(Fanfiction) Once Again One Fine Spring Day

Image

Title : Once Again One Fine Spring Day

Cast : Cho Kyuhyun, Shin Ranran

Genre : Romance, Sad

Rating : PG 15

Length : One Shoot (7080 words)

Author : Whin (@elizeminrin)

Kau tahu di Negara seperti Korea ini ada empat musim yang akan berlangsung secara bergantian.  Musim Semi yang indah, ketika bunga-bunga bermekaran dan cuaca mulai menghangat. Kemudian musim panas yang selalu di tunggu-tunggu kehadirannya. Lalu di bulan September akan muncul musim gugur, dan saat itu bunga-bunga yang bermekaran dan daun-daun yang tadinya hijau akan berubah menjadi kuning dan jatuh. Cuaca yang awalnya hangat di musim panas, perlahan menjadi dingin, angin akan bertiup sedikit lebih kencang, dan pada akhirnya salju pun turun. Musim dingin, ketika semua tertutup benda berwarna putih itu. Pohon-pohon tidak ada lagi yang berdaun, yang ada hanyalah pohon beranting yang berjejer sepanjang jalan.

Kau tahu diantara keempat musim itu aku paling menyukai musim semi. Kenapa musim semi? Karena di musim itulah semua seperti ada kehidupan. Karena di musim itulah pertama kalinya kita bertemu. Dan karena musim semi itu membawa kehangatan, seperti kau yang datang dan menyapaku.

Spring 2010

Aku masih duduk termenung di kursi taman ini menunggu dia yang tidak juga datang. Huh..ini sudah hampir satu jam lebih. Beruntung musim dingin sudah berlalu, jadi cuaca hari ini tidaklah sedingin hari-hari kemarin.

Aku kembali melongakkan kepalaku ke arah jalan itu, berharap dia akan datang, tersenyum dan berlari ke arahku. Tapi yang kulihat hanyalah beberapa anak kecil dan orang tua mereka yang tengah berjalan-jalan di sana.

Apa dia lupa akan janjinya? Dia bilang musim semi tahun ini akan kembali, bahkan dia memberitahuku untuk datang ke tempat ini. Aku mengerucutkan bibirku kesal.

Air mataku hampir tumpah. Bisa kurasakan cairan bening ini sudah membuat kedua mataku memanas. Apa dia lupa?

“Menyebalkan.” Ucapku pelan.

Dan akhirnya ketika jam di tanganku sudah menunjukkan pukul lima sore, yang itu artinya sudah hampir 3 jam aku menunggu, aku pun menyerah. Dengan pelan aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan dengan lunglai menuju halte bus.

Bagaimana menurutmu perasaan yeoja yang ditinggal pergi kekasihnya dan orang itu berjanji akan kembali, di saat aku menunggu janjinya itu dia bahkan tidak datang. Benar. Seperti ada sebuah amarah di dalam dadaku yang bahkan aku sendiri tidak tahu harus meluapkannya seperti apa. Aku hanya bisa diam, menggigit bibir bawahku dan terisak pelan.

Mungkin masih akan terisak jika bus yang aku tunggu tidak datang dan berhenti di depanku.

Aku memilih kursi agak belakang Karena memang hanya bangku di belakang itulah yang tersisa. Dan selama bus ini berjalan dengan pelan pun, aku memilih memandang ke luar jendela, dan mungkin sebentar lagi aku akan menangis lagi.

Musim semi, di saat kehangatan mulai datang, bagiku justru sebaliknya. Aku kehilangan tempat bersadar, mungkin untuk selamanya.

Dan di saat itulah seorang namja bertopi tiba-tiba muncul. Dia tanpa berkata apapun bahkan dengan sikap yang terkesan dingin sudah duduk di sampingku.

Aku mengernyitkan dahiku pelan. Benar-benar tidak punya sopan santun. Dia bahkan tidak menyapaku, sekedar berbosa-basi atau apapun itu. Tapi ya..aku memang sedang berada dalam mood yang buruk, jadi aku menghargai sikapnya yang cuek itu.

Aku kembali memandang keluar jendela, dan benar saja air mataku sudah kembali mengalir dengan pelan di kedua pipiku.

Neo…kau menangis?” tanyanya tiba-tiba. Aku menolehkan kepalaku dan ku lihat dia tidak bergeming dari tempatnya semula. Masih dengan topi yang menutupi wajahmu, lalu dari mana dia tahu aku menangis?

Aniya..” ucapku cepat. Aku pun menghapus air mataku.

“Kau baru putus dengan kekasihmu?”

Aku mendelik ke arahnya, yang tiba-tiba menjadi sok tau. “Itu bukan urusanmu.” Balasku dingin.

Andai aku tahu dia memutuskanku atau tidak. Nyatanya dia tidak memberi kepastian. Dia hanya bilang mungkin akan kembali.  Ohh..atau aku yang selama ini menyalah artikan kata-kata itu?

Aku membuang mukaku dengan sedikit kesal. Kesan pertama aku bertemu dengan namja ini adalah dia benar-benar namja menyebalkan yang pernah aku temui, bahkan lebih menyebalkan dari ‘dia’. bagaimana mungkin dia bicara seperti itu seakan tahu betul tentangku padahal baru kali ini aku bertemu dengannya.

“Ahh..kuere. Aku hanya menebak saja, tapi sepertinya benar.” Ucapnya ringan.

Kali ini aku tidak menanggapi, toh di halte bus depan sana aku akan turun. Jadi, aku tidak akan bertemu dengan namja ini lagi.

Aku sudah bersiap turun ketika akhirnya bus berhenti. Tapi yang kulihat namja tadi juga turun di tempat yang sama. Astaga..

Neo…Kau mengikutiku?” tanyaku tiba-tiba ketika sudah turun dari bus itu.

Aku bisa melihat dia sedikit terkejut dengan pertanyaanku itu. “Tentu saja tidak. Waey? Kau tidak berpikir aku mengikutimu dari tadi karena itu aku tahu kau menangis karena putus dengan pacarmu kan?”

Aku tersenyum simpul, menyipitkan mataku.

“Aku hanya berpikir seperti itu…lagi pula dari mana kau tahu aku menangis huh?” tanyaku kesal.

Kali ini dia tersenyum. Dan untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya meski sedikit tertutup topi yang dikenakan. Untuk sesaat aku terpaku.

“Semua orang yang melihatmu seperti itu pasti berpikir sama denganku.” Jawabnya enteng yang justru semakin membuatku kesal.

Apa benar seperti itu? Apa aku terlihat buruk sekarang? andai di depanku ada sebuah kaca, aku sudah berkaca sekarang, melihat apa mataku sudah mulai bengkak. Aku meraba mataku sendiri yang baru kering dari air mata.

“Jadi benar kan, kau tadi menangis?” namja itu kembali mengulangi pertanyaannya.

“Tuan Sok Tahu, apa pedulimu kalau benar huh?” aku berbalik bertanya dengan penekanan di setiap katanya.

Aku sudah berbalik dan bersiap pergi. “Ah..benar, kenapa aku harus peduli? Menangislah kalau kau memang menangis. Dan satu lagi aku punya nama, nama ku bukan Tuan Sok Tau, kau mengerti?” dan setelah mengatakan itu dia pun pergi.

Aku berdiri di tempatku masih dengan suasana kesal dan amarah yang bercampur jadi satu. Orang itu benar-benar sudah membuat mood ku kembali pada titik terendah. Kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti itu di saat seperti ini, astaga…

Dan di situlah semua berawal. Aku pikir setelah hari itu aku tidak akan bertemu denganmu lagi. Sejujurnya aku memang tidak ingin bertemu denganmu lagi. Namja menyebalkan, sok tau, yang bersikap dingin seperti itu. Tapi sepertinya sesuatu yang mereka bilang takdir tidak berkehendak seperti keinginanku.

