(Fanfiction) 8 Stories 8 Loves 8 Hearts Part 3 : Love Hate

8 slh

Title : Love Hate

Cast :

Kim Ryeowook & Shin Minrin (Ryeomin)

Cho Kyuhyun & Shin Ranran (Kyuran)

Lee Donghae & Park Chany (Haechan)

Lee Sungmin & Park Sungyeon (Minyeon)

Kim Jongwoon & Han Sungyoung (Yeyoung)

Lee Hyukjae & Park Hyehyo (Eunhye)

Park Jungsoo & Han Nimi (Teukmi)

Choi Siwon & Ahn Ahra (Wonra)

Genre : Romance, Friendship, Family, Revenge, AU

Length : 9.308 words

Rating : PG 15

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

Disclaimer :

Super Junior milik Tuhan, orang tua mereka, dan ELF ^^.  Plot, karakter milik author seorang. So, please don’t copy paste my story.

A/N: Mianhae.. part ini telat di post. T.t padahal waktu ujian curi-curi waktu dikit buat nulis, tapi tep aja mood itu susah bangt di cari .. 😀

Oke, ini lebih panjang sedikit dari part sebelumnya. Mohon dimaklumi. Dan lagi-lagi konflik masih berputar2 antara Min-Wook-Ran-Kyu. Belum ada cast baru yang masuk. FF ini sudah aku pikirkan benar2 dan semoga saja tidak macet di tengah jalan. Satu lagi, tiga part pertama ini bisa dibilang baru perkenalan. Jadi belum menuju konflik yg sebenarnya.

Well, Happy Reading ><  

 

Departement Fashion

Ryeowook terus saja tersenyum seiring langkah kakinya menuju salah satu rungan di Departement ini. Beberapa kali dia memikirkan bagaimana reaksi Ahra ketika melihat dirinya datang tiba-tiba di kantornya. Memikirkannya saja selalu membuat Ryeowook tersenyum senang, apalagi jika sudah bertemu dengannya.  Sayangnya ini selalu terjadi setiap kali Ryeowook akan bertemu dengan Ahra. Ada semacam perasaan bahagia yang dia sendiri tidak bisa menjelaskannya seperti apa. Hanya saja kehadiran Ahra baik itu dalam pikirannya atau pun sosoknya yang nyata selalu membuat namja ini senang bukan kepalang. Kadang dia akan merindukan gadis penuh keceriaan itu jika tidak bertemu. Seperti sekarang ini, sudah hampir dua minggu Ryeowook tidak bertemu Ahra, dan bahkan melewatkan ulang tahun gadis itu. Karena itulah Ryeowook benar-benar tidak sabar ingin segera melihatnya.

Ryeowook memang menyukai Ahra sejak mereka di bangku kuliah. Dan itu pertama kalinya seorang Kim Ryeowook merasakan seperti apa itu cinta. Ini memang lucu. Bagaimana mungkin seorang namja seperti dia baru merasakan apa itu cinta saat umur 20 nan. Tapi ini kenyataan. Namun sayangnya dia hanya bisa menyukai Ahra tanpa bisa memilikinya. Gadis itu memang selalu berada di jarak pandangnaya tapi tidak pernah benar-benar ada di dekatnya yang bisa Ryeowook rasakan kehadirannya sebagai seorang kekasih.

Bukannya Ryeowook tidak berani memintanya menjadi seorang kekasih. Dia hanya ingin tetap seperti ini. Cukup baginya melihat Ahra ada di sekitarnya, menjalani hubungan yang lebih bisa dikatakan sahabat ini. Toh, jika memang Tuhan mencipatakan Ahra sebagai orang yang akan bersamanya seumur hidup, Tuhan akan memberikan jalan mereka untuk bersatu kan? Karena Ryeowook percaya itu. Dia percaya takdir itu ada. Dan saat itu tiba, demi apapun Ryeowook tidak akan melepaskan gadis itu, sedetik pun.

Ryeowook terus berjalan di lorong Departement ini. Ada sedikit rasa tidak sabar tapi dia menahannya. Belum sempat dia mencapai ruangan di ujung lorong ini, langkahnya melambat dan berhenti. Seorang yeoja berdiri di depannya, terpaku menatapnya.

“Annyeong..” Sapa gadis itu.

“Annyeong.” Balas Ryeowook datar.

Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Yeoja itu, Shin Minrin. Direktur perusahaan Shin’s Group yang juga salah satu atasan Ryeowook. Ini kali pertama Ryeowook bertemu dengan Minrin sejak insiden di ruangan Presdir kemarin. Dan selama ini hubungan mereka tidak pernah secanggung ini. Ryeowook mengerti kenapa. Bagaimana pun juga dia masih ingat pernyataan cinta gadis di depannya ini.

“Aku tidak tahu kau sering kemari, setahuku department ini bukan salah satu tanggung jawabmu. Waeyo? Apa ada seseorang yang kau kenal di sini?” tanya Minrin kemudian, mencoba menghilangkan kecanggungan diantara mereka berdua.

Ryeowook memperhatikan Minrin sebentar dan kemudian dia mengangguk. “Ne, seseorang yang aku kenal lama”

“Ah…Kuereyo?” Minrin berusaha tersenyum dan bersikap biasa saja.

Ryeowook kembali memperhatikan Minrin. Ada sebuah nada kecewa di sana, dan lagi gadis itu terlihat salah tingkah harus berhadapan dengan Ryeowook.

“Sahabat lama lebih tepatnya. Jeongsohamnida tapi Saya harus pergi sekarang.” Ryeowook membungkuk sopan pada atasannya itu dan kemudian dia pun berjalan melewati Minrin.

Gadis itu sedikit terpaku dalam diamnya. Dan Ryeowook menebak mungkin karena ucapannya barusan yang terkesan sangat formal. Selama ini mereka berdua memang jarang menggunakan bahasa formal, kecuali pada situasi formal.

“Chakamanyo..” ucap Minrin cepat.

Ryeowook menghentikan langkahnya. Dia membalikkan badannya dan dia lihat Minrin melakukan hal serupa, membuat mereka berdua saling berhadapan sekarang.

“Kenapa Kau tidak mengatakan apapun saat itu?”

Ryeowook terdiam seketika. Dia bisa melihat ada keraguan saat Minrin mengatakan itu. Kenapa? Apa Minrin sangat mencintainya sampai-sampai dia bersikap seperti itu? Lagipula, Minrin sendiri yang memutuskan menikah dnegan Kyuhyun. Lalu kenapa dia harus menanyakan alasan Ryeowook tidak mengatakan apapun saat itu. Bukankan gadis itu juga mengusirnya saat Ryeowook berusaha menemuinya?

“Bukankah Anda akan segera menikah dengan Kyuhyun-ssi?” Sebuah pertanyaan balik yang sebenarnya tidak butuh jawaban.

Minrin terdiam sebentar. “Ah Kuereyo.. aku memang akan menikah dengannya.” katanya pelan.

Ya.. Ryeowook tahu itu. Bukankah itu yang Minrin katakan kemarin? Gadis itu memang harus lebih membiasakan diri dengan statusnya yang baru.

“Jeongsohamnida Sejangnim, tapi saya benar-benar harus pergi.” Ryeowook kembali memberi hormat sebelum dia memutuskan pergi. Minrin hanya mengangguk dan selebihnya dia membiarkan Ryeowook.

Apa alasan Ryeowook tidak mengatakan apapun? Jelas bukan karena Minrin memutuskan akan menikah dengan Kyuhyun, tapi karena alasan lain. Dia hanya menganggap Minrin sebagai atasannya, tidak lebih. Ya.. mungkin benar mereka kadang terlihat bersama. Ryeowook juga selalu membantu Minrin. Tapi apa yang dia lakukan untuk Minrin bukan karena dia menyukai gadis itu. Selama ini Minrin sudah salah mengartikan kebaikannya itu. Kebaikan? Ah.. Ryeowook sendiri bahkan tidak bisa menyebut itu kebaikan, sementara ada alasan lain yang membuatnya ada di dekat Minrin selama ini. Alasan lama yang selalu Hyungnya katakan padanya.

8 Stories 8 Love 8 Heart

Distrik Gangnam, Hyukjae’s House

“Yak, Lee Hyukjae-ssi, aku sudah bilang aku tidak mau memberi makan hewan itu.” Jerit Hyehyo ketika Hyukjae menarik tangan gadis itu dengan paksa menuju beranda belakang rumah.

Choco, anjing kesayangan Hyukjae itu sudah duduk santai di lantai dengan menjulurkan lidahnya. Sebuah mangkok, tempat makanannya berada di depannya. Dan seperti biasanya Hyehyo selalu menjeri-jerit jika sudah dihadapkan makhluk kecil itu.

“Shiroo..” serunya lagi

“Diamlah. Aku hanya ingin kau menemani Choco makan, apa itu sulit? Lagipula apa gunanya Kau di sini jika tidak mau melakukan perintahku ha?” Hyukjae memaksa Hyehyo duduk di kursi dekat Choco, dengan cepat gadis itu menjauhkan kakinya.

“Tapi aku bukan pembantumu, kenapa kau memperlakukanku seperti pembantu ha?” Hyehyo tidak mau kalah, sementara matanya terus mengawasi Choco.

Anjing itu melompat-lompat ketika snack kudapan anjing dituangkan Hyukjae ke dalam mangkok makanannya. “Lalu untuk apa kau di sini kalau bukan membantuku mengurus rumah dan juga Choco? Itu sama saja, Hyehyo-ssi”

Hyehyo memanyunkan bibirnya sebal. Kenapa juga dia harus ada di sini?

“Baiklah, kalau begitu. Kita akhiri saja perjanjian kita. Kita jalani saja hidup kita masing-masing. Lagi pula eonnieku pasti juga tidak akan memaafkanmu, untuk apa aku repot-repot kemari?”

Hyukjae mengelus Choco sebentar dan dia pun berdiri. “Mwo? Mengakhiri? Kau tahu apa yang baru saja Kau katakan Hyo-ssi? Mengakhiri berarti kau membayar ganti rugi dua kali lipat bemper mobilku yang rusak. Kau ingat itu kan?”

Hyehyo ingat itu. Tapi persetan dengan perjanjian itu. Lagi pula kenapa dulu dia nekat menemui namja ini saat eonnienya merengek-rengek padanya. Dan kenapa pula Hyukjae harus ingat kejadian tabrak bemper itu? Jika itu tidak terjadi dia pasti tidak akan terkurung di rumah ini bersama namja menyebalkan seperti Hyukjae dan juga anjing kecilnya itu.

