(Fanfiction) 8 Stories 8 Loves 8 Hearts Part 1 : Everything Start Here


Converted_file_9e568ccf

Title     : 8 Stories, 8 Love 8 Heart  : Everything Start Here

Cast     :

Kim Ryeowook and Shin Minrin (Ryeomin)

Cho Kyuhyun and Shin Ranran (Kyuran)

Kim Jongwoon and Han Sungyoung (Yeyoung)

Lee Donghae and Park Chany (Haechan)

Lee Sungmin and Park Sungyeon (Minyeon)

Lee Hyukjae and Park Hyehyo (Eunhyo)

Park Jungsoo and Han Nimi (Teukmi)

Choi Siwon and Ahn Ahra (Wonra)

Genre : Love, Family, Friendship, Revenge, AU

Length : Series (6489 words)

Rating  : PG 15

Author : d’Roseed (@elizeminrin)

Series pertama di blog ini. Beberapa scene dan jalan cerita terinspirasi dari sebuah drama Korea berjudul Nice Guy. Meskipun ada yang sama tapi murni ini karyaku. Super Junior member adalah milik Tuhan, orang tua mereka dan juga milik ELF ^^. Plot dan alur cerita milik author. So, please don’t copy paste my story.

Jadilah seperti yang appa mau. Kau harus melakukannya. Setelah ini, akan banyak tantangan yang akan kau hadapi, karena itu jangan pernah menjadi wanita yang lemah, dan jangan mempercayai seorangpun. Tidak ada seorangpun orang disekitarmu yang bisa kau percayai, bahkan mungkin termasuk appa, Kau mengerti?”

At Seoul, Palace hall building

Jamuan makan malam itu terlihat benar-benar mewah. Mulai dari dekorasi ruangan, hidangan yang disajikan, hingga sajian music yang diberikan, semua benar-benar mewah dan klasik.  Semua tamu undangan yang hadir benar-benar dimajakan oleh si empunya rumah.

Jamuan ini sebenarnya tidak hanya jamuan makan malam biasa yang sering dilakukan antar rekan pebisnis untuk menjalin kerja sama. Tidak seperi kebanyakan jamuan makan malam yang dihadiri rekan bisnis saja, acara mala mini juga dihadiri seluruh keluarga besar keluarga Shin. Tuan Shin Taewoo pemilik perusahaan terkenal Shin Group itu memang sengaja mengundang semua keluarganya dan rekan bisnis untuk merayakan ulang tahunya yang ke 55 tahun dan juga untk merayakan pertunangan puteri semata wayangnya, Shin Minrin.

Shin Minrin. Nama gadis itu menjadi headline di berbagai majalah beberapa hari terakhir karena kesuksesannya menjadikan Shin Group perusahaan terkenal di Asia bahkan dunia. Hasil kerjanya itu semakin membuat orang kagum karena gadis itu baru saja menyelesaikan kuliahnya di Kanada, ketika bergabung di Shin Group.

“Sebagai acara puncak, aku akan mengumumkan sesuatu yang penting.” Ucap Taewoo ketika dia memberi kata sambutan.

Semua mata beralih padanya. Tidak terkecuali seorang gadis dengan pakaian formal yang berdiri agak belakang. Pakaian yang sebenarnya tidak pantas dikenakan di acara seperti ini, apalagi mengingat statusnya sebagai Puteri Tunggal keluarga Shin dan juga pewaris tunggal Shin Group.

“Acara ulang tahun ini juga bertepatan dengan pertunangan puteriku, Shin Minrin.” Taewoo melanjutkan.

Dan seperti yang sudah diduga oleh Minrin, semua mata sekarang tertuju padanya. Bukan tatapan senang yang gadis itu lakukan tapi justru pandangan tidak suka termasuk pada ayahnya yang tengah berdiri di podium itu.

“Minrin-ya..” Panggil Taewoo.

Minrin hanya tersenyum sebentar, kemudian dia berjalan menuju ke depan. Dia sudah tahu ayahnya akan melakukan ini. Karena itu sama sekali tidak ada keterkejutan di wajahnya. Kalau bukan karena ibunya, Nyonya Shin Jaehee, sudah dipastikan gadis itu akan menolak acara pertunangan bodoh ini, mengingat sifatnya yang keras kepala dan tidak mau diatur.

Sekarang semua orang benar-benar bisa melihat puteri tunggal keluarga Shin itu yang katanya cantik dan juga cerdas. Minrin memasang senyum palsu di wajahnya. Meskipun terlihat adanya senyuman tapi raut wajahnya benar-benar tidak bersahabat. Dia beruntung orang-orang yang berdiri di ruangan itu tidak satupun yang menyadarinya, termasuk ayahnya sendiri.

“Aku dan tuan Cho sudah sepakat untuk menggelar acara pertunangan itu hari ini. Karena itulah acara malam ini juga sebagai acara peresmian hubungan Shin Minrin dan Cho Kyuhyun.” Lanjut Taewoo, yang langsung diiringi tepuk tangan dari seluruh tamu undangan.

Sementara itu namja bernama Cho Kyuhyun itu bahkan tidak menampakkan dirinya di depan. Tidak ada yang tahu dimana dia. Mungkin tengah bersama teman wanitanya yang baru. Minrin bahkan tidak mempedulikannya. DIa tahu namja itu benar-benar tidak ada gunanya. Meskipun banyak wanita diluar sana yang menginginkan namja itu, tapi jelas itu bukan dirinya. DIa tahu Kyuhyun tampan dan kaya. Dia juga tahu banyak wanita yang menginginkannya, meski orang itu tidak pernah serius dengan yang namanya wanita. Tapi dia bukanlah salah satu dari wanita itu.

“Cho Kyuhyun-ssi..” panggil Shin Taewoo.

Hening kemudian. Beberapa orang bahkan hanya saling padang ketika nama yang disebut tidak kunjung menampakkan diri.

“Appa, kurasa pertunangan ini harus ditunda. Aku tidak akan bertunangan jika orang yang akan bertunangan denganku bahkan tidak menampakkan dirinya.” Kata Minrin memecah keheningan dengan suaranya yang sedikit dingin.

Tuan Taewoo berdehem kecil. “Cho Kyuhyun-ssi, bisakah kau maju kedepan?” katanya kembali meminta, menghiraukan ucapan Minrin sama sekali.

Tamu undangan terlihat penasaran dan tidak sabar. Beberapa diantara mereka bahkan bingung dengan apa yang terjadi.

Sampai akhirnya seorang namja berpakian jas yang rapi memasuki aula dan langsung menjadi pusat perhatian semua orang. Bahkan setiap langkah dan gerakan namja itu seakan memesona semua wanita di ruangan ini. Namja itu berjalan ke depan dan berdiri di samping Minrin. Dia tersenyum dan membisikkan sesuatu padanya.

“maaf, aku membatalkan rencanamu.” Ujarnya

Minrin melirik orang itu dengan kesal dan membalasnya dengan sebuah cibiran. “Cho Kyuhyuh-ssi, kau sudah puaskah bermain dengan wanita-wanita murahan itu?”

Kyuhyun menatap Minrin namun sedetik kemudian dia tersenyum. “Aku tidak mungkin membuat calon tunanganku jadi bahan tertawaan bukan?” balasnya yang langsung membuatnya di atas angin.