Beberapa hari kemudian, entahlah ini bisa dikatakan takdir atau bukan kita bertemu lagi di acara pernikahan Park Hyehyo, saudara sepupuku. Lucu sekali kita bisa bertemu di saat bahagia itu.

Aku memasuki ruang ganti pengantin perempuan, dan ku lihat Hyehyo eonnie tengah duduk tegang di kursi itu. “Eonnie..Chukkae” Aku menghampirinya.

Yeppoda. Dia benar-benar cantik. Beruntung sekali namja bernama Lee Hyukjae yang mendapatkan eonnieku ini. Aku tersenyum sendiri.

“Ah,,Ran-ya….aku tegang sekali.” Dia mendongakkan kepalanya, terlihat sekali raut ketegangan di wajahnya. Lucu sekali bukan, orang yang akan menikah bisa setegang ini tapi tentu saja tegang, aku pun akan tegang kalau aku yang menikah.

Aku menggenggam tangan Hyehyo eonnie. “Kau cantik eonnie, neomu yeppoda..” ucapku menenangkannya.

“Benarkah?”

Aku mengangguk cepat. Dia pun tersenyum. Setidaknya kau akan bahagia setelah ini.

Dan saat itulah seseorang masuk ke ruang tunggu mempelai wanita ini. Seorang namja. Dia tersenyum akrab pada Hyehyo eonnie. Mungkin dia salah satu temannya.

“Aku tidak menyangka kau bisa berubah secantik ini, Hyo-ah.” Namja itu menghampiri Hyehyo eonnie.

“Yak, kau sedang mengejekku? Ck…kau keteraluan sekali” Gerutu Hyehyo eonnie.

Tapi sedetik kemudian Hyehyo eonnie tersenyum ke arah namja itu. Mereka pasti sudah lama bersahabat.

Namja itu tersenyum dan mengulurkan tangannya. “Kau cantik, dan aku yakin dia akan terpesona padamu. Chukkae..kau berhasil mendapatkan Anchovy itu sekarang.” ucapnya. Hyehyo eonnie tersenyum malu.

Gomawo, kyuhyun-ah.” Dia menjabat tangan itu.

Aku yang berdiri di samping Hyehyo eonnie menjadi sedikit salah tingkah. Apa aku menganggu mereka berdua? Sepertinya lebih baik aku keluar dari sini.

Aku sudah bersiap keluar ketika akhirnya seseorang berkata padaku. “Oh..bukankah kau yeoja yang menangis di bus itu?” tanya namja itu kemudian setelah menyadari keberadaanku.

Aku menoleh dengan terkejut, memperhatikan namja bernama Kyuhyun tadi. Dia…sepertinya aku pernah bertemu dengannya. Dan aku pun ingat kejadian di halte itu. Aku tidak salah, namja itu pasti namja menyebalkan itu. Betapa sempitnya dunia ini. Kenapa aku bisa bertemu lagi dengannya? Dan yang lebih mengejutkan dia ternyata berteman baik dengan eonnieku.

Neo…kau namja menyabalkan itu?” tanyaku tidak percaya.

Aku seperti terkena kutukan karena harus bertemu dengan orang ini lagi.

“Kau mengenal Ranran?” tanya Hyehyo eonnie menyela.

Aku sudah bersiap menjawab, sebelum akhirnya dia yang menjawab duluan “Aku hanya sekali bertemu dengannya.”

Dan setelah itu dia pun menceritakan semuanya pada Hyehyo eonnie. Bagaimana aku menangis dan tampak bodoh saat itu. Bukannya bersimpati, tapi Hyehyo eonnie justru tertawa dan terus-menerus menggodaku.

Dan Kau…namja yang aku tahu bernama Kyuhyun, kalau ini bukan di pesta pernikan Hyehyo eonnie, sudah ku pastikan kau menerima pelajaran dariku. Siapa yang menyuruhmu mengatakan itu pada eonnie ku huh?

Tapi sepertinya takdir kita tidak berhenti di situ. Beberapa kali setelah itu, kita bertemu lagi. Entah itu karena Hyehyo eonnie atau secara tidak sengaja bertemu di suatu tempat. Dan aku pikir kisah ini lama-lama seperti cerita drama yang biasa di tayangkan di televisi.

Musim Semi adalah saat di mana aku bertemu denganmu. Seperti kataku, saat musim semi lah cuaca mulai menghangat, dan seperti itu jugalah yang aku rasakan. Nyatanya meski kau menyebalkan, kau membuat hariku hangat dan tidak lagi sedingin kemarin. Meskipun setiap aku bertemu denganmu yang terjadi hanyalah sebuah pertengkaran tapi itulah yang membuat ku merasa hangat sekarang. Cho Kyuhyun, namja menyebalkan yang ternyata mampu membuatku lupa tentang ‘dia’.

Dan saat musim panas tiba, semua semakin hangat.

Summer 2010

Ku lihat Kyuhyun masih memandang lurus jauh ke depan, kea rah pantai yang biru itu. Aku memperhatikan namja yang duduk di sampingku sejenak. Aku yang baru menyadarinya sekarang atau selama ini aku tidak menyadarinya, kalau ternyata dia memiliki wajah yang tampan.

“Aku tahu aku tampan, kau tidak perlu melihatku seperti itu.” Ucapnya tiba-tiba.

Aku refleks mengalihkan pandanganku. “Ck…siapa yang bilang kau tampan? Pasti orang itu sudah tidak waras.” Balasku.

Kau percaya diri sekali. Tapi ya…kau memang tampan. Aku tersenyum diam-diam.  Oh..apa aku salah satu orang yang tidak waras itu sekarang?

“Semua orang bilang seperti itu. Kau yang tidak waras karena tidak bisa melihat ketampananku.” Ucapnya kembali narsis, yang langsung menjitak kepalaku.

Inilah yang paling aku benci darinya. Kenapa kau selalu menjitak kepalaku?

“Aissh, appo..” Aku mengelus kepalaku pelan.

Aku kembali memperhatikannya dengan kesal, sementara dia tersenyum puas sekarang. Dia benar-benar menyebalkan. Tapi sayangnya sikapnya yang menyebalkan itulah yang membuat suasana semakin hangat.

Jika dulu aku tidak bertemu dengan orang ini, Cho Kyuhyun dan jika waktuku tidak habis untuk bertengkar dengannya, mungkin aku masih jatuh dalam lubang yang tak berdasar ini.

“Ya, bagaimana kabar namja itu? Apa dia kembali sekarang?” Tanya Kyuhyun tiba-tiba yang langsung membuatku sedikit menegang.

Setelah beberapa bulan aku berusaha melupakan ini, kenapa Kyuhyun harus membicarakan ‘dia’ lagi?

Molla…” jawabku pelan, ada sedikit rasa sakit yang menyesakkan di dadaku.

Aku benar-benar tidak ingin membicarakan orang itu lagi. Aku pasti sudah sangat bodoh karena mempercayai kata-katanya yang bilang akan kembali padaku. Huh…aku pikir orang-orang yang mengatakan semua namja itu sama memang benar.

Kyuhyun menyenggol sikutku pelan. “DIa tidak kembali kan? ahh…sudah aku duga itu.”

Aku mendelik ke arahnya. Dasar…selalu saja sok tahu. “Kuere..dia tidak kembali, kau puas sekarang?” tanyaku sedikit berseru.

Menyebalkan. Kenapa kau harus mengungkit masalah itu? Tidak bisakah kau membuatku melupakannya?