“Kuere..kalau begitu aku akan menggantinya. Berapa memangnya?” ucap Hyehyo asal.

“200 rb won.”

“MWO???”

Hyukjae hanya tertawa puas setelah melihat wajah shock Hyehyo begitu mendengar jumlah uang yang harus dikeluarkan.

“Andweyo, mana mungkin semahal itu.”

“Kau pikir apa? Itu mobil mahal jadi wajar saja biaya perbaikannya semahal itu. Lagipula itu sudah termasuk kerusakan lain akibat ulahmu.” Ucap Hyukjae lagi yang semakin membuat Hyehyo kesal.

Hyehyo berpikir sebentar. Apa yang harus dilakukannya? Apa dia harus menyerahkan hidupnya tiga bulan ini di dalam penjara ini? Andweyo…

“ Kuere…kuere… beri aku waktu dua minggu dan akan aku lunasi, setelah itu lepaskan aku. bagaimana?”

“Perjanjian baru? Lalu kalau tidak berhasil? Jangan katakan kau akan tinggal lebih lama lagi di sini. Baiklah.. dua minggu dari sekarang, dan setelah itu kita anggap masalah kita selesai. Tapi kalau kau tidak bisa melunasinya dalam dua minggu jangan salahkan aku apa yang akan aku perbuat padamu.”

“Mwo? Apa maksudmu?” dengan cepat Hyehyo menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dan memundurkan badannya.

“Aishh… dasar yadong.” Hyukjae menjitak kepala Hyehyo pelan.

“Yak!!”

Tapi sebelum Hyehyo berhasil membalas jitakan itu, Hyukjae sudah berjalan menjauh, lebih tepatnya masuk ke dalam. Bukannya mengejar namja itu, tapi Hyehyo justru diam di tempat duduknya, meskipun saat ini Choco tengah asyik berguling-guling di sampingnya.

Selebihnya Hyehyo hanya memperhatikan namja itu kemudian dia menghembuskan nafasnya dengan berat.

“Bagaimana aku bisa mendapatkan uang sebanyak itu?” gumamnya

8 Stories 8 Love 8 Heart

Shin’s Building,

Minrin’s room

Minrin menyenderkan kepalanya pada bantalan kursinya. Sementara tangannya mengetuk-ngetuk meja kaca di depannya dengan pelan, membuat suara teratur, seteratur detik jarum jam di ruangan itu. Pikirannya kembali melayang-layang tidak karuan, apalagi sejak pertemuan tidak terduganya dengan Ryeowook di Departement Fashion tadi. Dan mendadak ingatannya tentang pertemuan pertamanya dengan namja itu satu tahun yang lalu di Kastil Hiroraki, Jepang, ikut memaksa hadir dalam pikirannya.  Semuanya terus menerus berputar di otaknya. Belum lagi masalah pernikahan, proyek peluncuran winter clothes, dan juga Shin Ranran. Rasanya otaknya terlalu penuh untuk berpikir dan sama sekali tidak ada celah hanya untuk sekedar mengirup udara segar.

Dia menghentikan ketukan jarinya dan beralih bermain-main dengan kursinya, memutar-mutarnya. Sesekali menghadap Jendela besar dibelakanganya kemudian beralih lagi menghadapa meja kaca di depannya. Sampai akhirnya suara derup sepatu yang bersentuhan dengan lantai membuatnya menghentikan aktifitasnya itu.

“Sejangnim..” Park Chany, sekretaris prbadinya itu berdiri dengan takut agak jauh darinya, lebih tepatnya di dekat pintu masuk.

Minrin mengangkat kepalanya dan menatap sekretarisnya itu. Jujur saja dia merasa terganggu dengan kehadiran Chany. Bukankah tadi dia sudah berpesan pada sekretarisnya itu untuk tidak mengganggunya?

“Wae?” tanyanya datar.

“Kyuhyun-ssi, Dia ingin bertemu dengan Anda.”

Minrin menyipitkan matanya. Kyuhyun? Untuk apa namja itu datang di waktu yang tidak tepat begini? Sebelum Minrin berhasil menebaknya, rasa penasarannya terlalu tinggi, dan akhirnya dia menghembuskan nafasnya dengan berat sembari menganggukkan kepalanya.

“Biarkan dia masuk.” Ucapnya singkat.

Chany mengangguk dan dia pun keluar dari ruangan itu. Tidak berapa lama kemudian sosoknya digantikan Kyuhyun bersetalan jas abu-abu dan tersenyum ke arah Minrin.  Tapi bukan senyum manis yang bisa kau bayangkan, melainkan senyum datar yang sedikit dingin yang sulit diartikan.

“Aku mengganggumu?” tanyanya. Dia berjalan mendekat kea rah Minrin dan akhirnya berdiri tepat di depannya, hanya berhalangan meja kaca diantara mereka.

Kyuhyun mengambil tempat duduk di depan Minrin, menyenderkan punggungnya dan memperhatikan yeoja itu.

“Kalau aku bilang Kau mengangguku, apa Kau akan segera pergi?”

Kyuhyun tertawa “Kau pintar sekali membaca pikiran, Minrin-ssi.” Ujarnya

“Jadi, apa yang Kau pikirkan? sekretarismu bilang Kau sedang tidak ingin diganggu. Jadi, apa yang sedang kau pikirkan? Jangan katakan Kau sedang mencari alasan untuk membatalkan pernikahan kita.” Tebak Kyuhyun.

Minrin mengangkat bahunya kecil “Aku tidak akan lari. Kau tahu itu kan? Mungkin dengan menikah denganmu, aku justru bisa menemukan bukti kejahatanmu.”

“Kau masih berpikir aku orang berperan jahat di sini?” sergah Kyuhyun cepat.

“Kuere. Kau pikir aku tidak tahu? Aku tahu semuanya. Tuduhan penjiplakan winter cloths yang dituduhkan pada perusahaan kami karena memiliki design yang sama dengan produk yang perusahaanmu luncurkan satu minggu sebelumnya. Aigoo…Kalian ternyata bermain kotor untuk menyngkirkan saingan. Dan setahuku design itu adalah design kami jauh sebelum produkmu diluncurkan. Jadi, kemungkinannya hanya ada dua. Kalian memang memiliki design yang sama dan memasarkannya lebih dulu lalu menyebarkan berita itu. Atau kedua ada mata-mata yang menyusup kemari dan mencuri design kami.” Minrin menatap Kyuhyun curiga.

“Kau menuduhku yang melakukan itu?” Kyuhyun membalas tatapan itu.

“Ya… mungkin terdengar lucu, seorang direktur sepertimu harus turun tangan langsung. Tapi tidak hanya itu bukti yang aku punya. Ada seseorang yang mengetahui rahasia perusahaan tentang pembangunan resort di Jeju, dan menyebabkan pembangunan dihentikan bahkan sebelum dimulai, karena penduduk lebih dulu dihasut orang lain untuk menjual tanahnya pada mereka. Dan baru-baru ini aku tahu perusahaanmu tengah berencana membangun taman bermain di areal yang sama. Apa itu terdengar kebetulan untukmu?”

Kyuhyn diam kemudian. Dia masih menatap Minrin tajam.

“Pembangunan taman bermain itu sudah direncanakan bahkan jauh sebelum kalian mengumumkan pembangunan resort. Dan dari pada kau sibuk mencari bukti kesalahanku, lebih baik kau memperhatikan karyawanmu sendiri. Siapa tahu justru mereka yang berkhianat padamu.” Ucap Kyuhyun kemudian.

Namja itu berdiri dari tempat duduknya dan sekali lagi mengarahkan pandangan tajam pada gadis yang duduk di depannya itu. “Sebenarnya aku datang untuk membahas pernikahan kita. Kau tahu kan, pernikahan itu akan diselenggarakan seminggu lagi. Dan karena undangannya sudah jadi, aku datang untuk menunjukkannya padamu.” Dia meletakkan sebuah undangan berwarna cokelat berukuran 15×5 cm itu di meja Minrin.

Minrin memperhatikan undangan itu. Dan sebelum dia memberi komentar tentang undangan dan ucapan Kyuhyun barusan, namja itu sudah berlalu dari hadapannya. Minrin memperhatikan Kyuhyun sejenak.

Kenapa namja itu selalu bilang untuk memperhatikan orang-orang di sekitarnya yang mungkin berkhianat?

Dan sekali lagi Minrin memperhatikan undangan cokelat peach itu dan mengambilnya. Sebuah tulisan K and M tertera jelas di sampulnya. Kyuhyun and Minrin?

Ahh… jadi tujuh hari dari sekarang dia akan menikah dengan Kyuhyun?

Meskipun Minrin mengatakan setuju, tapi bukan berarti hatinya menerima keputusannya itu. Karena entah kenapa dia masih menunggu sebuah kepastian untuk dirinya sendiri. Tapi sebelum dia berubah pikiran untuk kedua kalinya, pernikahan ini memang lebih baik segera dilaksanakan. Tadi saja, dia sudah berencana untuk membatalkannya lagi. Dan sebelum itu terjadi lagi, lebih cepat lebih baik. Toh, jika Kyuhyun memang terbukti bersalah, bukankah hukum tetap harus ditegakkan?

8 Stories 8 Love 8 Heart

Ranran’s room

“Aku sarankan Anda mulai bergerak menangani pembangunan resort itu sekarang Sejangnim.” Jongwoon memberi saran dan hanya ditanggapi anggukan kecil dari Ranran.

Gadis itu tengah berpikir keras bagaimana dia harus menangani masalah ini. Bagaimana reaksi penduduk jika dia tiba-tiba datang untuk membujuk mereka menjual tanahnya. Namun terlebih dari itu semua, dia lebih mengkhawatirkan reaksi Oppanya. Bagaimana pun juga sejak dia kabur dari rumahnya dua bulan yang lalu, tidak satu pun kabar yang dia kirim untuk Donghae. Bukannya tidak mau, hanya saja tidak ada waktu yang benar-benar tepat untuk itu. Lagipula selama dia di sini, Donghae juga tidak pernah mencoba menghubunginya.

Ranran menghembuskan nafasnya dengan perlahan. “Seminggu lagi pernikahan adikku. Jadi, aku akan berangkat ke Jaeju setelah itu.” ujar Ranran memberi keputusan.

Setidaknya dia tidak ingin menjadi kakak yang buruk bagi adiknya sendiri. Meskipun adiknya itu sama sekali belum bisa menunjukkan sikap bersahabat padanya.

“Tapi, Presdir memerintahkanku untuk mengantar Anda ke Jaju hari ini. Setidaknya Anda harus melihat terlibih dulu bagaimana kondisi di sana.”

