(Fanfiction) That Namja

Converted_file_8427b799

Title : That Namja

Cast : Kim  Ryeowook, Shin Minrin

Genre : Romance, AU, Ficlet

Rating : 15

Length : 1.910 words

Author : Whin (@elizeminrin)

I come with new drabble. Mianhae karena bukannya ngelanjutin yang ff series tapi justru bikin drabble baru. Ini gara2 namja itu … #eeh  sepertinya dia berhasil membuat Minrin berpaling dari Ryeowook
well, Happy Reading ya …

Orang itu … Minrin kembali memperhatikannya seperti biasa, lebih tepatnya diam-diam memperhatikannya. Orang itu terlihat tengah berjalan dengan santainya di koridor kampusnya. Namja itu lah yang akhir-akhir ini membuat otak Minrin tidak beres, membuatnya tersenyum dengan sendirinya. Ya..kenapa dia begitu tampan uh?

“Aniya..” Minrin menggelengkan kepalanya dengan cepat, ketika lagi-lagi addicted tentang namja itu kembali merasukinya.

“Yak, Shin Minrin!” sebuah tepukan ringan dibahunya membuat Minrin benar-benar tersadar sekarang.

Gadis itu menoleh ke arah orang yang berdiri di sampingnya, Chany.

“Uh waegure?” tanyanya bersikap seolah tidak ada yang terjadi.

Tapi temannya itu selalu tahu apa yang Minrin lakukan. Setahunya kalau tidak salah ada seorang namja yang tadi berjalan di depan mereka. Seorang namja yang selalu bisa membuat mata Minrin mengikuti bayangannya.  “Eiiyyy…Jangan bohong.” Katanya menyindir. Dan pada akhirnya Minrin hanya bisa tersenyum.

Nyatanya itu benar. Minrin seperti tidak bisa menahan perasaan bahagia di hatinya ketika melihat Namja itu berjalan di depannya, atau melihatnya ketika memegang buku di salah satu bangku perpustakaan. Setiap melihatnya selalu bisa membuat Minrin hilang arah. Sebuah perasaan yang Minrin tahu hanya ingin terus menatapnya.

“Hey, berhentilah menatapnya. Dia sudah pergi.” Dengan cepat Chany menutup mata Minrin dengan bukunya, ketika Minrin masih menatap belokan koridor yang tadi Namja itu lewati. Tapi Minrin langsung menempis buku yang menghalangi pandangannya itu.

Tidak sampai disitu, Chany bahkan memegang kening Minrin, memastikan gadis itu masih dalam keadaan sehat. “Aissh..kau ini sedang sakit atau apa eh?”

Minrin mengerjapkan matanya beberapa kali, ketika tangan Chany menyentuh keningnya. Aniya..dia tidak sedang sakit. Tentu saja tidak. Mana mungkin dia bisa merasakan sesuatu sebahagia ini kalau sedang sakit.

Minrin tersenyum dan menepis tangan Chany dengan lembut. “Aniya.. “ katanya menyangkal.

“Aigoo… yak, ingatlah kau ini sudah punya namjachingu. Mana boleh melirik yang lain seperti itu.” ujar Chany kemudian.

“Arra. Aku tahu itu.” Balas Minrin cepat, sebelum Chany kembali menceramahinya seperti biasa.

Itulah masalahnya. Dia tahu itu. Dia tahu perasaan cinta yang dia miliki hanya milik Ryeowook seorang, tidak ada yang lain. Tapi bagaimana pun juga dia tidak bisa berbohong jika Namja tadi benar-benar telah mengganggu pikirannya setiap waktu.

“Kalau kau tahu kenapa masih terus memperhatikannya ha? Aigoo… kau ini aneh sekali. Baiklah, lakukan sesukamu, aku tidak akan ikut campur, termasuk kalau seandainya si Jerapah pendek Ryeowook itu menyadari kau selingkuh dan meninggalkanmu.” Kata Chany yang terdengar seperti sebuah ancaman bagi Minrin.

Lagi-lagi Minrin hanya tersenyum. “Chany-ah, na jinjja… mollasoyo. Eottoke?”

oo0oo

Apa Minrin melakukan kesalahan? Tertarik pada laki-laki itu bukanlah kesalahan bukan? Lagipula, Minrin hanya memperhatikannya saja, tidak lebih. Cukup baginya hanya dengan menatap Namja itu dari jauh. Minrin juga tidak pernah berpikir untuk lebih jauh mengenalnya, termasuk mengetahui namanya. Hanya dengan melihatnya saja selalu berhasil membuat sensasi aneh di hatinya, menjungkir balikkan isi perutnya. Apalagi jika Minrin harus berkenalan dengannya, berbicara dengannya. Entah apa yang akan terjadi jika itu terjadi.