Aku mengerucutkan bibirku kesal. Dan bukannya bersimpati, Kyuhyun justru semakin berada di atas angin sekarang.

“Yakk!!” seruku akhirnya.

Benar-benar tidak peka.

“Aisshh…berhentilah berteriak.” Dia mengelus telinganya beberapa kali.

“Sudahlah, lupakan saja dia. Kau sudah menunggu terlalu lama Ran-ya..” kali ini Kyuhyun mengatakan itu dengan sedikit keseriusan. Hanya sedikit karena selebihnya terdengar seperti sebuah cibiran bagiku.

Aku yang awalnya ingin kembali berteriak, akhirnya mengurungkan niatku dan mulai mendengarkannya.

“Mungkin saja dia sudah bertemu yeoja yang lebih cantik darimu.” Lanjutnya.

Seperti yang aku duga, dia tidak akan semudah itu berbaik hati padaku. Ohh…bisakah dia mencari alasan lain selain itu? Aku kembali menggerutu.

Pletak

“Aissh appo..” dia meringis kesakitan karena aku baru saja menjitak kepalanya.

“Kau bukannya membantuku melupakannya, tapi justru membuatku semakin kesal padamu.” Kataku bersungut-sungut kesal.

Aku membuang mukaku dan memilih memandang langit dan laut yang menjadi satu di depan sana. Sebuah garis semu yang membatasi dua ruang itu. Sungguh indah. Tapi meski warna laut dan langit kadang bisa sama. Biru. Tapi tetap saja mereka berdua berbeda. Dan mungkin saja perbedaan itu lah yang tidak pernah bisa menyatukan keduanya. Seperti aku dan ‘dia’ yang berbeda. Aku tersenyum kemudian.

“Aku ingin membuatmu melupakannya. Asal kau memberiku kesempatan.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba.

Aku menolehkan kepalaku menghadap ke arahnya, menatapnya yang tiba-tiba menjadi serius. Mendadak semua pikiranku tentang ‘dia’ hilang begitu saja.

“Kau ingin melupakannya? Aku akan membantumu..” lanjutnya lagi

Apa yang kau katakana saat itu benar-benar membuatku tercengang. Seorang Cho Kyuhyun yang aku tahu selalu bersikap sok tahu dan menyebalkan tiba-tiba berubah menjadi namja penuh keseriusan dan kehangatan. Dan aku tahu saat itu keputusanku untuk menerima uluran tanganmu memang benar. Aku masih berpikir ini adalah salah satu scenario drama. Tapi aku senang karena kau mengulurkan tanganmu itu dan membantuku keluar dari lubang ini.

Semua semakin hangat sehangat musim panas di bulan Agustus.

Kau benar-benar melakukannya, membuatku melupakan tentang ‘dia’. Dan perlahan kau membuat pikiranku hanya terpusat padamu seorang. Lucu sekali. Bagaimana mungkin kau melakukan itu huh? Bahkan ini baru beberapa bulan sejak kita bertemu tapi kau sudah berhasil membuatku kehilangan arah karena terus memikirkanmu. Apa aku sudah mulai jatuh cinta padamu? Oh..seperti kataku ini seperti cerita drama, kau kehilangan cintamu kemudian kau bertemu namja lain yang menyebalkan dan kau pun jatuh cinta.

Tapi mungkin itu benar aku mulai menyukaimu..

 

Aku melihat ke arah yeoja itu dengan tatapan tidak suka. Dia baru saja keluar dari sebuah kedai kopi bersama Kyuhyun saat aku berjalan di depan bangunan kecil itu. Yeoja itu tersenyum ramah pada Kyuhyun, begitu pula Kyuhyun yang membalas senyuman itu dengan ramah. Sesuatu yang aku tahu tidak akan dilakukan seorang Cho Kyuhyun yang aku kenal. Dia tidak akan sembarang tersenyum begitu manis pada yeoja yang tidak dia kenal. Dan kesimpulan yang aku dapat adalah, mereka berdua pasti berteman baik. Kenapa aku semakin tidak suka dengan ke akraban itu?

“Oh..Ran-ya, apa yang kau lakukan di sini?” Kyuhyun tiba-tiba sudah berdiri di depanku, bersama yeoja itu tentu saja.

Aku tersadar dan beralih memperhatikan Kyuhyun “Aku hanya kebetulan lewat.”

“Benarkah? Sepertinya kita memang ditakdirkan bersama.” Dia tersenyum.

Ya..mungkin. Kita terus bertemu tanpa sengaja, itu pasti yang namanya takdir.

“Aku harus pergi sekarang, Hyehyo eonnie sudah menungguku” kataku akhirnya.

“Mau kuantar? Aku juga akan ke tempat Eunhyuk hyung.” DIa menawarkan diri.

Aku sedikit ragu, beberapa kali aku memperhatikan yeoja yang berdiri di samping Kyuhyun. Tidakkah ini salah kau menerima tawaran seorang namja yang jelas-jelas sedang bersama seorang wanita lain.

“Sudahlah. Kau terlalu lama berpikir. Kajja..” Kyuhyun akhirnya menarik tanganku. Aku pun hanya menurut. Aku masih bisa melihat yeoja tadi juga ikut berjalan di belakang kami.

Aku sedikit tidak percaya ketika di depanku terpakir mobil putih. Apa namja ini mengemudi? Sejak kapan? Aku tidak pernah melihatnya mengendarai mobil. Tentu saja tidak pernah melihat,  selama ini kami selalu bertemu tanpa sengaja, dan ketika pergi bersama pun dia memilih naik bus bersamaku.

“Waey? Cepat masuk. Kau pasti tidak menyangka aku punya mobil sebagus ini kan?” Dia tersenyum, kembali pada sifat dasarnya yang menyebalkan.

Aku menghiraukannya dan membuka pintu belakang tapi Kyuhyun langsung menarik lenganku. “Kau duduk di depan.”

Huh? Di depan? Lalu yeoja itu?

Aku memperhatikan yeoja tadi yang hanya tersenyum dan terlihat biasa saja. Akhirnya aku pun menurut.

Selama perjalanan tidak ada satu pun kata yang keluar dari kami bertiga. Setidaknya aku ingin Kyuhyun mengenalkan yeoja ini padaku. Aku akan menerimanya, meskipun dia akan mengenalan Yeoja ini sebagai kekasihnya.

 

Kau tahu, Saat itu aku menyadari ada yang salah dalam diriku. Aku tidak suka melihatmu akrab dengan yeoja lain. Ohh..apa aku sedang cemburu?

Aku terus menyakinkan diriku bahwa tidak ada perasaan lain yang ikut campur. Tapi aku salah. Aku tahu..kau sudah membuatku jatuh cinta padamu. Bahkan aku merasa cemburu saat meliha yeoja itu bersamamu, yang jelas-jelas dia adalah nunna mu. Benar-benar menggelikan. Aku cemburu pada kakak perempuanmu.

Kau pasti tahu betapa leganya aku saat kau mengenalkan nunnamu padaku. Seperti ada beribu beban yang lenyap. Dan saat itu, entah keinginan dari mana..tapi aku ingin memilikimu.

“Jadi DIa nunnamu?” tanyaku sedikit tidak percaya.

Kyuhyun mengangguk. Astaga..aku kira dia kekasihnya atau teman dekatnya.

“Tapi kenapa kalian tidak mirip? Dia cantik tapi kau tidak tampan.” Lanjutku kemudian, aku kembali memperhatikan Ahra eonnie yang tengah asyik berbicara pada Hyehyo eonnie dan Eunhyuk oppa.

“Yak, aku ini tampan. Kau saja yang tidak menyadarinya.”

