(Fanfiction) -Prolog- The Choosen Princess

poster 3 2

Title     : The Choosen Princess

Author : Han Yerin

Genre : fantasy, family, friendship, romance, action(?)

Length : chaptered

Rated  : 13+ (maybe)

Cast     : will revealed later *too many cast will be present in this story*

Disclaimer :

Semua cast yang hadir milik Tuhan, tak terkecuali baik BB / GB / maupun OC yang bakalan muncul^^

***

Annyeong chingudeul. Author kembali dengan ff abal-abal ini *eh* 😀 Disini author bikin prolog dan mulai mengungkapkan satu – persatu cast-nya J so, CHECK THIS OUT!!!^^

***

Tanpa disadari oleh para manusia, dunia yang mereka ketahui selalu diselimuti cahaya di pagi hari dan disinari cahaya rembulan di malam hari ternyata mempunyai sisi gelap tersendiri. Jauh di masa lalu, sejarah kelam pernah terjadi, dimana manusia juga tidak menyadarinya. Dunia yang mereka tempati sejak dulu terbagi dua….

Dunia atas………

dan

……Dunia kegelapan

 

***T_C_P***

Percayakah kalian bahwa di dunia ini ada makhluk selain manusia?

Makhluk abadi?

Percayakah kalian dengan adanya makhluk penghisap darah, manusia srigala, dan semacamnya?

Tapi, percaya atau tidak, mereka nyata, mereka hidup berbaur dengan kita…tanpa kita sadari…

***T_C_P***

Author POV

Gadis kecil itu terlihat mengayun-ayunkan kakinya yang menggantung di sofa dengan malas. Sedari tadi matanya tak pernah lepas menatap pintu ruangannya yang tertutup rapat seakan menunggu seseorang yang akan muncul dari balik pintu itu.

“Eomma, kapan oppadeul pulang?” tanya gadis kacil itu pada sang eomma. ia benar-benar terlihat kesal karena menanti sesuatu yang tak jelas kapan datangnya.

Eomma dan appa-nya yang duduk diseberangnya hanya tersenyum tipis, “Sebentar lagi mereka pulang chagi,” ujar sang eomma seraya melanjutkan pekerjaan menyulamnya. Gadil kecil itu mendengus pelan pertanda ia tidak puas akan jawaban pertanyaannya tadi. Akhirnya ia memilih mengamati ruangan yang sejak kecil ia tempati daripada menatap pintu tertutup itu.

Ia baru sadar, jika ruangan yang selama ini ia tempati sejak kecil hanya mempunyai satu pintu penghubung ke dunia luar. Tidak ada jendela ataupun pintu lain yang menghubungkannya dengan dunia luar. Hanya dinding tebal dan berbagai macam lukisan bergaya victorian dan perabotan seadanya. Ia tak pernah tau bagaimana dunia atas itu, bagaimana bentuk bunga, awan, matahari, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan dunia atas.

Selama ini ia mengetahui tentang dunia atas hanya berdasarkan cerita-cerita oppadeulnya jika mereka sedang berpergian di dunia atas. Mengenalkannya dengan benda-benda yang belum pernah ia lihat ataupun sentuh. Miris, tapi hanya itu yang bisa ia lakukan. Sebesar apaupn keinginannya untuk melihat dunia atas, tak sedikitpun kedua orang tuanya membiarkannya keluar dari ruangannya.

‘Ceklek’ suara pintu terbuka membuat gadis kecil itu menoleh dengan cepat ke arah pintu. “Oppa!!!” serunya dengan mata berbinar. Tanpa dikomando, ia melompat turun dari sofa, berlari ke pelukan oppa-nya yang telah pulang.

“Woah, annyeong uri princess,” ujar salah seorang namja disana dengan riang. Gadis kecil itu hanya bisa tersenyum lebar melihat ketiga oppa-nya telah kembali.

***T_C_P***

“Hae-ya, apa yang sedang kau lakukan disini?” Donghae yang merasa terpanggil menoleh ke belakangnya. Tampak seorang namja yang mempunyai tinggi tidak beda jauh darinya.