“jeongsohamnida, aku terlambat datang. Ada beberapa hal yang harus aku selesaiakan. Maafkan aku.” ucap Kyuhyun kemudian. Dia membungkuk dan memberi kesan laki-laki yang benar-benar bertanggung jawab. Sementara itu Minrin memandang namja itu seakan ingin mematahkan tulang-tulangnya.

“Animida. Kita tahu Kyuhyun-ssi pasti sangat sibuk.” Taewoo tersenyum pada namja itu.

Dan dengan kedatangan Cho Kyuhyun, mau tidak mau pertunangan itu benar-benar terjadi. Minrin kembali melirik Kyuhyun ketika dia memasangkan cincin ci jarinya.

“Aku tidak akan melepaskanmu, jika aku tahu kau akan berbuat buruk pada Shin Group.” Kata Minrin lirih.

Sampai kapanpun dia memang tidak akan mempercayai namja ini. Cho Kyuhyuh, putera tunggal keluarga Cho itu pasti tidak begitu saja menerima pertunangan ini kalau bukan karena uang. Minrin tahu betul sifat orang bermarga Cho itu. Dia bahkan bisa menebak isi kepala Tuan Cho, ayah Kyuhyun itu pasti hanyalah uang. Dan senyum itu bukanlah senyum tulus karena kebahagiaan.

Hanya tinggal menunggu waktu sampai Minrin bisa membuktikan bahwa pemikiran ayahnya selama ini mengenai keluarga Cho itu salah.

Jaejuu Village

“Oppa,!!” Seru seorang gadis dengan suaranya yang khas. Dia menghampiri seorang namja yang duduk dengan majalah di tangannya, hampir menutupi wajahnya.

Namja itu menurunkan majalah itu dan memperhatikan gadis yang berteriak tadi. “Waeyo, Ran-ya? Kenapa kau berteriak-teriak seperti itu?” tanyanya.

Gadis yang dipanggil Ran itu terlihat benar-benar marah. Dia melemparkan beberapa lembar kertas di hadapan namja itu dan menunggu pernyataan pembelaan diri dari orang itu. Beberapa waktu yang lalu dia mendapat pesan dari Sungyeon, bahwa kakak laki-lakinya itu baru saja menolak untuk bekerja di Shin Group.

Laki-laki bernama Donghae itu terlihat bingung melihat adik perempuannya yang tiba-tiba marah padanya. Dia memungut kertas-kertas itu dan membacanya. Begitu dia tahu kertas apa yang baru saja dilempar Ranran, Donghae tersenyum mengerti sekarang. Adiknya itu sedang marah, karena masalah pekerjaan yang dia tolak tiga hari yang lalu.

“Soal itu..” Donghae memulai. Namja itu menarik tangan adiknya dan menyuruhnya duduk di sampingnya. Ranran terlihat enggan tapi kemudian dia menurut.

“Wae? Kenapa menolaknya?” tanya Ranran tidak sabar. “Itu yang kau butuhkan sekarang. Kau lupa apa yang ayah katakan sebelum dia meninggal?”

Donghae hanya tersenyum dan mengangguk pelan.

“ Kau harus bisa masuk dan menjadi bagian dari Shin Group.” Ranran mengulai ucapan ayahnya satu tahun yang lalu. Donghae kembali mengangguk dan membenarkan ucapan adiknya itu.

Dia ingat janji itu. Dia juga ingat alasan apa yang diutarakan ayahnya untuk masuk ke Shin Group ketika itu.

“Arrayo. Aku ingat itu, Ran-ya.” Ucapnya

“Lalu?” sergah Ranran tidak mengerti dengan jalan pikiran kakaknya itu.

“Ini bukan waktu yang tepat.” Jawabnya absurd. “Kau tahu, Jungsoo hyung akan membuka café barunya? Aku ingin membantunya di sana. Karena itu aku menolak untuk bekerja di Shin Group untuk sementara.” Lanjutnya.

Dia mengelus kepala Ranran lembut, seakan dia benar-benar tidak ingin menyakiti adiknya ini sedikitpun. Tidak sedikitpun. Sejak awal dia memang sudah berjanji tidak akan membiarkan adik perempuannya ini terluka sedikitpun.

Ranran tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya ketika mencerna ucapan Donghae barusan. “Kau memilih menjadi pelayan di café daripada menjadi executive?” tanya ranran tidak percaya.

Kakaknya itu benar-benar sudah sedikit tidak waras. Bagaimana mungkin dia memilih menjadi pelayan café dari pada bekerja di Shin Group yang sudah jelas menjajikan.

Donghae menegakkan tempat duduknya dan tersenyum, kemudian dia mengangguk. “yup..jungsoo Hyung itu sudah sangat baik pada kita selama ini, jadi tidak ada salahnya aku membantunya.”

“Ah…kepalaku” Ranran memegangi pelipisnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran oppa nya itu.

Menjadi pelayan? Sejak kapan dia ingin menjadi pelayan café?

“Yak, kau berlebihan.” Donghae mendorong kepala Ranran dengan pelan. Tapi tetap saja itu membuat Ranran sedikit terjengah ke belakang.

Donghae kemudian berjalan masuk kedalam, meninggalkan Ranran dengan pikirannya yang menjadi bingung.

“Ini tidak benar. Oppa!!” teriaknya. Tapi Donghae sudah masuk ke dalam dan tidak mendnegar teriakan cempreng adiknya itu.

8 Stories 8 Love 8 Heart

“Pelayan café Jungsoo oppa?” tanya Sungyeon tidak percaya.

Ranran mengangguk lemah dan kembali menyruput lemon juicenya. Selepas pembicaraan dengan Donghae tadi, Ranran memang sengaja menemui Sungyeon. Dia benar-benar membutuhkan bertukar pikiran dengan sahabatnya itu.

“Tapi aku tidak mengerti. Bukankah dia bersusah payah masuk ke Shin Group? Lalu kenapa dia melepaskannya hanya karena Jungsoo oppa?” Sungyeong menggelengkan kepalanya.

“Aku saja tidak mengerti apalagi kau.” Ujar Ranran.

Sungyeon mengangguk membenarkan ucapan sahabatnya itu. Adiknya saja tidak mengerti apalagi dirinya yang bukan siapa-siapanya.

“Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau juga melamar pekerjaan disana? Apa kau diterima?” tanya Sungyeon mengalihkan pembicaraan.

Ranran terlihat hanya diam. Wajahnya berubah semakin menyedihkan sekarang.

“bagaimana hasilnya? Gagal ya?” tanya Sungyeon lagi. dia merasa bersalah sekarang karena membuka topic pembicaraan itu ketika melihat perubahan raut wajah Ranran. Gadis itu pasti tidak diterima, pikirnya.

Tapi sedetik kemudian Ranran tersenyum. “Bagaimana mungkin aku gagal? Tentu saja tidak.” serunya.

“Hoaahh, jinjjayo? Chukkae Ran-ya. You’re really the best” Sungyeong mengacungkan jempolnya.

“Gomawo.”

Sebenarnya tanpa sepengetahuan oppanya itu, Ranran juga melamar pekerjaan di Shin Group. Awalnya dia tidak menyangka akan diterima tapi nyatanya dia sama beruntungnya dengan kakaknya. Meskipun kakakknya menolak, tapi dia tidak akan menolaknya. Kalau bukan Donghae yang menjalankan wasiat ayahnya, maka dirinya yang akan melakukan itu.

