(Fanfiction) Paper Boat

origami-paper-boat-wallpaper

Title : Paper Boat

Cast : Park Sungyeon, Lee Sungmin

Genre : Romance, angst, AU

Rating : 15

Length : Drabble  (1219 words)

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

Disclaimer : Cast is belong to their self, parents and God. But their character, plot belong to mine. DON”T COPY PASTE my FF

A/N : This is inspired by Perahu Kertas song from Maudy Ayunda (Ost Perahu Kertas movie) and the Story of the movie

 

Desember  31st 2011

Sungyeon duduk dengan kaki bersila di atas pasir putih pantai yang tertutup salju. Pandangannya jauh ke laut lepas, di sebuah garis antara langit dan laut yang terlihat putih. Tangannya menggenggam sebuah kertas berwarna merah, sementara di sampingnya tersebar kertas-kertas serupa yang berbeda warna. Di setiap kertas itu ada tulisan tangan Yeonie. Kalimat-kalimat rindu, kalimat harapan atau ungkapan hatinya memenuhi kertas-kertas itu.

Gadis itu bergerak melipat-lipat kertas merah ditangannya. Dengan cekatan dan seperti sebuah mesin yang diperintah dengan sempurna, tangan itu mengubah lembaran kertas persegi menjadi sebuah miniatur perahu. Dia meletakkan kertas itu di samping satunya, dan kemudian mengambil kertas lainnya di sisi lainnya. Dia membaca kalimat yang ada di kertas berwarna putih itu.

“Bogoshipoo..” Yeonie memperhatikan kertas itu sesaat kemudian tersenyum.

Namun setelahnya nasib kertas itu juga sama dengan kertas berwarna merah tadi. Begitu pula dengan kertas-kertas lainnya. Hingga akhirnya semua kertas yang tadi dia bawa ke tempat ini berubah menjadi miniatur perahu kecil berwarna-warni.

Yeonie membawa perahu-perahu kecil itu menuju bibir pantai. Satu persatu dia meletakkan perahu itu di atas air yang bergelombang pelan, membuatnya terombang-ambing dengan sempurna. Ini bukan kebiasaan yang sering dia lakukan. Hanya saja dia selalu berpikir, mungkin dengan dia mengirim surat-surat gila dalam perahu itu, dewa penguasa lautan akan menuntunnya bertemu dengannya lagi. Bertemu seseorang yang pernah mengisi hari-harinya. Lee Sungmin. Mungkin dengan perahu itu terombang-ambing di tengah lautan, angin yang berhembus akan mengantarnya pada laki-laki itu. Atau paling tidak bisikan angin itu akan menyampaikan pesan Yeoni pada laki-laki itu.

January 2010

“Yeonie-ya..”

Panggilan Sungmin itu seperti tidak berarti lagi bagi Yeonie. Gadis itu seperti terkena sebuah hantaman benda keras. Membuatnya susah untuk menyadarkan diri bahwa kepergian namja di depannya ini akan segera terjadi. Tapi entah kenapa yeonie benar-benar tidak ingin memikirkan itu.

Perlahan Sungmin menarik pergelangan tangan yeonie dan mendekap tubuh gadis itu erat. Sungguh, dia sendiri tidak ingin meninggalkan gadis ini di tempat ini sendirian. Tidak. Dia tidak bisa. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Sebuah kenyataan memaksanya pergi. Jika boleh, dia ingin membawa serta Sungyeon, namun dia tahu apa yang akan terjadi jika dia melakukan itu.

“Setelah kau sampai di Seoul, Katakan pada gadis itu, bahwa aku senang itu Dia yang akan bersamamu nanti. Katakan juga permintaan maafku padanya karena membuatmu terombang-ambing dalam perasaan cinta yang rumit.” Ucap yeonie pelan, masih dalam pelukan Sungmin.

Sungmin mengelus rambut Yeonie dan mengangguk. ‘Gadis itu’ yang Yeonie maksud adalah seorang gadis yang menjadi tunangan Sungmin. Ya… namja itu harus kembali ke Seoul karena upacara pernikahan yang segera dilaksanakan.

Kau mungkin berpikir dia pria jahat yang mencintai dua orang wanita. Tapi memang itu kenyataannya. Tanpa dia bisa kontrol, perasaannya pada Yeonie yang sejak dulu dia simpan telah membuatnya kehilangan arah. Menyakiti dua hati yang berharga untuknya. Di satu sisi dia tidak bisa meninggalkan yeoja yang setiap satu bulan sekali menunggu kepulangannya dari Jepang. Namun dia juga tidak pernah bisa meninggalkan Sungyeon selama dua tiga hari dalam sebulan hidupnya.

Baiklah dia memang brengsek, nappun namja. Tapi dia bersumpah jika salah satu dari mereka memang diciptakan Tuhan untuk bersamanya, hidup seumur hidup dengannya, maka demi apapun Sungmin tidak akan melepaskannya.

Dan jika sekarang kenyataannya wanita yang Tuhan maksud itu bukanlah Yeonie, maka Sungmin akan dengan senang hati meninggalkan gadis ini, Park Sungyeon.

Desember 31st  2011

Yeonie menghembuskan nafasnya dengan pelan. Sekali lagi dalam satu bulan ini, dia melepas perahu-perahu itu.

 

Neptunus,

bagaimana kabar namja itu sekarang? Apa dia bahagia?

Aku senang jika dia merasa bahagia sekarang. Tapi aku merindukannya. Apa itu salah?

Itu adalah isi surat yang dibawa perahu berwarna merah.