“Yak, nona tukang melamun.” Sebuah tangan dengan lembut menyentuh kepala Minrin membuat gadis itu terlonjak dan menolehkan kepalanya.

Seorang namja yang sudah beberapa hari ini tidak dia temui tengah berdiri di depannya. Dia tersenyum pada Minrin. Sebuah senyum lembut yang dulu membuat Minrin menyukainya.

“Ryeowook-ah.. apa yang kau lakukan di sini?” tanya Minrin berpura-pura terkejut dengan kehadiran Ryeowook di depannya secara tiba-tiba.

Ryeowook tersenyum dan mengambil tempat duduk di depan Minrin, membuat Minrin leluasa untuk menatapnya. Tapi menatapnya saat ini rasanya berbeda dibandingkan dulu. Oh..kenapa ini terjadi padanya? Kenapa Minrin tidak bisa lagi merasakan sesuatu yang membahagiakan ketika bertatapan dengan Ryeowook seperti dulu? Kemana perasaan itu pergi uh?

Apa ini karena Namja itu?

“Kenapa kau menatapku seperti itu ha?” ujar Ryeowook kemudian.

“Aniya..” Buru-buru Minrin menundukkan kepalanya dan berpura-pura kembali sibuk dengan buku di depannya.

Benar-benar memalukan. Bagaimana mungkin dia selalu tertangkap basah oleh Ryeowook ketika menatapnya.

Tapi ini berbeda. Perasaan itu tidak lagi sama seperti dulu. Perasaan ketika Ryeowook menangkap basah Minrin tengah menatapnya dengan intens.

“Bogoshipoo..” Gumam Ryeowook yang refleks membuat Minrin kembali mengangkat kepalanya

Minrin diam. Dia memperhatikan Ryeowook, berusaha mencerna kata yang Ryeowook ucapkan barusan.

Rindu?

Kenapa rasanya juga berbeda dari biasanya? Dulu, ketika Ryeowook tidak menemuinya berminggu-minggu karena jadwalnya yang sibuk, Minrin selalu merindukannya. Hatinya akan memucah bahagia ketika Ryeowook datang menemuinya dan mengucapkan kata itu. Tapi kenapa sekarang terasa berbeda?

Tapi sejenak kemudian Minrin tersenyum. “Nado..” balasnya

Jelas ada yang berbeda dengan dirinya saat ini.

oo0oo

“Chany-ah, Bagaimana menurutmu kalau aku menemui Namja itu?” tanya Minrin tiba-tiba meminta saran.

Ini sudah hampir satu bulan sejak Minrin diam-diam selalu memperhatikan Namja itu.

“Oh..nuguya? Jerapah pendek itu? aigoo… kau mau menyusulnya ke Taiwan?” Chany dengan malas menjawabnya. Dia kembali sibuk dengan buku-buku perpustakaan di hadapannya.

“Aniya..maksudku Namja yang duduk di sana.” Minrin menunjuk Namja yang duduk tidak jauh dari mereka berdua.

Chanie mengikuti arah pandang Minrin. Dan seperti yang Chany duga, Namja itu adalah namja yang selalu membuat otak temannya konslet setiap kali memikirkannya. Jelas namja itu bukanlah Ryeowook. Apa tempat Jerapah pendek kesayangan Minrin itu sudah tergantikan sekarang?

Chany menggelengkan kepalanya tidak mengerti. “Kau gila.”

Dia tidak mengerti kenapa temannya itu bisa seperti ini sekarang. Setahunya, sesering apapun Minrin mengatakan Namja ini atau itu tampan, tapi tidak pernah sampai seperti ini. Karena ujung-ujunganya Minrin akan kembali pada Ryeowook. Just like usual.

“Apa kau berencana selingkuh ha? Karena dia sedang di Taiwan dan kau merasa bebas melirik namja lain, begitu?” Seru Chany, berharap temannya itu segera sadar.

“Bagaimanapun juga kau tidak boleh melakukan itu. Sejelek apapun Ryeowook tetap saja aku tidak akan membiarkanmu mengecewakan Jerapah pendek itu.”

“Aku pikir ini hanya sementara. Tapi jelas sudah keteraluan sekarang. Aniya..Minrin-ya, kau harus menghentikan perasaanmu itu sebelum lebih jauh berkembang.”

Minrin terus diam, ketika kalimat-kalima itu terus meluncur bebas dari Chany. Entahlah kenapa tapi dia merasa terkena sebuah cambuk. Ini sebuah tuduhan tersirat yang diluncurkan secara terus terang.