“Tapi kalau Donghae oppa tahu, apa dia tidak akan marah?” tanya Sungyeon kemudian.

“wae? Kenapa dia harus marah?” kata Ranran balik bertanya. “Dia tidak akan marah, meskipun aku yang mendapatkan pekerjaan di perusahaan itu.”

“Tapi, Ran-ya, bukankah dia melarangmu berhubungan dengan Shin Group?” Tanya Sungyeon lagi dengan raut wajah yang khawatir.

Ranran mendengus kesal. Dia memperhatikan Sungyeon sesaat sebelum berkata “Jangan bicara itu lagi.”

“Tapi..”

“Aku bilang diam.” Ranran mengulangi dan kali ini berhasil membuat Sungyeon menutup mulutnya kembali.

Donghae memang tidak pernah mengijinkan Ranran untuk berhubungan dengan orang-orang dari Shin group, terlebih lagi pemilik perusahaan itu Shin Taewoo. Demi apapun Donghae tidak akan membiarkan adiknya itu berurusan dengan Shin Taewoo.

8 Stories, 8 Love 8 Heart

Sementara itu di sebuah café kecil di pinggiran kota itu, terlihat seorang namja yang tengah duduk dengan serius menunggu seseorang. Namja itu Park Jungsoo, pemilik café yang rencananya akan dibuka dua hari lagi. Sudah hampir satu jam dia menunggu tapi orang yang ditunggu belum juga datang.

Di seberang jalan, Donghae memperhatikan Jungsoo dengan heran. Tidak biasanya dia melihat sahabat yang sudah seperti hyungnya sendiri berikap seperti itu. Dia kemudian berlari menuju café itu.

“Hyung.” Panggilnya.

Jungsoo yang sedang tidak focus menjadi sedikit kaget dengan panggilan yang sebenarnya tidak keras itu. “Ah..Donghae-ya.” Balasnya berusaha memfokuskan diri.

“waeyo, hyung? Kau terlihat gelisah? Apa ada masalah?” Tanyanya. Donghae mengambil tempat duduk di depan Jungsoo dan memperhatikan namja

“Aniya..tidak apa-apa. Aku hanya tidak sabar ingin membuka café ini.” Jawabnya. Dia tersenyum pada Donghae, kemudian dia pun memilih masuk ke dalam.

Donghae kembali memperhatikan Jungsoo. Ada yang salah dengan orang itu, pikirnya. Dia seperti ketakutan atau gelisah?

“Aigoo.. ada apa dengannya?”

Donghae hendak menyusul Jungsoo ke dalam ketika tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke dalam cafe. Orang itu berpakaian sangat rapi. Donghae yakin orang itu bukan berasal dari daerah ini. Tapi apa yang dia lakukan di sini?

“Jeongsohamnida, tapi café ini belum dibuka secara resmi. Kau bisa kembali dua hari lagi.” kata Donghae, namun orang itu mengabaikan ucapan Donghae dan justru menuju tempat duduk yang tadi ditinggalkan Jungsoo.

“Maaf Ahjussi, tapi café ini belum dibuka. Kami bahkan belum menyediakan menu apapun.”

Laki-laki berjas itu menoleh dan akhirnya menyadari adanya orang lain. “Aku ingin bertemu dengan pemilik café ini.” ujarnya.

Donghae mengernyitkan dahinya tapi kemudian dia mengerti. Dia pun kembali masuk ke dalam dan berniat memanggil Jungsoo. Belum sampai dia mengetuk pintu, jungsoo sudah keluar dari ruangannya.

“Apa dia sudah datang?” tanyanya pada Donghae.

“Aku rasa iya.” Jawab Donghae.

Jungsoo mengangguk dan bergegas menemui laki-laki berjas tadi. Donghae mengikuti Jungsoo di belakangnya. Dia memilih duduk agak jauh dari Jungsoo dan laki-laki itu. Di tempat itu dia bisa memperhatikan kedua orang itu meskipun dia sama sekali tidak tahu apa yang tengah Jungsoo bicarakan dnegan laki-laki itu. Entahlah ini hanya perasaannya saja atau memang ada sesuatu yang salah yang sedang terjadi saat ini.

Agak lama Jungsoo dan laki-laki itu berbicara. Dan semua diakhiri dengan jabat tangan diantara keduanya. Sepertinya mereka tengah membuat kesepakatan. Setidaknya itulah yang ada di pikiran Donghae saat ini. Bahkan ketika laki-laki itu sudah pergi pun, Donghae tidak mencoba mencari tahu kesepakatan apa yang tengah Jungsoo jalin dengan laki-laki tadi.

“Hyung, Siapa laki-laki itu?” tanya Donghae. Dia duduk di tempat duduk yang tadi diduduki laki-laki itu, menyebabkan dia dan Jungsoo berhadap-hadapan sekarang.

Jungsoo terlihat berpikir sejenak tapi kemudian dia meyakinkan Donghae bahwa orang itu yang akan membantunya menjalankan café ini.

“Dia ingin mengajak kerja sama. Jika café ini sukses, dia berencana untuk membuka café lain di daerah ini dan memintaku untuk mengurusinya.”

Donghae mengangguk mengerti. Untuk sesaat dia merasa keputusannya untuk tidak menerima pekerjaan di Shin Group benar. Setidaknya dia bisa membantu Jungsoo dengan café-cafenya, apalgi daerah ini sebentar lagi akan menjadi kawasan wisata yang banyak diminati seperti bagian jaejuk lainnya.

“Benarkah? Itu benar-benar keren, hyung. Tenang saja, aku akan membantumu menjalankan café-café itu.” seru Donghae.

“yak, kau benar-benar ingin menjadi pelayan di cafeku?” tanya Jungsoo akhirnya.

Dia tahu namja bernama Donghae ini tidak serius dengan ucapannya barusan. Dia itu seperti menghindari sesuatu yang akan terjadi jika menerima pekerjaan di Shin Group, karena itulah dia memilih tinggal di kota kecil ini. Meskipun Jungsoo sendiri tidak yakin ‘menghindari sesuatu’ itu maksudnya seperti apa, atau apa yang berusaha Donghae hindari. Jungsoo benar-benar tidak mengerti.

“Tentu saja aku serius, Hyung.” Donghae kembali mengelak ketika dia seperti dipaksa untuk menceritakan alasanya tidak menerima pekerjaan di Shin Group itu.

Jungsoo hanya menggelengkan kepalanya. “Kuere, kau memang harus melakukannya. Tapi akau akan lebih senang jika kau mau menceritakan alasanmu menolak Shin Group.” Lanjut Jungsoo yang langsung membuat Donghae mengubah raut wajahnya.

“Donghae-ya..”

“Hyung, bagaimana menurutmu kalau aku mencari pelayan lain untuk café ini?” Seperti biasanya Donghae selalu mengalihkan pembicaraan jika itu sudah menyangkut penolakannya pada Shin Group.

Jungsoo hanya menhembuskan nafas dengan keras dan menyerah jika Donghae sudah seperit ini.

“Aigoo, sudahlah lakukan sesukamu.” Lanjutnya kemudian.

Donghae tersenyum dan menepuk pundak Jungsoo dengan bersemangat.