Aku mengabaikan kata-kata itu dan diam-diam justru tersenyum. Jadi Dia kakak perempuannya? Kenapa aku sangat lega mendengarnya?

“Terus saja memuji diri sendiri, Cho Kyuhyun.” Aku pun meninggalkannya dan ikut bergabung dengan tiga orang itu.

“Yakk!!” serunya, tapi aku tidak mempedulikan teriakannya.

Diam-diam aku kembali tersenyum.

Kyuhyun-ah, joayo..

Aku menyukaimu. Dan kau berhasil membuatku melupakan ‘dia’.

Aku seperti kembali ke masa di saat aku pertama kali merasakan sebuah perasaan yang bernama cinta. Ini seperti cinta pertamaku. Kau selalu mengganggu pikiranku. Terkadang aku sangat merindukanmu saat kau tidak meneleponku, tidak mengirimku pesan atau saat kau tidak muncul di depanku. Seperti kataku, kau berhasil membuatku terpusat hanya padamu. Apa kau mempunyai magnet tertentu hingga membuatku terus mengarah padamu?

Dan pada akhirnya aku mengatakannya padamu bukan?

 

Kyuhyun-ah, Joayo.” Ucapku pelan, aku menundukkan kepalaku. Wajahku pasti sudah memerah sekarang karena menahan malu.

Apa yang aku lakukan sekarang? mengatakan aku menyukai namja ini? Paboya..

Aku melirik Kyuhyun yang masih diam di depanku.  Dia tidak mengatakan apa-apa dan itu membuatku menjadi semakin salah tingkah. Seharusnya aku tidak mengatakan itu.

Arrayo..” setelah mengatakan itu, Kyuhyun sudah menarikku dan memelukku.

Aku sedikit tercengang dan juga bingung. Dia memelukku? Untuk pertama kalinya. Apa ini berarti dia juga menyukaiku?

Semua berjalan sangat singkat. Aku tidak tahu sejak saat itu kau dan aku adalah sepasang kekasih atau bukan. Kau tidak pernah mengatakan kau menyukaiku atau mencintaiku. Semua terasa sama seperti sebelumnya, kita bertemu dan sesekali bertengkar kecil. Tapi aku tahu saat itu perlahan aku sudah memilikimu.

Aku menyukaimu dan bahkan mungkin aku sudah mencintaimu.

Tapi di saat aku menyadarinya perlahan kau justru melangkah pergi dariku. Dan itu terjadi saat musim panas hampir berakhir, bahkan mungkin ketika sudah memasuki musim gugur. Kenapa kau melakukannya? Kau datang padaku di saat musim semi dan meninggalkanku saat musim gugur. Itu hanya beberapa bulan setelah pertemuan pertama kita dan hanya dua bulan sejak aku mulai menyukaimu. Nappeun..

 

Auntumn 2010

Sekuat tenaga aku menahan air mataku agar tidak menetes. Bagaimana tidak, aku baru saja menerima kenyataan orang yang baru aku sadari sangat berarti tiba-tiba memutuskan pergi.

“Ran-ya..” aku merasakan tepukan ringan di pundakku. Buru-buru aku mengusap air mataku dan berusaha tersenyum pada Hyehyo eonnie.

Gwaenchanayo?” tanyanya hati-hati. Aku mengangguk pelan.

Aku tidak apa-apa, aku pernah mengalami hal ini sebelumnya bahkan mungkin lebih parah dari ini. Kyuhyun hanya bilang hanya beberapa bulan dan setelah itu akan kembali ke Korea.

“Pesawatnya berangkat dua jam lagi. Temui dia..” kata Hyehyo eonnie menyarankan.

Aku menolehkan kepalaku. Lalu untuk apa aku menemuinya? Menangis di depannya dan memintanya agar tidak pergi? Aku bukan yeoja yang egois seperti itu. Dia akan pergi dan itu keputusannya, kenapa aku harus menghalanginya?

Aku menatap Hyehyo eonnie bingung. “Setidaknya bertemu dengannya dan ucapkan selamat tinggal. Itu lebih baik bukan?” lanjutnya

Saat itu aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Aku ingin mengantarmu pergi, tapi aku takut hatiku tidak bisa melakukannya. Aku bisa saja menahanmu untuk tidak pergi, tapi aku bukan orang yang egois seperti itu.

Meski aku menolak nya, tapi pada akhirnya aku memang datang saat itu. Melangkahkan kakiku dengan berat untuk bertemu denganmu, untuk mengucapkan sebuah kata yang aku benci.

Kyuhyun-ah, apa kau ingat apa yang kau katakan waktu itu?

Saat itu kau menatapku dengan lembut seakan berkata semua akan baik-baik saja.

 

“Yakk, aku tidak akan seperti namja itu. Aku akan kembali..hmm? Kau akan baik-baik saja” Kyuhyun mengacak rambutku pelan.

Aku sama sekali tidak menatapnya dan memilih terus menundukkan kepalaku. Aku tidak mau dia melihatku yang sudah berlinang air mata sekarang.

“Ran-ya..” panggilnya kemudian. Kali ini dengan nada yang lembut.

“hmm?”

Aku pun akhirnya mengangkat kepalaku dan menatapnya. Dia tersenyum padaku. Dan yang ku rasakan adalah dia sudah memelukku erat.

Aku berharap itu bukanlah pelukan terakhir yang akan kau berikan padaku.

Kau bilang akan kembali bukan? Aku akan memegang janjimu.

Kau bilang aku akan baik-baik saja bukan? Tapi bagaimana kalau aku tidak baik-baik saja?

Jangan katakana aku akan baik-baik saja, karena kenyataannya setelah ini mungkin aku tidak bisa hidup dengan baik. Meskipun hanya satu hari, satu menit bahkan satu detik mungkin aku tidak bisa kalau tidak ada kau di sisiku. Kau tahu aku tidak mau jatuh pada lubang yang sama untuk kedua kalinya. Jadi, bisakah kau tidak mengirimku ke lubang penuh kesepian itu lagi? jebal…Kyuhyun-ah. Aku akan menunggumu..

 

Arraso..” ucapku mengangguk ketika dia terus meyakinkanku akan kembali. Aku tersenyum.

Kyuhyun menggenggam tanganku. Andai aku tidak harus melepas genggaman tangan ini. Tapi kenyataannya aku harus melakukannya.

“Aku harus pergi sekarang.” Pada akhirnya bukan aku yang melepas genggaman tangan ini, tapi dia.

Aku berusaha tersenyum padanya dan mengangguk pelan. Dan setelah itu mobil itu pun membawanya pergi. Beruntung aku tidak mengantarnya di bandara, karena sekarang saja aku sudah hampir menangis hebat.

Aku melepasmu bukan? Aniya…aku tidak melepasmu, aku hanya melepasmu untuk sesaat. Saat kau kembali, aku akan ada di sini untuk kembali menggenggam tanganmu.

Seperti apa yang aku katakan, aku ingin memilikimu. Jadi, sampai kau yang bilang ingin pergi dariku, aku tidak akan melepaskan tanganmu dari tanganku.

                   

 

December, WInter 2011

Semua seperti mimpi bagiku. Ohh…apa aku memang sedang bermimpi? Memori-memori itu seakan kembali berputar di otakku. Saat aku pertama bertemu dengan Kyuhyun, kemudian saat aku dan dia menghabiskan musim panas bersama. Dan saat musim gugur dia pergi.

“Ran-ya, irona…” Aku merasakan bisikan kalimat itu di telingaku.

Huh? Siapa yang bicara itu?

Aku menyibakkan selimutku dan mengerjapkan mataku pelan saat ku lihat wajah Hyehyo eonnie tersenyum di samping tempat tidurku.

