dan menyiratkan akan kerinduan yang begitu dalam. Seulas senyum tipis tercetak di wajah rupawannya.

 

‘Akhirnya aku bisa melihatmu lagi dari dekat.’ batin namja itu seraya meninggalkan tempat itu.

 

***

 

Sungrin POV

 

Aku hanya bisa menurut pasrah mengikuti langkah Kibum oppa ketika ia menyeretku menuju kantin di kampusnya. Tatapan-tatapan penuh kagum dan sebagian tatapan iri, mengarah pada kami berdua dan itu membuatku risih akan tatapan-tatapan itu. Kibum oppa nampak santai dan tidak menghiraukan tatapan penuh minat yang mengarah pada dirinya. Yah, karena itulah sifatnya diluar rumah, dingin. Tak ayal ia menyandang gelar ice prince selama ini.

 

‘Deg’

 

Lagi-lagi perasaan aneh itu datang. Entah kenapa sejak lima tahun belakangan ini, perasaan itu selalu menghantuiku, seolah-olah ada yang mengawasiku. Awalnya kukira itu hanya perbuatan iseng dari namja-namja di kampusku. Tapi, sejak tiga bulan yang lalu, perasaan itu terus menghantuiku, mengikutiku hingga di rumah. Bahkan tadi pagi pun, sebelum kami berangkat aku merasakannya lagi.

 

“Waeyo, Rin-ah? Neo gwaenchana?” suara Kibum oppa membuyarkan lamunanku. Aku menoleh dan menampilkan senyum terbaikku di hadapan oppa-ku. Aku tak ingin membuatnya khawatir.

 

“Anni. Nan gwaenchanayo, oppa.”

Tak terasa kami berdua telah tiba di kantin. Kantin ini bisa dibilang luas, tapi tak seluas kantin yang berada di kampusku. Namun, kantin ini terlihat ramai, padahal belum memasuki jam makan siang. Kibum oppa menarikku ke sudut kantin dan mendudukkanku disana.

 

“Ingat pesanku. Jangan bermain jauh di lingkungan kampusku dan jangan berbicara dengan sembarangan orang, arraseo?” lagi-lagi Kibum oppa mengingatkanku akan pesannya yang tadi pagi ia sampaikan sebelum berangkat. Aku hanya menatapnya malas.

 

“Ne, ne. Arraseo. Kha. Pergilah. Jangan sampai oppa nanti menyalahkanku jika oppa kehilangan kesempatan bertemu dosen oppa itu.” Sungutku kesal. Kibum oppa mengeluarkan senyuman menawannya yang terkenal dengan killer smile, dan aku yakin para yeoja yang berada di kantin saat ini tengah melongo karena menyaksikkan hal yang tak pernah mereka lihat sehari-harinya dari oppa-ku ini.

 

“Baiklah, oppa pergi. Jangan lupa ponselmu, jangan di silent,” tambahnya seraya mengacak rambutku. Aku mengerucutkan bibirku karena rambutku berantakan akibat ulahnya itu.

 

“Kha, pergilah. Hush…hush…,” usirku layaknya mengusir anak ayam.

 

‘pletak’

 

“Appo,” ringisku pelan begitu merasakan jitakan dari Kibum oppa. Aku pun menatapnya dengan tajam yang dibalas dengan death-glare nya. Kuteguk pelan salivaku, membasahi kerongkonanku yang mendadak kering begitu melihat tatapan Kibum oppa yang mengerikan.

 

“Ya! kau pikir oppa mu ini anak ayam apa?” dengan penuh kekesalan, Kibum oppa beranjak meninggalkanku. Aku pun  membalas perkataan oppaku barusan dengan bersikap aegyo. Ia masih tampak sewot ketika aku sudah melancarkan jurus aegyo-ku.

 

Dan sekarang disinilah aku, di kantin, sendirian. Tapi masih jauh lebih baik daripada di rumah yang tidak ada orang lain. Beda halnya dengan di kantin. Suasana ramai lah yang justru membuatku tenang.

 

Sungrin POV End

 

***

 

Author POV

 

Sudah 30 menit Sungrin menunggu Kibum di kantin, namun Kibum belum juga menampakkan tanda-tanda bahwa dia akan datang menjemputnya. Sungrin mulai tampak gelisah menunggu kedatangan Kibum, padahal ini baru 30 menit dia menunggu, tapi entah kenapa dia merasa sedang diawasi, dan itu benar-benar mengganggunya. Rasanya bahaya akan mengancamnya.