8 Stories, 8 Love 8 Heart

Seoul, Shin’s building

Minrin menyenderkan kepalanya yang sudah hampir pecah ketika menghadapai file-file perusahaan yang tiada habisnya. Semua benar-benar menguras otaknya, apalagi setiap laporan yang dia baca hanya tentang kemungkinana kegagalan proyek perusahaan yang meluncurkan trend style terbaru untuk musim dingin. Hanya tinggal beberapa hari sebelum style terbaru itu diluncurkan, tapi saat ini designer andalan mereka Ahn Ahra bahkan belum member laporan sudah sampai mana pakaian musim dingin itu dikerjakan.

“Aigoo… aku bisa gila jika terus seperti ini.” Keluhnya. Gadis itu memijit-mijit kepalanya dengan perlahan. Entah kenapa dia memang juga agak pusing sekarang. Mungkin karena beberapa hari terakhir ini dia mengabaikan makannya.

Belum sempat dia kembali memposisikan diri untuk membaca laporan itu sekali lagi, pintu ruangannya tiba-tiba terbuka. Dan seperti dugaannya namja itu, Cho Kyuhyun yang masuk.

Minrin memperhatikan namja itu sekilas tanpa minat, kemudian dia kembali memfokuskan diri dengan kertas di depannya. Dia bahkan tidak memperdulikan Kyuhyun yang sekarang sudah duduk di sofa ruangannya itu.

“Kau terlihat lelah. Ingin berjalan-jalan keluar?” Kyuhyun menawarkan diri. Minrin mengangkat kepalanya dan dilihatnya Kyuhyun bahkan sibuk dengan majalah di tanngannya.

“Wae? Kau tidak punya cadangan wanita untuk dikencani, karena itu kau mengajakku?” tanya Minrin mencibir.

Tapi seperti biasanya, Kyuhyun selalu menanggapinya dengan santai “Aku sudah bertunangan, mana mungkin aku bermain-main dengan wanita?” ujarnya. Dia kembali membolak-balik majalah di tangannya.

Minrin mendengus kesal. Pertunangan yang tidak mereka setujui. Itukah yang Kyuhyun maksud? Cepat atau lambat pertunangan ini juga akan segera berakhir. Setidaknya itulah yang tengah Minrin rencanakan.

“Sebenarnya aku tidak melarangmu untuk berkencan dnegan wanita-wanita itu. Kau bisa melakukan sesukamu, Kyuhyun-ssi.” Ucap minrin masih dengan nada dingin seperti biasanya.

“mereka membosankan. Ah..bagaimana kalau kau bertemu dengan yeoja-yeoja itu dan katakana padanya kau tunanganku. Dengan begitu mereka tidak akan mengejar-ngejarku lagi.”

Minrin meletakkan kertas yang semula dipegangnya dan menatap namja itu heran. Dia benar-benar sudah tidak waras, pikir Minrin.

“Ck, itu bukan urusanku..” balas Minrin.

Gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan berniat untuk keluar dari ruangan itu. Tapi ketika melewati Kyuhyun, dengan cepat namja itu berdiri dan menarik tangan Minrin, memaksanya untuk ikut.

“Yak, Kyuhyun-ssi. Apa yang kau lakukan?” seru Minrin ketika namja itu manarik tangannya dengan sedikit memaksa.

Bahkan beberapa karyawan yang melihatnya hanya saling pandang, ketika melihat dua orang itu keluar dari gedung. Minrin masih terus meronta ketika dipaksa masuk ke dalam mobil berwarna putih itu.

“Pasang sabuk pengamanmu atau harus aku yang melakukannya?” Kyuhyun menstarter mobilnya, sementara Minrin masih belum bergeming dari posisinya.

Gadis itu terus bungkam di tempat duduknya, hingga akhirnya Kyuhyun menyerah dan memasangkan sabuk pengaman padanya.

“Tersenyumlah, aku hanya akan membawamu untuk sedikit bersenang-senang hari ini.” ujar Kyuhyun. Minrin tidak menghiraukan ucapan itu dan memilih membuang muka.

Mobil yang mereka kendarai sekarang melaju dengan kecepatan yang bisa dibilang diatas rata-rata di tengah jalanan kota Seoul yang ramai. Dan selama perjalanan yang sedikit memacu adrenalin itu pun keduanya hanya diam. Minrin bahkan dengan terang-terangan menunjukkan sikap yang tidak bersahabat sejak tadi.

“Kau tahu, aku mungkin saja jatuh cinta padamu…”

Kalimat itu mungkin kalimat pertama yang terucap sejak keduanya bungkm. Minrin refleks menolehkan kepalanya mendengar ucapan Kyuhyun yang tiba-tiba berhenti itu.

“Kau wanita yang berbeda. Keras kepala, susah diatur, dan selama ini wanita yang kutemui tidak ada yang sepertimu.” Lanjutnya.

“Jangan bercanda, Kyuhyun-ssi. Kau tahu, aku tidak akan membiarkan itu.” sergah Minrin cepat.

Sampai kapanpun itu tidak akan terjadi. Tidak akan. Dan jangan berharap ini akan menjadi cinta pada akhirnya. Karena itupun tidak akan terjadi. Cinta dan benci, meski mereka bilang susah untuk dibedakan, tapi bagi Minrin jelas sekali ada pembeda diantara keduanya. Selalu ada garis diantara dua hal itu.

Kyuhyun menolehkan kepalanya dan menatap gadis yang duduk di sampingnya itu untuk beberapa saat.

“Arra. Kau benci padaku, karena kau pikir aku melakukan ini untuk mengambil alih perusahaanmu. Aku tahu itu.” ucap Kyuhyun kemudian seakan tahu apa yang dipikiran Minrin saat ini.

“Tapi, bagaimana seandainya kau salah mengira? Bagaimana jika bukan aku yang mempunyai niat itu tapi orang lain? Orang lain yang … kau percaya.”

Minrin mengernyitkan dahinya pelan. Orang lain.. Kyuhyun bilang? Nuguya? Tidak ada orang lain di sekitar Minrin yang ia percaya selama ini. Tidak ada.

“Kau pikir aku mempunyai orang yang aku percayai? Huh..menggelikan. Bahkan pada orang terdekatku pun aku tidak mempercayai mereka.”

“Benarkah? Lalu Kim Ryeowook-ssi?”

Minrin kembali menatap Kyuhyun, kali ini dengan tatapan yang tajam dan dingin. Tapi Kyuhyun hanya tersenyum setelahnya.

“Jangan menatapku seperti itu. Aku hanya bicara fakta. Kau menyukainya bukan? Namja itu..Kim Ryeowook, kau menyukainya. Aku tahu itu.” balas Kyuhyun.

Minrin mendelik kearahnya. Tangannya mengepal seakan ingin segera melayangkan tinju kea rah muka namja ini, tapi dia menahannya.

“Itu bukan urusanmu, Kyuhyun-ssi.” Desisnya dengan  nada tidak suka.

“hahaha…baiklah. Tidak usah marah begitu, Minrin-ya.” Kyuhyun menyerah. Dia pun kembali focus menyetir. Sementara Minrin kembali membuang mukanya.

Tapi diam-diam dia memikirkan kembali ucapan Kyuhyun barusan. Apa maksudnya orang yang berniat jahat itu bukan dirinya? Dan Ryeowook? Apa hubungannya dengan salah satu manager di perusahaannya itu?

