(Fanfiction) #3 Break Up ?

break up cover

Title : #3 Break Up ?

Cast : Kim Ryeowook Super Junior, Shin Minrin dBrinds

Genre : Romance, sad, life

Rating : PG 15

Length : 4541 words

Author : d’Roseed / @elizeminrin

Disclaimer : I just have the story and the poster. Don’t Copy paste my story ^^

Lama tidak ngepost ff di sini. Well, ini kelanjutan dari cerita Break Up nya Ryeo-Min. Ini part terakhir dari Break Up. Happy Reading~!!

Leave your comment ne? ~><

 

Seoul

14.00 KST

Minrin-ya..! kau yakin tidak apa-apa?” Nimi menghampiri Minrin dan menjejeri langkahnya.

Gadis itu hanya menggelengkan kepalanya pelan. Senyum tipis yang sedikit memaksa menghiasi bibirnya yang sedikit pucat. Dia pun bergumam pelan. “Tidak apa-apa, aku hanya butuh istirahat..”

Kakinya melangkah pelan, sedikit diseret menuju lift. Sejujurnya kondisinya tidak baik saat ini. Kepalanya berdenyut keras sejak tadi. Tangannya memegang erat tas di bahunya. Sesekali dia menghela nafasnya sekedar memberi kekuatan pada tubuhnya.

“Ya..! Jangan lupa minum obat dan segera istirahat, kau mengerti?” Ucap Nimi ketika  mereka berdua tiba di depan pintu apartement bernomor 28.

Minrin mengangguk pelan. Dia berdiri dengan kepala menunduk dan tangan kiri berpegangan pada pintu “Arraso, eonnie. Kau lebih baik pergi sekarang, oppa pasti tidak suka menunggu lama..” ujarnya

“Baiklah, aku akan datang nanti.”

Sebenarnya semua member menginginkan Minrin tinggal di dorm di saat seperti ini dan bukannya menyendiri di apartement ibunya. Tinggal di dorm yang dihuni delapan orang memang lebih baik di saat seseorang tengah mengancam jiwamu apalagi kondisi fisikmu yang tiba-tiba drop seperti ini, tapi entahlah..Minrin tidak ingin melibatkan semua orang dan dalam hal ini adalah adik-adiknya dan kedua eonnienya.

Dia menghela nafasnya dalam, tangannya menekan password apartement ibunya. Begitu pintu terbuka, Minrin berjalan masuk dengan perlahan. Ingin rasanya dia menjatuhkan tubuhnya di lantai. Tapi kalau itu terjadi, siapa yang akan menolongnya nanti? Dia hanya tinggal sendiri di sini.

Karena itu, yang bisa dia lakukan hanyalah berjalan dengan sekuat tenaga menuju sofa terdekat yang mampu dijangkaunya. Selebihnya dia pun melempar tubuhnya sendiri di atas sofa itu, membiarkan tasnya yang sudah jatuh di lantai. Matanya memejam menahan rasa sakit yang berdenyut di kepalanya. Denyutan ini lebih menyakitkan ketimbang denyutan akibat lemparan kaleng kemarin.

“Arrgh..” Minrin memegangi kepalanya dan kembali mengeluh sakit untuk entah yang keberapa kalinya.

Dia meraih bantalan sofa di sampingnya dan merebahkan diri. Matanya mencoba dia pejamkan untuk meredakan sakit. Biasanya jika seperti ini, tidur adalah obat paling manjur untuknya. Dan itulah yang sedang dia usahakan sekarang ini.

 

                       

 

At Super Junior’s Dorm

19.00 KST

“Yak, Apa yang Kau pikirkan?” Sungmin menyenggol lengan Ryeowook pelan.

Ryeowook yang sejak tadi memang memilih diam hanya menoleh singkat tanpa minat sedikit pun. Terlalu banyak hal yang membuat otaknya berpikir keras. Dan banyak hal itu selalu menyangkut satu nama yang sampai sekarang pun belum bisa dia temui. Sudah berapa hari Ryeowook tidak bertemu Minrin? Dua minggu? Atau hampir tiga minggu sekarang? Yang jelas ulang tahun Kyuhyun kemarin adalah terakhir kalinya dia bertemu dengan gadis itu.

“Ryeowook-ah~!” Sungmin kembali memangilnya. Namun lagi-lagi Ryeowook enggan menanggapi ucapan hyungnya itu.

Baginya memastikan keadaan Minrin itu lebih penting dari pada menanggapi Sungmin yang Ryeowook yakin sebentar lagi akan menceramahinya. Untungnya sekarang Kyuhyun juga masih galau dengan kisah cintanya. Kalau tidak, bukan hanya Sungmin tapi Kyuhyun juga akan ikut-ikutan berceramah.

“Aigoo.. Aku tahu Kau khawatir, tapi tidak harus kan Kau melamun seharian di dorm seperti ini?” Akhirnya Sungmin mengatakannya langsung.

Benar kan? dan sekarang Ryeowook yakin tidak lebih dari lima menit Sungmin akan memberinya nasihat-nasihat, saran atau apapun yang ada di pikirannya.

“Kenapa tidak menemuinya saja eh? Pastikan dia baik-baik saja, kalau Kau sangat mengkhawatirkannya.” Ucap Sungmin lagi, tepat seperti dugaan Ryeowook.