Oh…Sejak kapan dia di apartementku? Aku tahu dia biasa masuk ke sini kapan saja, tapi tidak pernah dia datang ke apartementku sepagi ini.

“Yak, bangunlah…!!” Serunya lagi.

Eonnie-ya, apa yang kau lakukan di sini?” tanyaku akhirnya.

Ku lihat dia hanya kembali tersenyum dan berjalan membuka jendela kamarku. Sementara aku duduk di ranjangku dengan sedikit malas.

“Kau ini benar-benar pemalas. Lihat ini sudah jam 8 dan kau bahkan masih meringkuk di tempat tidurmu.”

Eomma mu ada di luar. Mandi dan temui dia..” lanjutnya kemudian.

Huh? Eomma?

Aku sedikit membelalakan mataku menderngar ucapan itu. Bagaimana eomma bisa ada di korea? Bukankah dia ada di Jepang?

Eomma?” ulangku antara sadar, tidak sadar dan juga terkejut.

Hyehyo eonnie mengangguk pelan. Seakan pulih dari alam bawah sadarku, aku pun langsung turun dan bergegas ke kamar mandi. Jadi, ini alasannya Hyehyo eonnie ada di sini sekarang. Kenapa eomma tiba-tiba datang? Tidak biasanya dia datang tanpa memberitahuku sebelumnya.

Selesai membersihkan diriku, aku pun langsung keluar dan menemui eomma.

“Sudah ku bilang anak itu jadi pemalas sekarang.” kata Hyehyo eonnie yang duduk di samping eomma.

Eomma, kenapa tidak bilang akan datang?” tanyaku. Aku duduk di sofa kosong di depan mereka berdua.

Ku lihat eomma hanya memandangku. Ada yang berbeda. Apa aku melakukan kesalahan? Sepertinya tidak. Lalu kenapa eomma menatapku seperti itu? Lagipula ini tidak biasa eomma tiba-tiba datang ke Korea tanpa memberitahuku.

“Kau ikut eomma kembali ke Jepang.” ucapnya.

“Huh? Kembali ke Jepang?” tanyaku tidak percaya.

Selama tiga tahun ini aku memang tinggal di Korea bersama Hyehyo eonnie, tapi setelah Hyehyo eonnie menikah aku hanya sendiri di apartement ini. Selama ini baik-baik saja, lalu kenapa tiba-tiba eomma ingin membawaku kembali ke Jepang?

Waegure? Aku sudah terbiasa di Korea selama tiga tahun ini. Sesekali aku juga mengunjungi eomma di Jepang kan? lalu kenapa eomma ingin aku kembali ke sana?” tanyaku lagi. Aku melirik Hyehyo eonnie meminta dukungan. Tapi ku lihat dia hanya mengangkat bahunya seakan tidak mau ikut campur urusanku.

Eomma…” Aku beralih pada wanita 45 tahun yang sangat aku hormati ini.

“Kau sudah terlalu lama di sini. Eomma dan Appa mu mengijinkanmu tinggal di sini untuk menyelesaikan kuliahmu. Karena sekarang sudah selesai, maka tidak ada alasan lain kau tinggal di sini. Lagipula Hyehyo sudah menikah, dan Kau tinggal sendiri di apartement ini.”

Aku memang membenarkan ucapan eomma. Tapi bagaimana jika aku menemukan alasan lain untuk tetap di sini?

Andweyo eomma. Aku akan kembali kalau aku ingin. Aku tidak keberatan tinggal sendiri di apartement ini.” kataku bersikukuh, dan aku tahu itu sedikit membuat eomma kecewa.

Aku akan kembali setelah menyelesaikan urusanku. Ahh..bukan lebih tepatnya aku tidak bisa kembali ke Jepang sebelum aku memastikan satu hal saat Kyuhyun kembali.

Ini sudah dua tahun, tapi dia belum juga kembali. Setiap hari yang kulalui seperti sebuah bom waktu bagiku. Bagaimana kalau dia tidak kembali? Bagaimana kalau dia tidak menempati janjinya? Ini lebih buruk dari kejadian waktu itu. seperti ada ketakutan yang menjeratku sejak hari itu.

“Ran-ya, Kau setuju atau tidak tapi eomma tetap akan membawamu kembali ke Jepang. Pesawat berangkat sore ini, jadi bersiaplah. “ Kata eomma memutuskan yang langsung membuatku terkejut.

Eomma…” rengekku ketika ku lihat dia sudah beranjak berdiri.

Dia berhenti sejenak. “Hyehyo, bantu dia berkemas.” Ucapnya

Ne, eommonim” Jawab Hyehyo eonni pelan

Ini pasti salah. Aku tidak boleh kembali ke Jepang. Tidak untuk sekarang. Kenapa eomma bersikap seperti itu?

Eomma..” panggilku lagi.

Tapi yang ku rasakan adalah tarikan pelan di lenganku sementara eomma sudah menghilang di balik pintu itu.  Aku menoleh kea rah Hyehyo eonnie. Eonnieku yang satu ini juga tidak membantuku.

“Apa yang terjadi dengan eomma? Eonnie-ya, aku tidak bisa kembali ke Jepang sekarang.” kali ini aku meluapkan nya pada Hyehyo eonnie.

DIa hanya tersenyum kalem, seakan mengerti. Oh..ayolah kalau dia mengerti seharusnya dia sudah membantuku tapi kenapa sikapnya tadi justru bertolak belakang?

Mollayo. Andai aku tahu alasannya sudah dari tadi kuberitahu.” Ucapnya.

 

Kyuhyun-ah, sudah lebih dari satu tahun sekarang. Kau tahu bagaimana rasanya menunggu selama itu? Benar-benar menyedihkan. Bagaimana mungkin aku kembali harus merasakan sebuah penantian dan lagi-lagi harus menunggu. Melewati musim gugur dan musim dingin seorang diri. Setidaknya kita harus membuat sebuah kenangan di dua musim itu sebelum kau pergi, jadi aku bisa lebih mudah menjalaninya.

Huh..Apa aku satu-satunya yeoja di dunia ini yang mengalami kisah yang sama untuk kedua kalinya?

Kyuhyun-ah, Kau bilang akan kembali dan aku ingin mempercayai itu. Tapi terkadang aku tidak bisa mengelak, bahwa aku takut kejadian itu terulang lagi. Orang yang aku sadari sangat berarti pergi dan tidak kembali. Kau tidak akan melakukan itu bukan? Kau tidak akan menjadi ‘dia’ yang kedua di hidupku bukan?

Dan sekarang, aku harus pergi ke Jepang. Lalu bagaimana aku bisa bertemu denganmu setelah ini?

 

Pada akhirnya aku tidak bisa menolak keinginan eomma. Dan sore ini aku sudah berada di dalam pesawat yang akan membawaku kembali ke Jepang.

“Tersenyumlah..” ucap eomma yang duduk di sampingku.

Aku memasakkan bibirku untuk tersenyum meski seujujunya aku masih kesal dengan keputusan eomma.

“Kau masih menunggu namja itu? Lee Jinki?” tanya eomma tiba-tiba.

Aku menolehkan kepalaku. “Animida, eomma.” Jawabku

Aku memang sedang menunggu, tapi bukan ‘dia’ lee Jinki, melainkan Cho Kyuhyun.

“Lupakan dia, Ran-ya” ucapnya lagi.

Aku hanya tersenyum simpul dan setelah itu aku memilih mengedarkan pandanganku keluar jendela. Aku memang sudah melupakan ‘dia’ tapi sayangnya aku kembali terjebak dalam cerita yang sama untuk kedua kalinya. Nan eottoke?