 

‘Aish, oppa lama sekali. Perasaanku tiba-tiba tak enak,’ batin Sungrin. Tiba-tiba semilir angin membelai lembut wajahnya. Sesaat kemudian matanya sudah terlihat tak fokus, kosong. Binar-binar kehidupan tampak redup di matanya.

 

‘Nona Sungrin’

 

Sayup-sayup terdengar suara lembut bagaikan dentingan piano memanggilnya. Merasa terpanggil, Sungrin meresponnya, mengikuti arah suara tersebut datang.

 

Orang-orang yang berada di kantin menatapnya heran. Pasalnya ia berjalan dengan tatapan kosong. Bahkan sepertinya mereka tak mendengar seruan lembut yang ditujukan untuk Sungrin.

 

‘Nona Sungrin’

 

Lagi. Suara lembut itu mengalun bersama angin menghampiri Sungrin. Bahkan suara itu sekarang terdengar begitu jelas setelah ia meninggalkan keramaian di belakangnya. Bahkan ia sekarang menuju ke suatu tempat yang terlihat mulai sepi.

 

Kini di hadapan Sungrin terpampang taman yang indah dan danau buatan yang tampak berkilauan memantulkan sinar matahari di atasnya. Namun tempat itu begitu sepi, hanya terlihat seorang namja yang tengah berdiri di pinggir danau buatan itu.

 

Entah bagaimana, namja itu langsung membalikkan badannya begitu Sungrin tiba di taman itu, seakan ia mengetahui jika seseorang telah hadir di tempat itu. Dari jauh, namja itu terlihat kecil, namun sesungguhnya namja itu mempunyai postur tubuh yang tinggi, sekitar 180-an cm. Dengan rambut yang dicat warna abu-abu, semakin menambah ketampanan namja itu. Senyum simpul menghiasi wajahnya yang rupawan, menambah ketampanan dirinya.

 

‘Nona Sungrin’

 

Lagi. Suara itu terdengar semakin jelas, bahkan namja itu tampak mengulurkan tangannya kepada Sungrin, menunggu sambutan tangan Sungrin. Namja itu bahkan tampak menggumakan sesuatu.

 

‘Nona Sungrin’

 

Namja itulah pemilik suara lembut itu. Sungrin melangkah semakin mendekati namja itu. Tanpa mereka berdua sadari, seseorang mengikuti Sungrin dari belakang. Seorang namja dengan mata elangnya terus mengamati pergerakan Sungrin. Ia yakin ada yang tidak beres pada yeoja itu, terlebih begitu ia melihat sesosok namja berdiri di tepi danau seperti menunggu Sungrin datang padanya. Ia menggeram pelan begitu menyadari sosok namja yang berada di tepi danau itu.

 

Tinggal beberapa langkah lagi, Sungrin tiba di hadapan namja berambut warna abu-abu itu, namun tiba-tiba sebuah lengan menahan tubuh Sungrin agar tidak bergerak lebih jauh, terutama mendekati namja berambut biru itu.

 

“Cih, ternyata ketua Klan Lee sang pureblood melindungi yeoja manusia ini,” cibir namja berambut abu-abu itu. Matanya tiba-tiba berubah menjadi warna merah pekat seperti darah. Tatapannya begitu kelam dan tajam. Tak jauh beda, namja yang menahan pergerakan Sungrin juga menatapnya dengan tajam dan kelam, hanya saja warna matanya bukanlah merah darah seperti milik namja berambut abu-abu itu, melainkan biru sapphire menyala yang merupakan ciri khas para purebloods. Namun, tak semua purebloods memiliki warna mata seperti itu, ada perbedaan warna antara purebloods yang satu dengan yang lainnya, yang jelas bukan berwarna merah pekat seperti darah.

 

“Apa tujuanmu, Zelo-ssi? Untuk apa kau mengusik yeoja ini?” ujar namja bermata sapphire blue itu. “Hanya penasaran saja, ada hubungan apa yeoja ini dengan salah satu Klan pureblood hingga ia begitu diperhatikan oleh Klan ini, bahkan sang ketua Klan seperti anda Tuan Jongwoon sampai harus repot-repot turut tangan melindungi yeoja ini,” dengan lancang namja yang dipanggil Zelo itu mencemooh seorang pureblood.

 

“Kau, berani-beraninya… Kau hanya seorang bangsawan, berani-beraninya bersikap lancang di hadapan seorang pureblood. Cepat katakan, apa yang diperintahkan oleh orang itu?” sinis Jongwoon pada Zelo. Zelo tampak mendelik ngeri begitu mendengar ucapan terakhir namja di depannya saat ini. Benar-benar tak menghormati tuannya namja di depannya itu.