Dia melirik Sungmin. Ya.. itu juga yang ingin Ryeowook lakukan. Tapi apa yang akan dia katakan kalau sudah bertemu dengan Minrin? Satu-satunya bayangan yang dia pikirkan adalah suasana canggung dan dingin. Atau lebih buruk lagi kalau Minrin tidak ingin bicara padanya. Itu memang sedikit berlebihan tapi mengingat sifat keras kepala dan dingin, perasaan yang sulit ditebak milik Shin Minrin, tidak ada yang tidak mungkin.

Sementara pikirannya masih sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan yang agak berlebihan, Sungyeon muncul dari arah dapur dengan beberapa makanan yang katanya dia buat sendiri. Entahlah Ryeowook agak ragu soal tapi juga tidak mau terlalu peduli.

“Oppa, kenapa denganmu?” Magnae dBrinds itu meletakkan piring di atas meja dan duduk di samping Sungmin. Ryeowook melirik sekilas tanpa repot-repot menjawab pertanyaan Yeonie tadi.

“Eiyy, kenapa menatapku seperti itu? aku hanya bertanya..” sergah Yeonie cepat ketika mendapat tatapan tidak suka dari Ryeowook.

Ryeowook mendengus kesal. Astaga~! tidak yang namja tidak yang yeoja, keduanya sama-sama ingin tahu. Dan kengingintahuan milik duo agyeo itu menyebalkan bagi Ryeowook.

“Jangan menganggunya. Dia lagi sensitive..” Sungmin menimpali. Dia mengambil potongan buah dan memakannya.

Benar. Dia sedang sensitive sekarang. Jadi, tidak bisakah duo agyeo ini meninggalkan dirinya saja? Jika bukan karena Sungmin adalah Hyung yang selalu baik pada Ryeowook, sudah dipastikan Ryeowook berteriak di depannya dan menyuruhnya pergi.

“Oppa, mengkhawatirkan Minrin eonnie?” tanya Yeonie kemudian.

Oke, baiklah.. sekarang semua orang tahu Ryeowook sedang mengkhawatirkan yeoja keras kepala bernama Shin Minrin itu. Kali ini Ryeowook menoleh pada Yeonie tapi juga tidak mengatakan apapun.

“Kenapa tidak menemuinya saja? Sekedar informasi saja ya.. eonnie ku itu sedang sakit dan memilih menyendiri di apartementnya. Kami saja diusirnya tadi.”

Sakit?

Ryeowook membulatkan matanya tidak percaya.  “Mworago?” Pekik Ryeowook tertahan. Hampir saja dia berteriak terkejut

“Sudah aku duga, Kau akan bersuara kalau mendengar nama Minrin” Sungmin menyindir halus.

Ryeowook menghiraukan ucapan Sungmin dan kembali focus pada Sunyeon “Apa maksudmu?”

“Tadi, dia pulang lebih dulu dan tidak ikut recording di SBS. Nimi eonnie yang mengantarnya pulang ke apartementnya. Tadi kami ke sana, dan dia bilang dia sudah baikan. Tapi aku masih agak khawatir. Dia punya penyakit maag, dan surat ancaman yang selalu datang setiap pagi pasti juga membuatnya terganggu.”

“Surat ancaman?” Ryeowook menautkan alisnya bingung. Ini pertama kalinya dia mendegar tentang surat ancaman. “Apa itu ada kaitannya dengan pelemparan itu?”

“Aku tidak tahu. Mungkin saja..tapi Min eonnie sama sekali tidak mau cerita soal itu.”

                       

 

21.00 KST

Dia sakit.

Apa dia baik-baik saja?

Semakin memikirkannya, semakin membuat Ryeowook merasa khawatir. Gadis itu jarang sakit. Kalaupun sakit dia selalu bisa menyembunyikan dan sembuh dengan sendirinya. Tapi mengingat cerita Yeonie tadi, Ryeowook meragukan kemampuan gadis itu untuk bersikap baik-baik saja. Apa kejadian yang menimpanya akhir-akhir ini membuat fisiknya drop?

Andai saja dia bisa menjawab pertanyaan yang sedari tadi bergelayut di otaknya. Andai saja dia bisa melihat bagaimana kondisi gadis itu. Tapi..

Ah..entahlah.

Sepertinya jarak jauh yang dia ciptakan justru membuatnya tidak bisa bergerak sesuka hati. Jika bukan karena kalimat bodoh tentang mengakhiri hubungan yang dia ucapkan, saat ini atau mungkin sudah sejak tadi Ryeowook menemui gadis itu. Tapi nyatanya realita sekarang berbeda.

“Kalau aku jadi Kau, aku sudah menemuinya, Wook~!”

Kalimat Sungmin yang tadi sempat dikatakan padanya nyatanya tidak seratus persen mengubah pendirian Ryeowook.  Tidak tahu apa yang sebenarnya menghalangi langkahnya, hanya saja kerja pikiran dan anggota tubuhnya sedang tidak singkron sekarang.

“Pergilah kalau ingin bertemu!”

Ryeowook menoleh pada sumber suara dan melihat Kyuhyun tiba-tiba saja sudah duduk di sampingnya.

“Aku juga akan melakukan itu kalau Ranran sakit.” Ujarnya lagi

“Eh?”  Ryeowook mengernyitkan dahinya. Dari mana Kyuhyun tahu apa yang dia pikirkan?