8 Stories, 8 Love 8 Heart

Kyuhyun menghentikan mobilnya di salah satu bar. Dia mengajak Minrin masuk ke bar kecil itu. Meskipun dengan enggan, Minrin pun menurut.

Minrin berpikir ini mungkin bar yang biasa dikunjungi Kyuhyun bersama teman wanitanya. Dan benar saja, begitu masuk ke dalam terlihat beberapa yeoja berpenampilan seksi yang tengah duduk di sofa. Agak jauh dari yeoja itu terlihat seorang namja tengah duduk dnegan santai. Dan Kyuhyun mengajak Minrin menghampiri orang itu.

“Hyung..” Panggil Kyuhyun yang langsung disambut oleh namja itu.

“O.. Kyuhyun-ah. Sudah lama aku tidak melihatmu di sini.” Balas namja itu.

Kyuhyun tersenyum dan duduk di dekat namja yang dia panggil Hyung itu. sementara Minrin dibiarkan berdiri dengan agak kikuk dihadapan dua orang itu. Gadis itu melayangkan tatapn jengkel pada Kyuhyun. Sebelum pada akhirnya namja yang bersama Kyuhyun itu menyadari kehadirannya.

“aa.. aku tahu, kau pasti sedang sibuk dengan wanita baru ya? Siapa dia? pacar barumu?” namja itu memperhatikan Minrin dari ujung kepala sampai kaki, membuat gadis itu sedikit merasa risih.

“Aniya, Hyung. Dia tunanganku.” Jawab Kyuhyun santai. Dia menarik Minrin dan menyuruhnya duduk di sampingnya.

Minrin yang sebelumnya memang jarang datang ke tempat seperti ini atau bahkan tidak pernah, kali ini hanya menurut saja pada Kyuhyun.

“Tunangan? Kau bercanda?” namja itu jelas tidak percaya, orang seperti Kyuhyun yang sering berganti pasangan tiba-tiba bertunangan dengan yeoja baik-baik seperti Minrin ^^

“Aku tidak bercanda. Dia benar-benar tunanganku. Shin Minrin.”

Minrin tersenyum kikuk ketika untuk pertama kalinya dikenalkan sebagai tunangan Cho Kyuhyun. Haruskah dia senang? Oh.. tentu saja tidak. dia sendiri saja tidak setuju dengan pertunangan ini.

“Jinjjayo? Hoaaahh.. aku tidak percaya ini. Kau yang sama cassanovanya dengan ku bisa bertunangan. Apa kau akan menikah?” namja itu entah kenapa menjadi sangat tertarik dengan cerita bagaimana Kyuhyun bisa bertunangan dengan Minrin.

“Sudahlah, jangan membahas itu. Minrin-ya, aku kenalkan dengan temanku. Lee Hyukjae.” Ucap Kyuhyun memotong keingintahuan lebih dari namja bernama Lee hyukjae itu.

Sementara itu Minrin membungkuk singkat pada Lee hyukjae itu. seorang namaja yang dari penampilannya sudah terlihat dia satu spesies dengan Kyuhyun. Hmm… berapa wanita yang sudah dipermainkan laki-laki ini? apa dia lebih baik dari Kyuhyun? Atau justru lebih buruk? Tanpa Minrin sadari, dia terus sibuk dengan pikirannya sendiri mengenai namja ini. Dia kemudian beralih memperhatikan keadaan bar itu. Sepi.

Bukan hanya keadaan bar itu yang sepi tapi juga dirinya. Dan itu karena Kyuhyun sekarang mengacuhkannya. Minrin melirik kea rah dua namja itu yang sekarang sibuk sendiri, sementara dirinya benar-benar merasa seperti orang asing di sini.

“Ya, Kyuhyun-ssi bisakah kau mengantarku pulang sekarang? Aku harus bertemu dengan seseorang.” Minrin bangkit dari tempat duduknya dan menatap Kyuhyun.

Kyuhyun membalas tatapan itu. “Nuguya? Kim Ryeowook?” tanyanya.

Minrin diam. Dia merasa seperti berada di situasi saat ketahuan berbuat salah. Dan bahkan Melihat Kyuhyun dengan tatapannya yang seperti itu entah kenapa membuat Minrin sedikit merasa takut. Tapi kemudian dia menguasai dirinya

“Ne, aku harus bertemu dengannya.” ucap Minrin mantap.

Setidaknya bertemu dengannya lebih baik dari pada terus berada di tempat ini.

Kyuhyun menghela nafasnya.

“Kenapa kau tidak menyuruhnya datang menjemputmu saja? Sejujurnya aku masih ada urusan dengan Lee Hyukjae.” Katanya kemudian. Jelas ada ketidaksukaan yang tersembunyi saat Kyuhyun mengatakan itu.

8 Stories, 8 Love 8 Heart

Minrin keluar dari bar kecil itu dengan sedikit menghentakkan kakinya. Dia benar-benar merasa kesal pada orang itu. Cho Kyuhyun. Dia seenaknya mengajaknya keluar dan membuat Minrin harus menunda pekerjaannya dan sekarang dia bahkan tidak mau mengantar Minrin pulang.

“Aissh…” Gerutunya.

Dengan cepat Minrin mengambil ponsel di sakunya dan langsung menekan nomor dua di papan tombolnya. Itu adalah speed dial untuk orang yang memang selalu ada saat Minrin membutuhkannya. Kim Ryeowook.

Gadis itu berdiri dengan gelisah di dekat bar kecil itu. beberapa yeoja berjalan melewatinya dan melayangkan padangan aneh padanya, dan selalu dibalas dengan pandangan masa bodoh dari Minrin.

Tidak sampai setengah jam Minrin menunggu, sebuah mobil hitam sudah berhenti di depannya. Seorang namja keluar dari mobil itu dan menghampiri Minrin. Gadis itu akhirnya bisa bernafas lega ketika melihatnya.

“Ryeowook-ssi..” Panggilnya. Dia tersenyum dan seperti biasanya dia selalu ingin tersenyum saat melihat namja itu di depannya.

“Maaf aku terlambat.” Ucap namja itu.

Minrin menggelengkan kepalanya pelan. “Gwaenchanayo. Kajja, antar aku pulang.” Gadis itu sudah berjalan lebih dulu dan masuk ke dalam mobil.

Ryeowook hanya tersenyum dan mengikuti gadis itu.

Selama perjalanan Minrin memilih diam. Itu benar-benar diluar kebiasaannya jika sudah bersama Ryeowook. Selama ini, gadis itu akan selalu mencuri pandang ke arah namja itu dan tersenyum sendiri. Ya.. Kyuhyun benar. Minrin menyukai Kim Ryeowook. Sudah lama sebenarnya.

Tapi kali ini entah kenapa pikirannya kembali dipenuhi kata-kata Kyuhyun tadi. Dia benar-benar tidak mengerti kenapa Kyuhyun bisa bicara seperti itu. Mungkinkah itu benar? Mungkinkah selama ini dia salah mengira? Tapi bagaimana bisa? Maksudnya, tidak ada alasan yang masuk akal bagi Ryeowook untuk melakukan hal itu.

Minrin menolehkan kepalanya dan memperhatikan Ryeowook yang tengah berkonsentrasi menyetir.

“Wae? Ada masalah?” tanya namja itu ketika menyadari Minrin tengah memperhatikannya.