Ini seperti dejavu. Tapi kuharap bukan. Kau bukan ‘dia’. Jadi kali ini ceritanya pasti berbeda. Kau akan kembali…aku tahu itu.

 

February, Winter 2012

Beberapa minggu setelah aku kembali ke Jepang, eomma mengenalkanku pada seorang namja. Seharusnya aku tahu sejak awal tujuan eomma menyuruhku pulang ke Jepang secara mendadak. Dia pasti sedang merencanakan sebuah perjodohan untukku. Tentu saja, apa lagi kalau bukan perjodohan. Dia mengenalkanku pada seorang namja asing. Kau tahu ini seperti cerita lama.

Ahh…aku baru sadar kenapa hidupku bagaikan cerita drama? Menggelikan.

Eomma, aku bisa mencari sendiri namja yang akan ku nikahi” tolakku saat eomma mengutarakan dengan terus terang alasannya mengenalkanku pada namja tadi.

“Yak, Ran-ya apa yang kau maksud namja tidak bertanggung jawab yang meninggalkanmu itu? Sudah tiga tahun dan kau bahkan masih menunggunya. Sudahlah, lupakan dia.”

Dan seperti biasanya eomma akan menasihatiku untuk tetap melupakannya. Eomma, aku sudah melupakannya. Sudah dua tahun yang lalu aku melupakannya. Wajahnya seperti apa saja aku sudah tidak ingat.

“Aku tidak ingat lagi dengan Jinki eomma.” Balasku dengan sedikit menahan rasa kesal.

“Kalau kau sudah melupakannya tidak ada alasan lain untuk menerima namja itu.”

Aku menghembuskan nafasku berat.

Apa yang harus aku lakukan, Kyuhyun-ah? Eottoke?

 

Setelah itu seperti biasanya, aku memilih mengalah dan menghindar dari eomma. Sepertinya berjalan-jalan sebentar lebih baik untuk menyegarkan pikiranku.

Aku berjalan dengan pelan menikmati pemandangan kota Osaka ini. Beberapa orang terlihat mengunjungi festival musim dingin yang di selenggarakan secara sederhana di kota ini. Patung-patung es berjejer rapi, indah. Meski aku yakin patung-patung itu tidak sebesar di Hokkaido.

“Ah..yeppoda” Ucapku refleks ketika melihat patung es berbentuk kuda.

Aku bersiap mengambil foto patung itu dengan kameraku. Karena terlalu menikmati, aku tidak sadar seseorang menabrakku tidak sengaja. Alhasil kamera itu terjatuh di tempat yang agak keras dan hanya sedikit salju di sana.

Gomennasai.” Ucap yeoja itu dengan bahasa Jepang.

Aku tidak memperhatikan orang itu dan justru terlalu focus dengan kamera ku. Kamera itu…andwe! Ku mohon jangan sampai kamera itu rusak.

“Oh..eottoke?” aku memungut kamera itu.

Gomennasai. Aku benar-benar minta maaf, aku tidak sengaja menabrakmu.” Ucap yeoja itu lagi.

Ku lihat dia ikut berjongkok dan membantuku mengambil tutup lensa yang tadi sempat terlepas. Aku mungkin saja memarahi gadis di depan ku ini tapi ku urungkan niatku ketika melihat raut penyesalan dalam wajahnya.

It’s allright. I think my camera is fine.” Kataku, meski aku tahu tidak sepenuhnya begitu. Apalagi begitu aku menghidupkannya yang terlihat hanya layar putih.

Oh..Tidak.

Kamera itu mungkin harganya memang tidak seberapa, bahkan dengan uangku aku bisa membeli yang lebih bagus. Tapi bagiku nilai kamera itu lebih dari apapun. Karena kamera itulah kita berbagi kenangan bersama. Kau meninggalkannya untukku, dan baru aku sadari selama ini kau mengambil gambarku secara diam-diam. Tapi sekarang kamera itu rusak. Kyuhyun-ah eottoke?

 

“Yuka, apa yang kau lakukan di sana?” Gadis yang tadi menabrakku bangkit dan berdii seiring suara seorang namja yang berteriak padanya.

“Oppa..eottoke? aku merusak kamera eonnie ini.” sesalnya dnegan bahasa korea yang sangat lancer.

Aku mendongakkan kepalaku. Oh…apa dia orang korea?

Gwaenhcanayo..” kataku lagi kali ini dengan bahasa korea.

Dia terlihat terkejut. “Oh..kau orang korea?” tanyanya

Aku mengangguk dan tepat pada saat itu namja yang berteriak pada gadis bernama Yuka itu sudah menghampiri kami.

Oppa, dia juga dari korea. Bukankah ini kebetulan kita bertemu dengan sesama orang korea?” kata gadis itu yang mendadak menjadi sangat riang.

Aku yang tadi masih mengotak-atik kamera itu kembali mendongakkan kepalaku.

Dan..

Kau ingat kau pernah bilang kita ditakdirkan bersama karena kita selalu bertemu tanpa sengaja? Aku mulai mempercaya itu.

Kau lihat betapa terkejutnya aku dan betapa senangnya ketika aku melihatmu yang tidak aku duga berdiri di depanku. Aku tidak mempercayai itu, tapi aku yakin itu kau. Cho Kyuhyun, namja menyebalkan itu.

Semua seperti menyeruak ke luar, ketakutan itu perlahan hilang dan..ohh…aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa saat itu. Aku hanya ingin berlari memelukmu dan mengatakan betapa aku sangat merindukanmu selama ini.

Kyuhyun-ah jeongmal bogoshipoo..

Aku masih ternganga dalam diamku, antara percaya dan tidak ketika melihat sosok Kyuhyun berdiri di depanku, di samping yeoja tadi. Ku lihat dia juga sama terkejutnya denganku.

Apa ini sebuah takdir yang selalu dia bilang?

“Oppa..” Panggil gadis bernama Yuka tadi.

Kyuhyun sedikit menghiraukan panggilan itu dan justru mengalihkan perhatiannya pada kamera yang ada di tanganku.

Ada apa dengannya? apa dia lupa padaku?

“Kyuhyun-ssi..” panggilku pelan dengan sedikit bergetar.

Dia terpaku dalam diamnya.

“Huh? Kau mengenal dia?” tanya Yuka refleks.

Aku mengangguk pelan. Aku tidak salah. Dia Kyuhyun. Cho Kyuhyun, namja yang membuatku menunggu selama hampir dua tahun ini.

Oppa, jeongmalyo? Kau mengenal eonnie ini? ohh…ini kebetulan yang sangat baik.” Yuka tersenyum lebar.

Ya..ini kebetulan yang sangat baik.

Tapi..

“Aniyo. Aku tidak mengenalnya. Mungkin dia salah orang.” Ucap Kyuhyun tiba-tiba.

Deg!!

Seperti beribu beton jatuh menimpaku. Apa yang dia katakana? Tidak mengenalku?

“Tapi dia tahu namamu, oppa..” seperti diriku, sepertinya Yuka juga tidak percaya dnegan kata-kata itu.

Aku menatap Kyuhyun, mencari tahu apa yang maksud perkataannya tadi. Aku tahu itu dia, kenapa dia berbohong?

Kenapa kau melakukannya? Wae? Waegure, Kyuhyun-ah?

Kau tahu aku sangat ingin bertemu denganmu, tapi saat aku bertemu denganmu kau justru bilang tidak mengenalku.

Ada apa sebenarnya huh? Aku tahu saat itu kau berbohong. Tidak mungkin aku bertemu dengan orang yang bernama Kyuhyun yang benar-benar mirip untuk kedua kalinya. Tidak akan kecuali kau berbohong padaku.

Wae?