Seketika itu Ranran menolehkan kepalanya, wajahnya berubah pucat karena shock.

“Gwaenchanasumika?” Tanya Jongwoon begitu melihat perubahan raut wajah Ranran. Namja itu seperti menangkap sesuatu yang salah dengan Ranran. Dengan cepat Ranran menggelengkan kepalanya.

“Aniyo. Aku hanya merasa itu terlalu mendadak.” Ranran tersenyum kikuk

“Sebenarnya tidak hanya Anda, tapi juga Presdir Taewoo, dan Pengacara Lee. Mereka juga akan ikut berangkat ke Jaeju. Presdir bilang, dia ingin sekalian bertemu dengan oppamu, Lee Donghae.”

“Mwo?” kali ini Ranran benar-benar menunjukkan keterkejutannya.

“Ne. Pesawat berangkat sore ini. Sebaiknya anda bersiap sekarang.” Jongwoon memperhatikan Ranran sejenak. Jujur saja keterkejutan Ranran tadi diluar prediksinya.

Ranran memundurkan badannya sedikit, membuatnya bisa bersandar pada meja di belakangnya. Dia masih berusaha memfokuskan pikirannya. Sementara Jongwoon hanya diam saja memperhatikan atasan barunya itu.

Alasan Ranran menolak rencana ke jeju adalah bukan karena dia tidak ingin bertemu dengan Lee Donghae. Tapi dia tidak ingin Presdir bertemu dengan kakak laki-lakinya itu. Semua orang di perusahaan ini termasuk dirinya sudah tahu kejadian 20 tahun yang lalu. Kebakaran yang membuat dirinya terpisah dari keluarga kandungnya. Dan semua menyalahkan ayahnya karena ini, termasuk Presdir. Ayahnya yang meninggal dua tahun yang lalu, yang merawatnya selama ini ternyata membawa lari anak berusia satu tahun yang merupakan puteri keluarga Shin. Dan selama 20 tahun ini ayahnya bungkam tentang itu semua. Dia bahkan tidak menceritakan kebenaran itu pada Ranran.

Ranran tidak menyalahkan ayahnya. Tidak sama sekali. Dia bahkan beterima kasih karena laki-laki itu sudah membesarkannya selama ini dengan kasih saying. Karena jika yang Presdir katakan benar tentang ayahnya yang ingin balas dendam padanya dengan menculik Ranran, bukankah seharusnya dia merawat Ranran seperti seorang anak yang tidak diinginkan?

Ayahnya memang sudah meninggal. Tapi Ranran khawatir Presdir justru menyalahkan kakakknya setelah ini.

“Sejangnim..” Panggil Jongwoon.

Dan bagaimana jika alasan Presdir untuk bertemu kakaknya itu adalah untuk menyalahkannya dan memenjarakannya? Ya.. ini mungkin pemikiran yang terlalu jauh tapi tidak ada yang bisa menebak apa yang akan Presdir lakukan. Meskipun Ranran belum begitu mengenal ayah kandungnya itu, tapi dia sedikit tahu sifat keras yang melekat pada laki-laki paruh baya itu. Apalagi melihat sifat Minrin yang juga serupa, cukup membuktikan hipotesisnya itu.

“Sejangnim” ulang Jongwoon.

Ranran tersadar dan buru-buru mengangkat kepalanya. Dia menatap Jongwoon sesaat.“Kau bisa membantuku, Jongwoon-ssi?”

“Nde?”

“Presdir pasti mengetahui jika Hae oppa mungkin tahu tentang kejadian 20 tahun yang lalu. Aku sendiri tidak yakin Hae oppa mengetahuinya atau tidak. Tapi aku yakin dia akan menjadi satu-satunya orang yang disalahkan sekarang. Meskipun Presdir bilang tidak akan mempermasalhkan ini lagi, tapi yang ku dengar dia sedang mengumpulkan bukti untuk memejarakan orang yang menyelakaiku. Jongwoon-ssi, ku mohon bantulah aku. Katakan pada Presdir kalau Hae oppa sama sekali tidak tahu tentang kejadian itu. bisakaha kau melakukan itu?” Ranran menjelaskannya dengan panjang lebar. Satu-satunya orang yang bisa menolongnya adalah Jongwoon. Karena dia adalah orang kepercayaan Presdir.

Jongwoon diam. Raut wajahnya berubah menjadi datar. Terlihat sekali dia sedang menimbang-nimbang ucapan Ranran barusan.

“Jebal..” ucap Ranran tidak sabar.

“Kalau aku bisa membantu, apa Sejangnim akan membantuku?” Tanya Jongwoon kemudian. Dia menatap Ranran.

“Nde?” Ranran menautkan alisnya, tidak mengerti dengan ucapan Jongwoon. Apalagi ekspresi namja yang berdiri di depannya itu berubah 180 derajat tadi.

Jongwoon buru-buru kembali mengubah raut wajahnya dan tersenyum kemudian. Dia maju satu langkah dan menyentuh pundak Ranran pelan. “Aku akan meminta bantuan Sejangnim suatu saat nanti. Jadi, aku akan membantu Anda.” Tuturnya.

Seketika itu Ranran menghembuskan nafasnya lega. “Gamsahamnida, Jongwoon-ssi.”

Meskipun diam-diam dia masih memikirkan ucapan absurd Kim Jongwoon tadi. Ya.. tapi apapun bantuan yang akan laki-laki itu minta darinya, dengan senang hati Ranran akan membantunya.

8 Stories 8 Love 8 Heart

 

Seoul,

20.00 KST

Suasana kota Seoul tetap seperti biasanya, ramai. Apalagi ini adalah akhir pekan, waktu yang sangat dimanfaatkan penghuni sudut kota tersibuk di Korea ini untuk mengistirahatkan diri dari rutinitas selama satu minggu. Seperti biasanyanya, kedai-kedai minuman di pinggir-pinggir jalan menjadi tempat favourite mereka sepulang dari kerja. Restoran, tempat karaoke, keduanya sama penuhnya. Tapi beruntung bagi Ryeowook karena menemukan restoran La Foja yang tidak terlalu penuh dengan pengunjung.

Ryeowook baru saja memesan tempat untuk makan malam di restoran bergaya klasik itu. Sejak bertemu dengan Ahra tadi entah kenapa Otaknya terus berpikir sebuah rencana makan malam di tempat ini. Ini memang tidak biasa untuknya. Apalagi dia bukan tipe laki-laki romantic, tapi yang ada di pikirannya hanya ide itu sebagai hadiah ulang tahun Ahra yang dia lewatkan bulan lalu.

Selesai dengan urusan di retoran itu, Ryeowook kembali masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya dengan pelan. Kali ini tujuannya adalah sebuah toko bunga. Ahra menyukai bunga mawar, lebih tepatnya mawar putih. Dan bunga itulah yang akan Ryeowook beli sekarang ini.

Dia menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah toko bunga kecil yang kebetulan sekali masih buka di cuaca sedingin ini. Dia turun dari mobil itu dan pandangannya langsung menyapu jajaran bunga yang ada. Bunga lili, bunga Crysant, bahkan tulip berwarna-warni juga ada. Mereka dikemas dalam bentuk rangkain dan ada juga yang berada di dalam semacam vas. Bahkan di cuaca bersalju seperti ini bunga-bunga itu masih tumbuh.  Tapi diantara bunga-bunga itu, tidak satupun Ryeowook menemukan bunga mawar.

Tapi bukannya berusaha mencari bunga mawar putih, tapi perhatiannya justru terpusat pada bunga yang belum mekar dan berwarna putih.

 “Yeppoda..” gumamnya lirih. Dia menyentuh kelopak kecil bunga itu.

“Bunga Tulip memang cantik..” Seorang ahjuma yang ternyata pemilik toko itu menghampiri Ryeowook dan ikut mengambil beberapa tangkai bunga tulip dan mengikatnya.

“Anak muda, Kau memilih dengan tepat jika membeli bunga ini. Apa untuk pacarmu?” lanjutnya.

Ryeowook tersenyum dan mengangguk mengiyakan. “Sebenarnya aku mencari bunga mawar putih. Tapi sepertinya tidak ada.” Ujarnya.

“Ah..musim dingin seperti ini bunga memang jarang ditemukan, termasuk mawar. Tapi Tulip juga tidak kalah cantik dengan mawar. Jika itu untuk pacarmu, aku menyarankan bunga tulip lebih baik”

Ryeowook kembali mmeperhatikan bunga-bunga tulip yang berwarna-warni itu kemudian beralih pada Ahjumma penjual bunga itu. Tapi Ahra menyukai mawar putih bukan tulip putih.

Ryeowook menghembuskan nafasnya berat. Sepertinya kali ini dia tidak punya pilihan lain. Lagi pula sekarang ini mungkin Ahra sudah ada di apartementnya. “Sepertinya aku tidak punya pilihan. Bisakah kau merangkaikan tulip itu untukku?”

“Aku tahu kau akan menuruti saranku. Tulip adalah lambang kesempurnaan cinta. Meskipun kau tidak mengerti, tapi seseorang yang memberikan bunga tulip pada orang yang dia sukai, maka itu berarti Kau baru saja memberikan sebuah kesempurnaan cinta padanya.” Ujar Ahjumma. Sementara tangannya dengan cekatan merangkai beberapa tangkai bunga tulip berwarna putih itu menjadi satu rangkain bunga.

Ryeowook tersenyum dan terus memperhatikan Ahjumma yang sibuk merangkai bunga-bunga itu. Kesempurnaan cinta? Ah…makna yang indah. Semoga saja Ahra mengerti juga makna dari tulip yang akan dia berikan nanti.

“Gamsahamnida, Ahjumma..” Ryeowook menerima bunga itu setelah. Dia memperhatikan sejenak bunga-bunga di tangannya. Cantik.

Baru saja Ryeowook bergerak mengambil uang di dompetnya, tapi langsung di tahan oleh Ahjumma tadi. “Itu hadiah untukmu. Kau adalah pelanggan terakhirku hari ini. Jadi itu hadiah untukmu.”

“Nde?”

“Sekarang pergilah. Gadis itu pasti sudah menunggumu.” Ucap Ahjumma itu cepat, sebelum Ryeowook lebih dulu memprotesnya.

“Gamsahamnida..” ujarnya lagi

Ahjumma tadi hanya tersenyum dan mengangguk yang langsung dibalas oleh Ryeowook sebagai ucapan terima kasih.

8 Stories 8 Love 8 Heart

District Gangnam

20.30 KST

Lee Hyukjae baru saja kembali ke rumahnya setelah seharian tadi dia harus menyelesaikan laporan seperti biasanya. Akhir-akhir ini ayahnya sedang bersemangat sekali membuat namja itu mau bekerja di perusahaan keluarganya. Meskipun itu tentu saja bukan keinginan Hyukjae.