Minrin menggelengkan kepalanya. “Aniya..” jawabnya

Gadis itu kembali melayangkan pandangannya ke luar jendela. Kemudian dia kembali teringat kata-kata ayahnya dulu.

Jadilah seperti yang appa mau. Kau harus melakukannya. Setelah ini, akan banyak tantangan yang akan kau hadapi, karena itu jangan pernah menjadi wanita yang lemah, dan jangan mempercayai seorangpun. Tidak ada seorangpun orang disekitarmu yang bisa kau percayai, bahkan mungkin termasuk appa, Kau mengerti?”

Tapi selama ini dia memang tidak pernah mempercayai siapapun. Tidak satupun. Dia hanya menyukai Ryeowook. Apakah itu berarti selama ini tanpa dia sadari juga mempercayai Ryeowook? Entahlah. Gadis itu tidak mengerti.

Di dunia ini hanya ada empat orang yang selalu berurusan langsung dengan dirinya. Appa, eomma, pengacara kepercyaannya Lee Sungmin oppa, dan Kim Ryeowook. Hanya mereka berempatlah. Dan jika ayahnya sendiri menyuurhnya untuk tidak mempercayainya, lalu apakah dia juga harus tidak mempercayai eomma dan Sungmin oppa?

Ini adalah kali pertama dalam hidupnya mencintai seseorang dan mempunyai keinginan memilikinya. Karena itulah dia sendiri tidak bisa mengerti cinta yang dia miliki ini seperti apa. Apa dengan mencintai Ryeowook dia juga mempercayainya?

“Minrin-ya..” panggil Ryeowook

Minrin tidak bergeming dari tempatnya. Pikirannya benar-benar tidak focus saat ini.

“Shin Minrin.” Panggilnya lagi

“Ne?”

“Ada apa denganmu? Apa Kyuhyun melakukan sesuatu padamu?” tanya Ryeowook sangat mengkhawatirkan gadis itu.

Itulah kenapa selama ini Minrin tidak bisa berhenti menatap namja itu. Dia terlalu perhatian pada Minrin. Dia selalu ada saat Minrin membutuhnya. Seperti tadi, ketika Minrin menyuruhnya untuk dijemput di bar tadi. Dengan waktu yang relative singkat namja itu selalu sudah ada di depannya ketika Minrin menyuruhnya.

“Aniya. Kami hanya berbicara. Tapi aku sedikit lelah, karena itu aku memintanya mengantarku. Tapi dia sedang sibuk dengan temannya.” Jelas Minrin

Tapi sampai sekarang, Minrin tidak pernah tahu bagaimana perasaan namja itu padanya.

“Ryeowook-ssi..” panggil Minrin kemudian

“Ne?”

Ryeowook sedikit bingung dengan tatapan Minrin yang tiba-tiba berubah. Sementara gadis itu seperti berada diantara dua pilihan. Dia ingin bertanya sesuatu tapi ada sesuatu yang menahannya.

“Aniya..” Gadis itu tersenyum dan justru membuat Ryeowook semakin penasaran dan juga tidak mengerti.

Ryeowook-ssi, nan joayo. Apa kau menyukaiku?”

8 Stories, 8 Love 8 Heart

“Kau yakin yeoja itu akan pulang dengan selamat?” tanyak Hyukjae pada Kyuhyun selepas Minrin pergi dari hadapan mereka berdua.

Kyuhyun mengangguk dengan malas, dan kembali menegak isi gelasnya. Namja itu memejamkan matanya dan terlihat seperti berpikir. Sementara Hyukjae hanya memperhatikan sahabatnya itu sesaat.

“Dia lebih mempercayai namja itu dari pada aku.” tuturnya kemudian. Hyukjae mengernyitkan dahinya dan kembali memperhatikan Kyuhyun yang ternyata bicara dengan mata yang terpejam.

“Aissh!!! Ya, kau mabuk Kyuhyun-ah. Sudah berhentilah minum.” Hyukjae menahan tangan Kyuhyun yang bergerak mengambil gelasnya lagi.

Kyuhyun menepis tangan Hyukjae dan terus meracau. “Hyung, gadis itu bilang aku orang jahat yang akan merebut perusahaannya.”

“Kau tahu bukan aku tidak seperti itu. Aku orang baik. tapi dia… Shin ..Minrin lebih percaya pada Kim.. Ryeowook.”

Setelah itu pun Kyuhyun jatuh pingsan atau tidur, entahlah. Hyukjae hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakukan sahabatnya itu.

“Sepertinya hubungan kalian tidak berjalan baik.” katanya. Namja itu kembali menegak isi gelasnya untuk terakhir kali.

Hyukjae bermaksud membawa Kyuhyun pulang. Dia sudah merangkul Kyuhyun dan berusaha menyeretnya ke dalam mobil Kyuhyun dengan susah payah. Tapi baru sampai di depan pintu langkahnya terhenti karena ada yang menghalangi.

“Bisakah kau minggir?” Hyukjae berusaha menegakkan kepalanya ketika seseorang sudah berdiri di depannya.

Tapi orang yang berdiri di depannya itu tidak juga segerapa beralih, padahal badannya yang kecil itu sudah keberatan menompang tubuh Kyuhyun yang berat.

“Yakk!!!” Serunya.

“Kau yang bernama Lee Hyukjae?” tanya orang itu yang ternyata seorang yeoja

Hyukjae menegakkan kepalanya dan memang seorang yeoja tengah berdiri di depannya. Tapi dilihat dari penampilannya, yeoja itu tidak seperti yeoja yang biasa Hyukjae temui. Entah kenapa melihatnya saja sudah membuat Hyukjae berpikir akan mempunyai masalah dengan yeoja ini.

“Ne. Aku Lee Hyukjae.” Jawabnya.

Dia kembali memperhatika gadis itu. Gadis itu sedikit tomboy, bahkan terkesan seperti preman *^__^*. Itulah kenapa dia terlihat berbeda.

“Jadi kau yang bernama Lee Hyukjae?” tanyanya sedikit mencibir. Dan jelas itu membuat Lee Hyukjae tidak suka mendengarnya.

Ada urusan apa yeoja seperti dia mencarinya di saat yang tidak tepat seperti ini. Apa dia tidak lihat Namja itu masih bersusuah payah mmebuat tubuhnya tidak jatuh karena menahan berat tubuh kyuhyun di pundaknya.

“Kau ada masalah denganku, Aggashi?”

“Kuere.”

“Baiklah kita bicara, tapi biarkan aku membawa orang ini ke mobil.”

Tanpa mendapat persetujuan dari yeoja itu, Hyukjae sudah membawa Kyuhyun keluar. Yeoja itu mengikutinya di belakang. Mungkin dia tidak percaya dengan ucapan Hyukjae. Bisa saja namja itu kabur setelah itu.

“Aigoo…” Hyukjae merentangkan tangannya setelah berhasil menaruh Kyuhyun dengan sukses di mobilnya.

Punggungnya seperti akan patah saja ketika menompang sahabatnya itu.

“Noe…” panggil seorang yang ternyata yeoja tadi

“Uh??” Hyukjae menolehkan kepalanya dan dia mendapati yeoja itu berdiri tidak jauh darinya.

“Aku bilang kau punya masalah denganku. Jadi, ayo kita selesaikan sekarang Hyukjae-ssi.” Gadis itu menghampiri Hyukjae dan tepat berdiri di depannya sekarang.