Ku rasakan kedua mataku memanas. Aku yakin sebentar lagi, air mataku akan tumpah tapi aku menahannya.

“Kajja, Yuka-ya eomma sudah menunggu kita. Dan, kau Agasshi jangan khawatir aku akan mengganti kameramu.” Ucapnya, dia memberiku kartu namanya, yang sekarang sudah menggenggam tangan Yuka.

Sedangkan aku masih terpaku dalam diamku. Pikiranku benar-benar kacau. Dan sedetik kemudian dia sudah menarik Yuka pergi, meninggalkan ku yang sekarang sudah meneteskan air mata dengan pelan.

Dari tempat ku berdiri masih bisa ku lihat mereka berjalan bergandengan tangan. Dan itu semakin membuatku terisak.

Ini bahkan lebih buruk.

Paboya, Ran-ya..” rutukku lirih. Aku tersenyum sinis pada diriku sendiri yang begitu bodoh selama ini.

Aku membenci diriku sendiri saat itu, tapi aku tidak bisa membohongi bahwa aku masih ingin memiliknya.

Huh Paboya..aku pasti sudah gila.

Aku mengarahkan pandanganku pada pohon sakura di taman itu. Terlihat hanya ranting saja yang tersisa. Huh seperti itulah diriku.

 

Kau tahu daun di pohon-pohon itu sama denganku? Kenapa? Karena hanya di saat musim semi dan panas sajalah mereka benar-benar hidup. Ketika musim gugur tiba, mereka mau tak mau harus bersiap diri lepas dari pohonnya, dan saat musim dingin hadir daun itu akan benar-benar hilang. Seperti itulah diriku. Aku akan tersenyum saat kau ada di sisiku, dan dalam hal ini hanya terjadi saat musim semi dan musim panas. Dan saat musim gugur tiba, dia pergi. Bahkan saat musim dingin kau semakin membuatku terjatuh lebih dalam pada lubang yang pernah ku masuki.

Sesak. Oh..kenapa tiba-tiba rasanya sulit sekali bernafas.

Maret, Spring 2012

“Oh..yeppoda, kau cantik nona” ucap pelayan-pelayan itu.

AKu hanya menyunggingkan senyum tipis. Ku perhatikan lagi bayanganku di cermin itu. Seorang gadis yang tengah mengenakkan gaun pengantinnya.

“Bisa kau tinggalkan aku sebentar?” tanyaku pada mereka bertiga.

Ketiga orang itu mengangguk dan akhirnya pergi. Sekarang hanya tinggalah aku seorang di depan cermin ini. Aku kembali memperhatikan diriku dengan seksama.

Cantik.

Aniya..akan lebih cantik jika senyumku bukanlah senyum palsu.

Saat ini aku memang sedang mencoba gaun pengantinku. Kalian terkejut? Aku pun demikian. Aku sendiri tidak tahu kenapa aku tiba-tiba menyetujui namja yang dikenalkan eomma padaku. Siapa tadi namanya? Ah..sungguh bodohnya aku nama calon suami sendiri saja lupa.

Mianhae..

Huh..Seharusnya aku tidak mengatakan itu. Seharusnya kau yang minta maaf padaku karena tidak menempati janjimu. Sudahlah! setelah ini aku mungkin tidak ingin bertemu denganmu lagi.

Kau tahu kenapa aku memutuskan menikah dengan namja yang tidak aku kenal itu? Itu karena kau.

Kau mungkin memang tidak memberitahuku bahwa Yuka adalah tunanganmu. Karena itulah kau bilang tidak mengenalku bukan?

Sejak aku tahu siapa itu Yuka, aku sudah memutuskan untuk berhenti berada dalam lingkaran magnetmu. Aku menyerah dan memilih pergi.

Gwaenchanayo, Karena ini adalah musim semi yang itu berarti aku akan kembali menemukan hidupku. Mungkin dengan namja ini atau namja lainnya, tapi tidak akan aku biarkan dia menjadi ‘dia’ yang ketiga setelah kau. Tidak akan. Siapapun itu yang akan membuatku tersenyum kembali di musim semi ini, aku tidak akan melepaskan tangannya sedetik pun.

Hari ini adalah hari pernikahanku. Baiklah, mulailah semua dari awal. Aku menyemangati diriku sendiri.

Fighting, Ran-ya..” ucapku pada diri sendiri. Aku menarik nafas panjang dan menghembuskannya.

Klek.

Pintu itu akhirnya terbuka. Apa ini saatnya aku keluar dan mengucap janji suci pada namja itu?

Tapi yang ku lihat Hyehyo eonnie yang masuk.

“Oh..yeppoda.” Ucapnya kagum dengan penampilanku. Aku tersenyum.

Dia menghampiriku dan duduk di sampingku, menggenggam tanganku seperti yang pernah aku lakukan padanya dua tahun yang lalu.

“Kau pasti gugup. Aku tahu itu..” katanya

Gugup? Tidak. seharusnya aku merasakan itu seperti gadis lainnya yang akan menikah, tapi aku justru merasa biasa-biasa saja. AKu justru ingin ini segera selesai.

“Ya, Ran-ya..” panggil Hyehyo eonnie lembut. Aku hanya bergumam singkat.

“Hmm?”

“Bagaimana dengan Kyuhyun? Kau mencintainya kan? lalu pernikahan ini?” Dia bertanya

Aku menghembuskan nafasku dengan berat. Kyuhyun? Ku harap apa yang akan ku lakukan ini benar.

Tapi itu benar aku mencintainya. Mungkin semakin besar saat dia menjauh dariku. Aneh bukan? Bukannya berkurang tapi justru semakin besar.

“Kuere, aku mencintainya. Tapi penantianku tidak berarti lagi, eonnie.” Jawabku pelan.

“Nona, ini sudah saatnya.” Pelayan yang tadi meriasku menyuruhku untuk segera keluar. Dan pembicaraan tentang Kyuhyun pun berhenti di situ.

Apa ini sudah saatnya?

Dan di sinilah aku berada, berjalan dengan iringan music klasik khas upacara pernikahan. Seharusnya langkahku ringan tapi kenapa justru berat? Aku melirik eomma, Hyehyo eonnie dan keluarga yang duduk di sana. Aku sekuat tenaga untuk tetap berjalan dan tersenyum.

Satu langkah lagi aku akan mencapai tempatku, di depan altar suci bersama namja yang menungguku di sana. Dan Yup..aku pun berdiri di sampingnya.

“Baiklah, sebelum acara dimulai. Adakah yang keberatan dengan pernikahan ini?” tanya pendeta. Ini hal yang sebenanrya tidak perlu. Tidak ada pernikahan yang akan ditolak orang lain, selain pernikahan ini menyalahi aturan dan tidak ada yang setuju. Dalam kasusku, tentu saja tidak akan ada yang tidak setuju.

Hening kemudian.

Ini pertanda janji itu akan segera terucap di bibir kami. Aku memejamkan mataku sejank.

“Maaf. Tapi aku keberatan dengan pernikahan ini.” Ucap seseorang secara tiba-tiba

Aku membuka  mataku dan menolehkan kepalaku. Ku lihat Hyehyo eonnie berdiri dari tempatnya.

“Aku keberatan dengan pernikahan ini.” Ulangnya lagi.

Itu seperti sebuah mimpi. Dalam sedetik pernikahan itu batal. Aku tidak ingat apa yang menyebabkan pembatalan pernikahan itu, karena yang aku ingat itu bukan hanya ucapan keberatan dari Hyehyo eonnie, tapi juga penolakan halus dari calon suamiku. Huh…Aku ditolak oleh calon suamiku sendiri. Benar-benar tidak bisa di percaya.