Hyukjae lebih menyukai kebebasan dan melakukan apapun yang dia mau dari pada bekerja di perusahaan ayahnya. Karena itulah dia lebih memilih tinggal sendiri di daerah District Gangnam ini. Dan Rumah yang dia tinggali adalah rumah yang ayahnya wariskan untuknya satu tahun yang lalu. Sebenarnya ayahnya memberikan rumah itu agar Hyukjae mau bekerja di perusahaan setelah lulus kuliah. Tapi bukan Lee Hyukjae namanya jika menuruti ucapan ayahnya. Namja itu memang mengiyakan, tapi setelah lulus kuliah bukannya bekerja di perusahaan, dia justru membuka sebuah Bar bersama Kyuhyun. Mungkin ayahnya sudah lelah dengan kelakuan anaknya itu, karena itu sejak satu minggu yang lalu Hyukjae bekerja menggantikan ayahnya yang katanya sedang sakit. Bukannya tidak percaya tapi Hyukjae yakin ayahnya itu sedang berpura-pura sakit untuk memaksanya bekerja di perusahaan.

Satu-satunya alasan kenapa Hyukjae mengiyakan untuk bekerja adalah rumah ini. Karena dia lebih memilih tinggal sendiri di rumah ini dari pada di rumahnya. Sebenarnya tidak sendiri juga, karena sejak dua minggu yang lalu ada seorang yeoja yang tinggal bersama di rumah ini. Seorang yeoja yang seharusnya menjaga rumahnya, membersihkan rumahnya dan bukannya membiarkan rumah dalam keadaan gelap seperti ini.

“Di mana gadis itu? kenapa rumah gelap seperti ini?  Yak, Park Hyehyo!!” Hyukjae menghidupkan lampu ruangan yang pertama dia capai.

Sementara Choco yang tadi berada di dapur langsung berlari begitu mendengar suara tuannya.

“Choco-ya..” Hyukjae menghampiri anjing kecil itu dan menggendongnya.

Kemudian dia mengecek ruangan lainnya tapi dia tidak mendapati yeoja itu di manapun. Dia berpindah ke kamar Hyehyo tapi di dalamnya juga kosong, hanya terlihat tempat tidur yang ditinggalkan pemiliknya dalam keadaan rapi.

“Aisshh… kemana dia? Seharusnya dia sudah pulang.”

“Choco-ya, kau di mana gadis itu? ke mana dia pergi?” Dan langsung dijawab dengan gonggongan oleh Choco.

 “Aigoo…apa dia juga tidak memberimu makan?” Hyukjae kembali meletakkan choco kelantai dan langsung mengambil kudapan anjing.

Dia menuangkan kudapan itu ke dalam mangkok yang langsung dihampiri Choco. Sembari memperhatikan anjing itu, Hyukjae pun mengambil ponselnya dan bermaksud menghubungi Hyehyo. Tapi panggilannya justru dijawab oleh mesin penjawab yang menandakan ponsel gadis itu sedang mati.

“Apa yang sebenarnya dia lakukan?” gerutu Hyukjae fustrasi.

Ini pertama kalinya Hyehyo menghilang tanpa kabar. Biasanya Hyehyo selalu memberi kabar pada Hyukjae meskipun telat, dan dia juga selalu sudah berada di rumah di jam-jam seperti ini. Seingat Hyukjae pagi tadi Hyehyo tidak meminta ijin untuk pulang malam, dia juga tidak memberi kabar setelah itu, dan sekarang ponselnya pun mati. Lalu apa yang sedang gadis itu lakukan?

“Choco-ya, bisa kau jaga rumah?” Hyukjae kembali mengajak bicara anjing itu dan seperti biasanya anjing itu mengonggong seakan mengerti ucapan tuannya.

“Kuere, kalau begitu aku pergi. Siapa tahu gadis itu tidak tahu jalan pulang.” Hyukjae mengacak kepala choco dan langsung menyambar kunci mobil di meja.

Entahlah kenapa, tapi Hyukjae sedikit mengkhawatirkan keadaan gadis itu. Ini bukan kebiasaan Hyehyo tidak pamit dan tidak memberi kabar. Ya..sebenci apapun Hyehyo pada Hyukjae, seberapa sering pun mereka bertengkar tapi mereka sudah sepakat untuk saling memberi kabar jika pulang larut.

“Hyehyo.. apa yang sebenarnya dia lakukan?” Hyukjae bergumam pelan sementara pandangannya terfokus pada jalan di depannya. Sesekali dia melihat ke pinggir jalan, warung-warung kaki lima atau tempat umum lainnya, siapa tahu gadis itu ada di antaranya.

Ini mungkin terdengar tidak masuk akal kenapa Hyukjae tiba-tiba peduli pada gadis itu. Ya..entahlah. Dia sendiri tidak mengerti kenapa otaknya tidak sejalan dengan apa yang dia rasakan. Lalu apa yang bisa dia lakukan? Dia seperti diperintah begitu saja untuk mengendarai mobilnya di tengah cuaca bersalju, mencari seorang gadis yang setiap harinya selalu membuatnya kesal.

Pandangan namja itu masih terus meneliti setiap inchi pinggir jalan yang dia lalui, hingga akhirnya matanya menangkap seorang yeoja yang tengah melayani seorang pengunjung di sebuah warung makanan. “Oh..bukankah itu dia? apa yang dia lakukan di tempat itu?”

Dengan gerakan cepat dan terkendali Hyukjae langsung memarkirkan mobilnya. Namja itu sudah setengah berlari tapi mendadak dia menghentikan laju kakinya begitu tersadar apa yang baru saja dia lakukan. Baiklah ini diluar kendalinya, bagaimana bisa dia berlari menerobos berpasang mata yang akan mengarah padanya dan menarik tangan gadis itu dengan penuh kekhawatiran. Tidak-tidak. Dia tidak akan mempermalukan dirinya seperti itu.  Pada akirnya dia pun memilih masuk sebagai seorang pengunjung yang ingin makan. *?*

Hyukjae melihat satu kursi tersisa di pojong rungan, dan dia pun langsung menuju tempat itu. Beruntung Hyehyo tengah sibuk dengan seorang ahjussi di pojokan lainnya. Jika Hyehyo tahu Hyukjae sengaja datang karena mengkhawatirkan kondisi gadis itu, entah apa yang akan Hyehyo pikirkan. Mungkin gadis itu akan besar kepala, itu kemungkinan yang tidak terlalu buruk. Tapi bagaimana kalau Hyehyo justru berpikir Hyukjae menyukainya? Aniyo. Tidak-tidak, itu tidak benar. Refleks Hyukjae menggelengkan kepalanya.

Namja itu masih menundukkan kepalanya sampai pada akhirnya seseorang menyodorkan menu makanan dengan sedikit kasar di mejanya, membuatnya mendongakkan kepala dengan terpaksa.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Sergah orang itu dengan nada heran bercampur tidak suka yang ternyata Hyehyo.

Hyukjae membulatkan matanya tidak percaya. Ya ampun..bagaimana mungkin penyamarannya bisa terbongkar secepat ini?

“Eungg.. aku ingin makan di sini. Wae?” Untungnya Hyukjae selalu punya keahlian untuk tetap bersikap biasa saja. Ya.. mungkin dia bisa menjadi actor berbakat suatu saat nanti 😀

Hyehyo menyipitkan matanya, curiga. “Di kota ini begitu banyak tempat makan, tapi kenapa harus tempat ini ha? Benar-benar hari sial untukku.” Gerutunya.

“Wae? Kau tidak suka? Aku sering kemari. Tapi ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di sini?” Hyukjae memperhatikan Hyehyo dari atas sampai bawah. “Kau bekerja di sini?” lanjutnya berpura-pura tidak tahu.

“Kuere. Aku bekerja di sini. Wae? Kau tidak suka? Kalau tidak suka silahkan pergi dan cari tempat lain. Lagi pula pengunjung kami juga terlalu banyak hari ini.” Sergah Hyehyo cepat.

“Eiiyy, mana boleh seorang pelayan mengusir pembeli. Kau ingin dipecat? Ah.. lagi pula untuk apa kau kerja di sini? Aku bisa membayarmu selama kau mengerjakan pekerjaan rumahku dengan benar.”

Pletak!!

Tangan Hyehyo dengan cepat memukulkan buku menu ke kepala Hyukjae. Sebenarnya tidak terlalu keras, tapi tetap saja namja itu meringis kesakitan.

“Aissh, Kau ini galak sekali!” Hyukjae mengelus kepalanya pelan.

“Aku bekerja di sini untuk mencari uang, jadi aku bisa melunasi hutangku dan segera pergi dari rumahmu.”  Jelas Hyehyo yang langsung membuat Hyukjae diam.

Jadi, gadis itu bekerja untuk melunasi hutangnya? Hyukjae pikir ucapannya tadi pagi tidak benar-benar serius.

“Kuereyo? Baguslah kalau begitu. Bekerjalah yang serius dan segera lunasi hutangmu, dengan begitu aku bisa terlepas darimu. Hyehyo-ssi Fighting!!” Hyukjae mengepalkan tangannya dan memberi semangat pada gadis itu yang justru memanyunkan bibirnya kesal.

“Aku tahu itu. Jangan khawatir, aku akan melunasinya.”

Hyukjae diam Tapi kenapa rasanya sedikit tidak mengenakan bagi Hyukjae mendengar ucapan Hyehyo tadi ya?

“Jadi, kau ingin pesan apa?”

Refleks Hyukjae tersadar dan mendongakkan kepalanya. Dia tersenyum tipis dan akhirnya mengambil buku menu yang sudah diletakkan Hyehyo di atas meja.

“Aku pikir kau hanya bercanda tadi pagi.” ujarnya lirih sembari membolak-balikkan buku itu.

“Apa?”

“Soondubu Jiggae. Aku pesan itu.” Kata Hyukjae kemudian, menghiraukan keterkejutan Hyehyo yang mungkin mendengar ucapannya barusan. Dia menutup buku menu tadi dan menyerahkannya pada Hyehyo.

Hyehyo memperhatikan Hyukjae sesaat, seperti mencari tahu apa maksud dari ucapan laki-laki di depannya ini.

“Wae?” Hyukjae menaikkan alisnya keheranan dengan sikap Hyehyo. Gadis itu tetap diam dan  menerima buku itu dan tanpa sepatah kata pun dia meninggalkan Hyukjae, yang ternyata diam-diam memperhatikan gadis itu dari belakang.