Kyuhyun menoleh dan menatap Ryeowook serius. “Selagi masih bisa bertemu, kenapa tidak lakukan itu ha? Aku ini sedang menasihatimu.” Kyuhyun kembali menghadap ke depan dan melanjutkan  “Aku pernah mengalami ini sebelumnya, berada diantara dua pilihan antara menemuinya atau tidak.  Dan aku memilih tidak menemuinya. Tapi setelah aku pikir-pikir jika saja saat itu aku tetap menemui Ranran, mungkin saja keadaan sekarang akan berbeda”

Ryeowook terdiam.

“Tapi aku juga tidak bisa menjamin bagaimana reaksi Minrin nanti. Dia itu berbeda dari Ranran. Kau tahu kan.. yang satu periang dan super cerewet dan yang satunya super dingin dan pendiam.” Kyuhyun melanjutkan lagi.

Dan karena sifat dingin dan pendiam milik gadis itulah yang sekarang dikhawatirkan Ryeowook. Pendiam sih boleh-boleh saja, bersikap dingin pun Ryeowook juga tidak akan melarangnya, tapi jika hanya gara-gara mempertahankan sifat seperti itu, Minrin sampai menolak kebaikan membernya tentu bukan hal yang seharusnya terjadi.

“Sebelum Eunhyuk hyung tahu, ku pikir ini kesempatanmu, Wook~!”

Ryeowook menoleh terkejut. Matanya menatap Kyuhyun ingin tahu “Eunhyuk hyung belum tahu Minrin sakit. Kalau dia tahu, aku yakin sudah sejak tadi dia melesat pergi ke apartement Minrin. Dan bukankah Eunhyuk hyung adalah satu-satu nya orang yang berhasil mengurungkan niatmu untuk menemui Minrin pasca pelemparan itu ya?”

Sekarang Ryeowook mengubah cara pandangnya menjadi tidak suka. Sial.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku bicara fakta..!” sergah Kyuhyun seakan tahu apa yang ada di pikiran Ryeowook.

Tarikan nafas lemah lolos dari paru-paru Ryeowook. Dia menyenderkan punggungnya dan kembali sibuk dengan isi pikirannya.

“Menurutmu, tidak apa-apa kalau aku menemuinya?”

 “Waeyo? Itu terserah padamu, aku kan hanya memberi saran. Aku tahu kau masih menyukainya. Terlihat sekali dari sorot matamu.” Kyuhyun melirik Ryeowook melalui ekor matanya.

Benarkah? Benarkah seperti itu?

Memang. Sampai sekarang pun Ryewook tidak bisa menemukan alasan untuk berhenti menyukai Minrin. Tapi sperti ada sesuatu atau mungkin seseorang yang menghentikan langkahnya untuk maju ke depan, menemui gadis itu.

Mungkin Kyuhyun benar. Seseorang yang tanpa dia sadari kehadirannya telah membuat Ryeowook menghentikan langkahnya adalah Eunhyuk.

Eunhyuk yang selalu siap sedia berada di samping Minrin, mengulurkan tangannya, memberinya semangat. Sedangkan Ryeowook? Sejak berpisah, ruang geraknya terhadap gadis itu benar-benar terbatas.

Bodoh..

Seharusnya Ryeowook tidak pernah melepaskan Minrin. Seharusnya dia tetap bertahan, meskipun kenyataannya perasaan gadis itu sempat goyah.

Dan sekarang, saat Ryeowook berada jauh dari Minrin, bukankah kegoyahan perasaan gadis itu semakin nyata? Mungkin saja sekarang Minrin lebih menyukai Eunhyuk yang selalu dianggap kakak dan sahabat terbaiknya.

 

                       

 

At Minrin’s Apartment

21.04 KST

Minrin membuka matanya yang setengah terpejam ketika ponselnya berdering nyaring. Gadis itu meraih ponsel touch nya di meja dengan susah payah. Kemudian masih dengan mata yang menyipit karena menahan rasa denyutan keras di kepalanya, dia mengamati layarnya.  Sebuah pesan masuk dari Ran eonnie.

Sender : Ran eonnie

Kau sudah baikan? Sudah minum obatmu? Kau harus istirahat, Minrin-ya. Kami sangat mengkhawatirkanmu.

Aku akan datang besok pagi-pagi.

Minrin tersenyum kecil sembari mengetikkan kalimat balasan. Dia sangat beruntung membernya masih peduli, padahal jelas tadi sore dia sudah mengusirnya dengan sedikit kasar karena menganggu waktu tidurnya.

Sent to : Ran eonnie

Aku baik-baik saja. Tidak usah khawatir, besok aku akan lebih baik ~~^^

Besok dia berharap keadaannya lebih baik dari saat ini. Jujur saja keadannya sekarang justru lebih buruk dari tadi. Kepalanya memang masih pening, ditambah lagi tubuhnya kedinginan, bahkan selimut dan bed cover yang menutupinya saja masih belum bisa menghilangkan rasa dingin di sekujur tubuhnya. Sepertinya dia benar-benar terkena demam sekarang.

Minrin bangkit dari sofa ruang tamu yang menjadi tempatnya tidur tadi dan duduk di pinggirannya. Matanya sedikit memejam, berusaha menyeimbangkan tubuhnya akibat kunang-kunang dan benda-benda lainnya yang terus saja berputar di atas kepalanya. Dia bangkit dengan perlahan dan berjalan menuju dapur. Dengan tangan yang meraba dinding serta benda apapun yang bisa dia jangkau, akhirnya dia mencapai meja makan.