“Meskipun kau sudah tidak mencintai Ryeowook, tapi setidaknya berpisah dengannya secara baik-baik. asal kau tahu, Kau tidak akan pernah merasakan kehilangan orang yang kau sayangi sebelum dia benar-benar pergi. Pikirkan itu baik-baik” kata Chany lagi, kali ini dengan nada yang melunak.

oo0oo

Benarkah itu? benarkah sudah tidak ada perasaan cinta yang Minrin miliki untuk Ryeowook seperti dulu? Benarkah dia sudah benar-benar berpaling dari Ryeowook?

Aniya…

Tapi bagaimana jika itu benar. Bukankah saat ini saja Minrin tidak merasakan bagaimana itu merindukan Ryeowook, saat dia pergi ke Taiwan. Atau dia lupa seperti apa cara merindukan kekasihnya itu?

Segila apapun dia ingin melihat Namja yang merusak sistem kerja otaknya, tetap saja tidak terlintas dalam benaknya untuk berpisah dengan Ryeowook. Tidak pernah sama sekali.

Kau tidak akan pernah tahu seperti apa itu kehilangan orang yang kau sayangi sebelum kau benar-benar kehilangan dirinya.”

Kalimat terakhir yang Chany katakan padanya terus teringiang di kepala Minrin. Nyatanya  Minrin memang tidak mau berpisah dengan kekasihnya itu.

Lalu apa yang harus Minrin lakukan sekarang?

oo0oo

DIam. Keduanya hanya diam. Baik Minrin maupun Ryeowook, tidak ada satupun yang memulai pembicaraan. Satu jam yang lalu, ketika Ryeowook baru saja meninggalkan Taiwan, Minrin meneleponnya. Dia bilang ada yang ingin dibicarakan. Karena itulah Ryeowook langsung menuju apartemnet Minrin, begitu pesawat mendarat di Gimpo International Airport. Tapi yang terjadi Minrin hanya diam dari tadi.

Meskipun Ryeowook sebenarnya tahu apa yang akan gadis itu katakan, tapi dia tetap menunggu sampai Minrin sendiri yang akan memuali. Maka dari itu dengan bersikap seolah tidak terjadi apapun, dan dengan pemikiran yang biasa-biasa saja Ryeowook beranjak dari tempat duduknya, berjalan menuju jendela besar di apartement itu.

Hmm sampai kapan harus seperti ini? haruskah Ryeowook yang memulai untuk mengakhiri ini semua? Dia tahu gadisnya itu tengah berpaling darinya. Meskipun Ryeowook sendiri tidak tahu namja seperti apa yang membuat kekasihnya itu berhenti menatap kearahnya.

Sebenarnya sudah lama Ryeowook mengetahui ini, tepatnya saat dia kembali dari konser di Jepang. Saat itu secara tidak sengaja Ryeowook membaca tulisan Minrin tentang seorang namja.

Aku bertemu dengan namja yang sangat tampan. DIa memiliki senyum yang menawan dan selalu membuatku terus menatapnya.  Sayangnya aku tidak pernah bisa menyapanya. Aku hanya bisa menatapnya dari jauh. DIa selalu memenuhi pikirannya beberapa hari ini.

 

Bahkan Ryeowook masih ingat senyum yang Minrin berikan ketika kalimat rindu keluar dari bibirnya waktu itu. Jelas itu bukan senyum kebahagian yang biasa Ryeowook lihat. Haruskah Ryeowook membiarkan gadis itu pergi sekarang? Tapi bagaimana dia bisa melakukan itu? Selama ini alasan kenapa Ryeowook tidak ingin melihat yeoja lain, tidak ingin mengenal lebih jauh yeoja disekelilingnya adalah karena Minrin.

“Minrin-ya..” panggil Ryeowook kemudian, tanpa sedikitpun membalikkan tubuhnya menghadap Minrin.

“Promosi di Taiwan akan lebih lama dari biasanya, belum lagi kegiatan di Jepang. Apa kau tidak apa-apa jika aku tinggal?” Ryeowook benar-benar memulainya sekarang.

Secara tidak langsung Ryeowook memang bertanya bagaimana Minrin jika tidak ada dirinya di sisinya. Dan Minrin mengerti itu. Gadis itu mendongakkan kepalanya.

“Benarkah?” Tapi Minrin berpura-pura tidak mengerti.

Dia menatap punggung Ryeowook dan perlahan matanya kabur karena air mata yang membendung di pelupuk matanya. Sedetik kemudian dia bangkit dari tempat duduknya, berjalan mendekati Ryeowook dan melingkarkan tangannya, memeluknya dari belakang.

“Mianhae…” ucapnya pelan. Air matanya menetes pelan sekarang.

Diam-diam Ryeowook hanya tersenyum simpul. Maaf seperti apa yang sedang diucapkan gadisnya itu? Maaf karena berpaling darinya atau maaf karena harus pergi meninggalkannya?