8 Stories 8 Love 8 Heart

At Shin’s Building

20.45 KST

Shin Minrin keluar dari lift bangunan besar dan tinggi yang menahannya seharian ini. Kepalanya begitu berat dan rasa lelah memenuhi seluruh anggota tubuhnya. Biasanya dia akan meminta Ryeowook untuk mengantarnya pulang, tapi akhir-akhir ini Lee Sungmin adalah tujuannya karena hubungannya dengan Ryeowook justru menjadi semakin canggung sekarang. Tapi sayangnya Sungmin sedang di Jeju bersama Presdir, Pengacara Kim Jongwoon dan juga Shin Ranran. Karena itu terpaksa dia harus mengendarai mobilnya sendirian.

“Sejangnim, Anda tidak apa-apa?” Chany yang tadi berjalan di belakangnya memperhatikan Minrin sejenak. Terlihat sekali atasannya itu sangat kelelahan.

“Gwaenchana, kau pulanglah. Aku bisa pulang sendiri.” Ucap Minrin cepat, ketika Chany bermaksud mengantarnya pulang.

“Anda yakin? Aku bisa mengantar Anda pulang..”

Sekali lagi Chany memastikan kondisi atasannya itu tapi kemudian langsung dibalas sebuah senyuman dari Minrin. “Pergilah..”

Untuk sesaat Chany tetap di tempatnya tapi kemudian dia mengiyakan ucapan atasannya itu “Ne, berhati-hati lah di jalan, Sejangnim.” Chany memberi hormat, dan kemudian dia pun menuju mobil silver miliknya.

Minrin memperhatikan Chany sampai sekretarisnya itu menghilang di tikungan. Kantor memang benar-benar sudah sepi dan hanya ada satpam yang bertugas. Di tempat parkir  hanya menyisakan mobil hitam miliknya. Minrin berjalan dengan pelan menuju mobilnya itu, sementara ponsel di sakunya tiba-tiba bergetar. Dia mengambil ponsel touchsreen berwarna putih itu dan ternyata pengacara Lee yang memanggilnya.

Minrin menekan papan terima. “ne, yeobseo..”

Seketika itu raut wajah Minrin berubah. Tangan kirinya menggenggam dengan erat, seakan menahan amarah yang tiba-tiba memenuhinya.

“Apa kau yakin?” tanyanya memastikan berita yang baru saja dia dengar.

“Ne, Presdir sendiri yang mengatakan itu. Pembangunan resort di Jeju adalah proyek direktur Ranran sebelum dia di angkat menjadi CEO ”

“Mworago?”

Tidak butuh waktu lama bagi Minrin untuk mencerna ucapan Sungmin barusan. Karena setelah itu dia pun langsung mematikan panggilan itu. Seperti yang dia khawatirkan sebelumnya, ayahnya memang sejak awal berencana menjadikan Ranran penerus perusahaan ini. Lalu untuk apa rapat kemarin memutuskan untuk memberi mereka berdua kesempatan yang sama?

Minrin menghembuskan nafasnya dengan berat. Pikiran yang sejak awal sudah tidak bisa diajak konsentrasi, semakin bertambah parah setelah mendengar berita itu.  Dia pun kembali melangkahkan kakinya menuju mobil hitam miliknya. Menghidupkan mobil itu dan langsung tancap gas. Bahkan di jalanan kota seoul yang masih terbilang ramai pun, kecepatan mobil itu tidak berkurang dan justru semakin di tambah.

Gadis itu kembali menekan pedal gas, sementara otaknya tidak hanya berusaha terkofus pada jalan di depannya saja. Kenyataan bahwa ayahnya lebih mempercayai Ranran untuk memimpin perusahaan benar-benar pukulan telak baginya. Ini seperti apa yang sudah dia korbankan selama 21 tahun hidupnya tidak berarti lagi. Bagaimana selama ini dia berubah dari gadis kecil yang cengeng dan lemah menjadi seorang wanita kuat, semuanya terasa sia-sia. Apa ayahnya tidak tahu bahwa Minrin bahkan mengorbankan semua yang dia miliki untuk perusahaan ini. Dia rela meninggalkan teman-temannya hanya untuk menjadi wanita mandiri yang tidak bergantung pada siapapun. Dia rela tidak seperti yeoja sebayanya yang masih bisa bersenang-senang tapi justru mempersiapkan diri memimpin perusaan. Dan Cinta, ah..untuk yang satu itu pun Minrin sudah melepaskannya dengan senang hati. Dia mengorbankan perasaannya demi perusahaan ini. Dia memilih ayahnya dari pada ibunya. Dan apa yang ayahnya lakukan? Menjadikan Ranran sebagai penerusnya?

Seketika itu juga ingatan-ingatan tentang kehidupannya selama ini berputar kembali di depan matanya. Seakan jalanan di depannya itu bukan lagi jalan raya kota seoul tapi sudah seperti layar untuk memutar kembali ingatan masa lalu. Ketika ibunya menyuruhnya menjadi wanita paling bahagia, mencari laki-laki yang akan mencintainya dan hidup bahagia. Tapi kemudian ucapan ayahnya saat dia berusia tujuh tahun kembali terekam.

Jadilah seperti yang appa mau. Kau harus melakukannya. Setelah ini, akan banyak tantangan yang akan kau hadapi, karena itu jangan pernah menjadi wanita yang lemah, dan jangan mempercayai seorangpun. Tidak ada seorangpun orang disekitarmu yang bisa kau percayai, bahkan mungkin termasuk appa, Kau mengerti?”

Dan kenapa kedua orang tuanya saja tidak bisa satu pendapat untuk masa depannya. Tapi nyatanya, bukankah Minrin memilih ayahnya dari pada ibunya sendiri? Dia memilih menjadi anak yang ayahnya inginkan. Karena dia tidak ingin menjadi ibunya yang kedua di rumahnya sendiri. Berselingkuh dengan cinta pertamanya dan meninggalkan ayahnya.

8 Stories 8 Love 8 Heart

Flashback

6 years ago

“Selama ini pernikahan kita hanyalah pernikahan tanpa cinta. Perjodohan kedua keluarga yang terpaksa aku jalani. Aku bertahan di sisimu karena Minrin tapi sekarang sepertinya tidak ada alasan lagi untukku tetap tinggal di sini. Aku akan membawa Minrin pergi dari rumah ini”

Minrin mendengar dengan jelas teriakan ibunya di lantai bawah. Meskipun telinganya tertutup dengan earphone yang memutar lagu, tapi tetap saja teriakan ibunya itu masih bisa dia dengar.

Sebenarnya ini bukan kali pertama kedua orang tuanya bertengkar seperti itu. Tapi kali ini adalah puncak dari kemarahan ayahnya pada ibunya itu. Sepertinya kalau tidak salah tadi Minrin mendengar ayahnya menuduh ibunya berselingkuh dengan mantan kekasihnya.

Apa ibunya benar-benar setega itu? Bukankah dia sudah hidup bersama dengan ayahnya selama 16 tahun?

Minrin memejamkan matanya pelan dan tidur terlentang, sebelum akhirnya pintu kamarnya menjeplak terbuka.

“Minrin-ya, Kajja!! Kita pergi dari sini. Kemasi barang-barangmu.” Ucap wanita berumur empat puluhan itu yang sekarang sudah berdiri di ambang pintu.

 Minrin beranjak bangun dan menatap ibunya itu dengan santai.

“Waeyo? Kenapa aku harus pergi?” tanyanya.

Bukannya menjawab tapi ibunya itu justru masuk ke kamar itu dan membuka almari, mengeluarkan semua pakaian yang ada dan memasukkannya ke dalam tas yang tergelatk di pojok ruangan dengan sembarang.

“Jangan bodoh, kau ingin tetap tinggal di sini? Dengan ayahmu yang sangat keras itu?” Ibunya kini beralih pada barang-barang di atas meja yang langsung diambilnya.

“Eomma!” seru Minrin akhirnya. Ibunya menghentikan aktivitasnya dan menatap puterinya itu.

“Wae?”

“Aku tidak mau pergi. Shirro, eomma..” jawabnya tegas.

“Mwo? Apa maksudmu? Kau ingin hidup seperti di neraka ini selamanya?” wanita itu membulatkan matanya tidak percaya.

“Aku tidak ingin melarikan diri. Aku akan tinggal di sini dan tidak akan melarikan diri. Apapun yang ayah katakan, mulai sekarang aku akan menurutinya.”

“Shin Minrin!!”

“Aku bukan eomma. Jadi, jangan pernah memintaku seperti eomma.” Seru Minrin tidak mau kalah.

Minrin sudah bertekad dan tidak akan mengubah keputusannya itu. Dia tidak akan melarikan diri. Tidak akan pernah. Dia bukan ibunya yang lemah yang memilih pergi ketimbang menghadapi sifat ayahnya yang keras. Dia bukan ibunya yang tidak setia pada suaminya sendiri. Dia akan bertahan di rumah ini, menuruti semua ucapan yang ayahnya katakan padanya.

8 Stories 8 Love 8 Heart

Sejak saat itu ibunya, Shin Jaehee benar-benar pergi meninggalkan Minrin dan juga ayahnya. Ibunya itu tinggal di sebuah apartement yang dia beli dua tahun sebelumnya. Tapi kemudian meninggal karena penyakit yang sudah lama dideritanya.

Minrin menginjak rem dengan keras  ketika mobil masih melaju dengan kecepatan yang agak tinggi, membuatnya berhenti dengan mendadak dan mengeluarkan suara decitan ban yang bergesekan dengan jalan. Gadis itu menundukkan kepalanya menyentuh pegangan stir dan memejamkan matanya.

“Wae? Kenapa appa melakukan itu?” gumamnya kecil.

Sedetik kemudian dia memutuskan turun dari mobil itu dan berjalan di pinggiran sungai Han yang dia datangi itu. Tempat itu gelap dan tidak banyak orang yang datang, mungkin karena ini musim dingin dan juga sudah cukup larut untuk beberapa orang berjalan-jalan di tempat ini. Tempat ini adalah tempat favoritenya sejak kecil. Dulu, orang tuanya sering mengajakknya kemari saat dia berumur 5 tahun. Suasana saat itu benar-benar berbeda dari kenyataannya. Saat itu, Minrin benar-benar merasakan bagaimana mempunyai sebuah keluarga yang bahagia. Kehangatan keluarga yang bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya.

8 Stories 8 Love 8 Heart

At Ahra’s apartement

21.30 KST

Ryeowook memakirkan mobilnya dan bergegas turun. Dengan langkah yang lebar dan bersemangat dia menuju apartement di lantai tiga tempat tinggal Ahra. Membayangkan reaksi gadis itu sudah membuat Ryeowook bersemangat, apalagi kalau Ahra tahu apa yang tengah namja itu siapkan.