Dia berhenti sejenak ketika dirasakan sesuatu dia atas kepalanya berputar semakin cepat, membuatnya sedikit terhuyung. Mendadak semuanya kabur dan berubah menjadi abu-abu.

Minrin-ya..!!”

Dan seperti mimpi, bahkan di saat seperti ini suara yang sangat familiar yang sangat dia rindukan keberadaannya tiba-tiba terngiang di kepalanya. Dia tidak tahu apa yang terjadi, yang dia tahu seseorang menangkap tubuhnya yang hampir jatuh karena kehilangan energy untuk tetap seimbang. Sebuah tangan sudah dia rasakan melingkar di pinggangnya. Dan yang dia tahu orang itu menuntunya untuk duduk di sofa yang tadi dia tinggalkan.

“Sebenarnya apa yang Kau pikirkan ha? Menyendiri di saat kondisimu sedang sakit? Apa kau sudah gila?” Suara mencerca dengan nada tinggi merasuki sistem syaraf di telinganya.

Orang itu meyentuh dahi Minrin dan sekali lagi melontarkan kalimat tidak mengerti dengan nada tinggi dan jengkel.

 

                       

 

Ryeowook berdiri di depan apartement bernomor 28. Setelah cukup berdebat dengan pikirannya sendiri, Ryeowook memutuskan datang ke tempat ini. Apartement nomor 28 yang sangat familiar untuknya.

Sudah tiga kali dia memencet tombol apartement itu tapi sama sekali tidak ada respon dari si empunya rumah. Apa gadis itu tidak sedang berada di sini? Tapi Yeonie bilang dia sedang menyendiri di apartement ibunya.

Ryeowook ragu, tanganya sekali lagi terangkat hendak memasukkan password yang sudah sangat dihafalnya. Berharap mungkin saja password apartement ini masih sama seperti dulu.

2180406

Pintu berwarna hitam itu pun terbuka secara otomasi. Password apartement ini tersenyata masih sama seperti itu yang juga menandakan Minrin tidak pernah mengganti password apartementnya sejak mereka berpisah. Diam-diam Ryeowook tersenyum. Kombinasi angka ulang tahunnya dan Minrin ternyata masih menjadi password apartement milik gadis itu yang dibelikan ibunya satu tahun yang lalu.

“Kenapa dia tidak mengganti passwordnya?”  Mungkin saja kan Ryeowook akan menyelinap ke apartement ini tanpa sepengetahuan Minrin. Ya.. dulu sih tidak masalah, tapi sekarang? Tidak mungkin kan Ryeowook melakukan itu sementara Minrin bukan lagi kekasih atau pun calon istrinya :p

Sampai di dalam, Ryeowook mengamati seluruh isi ruangan. Sedikit berantakan di bagian ruang tamu. Tas terlihat  tergeletak di lantai begitu saja.

“Di mana dia?”

Ryeowook berjalan ke dapur dan betapa terkejutnya dia ketika  mendapati yeoja yang dicarinya berdiri dengan tangan menyangga di pinggiran meja.

“Minrin-ya..!!”

Gadis itu tidak menoleh. Tapi justru terhuyung hampir jatuh. Dengan cepat Ryeowook berlari dan menangkap tubuhnya. Wajah Minrin terlihat pucat, benar-benar pucat. Bahkan mungkin ini pertama kalinya Ryeowook melihat Minrin dalam keadaan pucat seperti ini. Dia rasakan suhu panas yang keluar dari tubuh Minrin.

Ryeowook memapah Minrin dan menyuruhnya duduk di sofa.

“Sebenarnya apa yang Kau pikirkan ha? Menyendiri di saat kondisimu sedang sakit? Apa kau sudah gila?”

Dia khawatir dengan kondisi Minrin. Tapi entah kenapa dia justru ingin memarahinya. Tangannya bergerak menyentuh dahi gadis itu dan dirasakannya suhu tubuh Minrin yang panas.

“Kau demam. Apa Kau sudah minum obat?” tanya Ryeowook lagi masih dengan nada tinggi yang khawatir.

“Apa yang kau lakukan di sini?” ujar Minrin lemah.

“Jangan bertanya~!!, lebih baik kau tiduran. Bagaimana mungkin kau sakit dan justru tinggal sendiri di sini. Kalau kau kenapa-kenapa bagaimana?” Ryeowook kembali mencercanya. Bukan karena dia marah, tapi dia khawatir. “Aku akan ambil obat untukmu.” Setelah itu Ryeowook pun berdiri dan meninggalkan Minrin.

Minrin tidak merespon sama sekali dan memilih membaringkan tubuhnya selepas Ryeowook pergi.

Kim Ryeowook.

Ya..orang itulah yang tadi dia lihat. Meskipun agak tidak percaya, tapi Minrin berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia memang Ryeowook. Orang yang sudah tiga minggu ini tidak dia temui, atau sengaja tidak ditemui.

Tapi..

Kenapa dia ada di sini?

Apa Ryeowook mengkhawatirkannya? Karena itu dia datang. Kenapa? Bukankah selama tiga minggu ini dia juga tidak berusaha menemui Minrin?

Ah sudahlah, lagi pula ini juga bukan waktu yang tepat untuk memikirkan hal itu. Kepalanya saja tidak sanggup untuk menerima serangan sakit ini, apalagi memikirkan hal yang nyatanya basih agak kabur untuknya.