“Sung…Sungmin hyung?” Donghae tergagap melihat hyungnya sudah berdiri di depan pintu sebuah ruangan, ruangan yang selama ini ditempati dongsaeng mereka sejak kecil.

“Sekali lagi kutanya Hae, apa yang kau lakukan di ruangan Soorin?” ujar namja itu seraya melongok apa yang terjadi di balik tubuh Donghae.

“Hyung, Soorin…Soorin tiba-tiba saja tidak sadarkan seperti ini setelah aku memberinya ‘makan’,” ujar Donghae gugup. Ia sendiri tidak mengerti dengan apa yang terjadi pada dongsaengnya. Ia sendiri pun merasa kaget, terlebih dengan apa yang terjadi pada Soorin sebelum gadis kecil itu akhirnya terjatuh tidak sadarkan diri.

“Mwo? Bagaimana bisa?” tuntut Sungmin sembari menggendong tubuh gadis kecil itu.

“Ada apa ini? Apa yang terjadi disini?” sebuah suara menginterupsi percakapan mereka. Kini di hadapan mereka berdiri seorang namja yang tak lain adalah putra tertua dalam keluarga mereka, Lee Jongwoon. Donghae yang tadinya hendak menjelaskan kejadian yang menimpa Soorin sebelum gadis itu tidak sadarkan diri tiba-tiba saja nyalinya menjadi ciut melihat hyung tertuanya berdiri tegap di hadapannya. Bagaimanapun juga, ia selalu saja seperti itu jika berhadapan dengan hyung tertuanya, nyalinya pasti ciut jika berhadapan dengan hyung-nya yang satu ini. Ia selalu merasa terintimdasi dengan aura yang menguar dari Jongwoon. Terlalu pekat dan gelap.

“Aku tanya, apa yang terjadi disini?” ulang Jongwoon dingin.

Sungmin yang merasa tidak mengetahui apapun hanya mengedikan bahunya, “Tanyakan saja pada Donghae, hyung,” ujarnya malas. Ia sudah terbiasa menghadapi hyungnya seperti itu, tidak seperti Donghae yang memilih untuk menghindar sejauh mungkin dari Jongwoon mengingat aura Jongwoon yang begitu kuat. Donghae yang mendengar percakapan Sungmin dan Jongwoon hanya bisa menundukkan kepalanya ketika ia merasa jika hyung-nya itu sedang menatapnya dengan tajam.

“Hahhhhh… Arraseo, kau tak perlu bercerita Hae-ya. aku sudah ‘melihat’nya,” Jongwoon seakan sudah tau jika reaksi dongsaengnya seperti itu. “Minnie, berikan Soorin padaku,” pinta Jongwoon. Sungmin menurut dan meletakkan Soorin yang sebelumnya berada di gendongannya ke gendongan hyung-nya. Dalam sekejap, Jongwoon dan Soorin menghilang dari hadapan mereka.

“Kajja ke kamar, kau butuh istirahat. Kau terlihat tertekan Hae-ya,” ujar Sungmin seraya menarik tangan Donghae. Ia hanya menurut pada hyung-nya itu. Benar. Yang ia butuhkan sekarang adalah istirahat. Ia benar-benar merasa tertekan dan shock dengan kejadian yang menimpa Soorin.

***T_C_P***

“Kurasa waktunya sebentar lagi eommoni. Lambat laun mereka pasti segera mengetahui kenyataan ini bahwa Soorin….”

“Cukup Jongwoon-ah. Jangan dilanjutkan. Kau  tau  hal itu sangat membahayakannya jika kau mengucapkannya.”

 “Tapi abeoji, jika seperti ini terus kita juga menyakiti Soorin. Tak tahukan kau betapa menderitanya ia karena tidak mengetahui apapun tentang dunia atas. Dia butuh keluar, dia…”

“Cukup!” teriakan itu berhasil menghentikan perdebatan antara ayah dan anak di ruangan itu. Wanita itu kelihatan menahan emosinya sedari tadi sejak perdebatan antara ayah dan anak itu berlangsung. Ia tak habis pikir di saat genting seperti ini sempat-sempatnya suami dan putra sulungnya itu berdebat.