Dia hampir mencapai apartement Ahra dan melihat pintu apatement itu sedikit terbuka karena terganjal sebuah benda, seperti sepatu. Ryeowook mempercepat langkahnya dan begitu sampai di depan pintu, benar saja pintu itu tidak tertutup rapat. Dia membuka pintu itu dan menyingkirkan sepatu yang mengganjalnya. Bukan sepatu milik Ahra, karena sepatu itu untuk laki-laki dan berukuran besar.

“Apa ada yang datang?” Gumamnya.

Dia masuk ke dalam dan belum sampai ruang pertama di apartemen itu, mendadak Ryeowook menghentikan langkahnya. Pemandangan di depannya lah yang membuatnya berhenti dan terpaku untuk sesaat.

Bagaimana tidak terpaku dan terkejut, ketika kau  melihat yeoja yang selalu memenuhi pikiranmu, membuatnya tidak henti-hentinya tersenyum hanya karena membayangkan reaksinya tengah berciuman dengan laki-laki lain.

Ya.. dia ..gadis itu, gadis yang selalu membuat Ryeowook tak henti-hentinya memikirkannya tengah berciuman dengan laki-laki lain. Sayangnya itu bukan ciuman biasa, tapi bisa dibilang ciuman penuh kerinduan atau justru nafsu? Entahlah.. Dan itu sukses membuat Ryeowook sedikit memundurkan langkahnya ke belakang karena terkejut. Merasa menjadi penganggu atau lebih tepatnya merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu.  Seperti ada sesuatu yang menghantam dirinya dengan keras. Jujur saja Ryeowook merasakan sesak di dadanya sendiri. Pemandangan di depannya itu terlalu menyesakkan.

Perlahan Ryeowook membalikkan badannya dan berniat pergi tapi sayangnya Ahra sudah menyadari kehadiran namja itu. Ahra menyadari ada sepasang mata manusia yang tengah menatapnya dan juga laki-laki di depannya dengan tajam. Dan dia melihat sosok Ryeowook dari balik punggung itu. Dia dengan cepat menjauh dari laki-laki tinggi yang sejenak membuatnya lupa dengan akal sehatnya sendiri.

“Ryeowook-ah..” ucap gadis itu kikuk.

Merasa bersalah atau salah tingkah, entahlah. Namun yang jelas Ahra sedikit terganggu dengan tatapan Ryeowook yang seakan mengintimidasinya.

Sementara itu. Laki-laki yang bersama Ahra tadi membalikkan badannya dan sekarang Ryeowook bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ya.. dia laki-laki yang tampan dan juga tinggi. Diam-diam Ryeowook mengakui kelebihannya itu.

“Mianhae, aku menganggu kalian. Tadi pintunya tidak tertutup dengan rapat makanya aku langsung masuk. Aku minta maaf.”  Ujar Ryeowook cepat sebelum menimbulkan kesalahpahaman. Kesalahpahaman? Bukankah dalam situasi seperti ini orang yang berada di posisinya lah yang akan salah paham? Dia menatap Ahra mencoba mencari titik terang dari mata gadis itu tapi nihil.

Diam kemudian.  Terlihat sekali suasana canggung diantara mereka bertiga. Atau lebih tepatnya suasana canggung antara Ryeowook dan Ahra.

“Aku akan pergi sekarang.” Akhirnya laki-laki itu memecah keheningan. “Aku yakin kau datang untuk bertemu Ahra kan?” Kali ini dia berbicara pada Ryeowook yang hanya dibalas dengan diam.

“Ahra-ya sampai jumpa besok..” Kali ini dia beralih pada Ahra dan mengecup kening gadis itu singkat.

Ahra menganggukkan kepalanya “Ne, sampai jumpa.” Dia tersenyum pada Ahra dan setelah itu dia pun berjalan melewati Ryeowook menuju pintu keluar.

Ryeowook memeperhatikan sekilas laki-laki tadi, sampai akhirnya dia benar-benar pergi.

“Dia..Choi Siwon.” Ujar Ahra kemudian, seakan menjawab pertanyaan yang sedari tadi berputar di kepala Ryeowook.

Ryeowook menganggukkan kepalanya pelan. “Kekasihmu?” tanyanya.

Ahra diam dan hanya menundukkan kepalanya.  Dia menggigit bibir bawahnya, bimbang dengan jawaban yang harus dia berikan pada Ryeowook.

“Hmm..” Ahra mengangguk.

Ryeowook tersenyum dan memperhatikan gadis di depannya itu dalam. Kenapa dia sampai tidak tahu ada orang lain yang selama ini berada di sisi Ahra? Atau Ryeowook yang tidak terlalu peka dengan gadis ini?

Ryeowook menghembuskan nafasnya “Kau tahu aku menyukaimu, kan?”

Pertanyaan itu mungkin sedikit menghakimi Ahra. Namun sayangnya Ryeowook tidak peduli dengan kenyataan itu.

Ahra mengangkat kepalanya dan ikut memperhatikan Ryeowook, membuat mereka saling menatap. Ya Ahra tahu itu. Ahra tahu betul perasaan itu. Tapi dia mungkin juga gadis bodoh yang tidak bisa begitu peka dengan Ryeowook. Dia tahu tapi tidak pernah mencoba membuat Ryeowook mengakui perasaan itu sejak awal. Atau selama ini dia memang tidak ingin demikian?

“Mianhae, Ryeowook-ah. Aku minta maaf.” Ucap Ahra lirih.

Dan sekarang dia justru meminta maaf mengenai perasaan serba salah itu. Meskipun jujur Ahra sendiri tidak tahu maaf seperti apa yang tengah dia utarakan ini. Maaf karena tidak bisa sepenuhnya menyadari perasaan Ryeowook, ataukah maaf karena membuat Ryeowook melihat adegan yang mungkin akan melukai hatinya.

Dia melirik Ryeowook dan dilihatnya Lagi-lagi Ryeowook tersenyum. “Aku mengerti.”

Ryeowook sedang mencoba mengerti, bukan benar-benar sudah mengerti. Dia hanya mengibur dirinya sendiri. Usaha yang sia-sia sebenarnya, karena selebihnya Ryeowook menjadi tidak baik-baik saja sejak memergoki gadis di depannya ini berciuman dengan laki-laki lain.

8 Stories 8 Love 8 Heart

Ryeowook menarik pegangan pintu mobilnya dan menutupnya. Dia menghembuskan nafasnya dengan berat dan lebih memilih menyandarkan punggungnya dari pada mengemudikan benda hitam yang dia tumpangi itu. Namja itu menolehkan kepalanya dan melihat bunga tulip putih yang terangkai indah di kursi sampingnya. Kuncup-kuncup bunga yang belum mekar sempurna itu pun terlihat tidak sesegar tadi. Mungkin terlalu lama di dalam mobil dan menyebabkan sedikit layu.

Lagi-lagi Ryeowook menghembuskan nafasnya dengan berat. Tulip itu seakan tahu bagaimana menjelma menjadi perasaannya yang juga berubah layu. Oke baiklah ini sedikit melankolis sekarang. Tapi terlepas dari itu semua, Ryeowook menyadari apa yang akan terjadi jika dia tidak segera mengikat gadis itu tetap di sisinya. Dan itulah yang terjadi sekarang. Ya.. sepertinya dia memang harus melepaskan gadis itu.

Ryeowook mungkin memang bisa melepaskannya, tapi mungkin dia tidak bisa benar-benar melepaskan Ahra dari pikirannya. Karena tetap saja hanya gadis itu yang selalu memenuhi pikirannya. Dan Ryeowook jamin, itu tidak akan berubah sekali waktu dalam 24 jam ini.

Perlahan Ryeowook menghidupkan mesin mobil itu dan menginjak pedal gasnya, sehingga mobil itu pun melaju dengan pelan sekarang.

8 Stories 8 Love 8 Heart

 

Jeju Island

21.38 KST

Ranran menggulingkan tubuhnya ke kiri di tempat tidurnya. Tapi posisi itu tidak berlangsung lama, karena setelahnya dia mengganti posisi tubuhnya miring ke kanan. Sudah sejak setengah jam yang lalu dia berusaha memejamkan matanya tapi tetap saja tidak berhasil.

“Eottoke?” Gumamnya pelan

Dia bangkit dari tempat tidur dan memandang sejenak pada jam kecil di mejanya. Sesaat kemudian dia beranjak berdiri dan mengambil mantel yang tersampir di kursinya. Sepertinya dia butuh udara segar malam ini. Di dalam sini terlalu sesak dan lagi dia tidak bisa berpikir jernih saat ini. Dia terlalu mengakhawatirkan apa yang akan terjadi besok, dan itu membuatnya tidak bisa tidur.

Kenyataan itu jelas mengganggu pikirannya dan jika tidak segera dilenyapkan, mungkin akan terus bergelayut di otaknya sampai esok pagi.

Selarut ini kota-kota di Jeju memang masih ramai. Menjadi salah satu tujuan wisata di Korea memang menjadikan Jeju kadang tidak pernah tidur, bahkan di musim dingin sekalipun. Dan sepertinya berjalan-jalan sebentar menyelusuri jalanan kota ini tidak terlalu buruk.

Ranran merekatkan mantel yang dia kenakan dan keluar dari hotel tempatnya menginap. Baru satu langkah kakinya berada di luar ruangan, dia merasakan salju yang berjatuhan di atas kepalanya.

“Aigoo.. kenapa salju turun?” Gerutunya. Dia mendongakkan kepalanya ke atas dan menengadahkan tangannya, membuat salju-salju itu berakhir di tangannya.

“Gamsahamnida. Aku yakin kita bisa bekerja sama.” Ranran refleks mengalihkan perhatiannya pada dua orang pria yang juga berjalan ke luar dari hotel itu.

Mereka berjalan melewati Ranran dan gadis itu menyadari dia mengenal salah satu dari orang itu.

“Kyuhyun-ssi?” ucapnya.

Kyuhyun menghentikan langkahnya dan menoleh pada Ranran. Seperti yang Ranran duga, orang itu Cho Kyuhyun. Astaga dunia ini terlalu sempit atau apa? Kenapa dia bisa bertemu dengan namja itu di tempat ini?

“Oh.. nunna? Apa yang kau lakukan di sini?”

Nunna? Namja itu tetap saja memanggilnya nunna? Ranran memanyunkan bibirnya kesal. “Yak, sudah kubilang jangan panggil aku Nunna.”