“Minumlah..” Minrin hanya menurut ketika Ryeowook menyuruhnya bangun dan bersandar di bantalan yang entah sejak kapan ada di sana.

Obat berbentuk tablet berwarna putih sekarang berpindah di rongga mulutnya. Dia menerima air putih yang dibawa Ryeowook dan meminumnya.

“Kenapa kau tidak tinggal dengan member lainnya? Bukankah mereka bisa menjagamu?”

Dia kembali menempelkan tangannya di dahi Minrin untuk mengecek suhu tubuhnya. Masih panas. Tapi dengan cepat Minrin menyingkirkan tangan itu. Raut wajahnya yang semula datar menjadi semakin datar.

“Hentikan~! ” ucapnya sama datarnya yang langsung membuat Ryeowook terhenyak.

Tangan Ryeowook perlahan di turunkannya. Dia terdiam.

“Aku tidak membutuhkan belas kasihan semua orang.” Ujarnya datar. “Kenapa Kau di sini?” lanjutnya. Sepertinya penglihatannya sekarang sudah lebih baik. Dia meyakini namja yang duduk di sampingnya dan tengah menatapnya tidak percaya memang benar-benar Ryeowook.

Ryeowook masih diam.

Sepertinya apa yang dia khawatirkan terjadi juga. Gadis ini sepertinya tidak menyukai kehadirannya yang tiba-tiba di apartementnya.

Ryeowook menghela nafasnya dengan pelan, terlihat sekali menimang-nimang jawaban apa yang seharusnya dia berikan. “Yeonie bilang kau sakit. Aku hanya ingin memastikan kondisimu.” Dia memperhatikan Minrin dengan dalam.

Alih-alih meluapkan perasaan marah yang entah sejak kapan bergelayut di hati Minrin, dia justru diam sembari memandang Ryeowook. Sama sekali tidak bisa dipungkiri kalau sebenarnya Minrin sangat merindukan namja ini. Sangat rindu, dan mungkin perasaan itulah yang juga sedikit berperan menurunkan kondisi fisiknya.

“Aku tidak peduli Kau akan marah padaku atau tidak. Kalau ingin marah, bicara saja besok. Sekarang Kau harus tidur.” Ryeowook berdiri dan mengambil gelas dan membawanya ke dapur.

Apa yang baru saja terjadi?

Sepertinya Minrin kesulitan mencerna setiap kalimat yang diucapkan Ryeowook tadi. Terlalu absurd atau sebenarnya jelas tapi dia yang tidak paham.

Minrin memperhatikannya lekat. Tanpa berpikir untuk mendebat ucapan Ryeowook, Minrin memilih mengambil bad covernya dan membawanya ke kamarnya. Ryeowook ingin dia tidur bukan? Baiklah itu lah yang akan Minrin lakukan.

Tidak tahu kenapa, tapi ada perasaan kesal dalam hatinya. Dia marah pada namja itu. Meskipun Minrin sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba dia bisa semarah ini. Satu-satunya alasan yang mampu dia pikirkan adalah, Ryeowook datang seenaknya ke apartementnya, dan justru memarahinya seperti tadi. Mengatakan kalau merasa khawatir pada Minrin, tapi dulu terlihat biasa saja saat semua orang sibuk mengkhawatirkan kondisi mental dan fisiknya setelah pelemparan.  Atau mungkin perasaan marah ini juga akibat dari perpisahan mereka?

Entahlah..

 

                       

 

Ryeowook memandangi wajah itu dalam. Deru nafas teratur dan ekspresi polos seperti malaikat menghiasi wajah Minrin. Pemandangan ini berbeda jauh dengan tadi, ketika Minrin menatapnya dengan wajah datar dan dengan kilatan amarah.

“Kau harus baik-baik saja, Minrin-ya..” Ryeowook mengangkat tangannya dan menyentuh kepala Minrin, mengelusnya lembut. Suhu tubuhnya sudah turun dan itu melegakan untuk Ryeowook.

Dua jam berlalu dan sekarang sudah menunjukkan pukul dua dini hari, tapi Ryeowook masih terjaga. Malam ini dia memang memutuskan menemani Minrin. Gadis itu terlalu keras kepala bahkan di saat sakit seperti ini. Dan Ryeowook tidak ingin sifat keras kepalanya itu mendadak muncul.

Sekali lagi Ryeowook memperhatikan Minrin, menyalurkan semua perasaan rindunya yang mendadak menyelimuti. Sesaat dia menyesali kebodohan ketika melepaskan gadis ini dari hidupnya. Dan di saat Minrin membutuhkan seseorang untuk membuatnya tersenyum, meringankan rasa sakitnya, Ryeowook baru menyadarinya kalau dia ingin melakukan semua itu untuk Minrin. Bukan Eunhyuk tapi dirinya.

 

                       

 

“Jika aku ingin Kau kembali padaku, apa Kau mau melakukannya?” Ryeowook bertanya pelan. Matanya menatap dalam.

Minrin diam di tempatnya tanpa sanggup memikirkan jawaban dari pertanyaan itu. Sementara penglihatannya mulai terusik dengan kehadiran Eunhyuk yang berdiri di belakang Ryeowook. Namja itu tersenyum hangat pada nya.

“Apa artinya diriku untukmu?” tanya Minrin kemudian. Dia beralih menatap Ryeowook.

Sekarang Ryeowook yang diam mendengar pertanyaan itu. Apa harus dia menjawab nya? padahal jelas Ryeowook meminta Minrin tetap berada di sisinya dengan serius. Ataukah Minrin meragukan keseriusannya? Atau hatinya memang sudah berpaling dari Ryeowook?