 

“K…K…Kau…beraninya kau menyebutnya tanpa..,” “Tanpa embel-embel yang membuktikan ia berada di atas semua golongan kita? Apa kau lupa Zelo-ssi, kekuasaan itu seharusnya menjadi milik siapa?” sela Jongwoon memotong perkataan Zelo. Bahkan ia tersenyum miring saat melihat tubuh namja di hadapannya itu tegang kembali setelah mendengar kalimat terakhirnya.

 

“Lebih baik kau tinggalkan tempat ini sebelum aku memusnahkanmu menjadi butiran debu Zelo-ssi?” seringai mengerikan tampak menghiasi wajah Jongwoon. Ia begitu menikmati kegiatan barunya menyudutkan musuhnya saat ini.

 

“Kau! Lihat saja, pihak senat dan kerajaan tak akan tinggal diam jika mereka mengetahui hal ini!” desis Zelo lirih. Ia menatap tajam penuh amarah pada Jongwoon.

 

“Benarkah? Kutunggu saat itu tiba, Zelo-ssi. Tapi, sebelum kau tiba disana dan memberitahu mereka akan hal ini, aku lah yang akan bertindak lebih dulu,” ujar Jongwoon dengan senyuman miringnya. Zelo tampak waspada begitu merasakan aura kekuatan yang memancar dari tubuh Jongwoon.

 

Tapi naas bagi Zelo, tatapan matanya seolah terkunci dan hanya bisa balas menatap Jongwoon. Jongwoon tampak sedang merapalkan mantera yang bisa menghapus ingatan namja di depannya saat ini dan menggantinya dengan memori lain.

 

Dengan langkah gontai dan tatapan mata kosong, Zelo mulai meninggalkan tempat itu. Jongwoon tampak puas karena ia telah mengusir Zelo jauh untuk tak datang mendekati dunia manusia di sekitarnya, terlebih pada yeoja yang berada dalam dekapannya.

 

‘Tahun ini semuanya akan berakhir…akhir musim gugur tahun ini…’ batin Jongwoon sembari menatap punggung Sungrin yang berada di depannya.

 

Perlahan tapi pasti, tatapan mata Sungrin yang tadinya kosng sekarang tampak mulai fokus. Kesadarannya sedikit demi sedikit kembali padanya. Ia tampak mengernyit bingung begitu menyadari dia tidak sedang berada di kantin, melainkan di sebuah tempat luas dan sepi.

 

Perlahan, bahu Sungrin bergetar hebat seperti orang menggigil. Rasa takut dan gelisah menghinggapi dirinya. Ia melangkah mundur tanpa menyadari adanya sosok lain di belakangnya. Ia terus melangkah mundur, dan…

 

‘Bruuukk’

 

Sungrin menabrak seseorang yang berada persis di belakangnya.

 

“OMO!” pekik Sungrin begitu sadar siapa yang berdiri di depannya saat ini.

 

***

 

Kibum POV

 

Tidak kusangka menemui park seonsaengnim benar-benar menyita waktu yang lama. Ah, Sungrin pasti kesal sekali karena aku meninggalkannya terlalu lama di kantin. Lebih baik sekarang aku bergegas menuju ke kantin.

 

Sepanjang jalan menuju ke kantin, entah kenapa perasaanku tidak enak. Dan lagi, aku  merasakan aura gelap di sekitar kampusku. Aneh memang, jika seorang manusia sepertiku bisa merasakan aura yang kasat mata, tapi aku sudah terbiasa merasakannya. Hanya zhoumi hyung yang tahu mengenai kemampuanku ini.

 

Setibanya di kantin, aku bergegas ke salah satu sudut kantin dimana terakhir kali aku meninggalkan Sungrin, namun nihil. Sungrin sudah tidak berada disana. Rasa panik dan khawatir menghantuiku. Aku tahu betul Sungrin memiliki semacam phobia, takut tempat yang luas dan sepi. Dan lagi disini bukanlah tempat yang ia kenali.

 

Tanpa buang banyak waktu, aku bergegas mencari Sungrin di sekitar kampusku. Aku yakin Sungrin masih berada di sekitar kampusku.

 

“Kibum-ssi?” suara ragu seorang namja menyeruak masuk memenuhi pendengaranku. Aku menoleh ke asal suara tersebut dan mendapati seorang namja yang kukenal bernama Yang Seungho tepat berdiri disampingku.

 

“Ne? Ada yang perlu kau bicarakan denganku, Seungho-ssi?”

 

“Apakah kau sedang mencari dongsaengmu?”