“Ini bukan waktunya berdebat dengan putramu yeobo. Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana cara melindungi keberadaan Soorin dari senat dan pihak kerajaan.” Lirih wanita itu. Ia sudah cukup lelah menghadapi kenyataan yang menjadi takdir putri kecilnya. Yang ia inginkan hanya putri kecilnya hidup bahagia tanpa terusik oleh siapapun dan kekuasaaan siapapun. Ia ingin putrinya hidup bebas tanpa perlu bersembunyi seperti saat ini. Terkadang ia mengutuk kehidupan keluarganya yang hidup dalam garis keturunan terkutuk.

“Aku akan  melakukannya yeobo. Aku akan  melakukan penyegelan itu padanya,” putus wanita itu memecahkan keheningan yang sempat terjadi sesaat.

“MWO??!! Kau bilang apa? Tidak! Aku tidak akan mengijinkanmu melakukannya!” sergah pria disampingnya. Ia tahu senekat apa istrinya itu. Apa yang ia ucapkan pasti akan ia lakukan. Tapi ia takkan membiarkan siapaun memporak-porandakan keluarganya. Apaun yang terjadi ia akan berusaha melindungi keluarganya, terutama putrinya yang beada di posisi sulit.

“Aku mohon yeobo, aku hanya ingin Soorin bahagia, aku hanya ingin ia bebas menikmati hidupnya tanpa perlu bersembunyi seperti ini.”

“Kau kira aku tidak menginginkan hal itu juga?! Sungguh! Demi apapun! Aku juga ingin putriku bahagia, Hyo-ya. aku juga ingin kita hidup normal tanpa rasa takut seperti ini. Aku melakukan ini semua pada Soorin semata-mata aku ingin melindunginya, melindungi putri kecil kita agar tetap berada disisi kita.” Kalah. Ya, pria itu kalah. Sepasang anak sungai mengalir begitu saja di sudut matanya. Sesuatu hal yang taboo dilakukan oleh purebloods, menangis. Tapi pria itu tidak merasa malu, ia tahu istrinya juga sama halnya dengan dirinya, hancur.

Merasa diabaikan, Jongwoon memilih untuk diam. Ia sadar bahwa orang tua nya sama-sama membenci takdir keluarga mereka. Bahkan ia jauh membenci dirinya sendiri karena suatu hal. Tak pernah terbayangkan olehnya bahwa masalah takdir yang keluarganya hadapi begitu pelik. Keheningan mulai menyelimuti ruangan itu lagi.

“Baiklah, jika itu yang kau inginkan. Tapi tidak sekarang, aku masih bisa menjaga kalian semua,” putus pria itu. Ia tahu, ia akan kalah dari istrinya.

“Jonghyun-ah…kau…,” Pria bernama Jonghyun itu hanya bisa tersenyum tipis kepada istrinya. “Gomawo…gomawo yeobo,” isak wanita itu. Ia terlalu bahagia suaminya mengijinkannya.

“Jongwoon-ah, sebisa mungkin kau menjaga Donghae, terutama dengan pikirannya, appa tak ingin senat ataupun pihak kerajaan mengetahui hal ini melalui pikiran Donghae. Sebisa mungkin kau menutup pikirannya, Jongwoon-ah.”

“Ne abeoji. Arraseo.”

“Kau boleh keluar sekarang.”

 “Ne.”

***T_C_P***

Ketiga namja itu berjalan tergesa-gesa di sepanjang lorong mansion mereka. Tidak. Lebih tepatnya hanya dua orang yang tergesa-gesa. Jongwoon dan Sungmin begitu tergesa-gesa seraya menyeret Donghae yang kebingungan.

“Hyungdeul, sebenarnya ada apa ini?”

“….”

“Sungmin hyung?”

“….”

“Jongwoon hyung?”

“Diamlah Hae-ya. kau ikut saja. Argh! Kenapa aku bisa lengah tadi.”

Donghae yang semakin bingung memilih diam walaupun dia sangat penasaran. Jelas sesuatu telah terjadi dan itu semua menyangkut dirinya.

‘Brak’

Salah satu pintu di mansion itu terhempas dengan keras setelah Jongwoon membukanya dengan emosi.