“Kalau Kau mencintaiku, bukankah dulu Kau seharusnya tidak melepaskan tanganku? Maafkan aku, tapi aku tidak bisa melakukannya.” Minrin kembali memperhatikan Eunhyuk yang masih berdiri di belakang Ryeowook. “Dia..menungguku.” lanjutnya lagi. Setelah itu Minrin pun berlalu melewati Ryeowook tanpa sedikit pun memperhatikan namja itu.

Tapi belum sempat Minrin melangkah lebih jauh, Ryeowook menahan langkahnya, menarik tangannya. “Kau bilang Eunhyuk hyung hanyalah sahabat untukmu. Lalu..”

“Lalu Kau juga pernah bilang tidak pernah ada persahabatn antara laki-laki dan perempuan.” Minrin memotong kata-kata Ryeowook tanpa sedikitpun menoleh ke arahnya. “Lepaskan tanganku..” ucap Minrin kemudian.

Hampir saja Ryeowook melepaskan genggaman tangannya di pergelangan Minrin. Tapi kemudian dia justru semakin erat menggegam tangan yang mendadak menjadi dingin itu. “Aku tidak akan melepaskannya..”

 

                       

 

In the Morning

05.00 AM

Di luar masih agak gelap, dan udara juga masih dingin ketika Minrin bangun dari tidurnya. Sebuah tangan menggenggam erat tangan kirinya. Seperti dalam mimpinya semalam ketika seseorang menarik tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Dia menoleh dan mendapati Ryeowook tertidur dengan kepala menelungkup di tempat tidur sementara tubuhnya duduk di lantai.

Rasanya mimpi yang baru dia alami seperti nyata.  Dalam mimpi itu Ryeowook bahkan meminta Minrin tetap berada di sisinya.

Minrin tersenyum pelan. Dia bangun dengan perlahan dan melepaskan genggaman tangan Ryeowook dari tangannya. “Dasar bodoh..!” Gumamnya pelan. Dia bergerak menyentuh rambut namja itu dengan perlahan.

“Bagaimana mungkin Kau bisa tidur seperti ini ha?”

Tangannya bergerak pelan, memainkan ujung rambut Ryeowook. Dan tiba-tiba saja Ia merasa bersalah sekarang.

“Kalau bukan karenamu, aku juga tidak akan ketiduran di sini.” Ucap Ryeowook kemudian.

Buru-buru Minrin menyingkirkan  tangannya dari kepala Ryeowook begitu menyadari namja itu sudah bangun. “Kenapa berhenti? Kau takut aku mempergokimu sedang memperhatikanku ya?”

“Tidak.” sergah Minrin cepat. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain.

Sial. Kenapa dia tiba-tiba jadi salah tingkah begini?\

Ryeowook merentangan tangannya ke atas. Tidur dengan posisi duduk memang tidak mengenakkan. Kemudian Dia memperhatikan Minrin dan tersenyum kecil.

“Kau sudah baikan?” sekarang Ryeowook menyentuh dahi Minrin “Sudah tidak panas. Syukurlah..!”

Debaran jantung Minrin semakin terasa cepat ketika tangan Ryeowook menyentuh dahinya. Ah.. kenapa dengan hatinya?

“Apa kau tidur di sini semalaman?” tanya Minrin kemudian, berusaha mengalihkan suasana manis di pagi hari ini. Atau sebenarnya berusaha mengalihkan debaran cepat di dadanya.

Ryeowook tersenyum dan mengangguk pelan. “Tenang saja. Aku tidak melakukan hal buruk padamu.” Ujarnya.

Minrin mendengus kesal. Bukan itu maksudnya. Dia tahu Ryeowook tidak akan melakukan hal seperti itu. Maksudnya adalah, jika benar Ryeowook menemani Minrin semalam, bukankah itu berarti Ryeowook sangat mengkhawatirkan Minrin?

“Bangunlah, aku akan buatkan sesuatu untukmu..” lanjutnya kemudian.

Tanpa menunggu jawaban dari Minrin, Ryewook sudah bangkit dari tempat duduknya dan berjalan keluar. Sedangkan Minrin kembali memperhatikannya dari belakang dan seulas senyum kecil mengembang begitu saja di bibirnya.

Kenyataan bahwa Ryeowook menungguinya semalaman, benar-benar membuat Minrin merasakan lagi perasaan aneh yang menjungkir balikkan isi perutnya. Rasanya sama persis ketika Minrin pertama kali jatuh cinta pada Ryeowook.

                       

 

05.45 AM

Lagi-lagi kebiasaannya memperhatikan Ryeowook tidak hilang. Kali ini Minrin kembali memperhatikan Ryeowook yang sibuk di dapurnya. Entahlah apa yang sedang dilakukannya atau makanan apa yang tengah disiapkannya, Minrin tidak terlalu memikirkannya. Matanya terlalu focus pada sosoknya.

“Aku tahu Kau tidak suka bubur, tapi untuk kali ini Kau harus memakannya.” Akhirnya setelah sekian menit dapurnya diacak-acak, Ryeowook pun meletakkan semangkuk bubur di atas meja.

“Bubur?”

Minrin melongo menatap makanan itu dengan tidak suka. Kemudian dia beralih pada Ryeowook. “Aku tidak mau.” Ucapnya

“Kau ingin sakit lagi? Jangan membantahku kali ini nona Shin. Saat ini Kau harus mendengarkan ucapanku.”

