(Fanfiction) Please, Stop The Time

Image

Tittle : Please, Stop the Time

Main Cast : Shin Minrin, Kim Ryeowook

Genre : Romance, Sad

Length : Drabble oneshoot

Rating : 15

Author : Whin (@elizeminrin)

Time wouldn’t stop. It will running out and no one who can stop it

Minrin POV

Jika aku boleh memilih, aku memilih agar waktu berhenti sekarang juga. Tapi sayangnya detang detik jarum jam masih berjalan, meninggalkan semuanya, dan bahkan membuatku semakin tidak berdaya menghadapi ini semua.

Tuhan…jika aku boleh memilih..aku ingin waktu berhenti saat ini

Entah sudah detik ke berapa sekarang, tapi aku masih duduk diam di tempat ini, memandangi wajah polos yang menyejukkan itu, begitu pula dengannya. kenapa waktu seakan benar2 tidak berpihak pada kami saat ini? aku hanya ingin tetap seperti ini

“Jadi?” Tanyanya. Itu adalah suara pertama yang keluar di antara kami, sejak detik pertama kami bertemu di tempat ini.

Bagaimana mungkin aku mengatakan ini? Sulit. Bahkan hanya untuk mengucapkan maaf, aku tidak sanggup, membuatku tidak berdaya, dan bahkan aku kehilangan keseimbangan ketika memikirkan itu. ini bukan untuk sementara waktu. Bukan hanya satu atau dua tahun.. tapi mungkin untuk selamanya.

“Aku akan menetap di Amerika.” akhirnya, meskipun dengan sulit, meskipun dengan air mata yang berusaha aku tahan, kata itu akhirnya keluar dari mulutku.

Rasanya benar sesak di dalam sini. Ku rasakan panas di mataku, pertanda air mata yang sudah tidak bisa aku bending lagi. Ani…aku tidak boleh menangis. Tidak. Jangan di sini.

Tapi sama sekali tidak ada keterkejutan di wajah itu. masih tetap sama..menyejukkan. kenapa? Apa sangat mudah untuk berpisah seperti ini? Ku mohon…katakan sesuatu. Katakan kalau kau juga menolak cara ini, katakan!

“Benarkah?” katanya dengan sangat tenang. Tidak ada keterkejutan sama sekali dari nada itu.

Bukan kata itu yang ingin aku dengar saat ini. Tidakah kau berpikir waktu benar-benar sudah bertindak jahat pada kita saat ini? membiarkanku pergi dari tempat ini untuk waktu yang lama. Aku benci cara seperti ini. Aku akan sangat membenci waktu karena membuatku kehilangan wajah polos yang selalu membuatku nyaman ketika menatapnya. Dia benar-benar kejam.

“Appa…dia yang sudah memutuskan ini. Aku tidak tahu kapan akan kembali” Lanjutku.

Huh..lagi-lagi waktu tidak bisa aku tentukan.

“Aku mengerti.” Ucapnya masih dengan nada yang tenang.

Tapi sayangnya tidak denganku. Aku sama sekali tidak mengerti. Waktu ..dengan paksa membuatku untuk meninggalkanmu, bahkan melupakanmu.

Aku memejamkan mataku pelan, dan kurasakan air mata menetes pelan di pipiku. Ini benar-benar menyesakkan. Andai dengan aku menutup mata waktu akan berhenti..

Tapi tidak, detik jarum jam masih terus berjalan.

“Mianhae…” ucapku pelan, aku menundukan kepalaku membuat air mataku semakin deras mengalir. Dan kurasakan genggaman lembut di tangan kiriku.

Genggaman tangan ini..mungkin juga tidak akan aku rasakan lagi. kalaupun aku kembali, semua akan berubah. Mungkin bukan aku lagi yang akan dia genggam tangannya.

Ku mohon waktu berhentilah sekarang…

Biarkanlah tangan kami saling tergenggam seperti ini.

Jarum jam berdetak detik demi detik, sebagai pengiring kesunyian yang kembali tercipta di tempat ini. dia hanya tersenyum padaku, seakan mengatakan semua akan baik2 saja. Ya…sepertinya kami lebih nyaman berkomunikasi seprti ini. hanya melalu tatapan mata kami yang saling bertemu.

Untuk sekarang ku mohon izinkah aku lebih lama bersamanya seperti ini.

Semua berdiri di depanku dengan wajah tertunduk, bahkan member Super Junior yang juga ikut mengantarku keberangkatanku malam ini juga tertunduk, hanya dia yang terus menatapku dnegan senyum yang selalu membuatku nyaman ketika melihatnya.

Oh Tuhan…kenapa kau buat ini semakin sulit?