“Ada apa ini? Jongwoon-ah, apa yang terjadi? Kenapa kau setegang itu?”

“Abeoji, mianhae. Aku lengah. Klan Kim sudah mengetahui perihal Soorin.”

“……..”

“Abeoji?” ulang Sungmin.

“Yeobo, apa yang harus kita lakukan sekarang? Cepat atau lambat mereka akan datang,” desak Hyorin.

‘Duarrr’

“Tch, tidak kusangka secepat ini mereka datang.”

“Yeobo…”

“Kalian bertiga, cepat ke kamar Soorin. Lindungi dia.”

“Ne abeoji.”

Ketiga namja itu segera meninggalkan kedua orang tua mereka dengan bertanya-tanya.

“Sungmin hyung, sebenarnya ada apa ini?” bingung Donghae. Sungmin hanya menggelengkan kepalanya pertanda ia tak mengetahui apapun. Donghae melirik Jongwoon, namun ia urungkan pertanyaan yang sedari tadi berkecamuk dalam pikirannya.

***T_C_P***

“Halo Jonghyun-ssi, Hyorin-ssi. Lama kita tidak bertemu,” sapa pria itu dengan seringai mengerikan.

“Kim Heechul-ssi. Untuk apa kau datang ke mansion kami?”seru Jonghyun dingin. Tanpa perlu ia tanyakan ia sudah tahu jawaban apa yang akan ia terima.

“Wow! Kau belum tau? Apakah putramu yang hebat itu belum memberitahumu?” lagi-lagi seringai itu muncul.

“……..”

“Kurasa kau sudah tahu tujuanku kemari untuk apa. Berikan ia padaku, berikan ‘yang tepilih’ padaku,” ujar namja itu datar.

“Takkan kubiarkan kau membawanya seperti kau membawa putraku yang sebelumnya kau renggut dengan paksa dari kami.”

“Apakah kau tak menginginkan kekuatan, Jonghyun-ssi. Putramu, aku membutuhkannya sebagai prajurit perangku, sumber kekuatanku. Begitu pula dengan putrimu yang selama ini kau sembunyikan. Ah, aku lupa, kalian Klan Lee tak membutuhkan kekuatan seperti itu kan?”

“Kau….”

“Kalian, cari dan bawa putri Klan Lee kepadaku dari dalam sana.”

“Baik tuanku.”

“Hyorin-ah, sekarang aku mengijinkanmu melakukannya pada putri kecil kita. Lakukanlah itu padanya jika kau yakin dengan begitu putri kecil kita akan bahagia.”

“Gomawo yeobo. Kalau begitu aku duluan, ne? Aku akan menunggumu.” Hyorin tersenyum tipis untuk terakhir kalinya pada suaminya.

“Hmm. Aku akan menyusulmu nanti,” balas Jonghyun dengan tenang. Ia tahu waktunya sudah tak banyak.

‘Brak’

Pintu depan mansion Klan Lee terhempas keras dan memperlihatkan sesosok namja yang tak lain dan tak bukan Lee Jongwoon.

“Abeoji, aku akan membantumu. Urusannya denganku. Lagipula bagaimana bisa seorang purebloods sepertinya memiliki Bloody sword.”

“Tidak. Kembalilah ke dalam Jongwoon-ah. Eomma-mu jelas membutuhkan bantuanmu disana.”

“Abeoji….”

“Jongwoon-ah, kau tetap putra kami kan? Kau tetap putra kami yang lucu kan?”

“Abeoji…..”

“Masuklah, biarkan appa yang mengurus ini. Appa titip Soorin, ne? Jaga dia.”

“Abeoji….aku….”

“masuklah.”

“Mianhae abeoji…anni..mianhae Jonghyun-ssi..”

***T_C_P***

“Oppa, apa yang terjadi? Kenapa appa dan eomma begitu marah? Siapa yang datang? Bukan Kyuhyun oppa dan Siwon oppa kan?” Soorin dengan polos mengatakannya.

“Ani, tapi mereka akan datang sebentar lagi,” ujar Sungmin seraya menenangkan adiknya itu.

“Oppa, aku takut. Aura gelap dimana-mana,” cicit Soorin. Kini tubuhnya menggigil ketakutan.