Minrin merengut kesal. “Kau yang ingin aku sakit lagi karena memakan makanan itu.” gerutunya.

Tidakkah Ryeowook tahu Minrin tidak suka dengan bubur dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Lagi pula kenapa dia harus makan bubur? Kondisinya sudah sehat sekarang, dia tidak sakit, dan dia bisa makan nasi. “Kenapa Kau tidak memberiku nasi saja?”

“Kau ini baru sembuh dari sakit. Jangan memprotes~!”

“….”

“Aku tahu seleramu, Minrin-ya. Nanti kalau Kau benar-benar sembuh, aku akan membuatkan makanan kesukaanmu.” Ryeowook melanjutkan.

Kali ini Minrin tidak mendebat. Mendadak pikirannya menjadi tidak focus.  Pernyataan itu seperti tamparan semu untuknya. Dia tidak siap.

Kalimat itu memang terdengar sederhana, biasa saja dan sama sekali tidak ada yang menarik. Tapi entah kenapa Minrin merasa sedih sekaligus senang mendengarnya. Bagaimanapun Ryeowook sangat mengerti dirinya. Sampai sekarang pun Ryeowook masih tahu dan mengerti bagaimana selera makan Minrin. Apa yang tidak disukai dan apa yang disukai.

 “Haruskah aku menyuapimu agar kau mau makan?”

“Eh?” Minrin mendongakkan kepalanya cepat “ Tidak.. tidak perlu. Aku bisa makan sendiri.” Ia pun Buru-buru mengambil sendok di samping mangkok berisi bubur. Matanya masih lekat menatap bubur. Benda lembek yang sama sekali tidak disukai Minrin.

“Kau tidak akan mati karena makan bubur, Minrin-ya.” Ucap Ryeowook lagi. gemas sendiri karena kelakukan Minrin yang dari tadi hanya menatap isi mangkoknya.

Minrin lagi-lagi mendengus kesal. Dengan perlahan dia memasukkan sesendok ke mulutnya dan mencoba mencernanya di dalam rongga mulut. Baiklah ini tidak buruk. Setidaknya lebih baik merasakan sensasi bubur dengan tangannya sendiri dari pada harus disuapi Ryeowook, atau dia akan senam jantung lagi di pagi hari.

…..

“Kenapa Kau melakukan ini?” tanya minrin tiba-tiba ketika isi di mangkoknya tinggal separo.

Dia beralih pada Ryeowook yang juga tengah menikmati sarapan paginya. “Kau datang ke mari, menjagaku semalaman, membuatkanku bubur. Kenapa kau melakukan itu?” ulangnya.

Ryeowook menghentikan aktifitasnya dan beralih menatap Minrin yang duduk di depannnya. “Karena aku mengkhawatirkanmu.”

“Eh?”

“Kau tidak mendengarku? Aku bilang aku mengkhawatirkanmu. Sangat khawatir sampai-sampai Sungmin hyung dan Kyuhyun terus saja berceramah di depanku.”

Benarkah seperti itu?

Ya ampun kenapa tiba-tiba jantungnya berdetak terlalu cepat begini? Dan hatinya.. hatinya seperti melayang bersama udara.

“Eunhyuk oppa,.. apa dia tahu Kau di sini?” tanya Minrin kemudian dengan ragu

Ryeowook langsung mendongakkan kepalanya mendengar pertanyaan itu. “Waeyo? Kenapa Kau bertanya tentang hyung?” Kalau bukan karena Ryeowook menahan amarahnya, dia sudah bertanya dengan nada tinggi.

Tidak. Dia tidak sepantasnya merasa marah dengan pertanyaan itu.

“Hanya bertanya saja. Akhir-akhir ini dia terlalu protective padaku. Hampir setiap hari menelepon dan mengirim pesan. Dan saat kondisiku seperti ini, dia bahkan tidak muncul. Apa dia tidak tahu aku sakit?”

Eunhyuk tidak tahu, dan Ryeowook juga tidak berencana memberi tahunya.

“Aku tidak tahu. Dia sedang sibuk akhir-akhir ini.” Ryeowook menjawabnya dengan datar. Matanya kembali focus pada makanan di depannya, tapi pikirannya melayang entah kemana.

“Ah..begitu rupanya.” Minrin mengangguk-angguk dan kembali menyendok buburnya.

Keduanya diam kemudian. Suasana mendadak menjadi agak canggung. Untungnya suara bel di luar mengurangi keteganngan dan kecanggungan yang tercipta.

Ting tong..

“Mungkin itu Ran eonnie.” Minrin lalu beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju pintu depan. Dia ingat leader nya itu akan datang berkunjung pagi ini. Tapi dia tidak tahu kalau Ranran akan datang sepagi ini.

Begitu sampai di depan pintu, Minrin langsung membukanya tanpa mengecek terlebih dahulu di monitor.

Kosong. Tidak ada seorang pun di luar. Minrin melongok ke kanan dan kiri, tapi koridor di depannya benar-benar kosong. Tidak ada satupun yang berjalan di sana. Kepalanya menunuduk dan dilihatnya sebuah bungkusan tergelatk di sana. Dia ragu mengambil kotak berwarna putih itu. Perasaannya menjadi tidak menentu. Ketakutannya tiba-tiba menyelimuti.