 

“Ne, aku sedang mencarinya. Apa kau melihatnya?” entah kenapa aku merasakan bahwa aku akan segera mengetahui ke mana Sungrin pergi. Seungho tampak ragu menjawab pertanyaanku, tapi aku yakin dia sepertinya tahu kemana Sungrin pergi.

 

“Entahlah, aku kurang begitu yakin kalau itu adikmu atau bukan. Aku hanya melihatnya dari jauh. Dia tampak berjalan seorang diri menuju taman belakang yang selalu sepi itu.

 

Begitu mendengar penuturan Seungho, aku bergegas meninggalkannya begitu saja tanpa berpamitan atau mengucapkan terima kasih padanya. Yang aku pedulikan sekarang hanya Sungrin. Dan ini terlalu aneh, seorang Sungrin mau berpergian ke tempat seperti itu? It’s weird.

 

Kibum POV End

***

 

Author POV

 

Hongkong, China

 

Kerlap-kerlip lampu berkilauan menyinari setiap sudut kota Hongkong. Gelapnya langit malam di Hongkong tergantikan oleh kemilau sorot lampu di berbagai sudut kota.

 

Namun suasana itu berbanding terbalik dengan suasana di dalam sebuah ruangan. Ruangan itu tampak remang karena hanya mendapatkan penerangan dari kerlap-kerlip lampu diluar sana.

 

“Zhoumi-ah, pulanglah ke Seoul sekarang. Kurasa mereka mulai menyelediki dia. Bahkan para guardians tampaknya sudah mulai bergerak,” suara seorang namja memecah keheningan ruangan remang tersebut.

 

“Mwo? Bagaimana kau bisa mengetahuinyan gege?” seru suara lain memecah membalas suara sebelumnya.

 

“Seungho baru saja mengabariku. Sebaiknya kau pulang sekarang. Bawalah Henry bersamamu untuk membantumu. Masalah di sini biar ku urus. Permasalahan di Seoul jauh lebih membutuhkanmu.”

 

“Baiklah ge, aku akan segera pulang ke Seoul bersama Henry. Masalah disini kuserahkan padamu.”

 

Namja sebelumnya yang berbicara terlebih dahulu tampak menganggukan kepalanya.

 

“Akan kukirimkan beberapa anggota lainnya ke Seoul. Aku baru menempatkan Seungho dan Mir di Seoul. Setelah semua masalah di sini selesai aku akan segera menyusul.”

 

“Baiklah ge, kalau begitu aku pergi.”

 

Pintu ruangan itu terbuka dan menampakkan seorang namja yang mempunyai postur tubuh yang tinggi dan tegap keluar dari ruangan tersebut. Namja itu adalah seorang Chou Zhoumi.

~TBC~

 

Annyeong yeorobun. Mianhae baru bisa update sekarang. Aku harus hiatus kira-kira selama 2 bulan.

Well, sebagai permintaan maaf, di part ini aku panjangin dari rencana semula. Yah, walaupun rencananya aku bakalan ngenalin semua cast di part 1 ini, tapi nyatanya belum bisa terwujud karena ternyata di luar dugaan part ini saja benar-benar udah panjang, jadi cast lainnya bakalan diungkapin di lain part.

Ada yang nyadar ada beberapa hal yang diganti? Yup, untuk rated aku ganti jadi 15+, karena aku pikir mungkin ke depan akan ada adegan yang menjurus ke arah keromatisan yang lebih *author ngomong apaan sih* hehehehe 😀

Dan…..jengjengjeng….aku ngeluarin cast baru di part ini yang belum aku sebutin di prolog XD. Yup, that’s him, Zelo, maknae B.A.P. sebenernya waktu mulai ngerjain nih ff ga ada pikiran buat nambah cast lagi, tapi gegara abis liat MV B.A.P yang One Shot, ga tau kenapa aku jadi suka banget ma ini BB XD. Dan jangan heran jika aku tiba-tiba menghadirkan cast baru 😀

Jangan lupa commentnya yah, aku butuh buat perbaikan ke depan biar lebih bagus. J

Advertisements

2 thoughts on “(Fanfiction) The Choosen Princess Part 1 : The Beginning

  1. luukk, keren ffnya.. aku tunggu lanjutannya 🙂
    kalo menurutku ada kalimat-kalimat yang kepanjangan, mungkin bisa dipecah jadi beberapa kalimat.. 🙂 biar yang baca bisa ambil napas juga, kekekeke… fighting!!

    1. hehehe….gomawo uda baca…
      klo yg itu uda aq usahain buat bagi biar ga kepanjangan…tp ya itu..susah…*kebiasaan klo nulis kdang ga mkir2 dlu*
      ok..slmt menunggu next partny 🙂

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s