Tapi bukan itu masalahnya sekarang. Masalahnya adalah bagaimana aku akan hidup setelah ini. Apa aku harus tetap hidup dengan bayangmu yang selalu hadir dan mengganggu pikiranku? Karena kenyataannya setiap detik waktu yang berjalan terus mengingatkanku padamu. Seperti kayaku, kau seperti mempunyai magnet tertentu yang terus menarikku pada lingkaran medan magnetmu.

Kyuhyun-ah, naega jeongmal neorul saranghanda.

Apa kau mendengar hatiku terus menyuarakan itu? apapun yang terjadi aku memang tidak akan bisa melupakanmu.

Bagaimana kabarmu sekarang? Apa kau sudah menikah dengan Yuka?

Seandainya takdir yang kau bicarakan benar, tentang takdir bersama karena pertemuan yang tidak sengaja. Tapi sudahlah..mari kita jalani hidup kita masing-masing. Sayangnya hidupmu mungkin lebih indah dariku. Aku belum menemukan pohon yang tepat untukku bertengger di rantingnya.

 

May, Spring 2012

Musim semi hampir berakhir sekarang. Sejak pernikahan yang gagal itu, aku memutuskan untuk tinggal di Jepang bahkan bertekad untuk tidak akan kembali ke Korea lagi. Aku memandang pohon yang berjejer di taman belakang rumahku melalui jendela kamarku. Sepertinya musim panas akan segera tiba. Mungkin berjalan-jalan sebentar akan mengurangi kepenatanku beberapa minggu ini.

Aku ingat betapa marah dan kecewanya eomma ketika pernikahanku gagal. Tapi itu bukan salahku. Bukan aku yang membatalkan pernikahan itu.

Sudahlah lupakan itu.

Akhirnya aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di taman kota. Hari ini aku memilih menaiki bus dari pada membawa mobil yang dibelikan eomma. Menaiki bus itu seperti kembali ke masa lalu bagiku. Transportasi ini yang selalu aku gunakan saat di Seoul.

Setelah beberapa lama menunggu, akhirnya bus itu datang. Ku lihat hanya ada satu bangku kosong di belakang itu. Ini sama seperti waktu itu. Bedanya orang yang akan duduk di sampingku bukan Kyuhyun melainkan seorang wanita.

Semua hal yang aku lakukan hari ini seakan benar-benar mengingatkanku pada nya. Bus itu..lalu di taman ini. Memang ini bukan bus yang sama, bukan pula taman yang sama, hanya saja situasi yang membuatnya seakan sama.

Aku memilih bangku taman di bawah pohon itu, tempat yang juga hampir sama saat aku menunggu ‘dia’. Tapi sayangnya aku ke sini bukan untuk menunggu siapa-siapa.

Perlahan air mataku menetes pelan.

Aku merindukannya. Jeongmal bogoshipoo..

“Menyebalkan.” Kataku pelan.

Aku menundukkan kepalaku dan tanpa ku sadari aku sudah terisak pelan.

Ini sudah musim semi kedua tanpa kehadiranmu. Kau ingat saat pertama kali kita bertemu? Musim semi di taman itu. Aku menangis dan kau dengan mudah menyadari alasanku menangis.

Bogoshipoo..

Entah kalimat itu sudah berapa kali keluar dari bibirku. Tapi selalu tidak bisa memulihkan rasa rindu ini. Every day, every night I’m missing you.

 

Aku pulang dengan kembali menaiki bus dan lagi-lagi hanya bangku di belakang itu yang tersisa. Kenapa semua hal selalu terus mengingatkanku padanya?

Aku menghempaskan tubuhku pada bangku itu dan memejamkan mataku pelan, sesekali aku memandang ke luar. Tidak berapa lama kemudian bus kembali berhenti di halte depan. Ku lihat seornag namja bertopi masuk ke dalam bus ini. Bertopi? Aku memperhatikan sekelilingku, dan aku baru menyadari hanya bangku di sampingku yang tersisa, secara otomatis dia akan duduk di sampingku.

Aku memperhatikannya sejenak ketika di sudah duduk di sampingku. Dan sedetik kemudian aku langsung kembali mengarahkan pandanganku keluar jendela.

“Kau tidak menangis lagi kan?” tanyanya tiba-tiba

Huh?

Aku membelalakan mataku terkejut. Aku menoleh dan ku dapati namja tadi sudah melepas topinya, membuatku dengan leluasa melihat wajahnya. Wajah yang sangat aku kenal.

Iggeu Mwoya? Kenapa aku harus bertemu denganmu lagi? Wae? Bahkan dalam situasi yang sama dengan saat pertama aku bertemu denganmu.

Takdir? Aniya…aku tidak mau mengatakan ini takdir.

 

Tapi saat itulah berbalik. Saat kau bilang ingin memulai dari awal. Apa kau serius? Kau bilang ini seperti pertama kalinya kita bertemu dank arena itulah semua kembali pada awalnya. Ya..semua kembali pada awalnya, tapi bagaimana jika hatiku tidak bisa menerimamu kembali? Kau tahu betapa menyebalkannya sikap bodohku selama ini?

 

Mianhae, Ran-ya” ucap Kyuhyun saat kami sudah turun dari bus.

Aku menatapnya dengan bibir bergetar. Begitu mudahnya dia mengatakan itu. Kurasakan air mata mengalir pelan.

“Maaf karena menjadi ‘dia’ yang kedua untukmu. Tapi sekarang aku datang bukan sebagai ‘dia’ atau Kyuhyun yang di masa lalu yang akan meninggalkanmu.”

Ucapanmu itu benar-benar menyebalkan. Aku membenci ucapan itu. Bagaimana jika aku tidak mau kau hadir?

 

“Aku akan membantumu melupakan Kyuhyun itu.” lanjutnya lagi.

Saat itu aku memang terus menolak, tapi pada akhirnya aku menyerah. Karena kenyataannya aku memang masih ingin memilikimu. Bodoh. Aku benar-benar bodoh bukan? Apalagi saat kau bilang kejadian waktu itu hanyalah actingmu untuk Yuka. Yuka…ya gadis yang ku tahu menjadi tunanganmu itu. Kau melakukan untuk Yuka hanya karena dia sedang membutuhkanmu di sisinya. Dan dengan penjelasanmu yang selalu seperti biasanya, akhirnya aku percaya.

 

Tapi ini musim semi yang itu berarti akan ada kehidupan bagi daun-daun itu. Aku bilang akan menerima siapapun yang hadir di musim ini dan membuatku tersenyum. Dan takdir mengatakan Kau lah orang itu.

Tentu saja aku akan menerimanya. Karena bukankah selama ini yang selalu bisa membuatku tersenyum hanya kau seorang?

Asalkan setelah ini kau tetap di sisiku. Kau pergi pun, aku akan menggenggam erat tanganmu agar tidak lepas. Hadirlah tidak hanya di musim semi tapi temani aku melewati musim gugur penuh haru biru itu dan juga musim dingian yang membekukkan itu.

 

 

Saranghae, Shin Ranran..”

Aku tersenyum mendnegar kata itu terucap dari bibirnya. Apa ini kenyataan? Dia benar-benar mengatakan itu?

Diam kemudian. Aku juga tidak berusaha membalas ucapan itu dengan nado saranghae. Kyuhyun menatapku dengan dalam. Dan entah pikiran apa yang merasukiku aku justru berjalan satu langkah mendekat ke arahnya, menyisakan jarak dekat antara aku dan dia. Perlahan aku mendekatkan kepalaku dan mengecup pipinya singkat.

Nado saranghae, Kyuhyun-ah

Just once again you make a one spring day for me..

 

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s