“Apa dia datang sendiri?” Ryeowook berjalan dari arah dapur dan menghampiri Minrin. “Oh..bukan Ranran yang datang?” tanyanya lagi.

“Bukan. Tapi seseorang datang mengirimkan sesuatu.” Minrin kembali menutup pintunya dan kembali masuk.  Dia duduk di sofa dan meletakkan kotak itu di atas meja.

Ryeowook memperhatikan Minrin dan kotak itu secara bergantian. “Siapa yang mengirimnya?” tanyanya. Dia menghampiri Minrin dan mengambil kotak itu. “Si pelempar itu? atau orang yang setiap pagi mengirim pesan ancaman padamu?” Ryeowook menebaknya. Dia sudah tahu kalau kotak ini mungkin berhubungan dengan orang itu, apalagi ketika melihat raut khawatir dan ketakutan yang diperlihatkan Minrin.

Dia membuka kotak itu dan menemukan sebuah boneka Barbie dengan kepala terlepas. Wajah boneka itu memiliki bercak berwarna merah. Minrin berdiri dari tempat duduknya dan melihat isi kotak itu. dan seketika itu kakinya menjadi lemas. “Sebaiknya aku membuangnya” Ryeowook langsung menutup kotak itu dan langsung membuangnya di tempat sampah.

Minrin terdiam di tempatnya. Air matanya meleleh pelan di kedua pipinya. Sesaat kemudian dia sudah terisak. Tangannya menutupi wajahnya dan dia menjadi leluasa untuk menangis.

“Jangan dipikirkan.” Ryeowook sudah menghampiri Minrin dan berlutut di depan Minrin. Tangannya mengelus kepala Minrin dan kemudian dia merengkuhnya dalam pelukannya.

“Aku ada di sini..” sekali lagi Ryeowook menenangkan Minrin, semakin erat memeluknya. Dirasakannya air mata Minrin sudah membasahi kemejanya. Tapi tidak diperdulikannya.

Setelah hampir lima menit mereka berpelukan, Minrin akhirnya melepaskan diri dari pelukan Ryeowook. Dia menghampus sisa-sisa air mata di pipinya dan sejenak kemudian dia tersenyum. “Aku tidak apa-apa.” Ucapnya ringan.

Tapi sayangnya Ryeowook terlalu mengerti gadis ini. Dia tahu kapan Minrin baik-baik saja dan dia juga tahu kapan Minrin tidak baik-baik saja. Dan saat ini Ryeowook yakin gadis ini masih belum baik-baik saja.

Ryeowook memperhatikan Minrin lekat dan dilihatnya setetes air mata kembali membasahi pipinya. Ryeowook menghampus air mata itu dan meletakkan tangannya di sana. “Jangan pernah berbohong pada dirimu sendiri, Minrin-ya. Sampai kapan kau akan seperti ini?”

 “Kau boleh marah karena surat ancaman itu, kau boleh menangis jika itu bisa meredakan emosimu. Atau kau juga boleh merasa cemas dan ketakutan. Tidak ada yang melarangnya.” Ryeowook melanjutkan.

Dia beralih menggenggam tangan Minrin. Tangan itu terasa dingin. “Aku memang menyuruhmu untuk baik-baik saja. Tapi kalau kau memang sedang tidak merasa baik, Kau boleh meluapkannya.”

Minrin terdiam. Dia sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap Ryeowook. Sebuah senyum menghiasi bibirnya setelah mendengar kalimat itu. Rasanya kalimat Ryeowook barusan berhasil membuat hatinya menjadi hangat kembali.

“Gomawo..” ucapnya lirih.

Ryeowook tersenyum. Rasanya melegakan.

 

 

Aku akan di sini. Tepat di sini.

Jika kau ingin menangis, menangislah di depanku

Jika kau marah, kau bisa marah padaku

Jika kau merasa khawatir, aku akan datang padamu

Jadi, mulai sekarang bisakah kau seperti itu lagi?

 

 Huwaa..!!! tidak tahu kenapa bisa seperti ini akhirnya. masih gantung kan? baikan atau tidak? lihat aja di ff selanjutnya. 😀 endingnya kurang memuaskan kah? maaf ya.. saya emang tidak pandai bikin ending. -___- 

gomapta yang sudah mau baca..>< 

Advertisements

6 thoughts on “(Fanfiction) #3 Break Up ?

    • *puk2 Minrin* -__-
      eunhyuk bukan pengganggu kok, kan dia dah punya hyehyo 😀
      mungkin belum banyak ceritanya di sini, tp eunhyuk sama minrin itu sahabatn. dan Eunhyuk sendiri dah punya pacar, dia adalah park hyehyo ^^
      gamsahamnida sudah baca ya .. ~~><

  1. Tapi tetep aja itu hyuk salah satu alasan wook mutusin minrin kan..
    Hyuk.nya terlalu over protect sama minrin sih

  2. Iya eonn gantung ending nya… Tapi gpp deh. Seenggak nya tau kalo si wookie masih perhatian sama minrin. Ulah sasaeng fans lagi ya ?? haish jinja… Sabar ya minrin. hehehe… Ok keep writing and fighting eonni 🙂

  3. oppa orang yang kebanyakan mikir sendiri sih ㅋㅋㅋㅋ
    sebenarnya karakter oppa di ff dan aslinya terlihat mirip…
    ceritanya bagus sekali♡
    히히히히 saya akan mulai maraton sepertinya

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s