Hyukjae menatap gadis itu dengan seksama. Sepertinya dia pernah melihatnya, tapi hyukjae tidak ingat betul dimana. Atau mungkinkah dia salah satu wanita yang berkencan dengannya dulu?

“ Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Hyukjae. Dia kembali memperhatikan yeoja di depannya itu.

Gadis itu terenyum sinis. “O… Kau lupa tuan Lee?”

Hyukjae semakin bingung dan juga penasaran. Mana mungkin dia pernah berkencan dnegan yeoja seperti ini. Kelakuan seperti preman, dan lihat saja cara menatapnya itu benar-benar menakutkan. Setahunya selama ini yeoja yng bersamanya adalah yeoja lembut, ya…meski sebagian dari mereka sedikit bodoh karena mau saja dipermainkan. Tapi dia…

8 Stories, 8 Love 8 Heart

Jaeju Island

“Jadi?” tanya Donghae.

Dia menunggu penjelasan dari Ranran yang kini duduk dengan kepala menunduk. Entah dari mana, namja itu mengetahui kalau Ranran baru saja menekan kontark dengan Shin Group. Sesuatu yang benar-benar dilarang oleh Donghae sebelumnya.

Meskipun Ranran sendiri tidak mengerti kenapa oppa nya itu begitu anti dengan orang-orang di Shin Group. Apa mereka melakukan sesuatu yang buruk di masa lalu padanya dan oppa nya?

“Iggue…” Ranran berusaha menjelaskannya.

Tapi tetap saja otaknya tiba-tiba blank. Apalagi kalau sudah melihat wajah oppa nya itu yang sekarang berubah dingin. Tidak pernah dalam hidupnya selama 22 tahun melihat oppa nya begitu marah seperti ini. Apa kali ini dia benar-benar sudah keteraluan?

“Mwo?”

Donghae kembali menunggu ucapan pembelaan Ranran. Sedangkan gadis itu hanya terus menundukkan kepalanya, mencoba berpikir alasan yang tepat untuk dia ucapkan.

“Aku hanya berpikir ini kesempatan yang baik.” kata Ranran akhirnya.

Dia mengangkat kepalanya dan menatap Donghae, mencoba membuatnya mengerti. Tapi sia-sia. Tatapan mata oppa nya itu tidak berubah sama sekali.  Tetap tajam.

“Oppa.. maafkan aku.” ucap Ranran

Donghae menghela nafas, mencoba meredakan kemarahan karena ulah adiknya itu. Tidak. dia tidak boleh memarahinya. Apalagi ketika melihat Ranran begitu takut.

“Ran-ya..” panggilnya lembut sekarang.

“Aku tidak bermaksud memarahimu, hanya saja kau tidak bisa melakukan itu. Bukankah kau sudah berjanji pada oppa?”

Ranran kembali mengangkat kepalanya dan menatap Donghae.

“Wae? Kenapa aku tidak bisa melakuakn itu? wae oppa?” tanyanya

Kali ini bukan lagi nada penyesalan di sana tapi nada tidak terima. Ini yang ingin Ranran ketahui sejak dulu. Kenapa oppa dan ayahnya selalu melarangnya untuk berhubungan dengan Shin Group? Apa yang sebenarnya mereka berdua sembunyikan darinya? Ini benar-benar terdengar aneh bagi Ranran. Dan itulah yang membuatnya semakin penasaran.

Donghae menyentuh pundak Ranran pelan. “Ran-ya..oppa sudah bilang padamu..”

Tapi dengan cepat Ranran menepisnya. “Karena berada di sana akan membuatku terluka. Kenapa? Kenapa seperti itu? ini benar-benar terdengar aneh bagiku. Katakana yang sebenarnya oppa!!” pintanya

Donghae diam. Dia mencoba kembali menyentuh pundak gadis itu. Tapi lagi-lagi Ranran menepisnya.

“Jika oppa tidak mau mengatakan yang sebenarnya. Aku akan mencari tahu sendiri.” Ucap Ranran.

Dia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dan melangkah pergi meninggalkan Donghae. Donghae berbalik dan hanya melihat adiknya itu sudah menghilang di balik pintu kamarnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? haruskah semua rahasia yang dia dan ayahnya simpan terkuak sekarang?

“Wae? Kenapa tidak boleh? Baiklah, kalau Oppa tidak mau memberitahuku, aku akan mencari tahu sendiri.” ucap Ranran kesal.

Dia mengambil pakaian di almarinya dan memasukkannya dengan sembarang ke dalam tasnya. Hari ini juga dia berniat untuk pergi ke Seoul. Apalagi Senin depan dia sudah mulai bekerja di Shin Group. Dia memasukkan celana jins dan blezzer terakhir dan menghembuskan nafasnya dengan berat.

“Mianhae oppa..” katanya.

Dia beralih memperhatikan foto di dinding kamarnya. Sebuah foto lama dirinya, oppanya dan ayahnya.

“Appa, kalau Appa masih hidup, apa Appa juga akan bersikap sama seperti Hae oppa?”

“Ini benar-benar membuatku bingung…”

Sekali lagi seperti biasanya air matanya sudah mengalir dengan bebas sekarang. Sesuatu yang tidak pernah bisa Ranran tahan jika sudah mengenang mendiang ayahnya.

Dia menyeka air mata itu begitu saja ketika ponselnya berbunyi nyaring.

Seketika itu dahinya mengerut, melihat nomor yang tidak dikenal memanggil.

“Ne, Yeobseo…” sapanya.

8 Stories, 8 Love 8 Heart

Ranran melangkahkan kakinya dengan ragu ketika memasuki sebuah restaurant mewah di salah satu hotel berbintang di Jaeju. Matanya terus berkeliling mencari sosok yang tadi meneleponnya dan menyuurhnya datang.

“Agashi..” Seorang laki-laki berstelan jas rapi melambaikan tangannya.

Ranran tersenyum dan menghampiri laki-laki itu. Sementara pikirannya terus bergejolak ketika terus memikirkan kata-kata laki-laki ini tadi.

“Ranran-ssi, bisakah kita bertemu? Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan. Mengenai keluargamu.“ 

Begitulah kurang lebih apa yang laki-laki ini katakan. Dan yang ada di pikiran Ranran saat ini adalah bahwa jawaban atas pertanyaan nya selama ini mungkin ada pada orang ini.

“Annyonghaeseo..” Ranran membungkukkan badannya.

“Annyonghaeseo, silahkan duduk.” Ucap laki-laki ini.

Ranran mengangguk dan mengambil tempat duduk di depan orang itu. DIam kemudian.

Ranran memperhatikan orang di depannya ini seksama. Sedangkan otaknya terus bertanya-tanya apa yang membawa orang ini datang menemuinya.

“Jadi, apa yang ingin Anda katakan mengenai keluarga saya?” tanya Ranran memulai, meskipun dia rasakan dadanya sudah hampir meledak ketika terus berdebar tidak sabar menanti pernyataan orang ini.

“Jangan memanggilku terlalu formal, panggil saja Sungmin.” Ucap laki-laki itu.

Sungmin? Lee Sungmin?

Ranran berusaha mengingat nama orang itu. Sepertinya tidak asing.

“Kita pernah bertemu sebelumnya saat kau tes wawancara di Shin group.” Lanjut Sungmin seakan menjawab pertanyaan di benak Ranran.