“Ssstt…tenanglah Rin-ah. Kami disini,” lagi-lagi Sungmin berusaha menenangkan Soorin. Donghae yang berada tak jauh dari mereka kini mendekti keduanya dan ikut menenangkan dongsaeng mereka.

‘Kriett’

Sungmin dan Donghae segera waspada.

“Soorin-ah…” suara seseorang yang begitu mereka kenal seketika membuat mereka bernapas lega.

“Hyung, kau menakutiku tadi,” ujar Donghae kesal. Ia cemas kalau-kalau para pesuruh Klan Kim menemukan mereka bertiga. Jongwoon yang diajak bicara hanya berlalu begitu saja seakan menganggap suara Donghae hanya angin lewat.

“Rin-ah, kajja ikut oppa, ne? Eomma ingin bertemu denganmu,” ujar Jongwoon lembut.

“Lalu bagaimana dengan Sungmin oppa dan Donghae oppa?”

“Mereka tetap disini chagi.”

“Mwo? Shirreo! Aku tidak mau kalau Sungmin oppa dan Donghae oppa tidak ikut bersama kita oppa.”

“Rin, oppa mohon, jangan sampai oppa kehilangan kesabaran,” ancam Jongwoon yang kesal melihat kelakuan dongsaengnya itu.

“Shirreo!”

‘Grep’

“Kyaaa! Oppa, turunkan aku. Turunkan!” tolak Soorin brutal. Ia berusaha melepaskan diri dari Jongwoon. Jongwoon yang sudah geram melihat kelakuan dongsaeng-nya itu segera saja langsung membopong dongsaeng-nya ke salah satu ruangan dimana eomma mereka telah menunggu Soorin.

“Kalian berdua tetap disini,” tegas Jongwoon pada kedua namdongsaeng-nya.

“Arraseo hyung.”

Dan pintu ruangan itu tertutup kembali, menelan sosok Jongwoon dan Soorin dari pandangan Sungmin dan Donghae.

Dan takdir yang sesungguhnya baru saja dimulai.

***T_C_P***

15 tahun kemudian,

“Oppa, jebal. Aku ikut, ne?”

“Aish. Arra, kau boleh ikut. Beruntung kau, Zhoumi hyung masih di China.” gerutu seorang namja.

“Hehehehe…gomawo Kibum oppa.”

“Hmmm…ppalli. aku tak mau hanya karena menunggumu aku tidak jadi bertemu dosenku. Dan ingat, jangan bermain jauh di lingkungan kampusku dan jangan berbicara dengan sembarangan orang, arraseo?”

“Ne, arraseo oppa.”

Pagi hari di hari pertama musim gugur disambut dengan keributan kecil di sebuah rumah minimalis itu. Rumah yang ditempati Kim bersaudara dan sepupu mereka.

‘Tap’

‘Srakk’

Tanpa disadari mereka berdua, seseorang dengan mata merahnya yang setajam elang tengah memperhatikan mereka berdua. Seringai mengerikan tampak kontras di wajah rupawannya.

“Got you baby. It’s almost limit.”

***T_C_P***

TBC

Jjang~~ Gimana? Uda ada yang mulai nebak-nebak??k k k k

Oke, ini baru prolog dan author uda bikin sejelas mungkin dan masih saja dengan tata bahasa yang masih kaku *padahal uda di remake*

Jangan lupa comment ya J

See you on next part J

Advertisements

3 thoughts on “(Fanfiction) -Prolog- The Choosen Princess

    1. terima kasih sudah menanti 😀
      tapi saya sendiri juga tidak tahu kapan mau dipublish part pertamanya k k k . tergantung temenku mau nyelesaiin nya.. hehe -^^

  1. hello^^
    well, thanks uda mau baca ff abal-abal milikku 😀
    sebelumnya, aq minta maaf banget karena harus hiatus hampir 2 bulan…dan seharusnya masih seminggu lg aq harus hiatus…
    buat part 1, sebenarnya uda jadi, tinggal diedit dan ditambah dikit^^
    akhir minggu aq usahain uda kelar 🙂
    yang penting jangan bosen baca ff ini yaa 🙂

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s