Kyuhyun hanya tersenyum lebar. Selalu saja membuat calon kakak iparnya itu menggerutu adalah hal baru yang menyenangkan untuknya.

“Baiklah Kyuhyun-ssi sampai jumpa besok.” Laki-laki yang lebih tua dari Kyuhyun yang tadi berjalan bersamanya membuka suara dan mengulurkan tangannya. Kyuhyun menyambut jabat tangan itu dan mengangguk.

“Ne, hati-hati di jalan Kim Sejangnim.”

Kyuhyun mengawasi kepergian laki-laki tadi sampai mobil yang ditumpanginya menghilang di tikungan. Sedangkan Ranran diam-diam ikut memperhatikannya.

“Jadi, apa yang kau lakukan di sini?” Kyuhyun mengulangi pertanyaan yang belum sempat dijawab Ranran.

“Perjalanan bisnis.” Jawab Ranran enteng.

Kyuhyun mengangguk mengerti. “Aku juga..” katanya, meskipun jelas Ranran tidak menanyakan hal itu padanya.

Tapi ucapan-ucapan itu cukup membuat mereka tidak harus terlibat perang mulut seperti biasanya. Memanggil Ranran dengan sebutan Nunna memang kadang membuat gadis itu jengah, tapi justru itu hobi baru Kyuhyun akhir-akhir ini jika bertemu dengannya.

Entahlah kenapa, tapi bersama dengan Ranran selalu membuat Kyuhyun bisa menjadi dirinya sendiri yang tidak angkuh dan dingin. Semua itu jelas berbeda dengan saat dia bersama Minrin. Ya.. seperti yang pernah Kyuhyun katakan Minrin dan Ranran adalah dua orang yang berbeda jauh. Hubungan darah memang nyatanya tidak selalu membuat mereka tampak seperti saudara.

“Mau keluar sebentar?” Kyuhyun menawarkan.

Ranran menolehkan kepalanya dan memperhatikan Kyuhyun. Apa namja itu tengah bercanda dengannya? apa yang akan mereka dapat di malam dingin seperti ini? Tapi ya.. tujuan Ranran meninggalkan tempat hangat di kamarnya memang untk mencari udara segar. Meskipun pergi dengan Kyuhyun tidak masuk dalam kategorinya semenjak bertemu tadi.

“Nunna!” Kyuhyun mengibas-ngibaskan tangannya di depan Ranran, membuat gadis itu mengedipkan matanya beberapa kali.

“Asal kau tidak memanggilku Nunna..” Ranran memberikan perkecualian.

Di luar dugaannya ucapannya itu langsung disetujui Kyuhyun begitu saja. “Baiklah, deal.” Katanya. Senyum lebar menghiasi wajahnya.

Ranran akui senyum itu berbeda jauh dengan senyum yang namja itu berikan untuk adiknya. Selama ini yang dia lihat adiknya selalu melihat Kyuhyun sebagai seorang musuh yang harus dilenyapkan. Begitu pula dengan Kyuhyun, namja itu selalu bersikap dingin pada Minrin. Mungkin beberapa kali Kyuhyun berusaha bersikap hangat, tapi setahunya Minrin selalu mengacaukan sikap hangat Kyuhyun padanya, dan berujung perang dingin seperti biasanya.

8 Stories 8 Love 8 Heart

“Kau datang sendirian ke Jeju?” tanya Kyuhyun membuka suara. Dia menyesap kopi Americano yang tadi dipesannya.

Ranran menganggukkan kepalanya sembari memegang cangkirnya yang berisi cappocino hangat, mencoba meresapkan suhu panas dari benda mungil itu ke dalam tubuhnya.

“Shin Minrin?” Kali ini Ranran mendongakkan kepalanya. Seharusnya dia sudah menduga pertanyaan itu yang akan terlontar dari Kyuhyun.

Terkadang Ranran merasa aneh. Perasaan apa yang sebenarnya Kyuhyun gunakan jika sudah menyangkut adiknya itu. Beberapa kali dia melihat keduanya tidak pernah akur, saling menyalahkan, dan juga penolakan yang selalu Minrin lontarkan sebelumnya, Ranran yakin itu semua yang selalu terlihat diantara pasangan ini. Tapi di sisi lain, dia sendiri pernah melihat bagaimana Kyuhyun selalu mencari sosok Minrin.

Ranran mengangkat bahunya kecil. “Waeyo? Merindukan tunanganmu?” Kyuhyun hanya diam, seperti menahan senyum, dan itu sedikit aneh.

Ini pertama kalinya Kyuhyun tidak mendebat setiap kata yang diucapkan Ranran padanya. Biasanya mereka selalu mempunyai topic sendiri yang menjadi bahan perdepatan. Kau ingat pertemuan tidak terduga tadi kan? dan pertemuan mereka di rumah Ranran beberapa hari yang lalu? Jelas sekali mereka tidak bisa dikatakan berteman, atau setidaknya berhubungan baik layaknya kakak ipar dengan adiknya.

Tapi terlepas dari itu semua, Kyuhyun lebih menyukai perdepatannya dengan Ranran dari pada dengan Minrin. Perdebatan-perdebatan konyol yang sebenarnya tidak penting itu justru dia nikmati, dibandingkan berdebat tentang siapa yang salah dan benar.

 “Hanya merasa aneh, kenapa dia tidak ikut datang. Setahuku masalah di Jeju adalah hal sensitive baginya.  Kau tahu kan dia selalu menyalahkanku mengenai kegagalan proyek perusahaan kalian di tempat ini?” Buru-buru Kyuhyun bersuara, sebelum Ranran lebih jauh membaca apa yang tengah dipikirkannya.

“Aku tahu itu..” Ranran mengiyakan kenyataan itu. “Dia mungkin sedikit tidak menerima jika aku yang akan bertanggung jawab dengan proyek itu mulai sekarang.”

Kyuhyun menolehkan kepalanya. Bingung. Tidak mengerti. Dan jawaban dari ketidak mengertian itu hanya mendapat respon anggukan kepala singkat dari Ranran.

“Ya… kau kecewa karena bukan Minrin tapi aku?” Sekali lagi Ranran menebak isi kepala Kyuhyun.

“Kenapa aku harus kecewa? Itu tidak masuk akal, nunna.” Dan kali ini nada suara berdebat yang khas milik Kyuhyun kembali ke fase normal.

“Yak, sudah ku bilang jangan memanggilku Nunna.” Seru Ranran tidak terima. Selebihnya Kyuhyun hanya tertawa mendengar ketidaksukaan Ranran.

“Arra..arra. Kenapa kau mudah sekali tersinggung? Satu minggu lagi itu akan menjadi kenyataan, kau tahu itu kan?” Kyuhyun tersenyum.

Benar. Satu minggu lagi itu akan menjadi kenyataan. Dan asal kau tahu saja, satu minggu bukanlah waktu yang lama. Oh.. kenapa Ranran tiba-tiba menjadi aneh menyadari kenyataan itu? Dan ini pertama kalinya sejak mereka bertemu di Jeju, Ranran tidak menyukai senyum laki-laki itu. Tapi ya.. apa yang bisa dia perbuat. Nyatanya apa yang Kyuhyun katakan itu benar. Dia merasa kalah kali ini. Sial.

“Sudahlah, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu.” Ranran mengalah, dan dia pun menyeruput isi cangkirnya yang masih sepertiganya.

Kyuhyun kembali tersenyum dan diam-diam memperhatikan Ranran. Gadis itu benar-benar berbeda dari Minrin. Kenapa ada dua bersaudara yang sifatnya sangat bertolak belakang seperti itu? Ya.. Kyuhyun tahu mereka tidak kembar, dan pertanyaannya itu sebenarnya tidak masuk akal.

“Bagaimana dengan kakakmu? Ku dengar dia tinggal di Jeju.” Kyuhyun mencari bahan obrolan lain, dan jujur Ranran lebih tidak menyukainya sekarang.

Sejak tiba di Jeju masalah kakakknya adalah hal sedikit sensitive untuknya, dan dia tidak suka Kyuhyun tiba-tiba membuka percakapan mengenai itu.

“Ya, dia tinggal di sini.” Ranran mendadak menekuk wajahnya. Dan Kyuhyun sadar dia baru saja membuat kesalahan dengan ucapannya tadi. Meskipun dia sendiri tidak tahu kenapa, tapi jelas raut wajah Ranran yang berubah itu menandakan sesuatu, yang dia yakin ada sangkut pautnya dengan kakak laki-lakinya.

“Waeyo?”

“Aku belum pernah bertemu dengannya sejak tiba di Seoul. Aku bahkan tidak yakin dia mau bertemu denganku.” Jelas Ranran blak-blakan. Dia berharap keterbukaannya mengenai masalah ini dengan Kyuhyun tidak akan menimbulkan masalah baru.

Kyuhyun memang akan menikah dengan Minrin. Tapi disamping itu, namja ini terlihat lebih bersahabat dibandingkan adiknya sendiri.

Sekali lagi Ranran menyeruput isi cangkirnya. Dan Kyuhyun memperhatikan itu, secara diam-diam tentu saja. “Kau ingin bertemu dengannya?” Pertanyaan itu sukses membuat Ranran mengangkat kepalanya.

Tentu saja Ranran ingin bertemu dengannya. Sangat ingin. Lee Donghae adalah satu-satunya keluarga yang dia punya, setidaknya itu yang dia tahu sebelum masuk dalam keluarga Shin. Lebih dari itu, bersama Donghae dan tinggal di Jeju sepertinya lebih menyenangkan dari pada tinggal di rumahnya yang sekarang. Tiba-tiba Ranran merasa menyesal karena meninggalkan Jeju, Donghae, Sungyeon, dan semua yang ada di pulau ini.

“Kenapa kau tidak menemuinya saja?” Kyuhyun menebak isi kepala Ranran seperti biasanya.

Kenapa Ranran tidak menemuinya saja? Ya.. seharusnya itu ide bagus. Sebelum dia melakukan itu, Ranran harus memastikan Presdir tidak akan melakukan apapun pada kakakknya. Dan setelah itu dengan senang hati Ranran akan menemui Donghae, meminta maaf, sekalipun Donghae tidak akan mau bertemu dengannya.

“Kau takut bertemu dengannya? Karena sebenarnya kau lebih bisa dikatakan ..eerr  kabur dari pada pergi.” Sekali lagi Kyuhyun menebak-nebak. Dan diam-diam Ranran mengakui kemampuan Kyuhyun menebak isi pikirannya selalu benar. Hebat.

“Bagus sekali, Kyuhyun-ssi.” Ejek Ranran. Astaga bisakah obrolan mengenai kehidupannya dan juga Lee Donghae dihentikan sekarang juga?