Ranran mengangguk. Benar. Mereka memang pernah bertemu tidak sengaja waktu itu.

“Ah…Kau yang waktu itu aku tabrak.” Ranran ingat sekarang.

Saat itu dia terburu-buru karena takut ketinggalan pesawat dan justru menabrak orang ini. Ketika itu dia tidak sengaja melihat name tag di jasnya. Lee Sungmin. Jadi dia juga bekerja di Shin Group?

Entah kenapa tiba-tiba ada sedikit pencerahan tentang pertanyaan yang selama ini memenuhi otaknya.

“Kuere.. ternyata kita bertemu lagi.” Balas Sungmin.

“Mengenai tujuanku menemuimu, Ranran-ssi..” lanjutnya berubah serius sekarang.

Sedangkan Ranran mengantisipasi setiap kata yang akan dia ucapkan.

“Ada seseorang yang memintaku untuk membawamu menemuinya.” Katanya.

“Menemuinya? Siapa dia?”

“Kau akan tahu setelah bertemu dengannya. Dia yang akan menjelaskannya.”

Ranran mengangguk paham. Siapapun dia yang akan Ranran temui, gadis itu yakin orang itu pasti bisa membantunya.

Seperti puzzle yang akan terungkap sedikit demi sedikit. Ranran hanya perlu bersabar untuk menemukan jawaban yang dia cari.

8 Stories, 8 Love 8 Heart

Seoul,

“Minrin-ya…” Panggil Ryeowook

Tapi gadis itu tidak menghiraukannya dan justru semakin menyibukan diri dengan kertas-kertas di mejanya. Semua ini karena ayahnya. Baru saja dia mendapat telepon dari sekretaris ayahnya itu, Kim Jongwoon bahwa malam ini ayahnya akan membicarakan sesuatu yang penting padanya mengenai masa depan Shin group.

Dan yang ada di benak Minrin setelah itu adalah, hari pernikahannya dengan Kyuhyun. Kemungkinan besar ayahnya itu akan menikahkannya dengan laki-laki yang akan menghancurkan dirinya dan juga ayahnya secepat mungkin.

“Rin-ah..” Kali ini Ryeowook memanggilnya dengan lembut, seperti yang biasa dia lakukan jika hanya berdua.

“Katakan pada Jongwoon-ssi kalau aku tidak akan datang malam ini.” sergah Minrin cepat.

Gadis itu meletakkan kertas yang tadi dipeggangnya dan menghembuskan nafasnya dengan berat. Sementara Ryeowook hanya daim dan memperhatikan gadis itu.

“Ryeowook-ssi, nan eottoke?” tanya Minrin pelan. Tatapannya benar-benar mengisyaratkan keputusasaan. Apalagi sejak proyeknya gagal dan membuat Perusahaan diambang kehancuran.

Ryeowook berjalan mendekati gadis itu. Dia menepuk pundak Minrin pelan.

“Aku di sini.” Ucapnya yang langsung membuat seulas senyum di bibir Minrin.

Minrin mengangguk. Ryeowook memang selalu ada di sampingnya. Dan Minrin bersyukur akan itu.

“Gomapta..”

“Tersenyumlah karena hari ini, kau akan mendapatkan kejutan.” Lanjutnya.

Minrin menolehkan kepalanya dan menatap Ryeowook bingung. “Kejutan?”

Ryeowook mengangguk. Dia menggenggam pergelangan tangan Minrin dan menariknya keluar dari ruangan itu.

8 Stories, 8 Love 8 Heart

Ruangan itu terlihat bercahaya dan luas, tapi tidak dengan suasana yang tercipta. Di sofa itu terlihat Tuan Taewoo duduk dalam diamnya. Di sampingnya berdiri sekretaris pribadinya, Kim Jongwoon. Sedangkan di sisi yang lain seorang gadis muda berusia hampir sama dengan Minrin juga tengah duduk dalam diam. Pengacara keluarga Shin, Lee Sungmin dan tentu saja tunangan Minrin, Cho Kyuhyun juga ada di tempat itu. Semuanya duduk dalam diam. Bahkan ketika Minrin dan Ryeowook suasana sepi dan menegangkan tidak berubah sama sekali.

Taewoo hanya diam melihat kedatangan puterinya itu. Sementara Kim Jongwoon dan Lee Sungmin langsung menyambutnya dengan ramah, tapi tidak dengan Kyuhyun yang terlihat tidak suka. Sedangkan gadis itu terlihat sedikit terkejut melihat kedatangan Minrin. Dia seperti melihat hantu atau entah lah itu.

“Maaf kami terlambat.” Kata Ryeowook memulai.

Dia mengajak Minrin duduk, dan gadis itu pun mengikutinya.

Seakan semua memang sudah direncanakan, semua orang yang berkumpul itu hanya saling diam, menunggu Tuan Taewoo memulai pertemuan kecil ini. semua orang di tempat itu seperti sudah tahu apa yang akan dikatakan Tuan Taewoo, karena itu ketika dia mulai bicara tidak satupun yang terlihat terkejut. Tidak ada, kecuali Minrin.

“Aku ingin memperkenalkan representative baru di Shin Group.” Ucap Taewoo.

Minrin menegakkan kepalanya seketika itu. Representative baru? Apa yang ayahnya maksud itu Cho Kyuhyun?

Mulutnya sudah terbuka untuk menolak keputusan ayahnya itu, tapi dia mengurungkan niatnya ketika ayahnya justru menyebut nama seorang gadis.

“Shin Ranran..”

Seorang gadis yang duduk diantara mereka tadi menegakkan kepalanya dan tersenyum simpul. Sementara Minrin memperhatikan gadis itu lekat. Representative baru itu..apa gadis ini orangnya?

Semua tidak ada yang terkejut kecuali Minrin yang langsung melayangkan pandangan tidak suka pada gadis itu. representative baru.? Uh…. Ayahnya baru saja memasukkan orang asing ke dalam perusahaannya dan menjadikannya representative baru tanpa persetujuan darinya terlebih dahulu. Ya..presiden dari Shin Group memang ayahnya tapi tetap saja ayahnya harus mendiskusikan hal ini pada representative lainnya termasuk dirinya.

“Appa…” Minrin membuka suaranya.

“Sebelum kau memprotes keputusanku. Akan aku jelaskan terlebih dahulu kenapa aku memilihnya.” Potong Shin taewoo yang langsung membuat Minrin menutup mulutnya kembali.

Setelah itu Kim Jongwoon terlihat memberikan sebuah amplop pada ayahnya. Ayahnya membuka amplop itu dan melihatnya sebentar, sebelum mulai menjelaskan..atau sebut saja dia sedang bercrita tentang masa lalunya.

“Aku memilihnya karena dia juga puteriku.” Ucapnya

Degg!!!

“Mwo?” serunya tidak percaya

Entah kalimat apa yang baru saja Minrin dengar. Entah itu seperti petir atau apapun itu tapi yang jelas apa yang ayahnya katakana itu benar-benar membuat matanya membelalak tidak percaya. Puterinya juga? Apa itu berarti mereka bersaudara? Tapi bagaimana mungkin?

8 Stories, 8 Love 8 Heart

 CUT ^^

Advertisements

6 thoughts on “(Fanfiction) 8 Stories 8 Loves 8 Hearts Part 1 : Everything Start Here

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s