Bahkan waktu hampir dua tahun tidak bisa membuatku melupakanmu. Tapi hanya butuh satu hari untukku merasakan apa itu cinta. Dan cinta yang dibangun dalam satu hari pun tidak bisa dikalahkan dengan 720 hari untuk melupakanmu.

Aku mungkin egois karena terus mencintaimu, padahal jelas ada orang lain yang berdiri di sisimu sekarang.

Hey Neptunus,

Apa aku boleh terus mencintainya? Bisakah kau membawa suratku ini padanya?

Hey para Anemoi,

Bisakah kau menyampaikan bisik-bisik perasaan rindu ini padanya dimanapun dia berada. Aku mencintainya, bahkan sampai membuatku tidak bisa berpaling pada yang lain sekali pun. Bisakah kau membantuku penyampaikan itu?

 

Sedangkan perahu kecil berwarna putih yang sekarang melaju paling depan itu adalah surat terpanjang yang Yeonie tulis selama ini. Dia ingin bersikap egois untuk sesaat.

January 1st 2012, 06.00 AM

Hiruk pikuk kota Osaka tetap sama seperti biasanya, meski ini adalah tahun baru. Beberapa dari mereka memang tidak sedang berangkat kerja, tapi untuk menikmati hari libur satu hari di tahun baru ini.

Sungyeon memperhatikan lalu lalang manusia yang berjalan di luar melalui jendela café ini. Sementara di depannya secangkir white kopi mengepulkan asapnya. Tangan gadis itu mengetuk-ngetuk pelan meja kayu, dan sesekali dia menghembuskan nafasnya dengan berat.

Tahun baru bagi semua orang adalah hari dimana tahun berganti. Tapi bagi Sungyeon lebih dari itu. Karena di tanggal yang sama 26 tahun yang lalu, seorang wanita telah melahirkan bayi laki-laki. Seorang bayi yang tumbuh menjadi laki-laki dewasa dan berhasil mencuri hati Yeonie tiga tahun yang lalu. Dan sampai sekarang pun laki-laki itu tidak pernah mengembalikannya pada Yeonie.

“Gomenasai..”  seorang pelayan café itu membungkukkan badannya begitu cangkir berisi kopi tumpah membasahi jas seorang laki-laki yang dia tabrak.

Yeonie menolehkan kepalanya, penasaran dengan apa yang baru saja terjadi. Dia memperhatikan laki-laki yang tengah berusaha membersihkan tumpahan kopi di jasnya. Laki-laki itu sedikit menundukkan kepalanya, membuat Yeonie tidak bisa melihat wajahnya. Sementara pelayan muda yang tadi menabraknya mengambil sebuah tisu untuknya.

Sejenak kemudian Yeonie kembali ke posis semula, ketika itu tidak lagi menarik baginya.

“It’s All right .. “ Laki-laki itu sepertinya tidak menyalahkan keteledoran pelayan tadi. Benar-benar gentle. Karena di dunia ini jarang ada orang yang seperti itu. Kebanyakan dari mereka pasti akan langsung marah-marah.

Si pelayan sekali lagi meminta maaf dan dia bahkan bermaksud mencucikan jas laki-laki itu. Tapi laki-laki tadi menolaknya dengan sangat sopan. Kemudian ketika akhirnya laki-laki itu berjalan ke arah yeonie. Yeonie bisa merasakan, orang tadi mengambil tempat duduk di belakangnya, terdengar dari decit kursi yang ditarik keluar.

“Ah.. Ne, Gomapsumnida.” Laki-laki itu berbicara dengan bahasa korea yang terdengar jelas di telinga Yeoni.

Bukan karena bahasa yang dia gunakan yang membuat Yeonie tersentak. Tapi suaranya yang begitu familiar. Apa dia sedang berpikir bahwa laki-laki itu Lee Sungmin?

Yeonie menggelengkan kepalanya pelan. Dia mengambil cangkir berisi kopi di depannya dan meminumnya dengan perlahan. Sementara tangannya sendiri bergetar tidak tahu kenapa. Mungkin karena hatinya juga sedang bergetar hebat sekarang. DIa meletakkan lagi cangkir itu, sementara tangan satunya tidak sengaja menyentuh pena di tepi meja dan membuatnya terjatuh.

Yeonie menundukkan kepalanya mencari pena itu dan betapa terkejutnya dia ketika pena itu sudah diambil sebuah tangan manusia yang duduk dibelakangnya. Laki-laki tadi mengangkat kepalanya begitu juga Yeonie, membuat mereka saling bertatap.

January 2nd 2012

Neptunus, apa kau menyampaikan pesanku itu? Karena ku rasa kau berhasil mengantar surat-surat ku padanya.

Hey para Anemoi, Apa kau benar-benar membisikkan kalimat-kalimat rindu itu padanya? Karena kurasa kau memang melakukannya.

Aku bahkan tidak bisa mempercayai penglihatanku sendiri ketika melihatnya berdiri depanku, dan tersenyum padaku.

Dia datang, Neptunus dan dia datang bukan untuk kembali pergi.

Dia bilang pernikahannya dibatalkan satu hari sebelumnya. Dan tebak, bukan dia yang membatalkannya tapi gadis itu. Apa aku bersikap jahat sekarang?

Apa aku masih egois jika aku menginginkannya kembali sepenuhnya padaku?

Yeonie melepas satu buah perahu kertas ke laut luas sekali lagi. Dia tersenyum setelahnya. Apalagi ketika sebuah tangan menggenggam erat tangannya.

END

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s