Kyuhyun tersenyum lebar. “Waey? Itu yang kulihat dari ekspresi wajahmu tadi.”

Ranran merengut. Benar. Ekspresi wajahnya memang tidak pernah bisa disembunyikan. Semua orang selalu bisa menebaknya. Dulu, Donghae selalu bilang begitu padanya.

“Ah.. tapi ngomong-ngomong, aku bisa mengantarmu bertemu dengannya. Kebetulan aku tidak terlalu buru-buru pulang ke Seoul.” Sekali lagi Kyuhyun tersenyum lebar.

Kali ini Ranran menyipitkan matanya. Tawaran itu terdengar aneh di telinganya. Apa namja ini serius? Atau seperti biasanya?

“Waeyo? Kau tidak percaya padaku?” Kata Kyuhyun menambahkan begitu melihat ketidakpercayaan di mata Ranran.

Ranran menggelengkan kepalanya. “Bukannya menolak, tapi aku lebih senang Sungmin oppa yang menemaniku.” Ujarnya.

“Ah.. Lee Sungmin-ssi.. kau kelihatan dekat sekali dengannya.”

“Jangan memulai, Kyu.” Cegah Ranran cepat. Dia tahu arah pembicaraan selanjutnya adalah tentang dia dan Sungmin. Benar-benar tidak masuk akal.

Kyuhyun tertawa. Seperti biasanya, bersama gadis ini selalu membuat mood nya baik.

Tunggu dulu, apa yang baru saja dia pikirkan? Aigoo.. Cho Kyuhyun, pikiranmu pasti sedang kongslet. Kau akan menikah seminggu lagi, dan bagaimana bisa kau tiba-tiba tertarik pada yeoja lain yang kebetulan calon kakak iparmu sendiri?

8 Stories 8 Love 8 Heart

Distric Gangnam

22.00 KST

Hyukjae menunggu di dalam mobilnya yang terpakir tidak jauh dari restoran kecil tempat Hyehyo bekerja. Dia berencana menunggu gadis itu selesai bekerja dan mengajaknya pulang bersama. Ya..lagi-lagi dia tidak bisa menolak dorongan aneh dalam dirinya untuk melakukan ini. Entahlah, sepertinya sejak tadi kinerja kewarasan otaknya terkalahkan dengan dorongan itu.

Sekali lagi Hyukjae melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sepuluh malam. Dia mulai khawatir. Apa gadis itu sudah pulang sejak tadi? Hyukjae bergerak mengambil ponselnya dan matanya langsung menangkap Hyehyo yang berjalan keluar dari restoran itu. Tanpa dia suruh hembusan nafas lega lolos begitu saja dari paru-parunya.

Hyehyo terus berjalan, melewati mobil Hyukjae, tanpa sedikitpun kecurigaan ada orang di dalamnya. Hyukjae mengamati gadis itu. “Hyo..” Panggil Hyukjae.

Hyehyo menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Dia melihat kepala Hyukjae yang menyumbul ke luar dari jendela mobil. Gadis itu menautkan alisnya, heran.

“Apa yang kau lakukan di sana?” Hyehyo menghampiri namja itu dan berdiri di depan pintu.

Hyukjae tersenyum lebar begitu melihat Hyehyo dari jarak dekat seperti ini. “Mengajakmu pulang” Jawabnya.

“Kenapa?”

“Kenapa?” Hyukjae bingung sendiri menjawab pertanyaan itu. Ya.. ini memang aneh. Sejak awal tingkah Hyukjae memang aneh.

“Tadi aku pergi ke rumah temanku di sekitar sini. Lalu kupikir kau belum pulang, karena itu..”

“Kau menungguku pulang.” Tebak Hyehyo cepat.

Sial. Hyukjae mengumpat dalam hati. Kenapa yeoja ini bisa tahu?

“err..tidak bisa dibilang begitu juga sih. Aku tidak menunggumu hanya kebetulan di sini, sekalian saja kita pulang bersama. Tidak ada yang salah dengan itu” Dan yang bisa Hyukjae lakukan hanyalah mengelak. Egonya terlalu tinggi untuk mengakui tebakan Hyehyo tadi.

Tidak selang berapa lama sebelum Hyehyo membalas ucapan itu, titik hujan es mulai membasahi kepala dan pundak Hyehyo.

“Cepat masuk, kau tidak mau kedinginan di luar sana kan?” Hyukjae membuka pintu sisinya. Dan Hyehyo pun langsung berlari ke sisi itu.

Ya.. keberuntungn untuknya Hyukjae datang. Salju turun di malam selarut ini dan jika Hyukjae tidak datang, mungkin dia sudah membeku menunggu bus atau taksi.

Hyukjae menstater mobilnya dan mobil itu pun berjalan dengan pelan sekarang. Detik-detik berikutnya yang terjadi hanya kesunyian yang menyelimuti. Tidak ada satu pun kalimat yang mereka ucapkan. Hyukjae terus focus dengan jalan di depannya, sementara Hyehyo sesekali mengarahkan pandangannya ke samping. Kenapa tiba-tiba suasanya sedikit panas di dalam sini ya?

8 Stories 8 Love 8 Heart

Seoul

22.01 KST

Minrin memandangi sungai di depannya yang berpendar dengan cahaya. Sudah sekitar setengah jam duduk di pinggir sungai Han, dan dia sama sekali tidak merasa keberataran apalagi dengan cuaca bersalju seperti ini. Apapun dalam dirinya terlalu dingin hingga tidak lagi merasakan salju yang lebih dingin lagi.

Satu dua kali gadis itu menghembuskan nafasnya dengan berat. Beberapa kali menghirup udara terasa berat olehnya. Dia pikir berada di luar akan membuatnya bebas bernafas tapi nyatanya sama saja.

Dia masih betah dalah kondisi itu jika suara mobil di belakangnya tidak mengusiknya. Dia menolehkan kepalanya. Sebuah mobil Audi silver berhenti di samping mobilnya. Seketika itu Minrin mentapnya heran. Sepertinya dia mengenal mobil itu.

Seorang namja keluar dari mobil itu dengan stelan jas hitam. Kim Ryeowook. Benar namja itu adalah dia. Minrin harus menyebut ini keberuntungan atau kesialan?

Ryeowook menyelusuri suangai Han dengan pandangannya dan berhenti ketika melihat Minrin berdiri tengah menatap ke arahnya. Dia tersenyum dan memutuskan menghampiri gadis itu.

“Mencari udara segar?” tanyanya pada Minrin. Nada suara itu berbeda dengan yang terakhir Ryeowook gunakan saat bertemu dengan Minrin.

Minrin mengangguk . “Kau juga?”

“Aku selalu menyukai tempat ini.” Ryeowook bergumam.

Suasana kali ini lebih baik dari pada terakhir kali bertemu. Minrin memperhatikan Ryeowook dari sudut matanya. Diam-diam dia tersenyum. Seperti ada sesuatu yang membuatnya melakukan itu dan melupakan beban pikirannya. Dia senang Ryeowook datang. Dan lebih senang lagi karena namja itu seolah kembali menjadi Ryeowook yang dulu.

Ryeowook memang tidak pernah berubah, tapi untuk sesaat Minrin merasa sikap Ryeowook berubah padanya beberapa hari lalu. Tapi dia senang namja itu kembali.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Ryeowook menolehkan kepalanya tepat saat Minrin masih mengembangkan senyumnya dengan jelas.

Dengan cepat Minrin kembali memandangi sungai Han. “Tidak apa-apa. Aku hanya senang.” Ujarnya.  Dia kembali menyembunyikan senyumnya itu.

“Satu minggu lagi akan menikah. Kau pasti bahagia.”

Mau tidak mau topic itu muncul. Jujur saja Minrin tidak menyukainya. Dia tidak menyukai Ryeowook mengungkit-ungkit pernikahannya, dan dia juga tidak suka dengan kenyataan tentang pernikahan itu.

“Jangan gila. Kau tahu aku tidak terlalu senang.” Celetuknya, seakan kembali menegaskan pernyataannya di ruang Presdir waktu itu.

“Ya.. aku tahu itu. Apa kau masih menyukaiku?” Pertanyaan itu terlonta begitu saja, dan sukses membuat Minrin menegang. Telinganya mendadak panas.

“Hmm.. menurutmu?”

“Entahlah, aku tidak tahu. Kali ini mungkin aku bisa menerimamu.” Ucapan itu terlalu jujur atau apa? Minrin benar-benar tidak mengerti sekarang.

Kenapa dengan namja ini?

Ryeowook tersenyum. Dia merasa bodoh dengan ucapannya barusan. Kenapa dia tiba-tiba mengatakan itu? Karena harapannya pada Ahra sudah hilang? Atau karena alasan lain?

“Aku baru saja putus dengan pacarku.” Katanya.

Minrin langsung menolehkan kepalanya lagi dengan cepat. Putus. Pacar. Jadi alasan itulah kenapa dia tidak mengatakan apapun di ruang Presdir itu? oh.. Minrin sedikit merasa kecolongan. Bagaimana mungkin dia tidak menyadari ada seorang yeoja yang Ryeowook sukai.

“Jadi, karena kau putus dengan pacarmu, itu berarti aku bisa mendapatkanmu?” Tapi Minrin tidak terlalu terkejut sekarang. Entahlah, sepertinya dia sudah bisa menerima Ryeowook bukan untuknya.

Ryeowook mengangkat bahunya pelan. Dia sendiri tidak yakin seperti itu.

8 Stories 8 Love 8 Heart

CUT

Cerita makin tidak jelas dan seperti sinetron saja. Bagian terakhir mungkin aneh ya? Dan mungkin part ini juga agak membosankan. Sejauh ini belum ada sesuatu yang romantic yang aku tulis. Huft .. aku harap part selanjutnya ada. 

Lagi-lagi ada Eunhye nyempil 😀 entahlah, aku suka nulis tentang mereka.  Semoga part selanjutnya yang lain bakal ketemu couplenya. Dan Teuk oppa.. hoaah.. baru sadar dia baru sekali masuk dalam cerita. ^^

Part selanjutnya semoga aku bisa reveal satu persatu masalah semua couple

Jangan lupa komentnya. Dan terima kasih sudah mau baca ..  ^_^ 

Advertisements

3 thoughts on “(Fanfiction) 8 Stories 8 Loves 8 Hearts Part 3 : Love Hate

    1. banyak ff yg numpuk jd yg ini terlntr hehe.. tapi tep diusahain dilanjutin kok. sebenrnya past selnjutny udah ada tp masih perlu di edit.
      terima kasih sudah baca ^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s