Sejujurnya Ryeowook sendiri tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Membiarkan Minrin pergi ataukah menahannya tetap di sisinya. Tapi jika dia menahannya disisinya, bukankah itu berarti dia telah menyakiti hati Minrin? Dan demi apapun Ryeowook tidak akan pernah bisa menyakiti gadis yang dia cintai itu. Tapi jika dia membiarkan Minrin pergi, bolehkah dia bersikap sedikit egois sekarang?

Minrin semakin erat memeluk Ryeowook. Sebuah perasaan bersalah yang menyebalkan benar-benar tidak bisa dia tahan. Dia terisak pelan, dan Ryeowook menyadari gadis itu sedang menangis, tapi dia hanya diam.

“Mianhae, Ryeowook-ah..” ucap Minrin lagi, kali ini dengan terisak yang terdengar jelas.

Air mata Minrin adalah hal yang tidak ingin Ryeowook lihat. Apalagi penyebab air mata itu adalah dirinya. Dengan cepat Ryeowook membalikkan badannya dan mendekap Minrin dipelukannya. Demi apapun Ryeowook tidak bisa melihat gadis ini menangis.

“Aku tidak akan memaksamu untuk disampingku.” Ucap Ryeowook, yang langsung membuat Minrin tercengang.

“Aku akan membiarkanmu pergi, jika bersamaku bukan kebahagiaan yang kau inginkan. Minrin-ya, aku tahu kau menyukai Namja lain. Apa dia namja yang akan membuatmu bahagia?”

Dengan cepat Minrin segera melepaskan pelukan itu dan menatap Ryeowook tidak mengerti. Apa yang tadi dia katakan? Berpisah? Aniya.. bukan itu yang Minrin inginkan. Tidak bisa. Dia tidak bisa menjauh dari Ryeowook. Minrin tidak tahu akan seperti apa jika namja di depannya ini pergi dari sampingnya.Tidak bisa.

“Tapi bolehkah aku bersikap egois sekarang dan menahanmu tetap di sampingku?” tanya Ryeowook kemudian.

Dan sedetik kemudian sebuah senyum terukir di bibir Minrin. Dia benar-benar berpikir Ryeowook akan pergi meninggalkannya. Tentu saja Minrin tidak bisa melakukan itu. Bagaimana pun juga kehadiran Ryeowook lebih membahagiakan dari pada menatap Namja itu setiap saat.

“Pabo..” ujar Minrin lirih

Gentian Ryeowook yang menatap Minrin tidak mengerti sekarang.

“Jerapah pendek yang sama sekali tidak tampan. Kau benar-benar bodoh.” Ujar Minrin lagi, yang semakin membuat RYeowook tidak mengerti.

“Kau memang tidak tampan dibandingkan Namja itu, tapi Kau jelas lebih baik darinya. Karena Kau yang lebih dulu membuatku jatuh cinta padamu. Dan bodohnya aku begitu saja jatuh cinta padamu.”

Kali ini Ryeowook tersenyum mendnegar kata-kata itu. Itu tadi kalimat termanis yang pernah Minrin katakan selama mereka bersama. Perlahan dia menarik Minrin kembali ke pelukannya.

“Jangan pernah menatap Namja lain selain aku. Kau mengerti?”

Minrin mengangguk. Tidak akan pernah lagi. Ya..meskipun itu terjadi lagi, pada akhirnya Minrin selalu kembali pada Ryeowook. Selalu ada jalan untuknya kembali pada Ryeowook. Bukanlah Bunga Matahari hanya akan selalu menatap ke arah Matahari?

Dan jujur saja dia hanya tertarik pada Namja itu, bukan menyukainya. Karena yang benar-benar Minrin sukai dan cintai hanyalah Kim Ryeowook.

 

oo0oo

 

 

Arrghh ga tahu ini cerita apa.. lol. Yang jelas namja itu *song jong ki* benar-benar membuat Minrin berpaling untuk sesaat. Beruntung dia menemukan jalan pulang ^___^

Mianhae kalau gaje habis. Habisnya beberapa hari ini bosan lihat si jerapah pendek Kim Ryeowook dan justru disuguhi Song Jong Ki  yang cakep di Kdrama Nice Guy -_____-

Well, don’t forget comment on my ff ya? Seneggaknya sekali-kali koment. Aku g maksa kalian yang nyasar atau sengaja datang untuk selalu koment kok.. ^^ 

Advertisements

2 thoughts on “(Fanfiction) That Namja

  1. Huwaah, nice fict ^^~
    awal.nya ikut kesel juga sama minrin, setampan apa coba namja itu sampe bikin dia berpaling *sementara dari jerapah paling tampan di dunia itu, xixi

    • yah…. namja itu memang lebih tampan #eh 😀 tapi Minrin cuma maunya sama Ryeowook kok..
      terima kasih sudah baca… ~~^^

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s