“Rin-ah, sering-sering menelepon kami, arraso!!” air mata Ran eonnie sudah mengair ketika mengatakan itu, dan aku hanya mengangguk, berusaha menahan air mata yang juga ikut jatuh.

“Eonnie, kalau liburan datanglah kemari!” kata Ahra, dan aku hanya tersenyum. Ku pandangi wajah sejuk itu dan dia masih seperti tadi, diam dengan ekspresi senyum tapi aku sulit mengartikan senyum itu.

“Rin-ah..kau tidak selamanya di sana! Jadi, cepat kembali arraso!!” aku lagi-lagi hanya mengangguk menanggapi ucapan Eunhyuk oppa yang sekarang juga sudah berlinangan air mata.

Monkey….ku mohon jangan membuat ini juga semakin sulit. Sudah cukup bagiku meninggalkannya dengan ekspresi yang tidak aku mengerti, jangan kau tambah dengan wajah sendu mu yang akan selalu aku rindukan.

“Yak, Kim Ryeowook!!” panggil Leeteuk oppa kemudian. Aku meolehkan kepalaku “Kau mau kemana Ha? Kau tidak mengucapkan salam perpisahan pada yeojachingumu?” tapi dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan Leeteuk oppa, dan ku lihat dia terus melangkah pergi meninggalkan kami

Aku hanya bisa menatap punggungnya yang terus melangkah jauh meninggalkan kami. Kenapa? Apa kau benar-benar sudah menyiapkan semuanya? Kau sudah siap waktu membuat kita seperti ini?

Tidak. Aku tidak bisa pergi dengan cara seperti ini.

Tanpa berpikir dua kali,  aku sudah berlari menyusulnya, mengabaikan semua panggilan dari semua orang yang terus berteriak di belakangku.

Ku mohon..! jangan membuat ini menjadi sangat sulit.

Aku terus berlari, sampai ku temukan sosoknya yang berdiri di dekat jendela yang mengarah langsung kearah landasan pesawat. Dia manatap ke luar jendela, menatap benda putih menjijikan yang sangat aku benci tapi sayangnya benda itulah yang akan membawaku pergi dari tempat ini.

“Wook-ah…” panggilku pelan. Dia menoleh tanpa sedikitpun keterkejutan seperti sebelumnya. Dia manatapku dan aku pun menatapnya dengan pandangan kabur, karena air mata.

Lagi-lagi hanya suara detik jarum jam yang terdengar sekarang. Dan lagi-lagi kami lebih nyaman berkomunikasi melalui mata kami.

Tidak. Ku mohon buat waktu berjalan cepat sekarang. aku semakin tidak sanggup melihatnya yang terus memberiku tatapan menyejukan itu.

Dia berjalan mendekat ke arahku, sementara air mataku sudah tumpah. Dan sekarang…ini lah detik terakhir yang kita punya bersama. Dia menarikku ke pelukannya. Pelukan yang sangat hangat seperti sebelumnya. Dan ini cukup membuat hatiku tenang, dan tidak menyesakkan seperti tadi. Seperti ada oksigen lebih banyak yang mampu aku hirup saat ini.

“Pergilah..!!” ucapnya dengan berbisik. Membuat air mataku yang tadinya deras mengair tiba2 berhenti. bukan karena senang, tapi karena tercengang dengan ucapnnya.

Kau melepaskanku? Jadi karena itulah kau bersikap biasa saja. Karena kau memang sudah bisa melepasku. Entah kenapa ini jusru lebih menyesakkan.

ya…kalau kau pun berpikir begitu aku pun harus bisa melepaskanmu. Semua memang harus berakhir sampai di sini.

“Tapi..kau harus kembali, arraso?” lanjutnya, masih memelukku. Membuatku jantungku berdetak cepat sekarang. dan seutas senyum mengembang dengan sendirinya di bibirku.

“Kau akan menungguku?” tanyaku kemudian, tanpa sedikitpun melepaskan tanganku yang juga masih memeluknya.

“ne..” jawabnya. Dan itu cukup membuat jantungku kembali normal, dan seakan semua beban menyeruak pergi, melayang bersama udara.

Satu detik yang berarti. Sekaan waktu berhenti saat ini.

Kau sudah berjanji akan itu. Dan waktu, kali ini menjadi saksinya. Bahkan salju pun demikian. Aku baru sadar salju kembali turun di luar membasahi lapangan dan juga benda putih itu di tengah kegelapan malam, membuatnya berselmut salju yang indah

salju…aku berharap dia akan membawa semua ini pergi, melelehkannya bersama mejadi air, dan waktu akan mengembalikan semuanya suatu saat nanti. Aku tahu itu.

Advertisements

Please Leave Your Comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s